Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Another Problem


__ADS_3

Nia dalam perjalanan pulang dari rumah Daniel. Perutnya yang kenyang dan suasana hati yang senang karena disambut dengan baik membuat hati Nia berbunga-bunga. Nia ikut bersenandung kecil mengikuti alunan musik yang diputar Daniel.


Daniel tersenyum senang melihat Nia yang tidak mencoba menutupi rasa senangnya. Ya, Nia memang suka menyembunyikan masalah namun Ia tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.


"Seneng banget Neng..." Daniel tak tahan ingin berkomentar sejak tadi.


"Kenapa? Gak boleh?"


"Yang bilang gak boleh siapa? aku seneng kok liat kamu seneng."


"Niel.." panggil Nia.


"Hemm..."


"Klo dipanggil jawab iya jangan hemm aja." protes Nia.


"Iya, kenapa?"


"Aku seneng deh akan punya Mama Mertua sebaik dan sehangat Mama kamu."


"Terus kamu gak seneng gitu bakal punya suami seganteng dan sekeren aku?"


"Hemm..." balas Nia menjawab Daniel singkat.


"Yeh sekarang malah kamu yang ditanya jawabnya cuma Hemm aja." protes Daniel.


"Gimana ya??? Untuk ukuran seorang duda sih kamu lumayan keren. Tapi untuk ukuran orang ganteng sih kamu nyebelin.. ha...ha..ha..." Nia tertawa senang berhasil meledek Daniel.


"Biarin. Yang penting seminggu lagi aku udah gak jadi duda lagi. Kamu juga gak jadi janda lagi. Ya gak?"


"Iya... iya... Oh iya, aku harus mengabarkan Om dan Tante aku juga nih. Mereka kan yang akan menjadi saksi pernikahan kita nanti."


"Kamu atur ajalah. Kita nikah di rumah kamu saja ya, biar tetangga kamu tau pernikahan kita dan tidak digosipin lagi, gimana?"


"Iya. Aku gak masalah. Salah satu yang penting dari pernikahan kan mencegah terjadinya fitnah."


"Bukan karena pengen ehem-ehem?" goda Daniel.


"Tampol nih." Nia lalu mencubit pinggang Daniel sampai Daniel menyerah dan mengerang kesakitan.

__ADS_1


"Sekali-kali tampolnya jangan pake nyubit bisa kali." protes Daniel yang masih meringis kesakitan.


"Terus pake apa?"


"Pakai cium.. muachh.." Daniel menunjuk pipinya agar Nia menciumnya.


"Au amat ah." Nia bersikap cuek dengan Daniel. Daniel hanya senyum-senyum saja melihat keimutan sikap Nia.


"Yaudah sampai ketemu nanti pas akad nikah ya." pamit Daniel saat sudah sampai di depan rumah Nia.


"Loh memangnya kamu mau kemana seminggu ini? Kamu gak ada niat jemput aku pulang kerja?" tanya Nia bingung kenapa Daniel tiba-tiba pamit.


"Aku ada pekerjaan di luar kota. Aku balik hari jumat malam. Kalau kamu kangen nanti telepon aja ya. Kalau kangennya tingkat dewa video call ya, memang wajah ganteng aku bikin kangen sih jadi aku gak heran kalau kamu bakalan video call aku terus-terusan karena kangennya."


"Udah ya aku turun dulu. Nanti aku wa aja. Gak usah telepon atau video call biar narsis kamu gak makin parah. Bye." Nia turun dari mobil dan langsung menutup pintu mobilnya. Daniel hanya tertawa melihat tingkah Nia. Nia melambaikan tangan setelah mobil Daniel pergi.


Dirumah sudah ada Kak Nay dan Nesia yang ternyata sudah menunggu Nia. Agak malas sebenarnya, pasti mau membicarakan tentang uang. Tak adakah di dunia ini yang lebih penting dari uang? Nia sebal memikirkannya.


"Kamu baru pulang, Ni? Daniel mana?" tanya Kak Nay basa-basi.


"Daniel langsung pulang." jawab Nia singkat.


"Ada apa?" kata Nia setelah duduk di samping Kak Nay.


"Bagaimana dengan rencana penjualan rumah ini?" tanya Kak Nay to the point tak perlu berbasa-basi.


"Sebentar aku telepon Daniel dulu mumpung belum jauh." Nia mengambil hp dan menelepon Daniel.


"Kenapa? Udah kangen ya?" tanya Daniel saat mengangkat telepon dari Nia.


"Niel, balik lagi ke rumah aku ya. Kak Nay ada disini mau nanya tentang penjualan rumah."


"Oke. Aku puter balik dulu ya." Nia menutup sambungan teleponnya.


"Kok pakai telepon Daniel segala Ni?" tanya Kak Nay bingung.


"Daniel yang akan membeli rumah ini, Ka."


"Wah bagus dong. Kan jadi rumah ini tidak jatuh ke tangan orang lain. Cerdas kamu, Ni. Gak sia-sia ya Papa menolong Papanya Daniel. Mereka tahu membalas budi." omongan Kak Nay yang pedas membuat Nia tak tahan.

__ADS_1


"Mereka orang baik, Ka. Tidak selayaknya Kakak bicara seperti itu. Dan juga mereka calon keluargaku."


"Maksudnya?" tanya Kak Nay.


"Aku akan menikah dengan Daniel minggu besok. Jadi Kakak gak usah bicara yang tidak-tidak lagi. Mereka akan menjadi keluargaku juga." kata Nia emosi.


Kak Nay dan Nesia masih kaget dengan berita yang Nia sampaikan. Berjuta pertanyaan hendak mereka utarakan, namun bunyi mobil Daniel di depan rumah menghentikan percakapan mereka. Nia menyambut Daniel dan mengajaknya masuk ke dalam.


"Nia sudah cerita Kak tentang rumah ini yang akan di jual. Daniel sedang mengurus surat-suratnya. Secepatnya akan beres nanti Daniel langsung transfer ke rekening Kak Nay dan Nesia." jawab Daniel setelah Kak Nay menanyakan perihal jual beli rumah.


"Oh, baiklah. Semoga cepat beres ya, Niel. Bisnis suami kakak soalnya tergantung dari suntikan dana dari penjualan rumah ini."


"Siap, Ka. Oh iya mumpung Kak Nay disini. Aku dan Nia minggu besok akan mengadakan akad nikah disini. Tidak dirayakan besar-besaran seperti permintaan Nia, hanya selametan dan keluarga serta tetangga dekat saja. Mohon dibantu ya Ka."


"Oh tenang Niel. Kakak dan Nesia akan membantu kok. Kami berdua agak kaget tapi sangat senang dengan berita ini." kata Kak Nay dengan manisnya.


"Baiklah, Ka. Daniel pulang dulu. Kasihan besok Nia harus bekerja." Daniel pamit dan pulang karena besok harus ke luar kota.


"Nia mau tidur ya Ka. Masalahnya sudah kelar kan?" Nia langsung masuk ke kamar dan meninggalkan Kak Nay dan Nesia yang masih mengobrol. Jujur Nia kecewa karena mereka bersikap egois.


******


Sudah 3 hari Nia tak bertemu dengan Daniel. Ada rasa kangen yang tertutup gengsi dalam dirinya. Daniel pun tidak mengiriminya pesan. Sesibuk apa sih sampai Ia lupa dengan Nia? Nia sebal jika memikirkannya. Mau telepon duluan, rasa gengsinya melarang.


Nia sedang menunggu bus di halte depan kantor ketika sebuah sedan merah berhenti di depannya dan membunyikan klakson. Ya, Ronald yang mengendarai sedan tersebut.


"Nia, ayo aku antar." tawar Ronald. Agak terpukau Ia melihat kecantikan Nia sekarang. Tubuh Nia yang sudah langsing kembali akibat rajin berolahraga terlihat semakin sexy.


"Gak usah, Mas. Makasih." tolak Nia halus.


"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu." pancing Ronald.


"Udah gak ada yang dibicarakan lagi Mas diantara kita." jawab Nia tegas.


"Bukan tentang kita. Tapi tentang Daniel. Kamu harus tahu siapa Dia sebenarnya." perkataan Ronald berhasil memancing perhatian Nia. Dengan terpaksa Nia akhirnya naik ke mobil Ronald.


*****


Hayo... apa yang mau Ronald bilang?? ada yang bisa nebak???? Cuma mau ingetin, jangan lupa like dan vote ya darling... 😍😍😍😍maacih 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2