
🎶 *I love you baby and if it's quite all right
I need you baby to warm the lonely nights
I love you baby, trust in me when I say
Oh pretty baby, don't bring me down I pray
Oh pretty baby, now that I've found you stay
And let me love you baby, let me love you 🎶*
Daniel mengikuti alunan lagu I love you baby milik Frankie Valli sambil berjoget-joget sendiri. Nia hanya senyum saja melihat Daniel terlihat amat bahagia.
Mereka dalam perjalanan hendak makan siang menjelang sore. Nia sampai sekarang masih belum tahu mau diajak makan dimana. Ia hanya duduk manis saja di dalam mobil mengikuti kemana Daniel akan mengajaknya.
"Beb, kamu masuk kerja kapan?"
"Hari Rabu. Kan cuma dapat cuti menikah 2 hari saja."
"Nanti aku antar jemput ya selama aku masih di Jakarta. Kalau aku ke luar kota kamu naik taksi saja ya."
"Aku naik busway saja. Sayang uangnya kalau naik taksi pulang pergi. Apartemen kita kan dekat dengan kantorku, naik busway gak perlu transit."
Mobil Daniel berhenti di lampu merah. Nia memandang sekeliling dan ternyata mereka ada di daerah Ancol. Daniel mengeluarkan sebuah kartu atm dan memberikannya pada Nia.
"Untuk apa?" tanya Nia bingung.
"Terserah kamu. Aku kan sekarang suami kamu jadi sudah kewajiban aku memberi nafkah sama kamu. Pakailah sesuai kebutuhan kamu dan kebutuhan sehari-hari. Biaya listrik dan maintenance apartemen urusan aku. Simpan saja gaji hasil kerja kamu. Pokoknya kamu pakai yang aku kasih ya. Kalau kurang nanti aku transfer. Nomor pinnya tanggal pernikahan kita."
Nia masih memegang atm yang diberikan Daniel. Tertulis Prioritas Bank B. Jadi Daniel nasabah prioritasnya Bank B.
"Iya nanti aku pakai. Makasih ya."
"Pakai buat naik taksi. Jangan naik angkutan umum, nanti ada yang ngelirik kamu lagi."
"Tapi...."
"Udah jangan ngebantah aku terus. Ayo turun kita udah sampai." Nia sampai tidak menyadari kalau mereka bahkan sudah parkir. Mereka berada di dalam kawasan Ancol.
"Ayo" Daniel mengulurkan tangannya menunggu Nia menggenggamnya. Bukannya menggenggam tangan Daniel, Nia malah merangkul lengannya. Mereka pun berjalan keluar tempat parkir menuju restauran yang sudah Daniel booking yaitu Bandar Jakarta.
"Seneng banget sih rangkulan sama aku?" Daniel berpura-pura risih padahal Ia sangat senang Nia nempel terus dengannya.
"Iya aku senang banget rangkulan sama kamu. Udah kayak monkey ya yang rangkulan sama Tarzan? he..he..he.."
"Gak lah. Masa monkey cantik begini. Kalau aku sebagai Tarzan sih udah cocok kan sama-sama ganteng dan berotot. Aku juga punya six pack kayak Tarzan. Mirip deh pokoknya." Daniel mulai menyombongkan dirinya.
"Masa?"
"Iya. Gak percaya? Mau lihat? Eh gak usah kan kamu kemarin ngintip pas aku pakai baju di kamar kan?"
"Enggak kok. Siapa yang ngintip?" Nia menyembunyikan wajahnya yang memerah. Memang benar kemarin Nia mengintip sedikit saat Daniel sedang berganti pakaian. Nia takjub melihat perut Daniel yang rata dan ada six packnya. Cepat-cepat Ia mengalihkan pandangan agar tidak ngeces.
"Nanti kalau mau lihat bilang aja ya. Gak usah ngintip segala. Nanti mata kamu..." belum sempat Daniel meneruskan ucapannya sudah disela oleh Nia.
"Bintitan."
__ADS_1
"Bukan ye... Maksud aku nanti mata kamu kasihan kalau gak dikasih lihatnya lama. Takut ketagihan gitu liat pemandangan indah."
"Au.. ah.." Nia menghentikan kejahilan Daniel. Senang sekali Daniel melihat wajah sebal Nia kalau Ia kepedean.
Daniel memberitahu pelayan bahwa Ia sudah bookinh. Pelayan tersebut lalu mengantarkan Daniel dan Nia ke meja mereka. Pelayan tersebut memberikan buku menu lalu meninggalkan Daniel agar bisa bebas memilih pesanan.
"Kamu mau makan apa? Awas ya bilang terserah!" ancam Daniel sebelum Nia melontarkan kata-kata sakti itu.
"Ih tau aja aku akan bilang begitu."
"Yaudah cepat mau pesan apa? aku lapar nih."
"Kamu mau apa?" tanya balik Nia karena bingung melihat daftar menu yang semuanya terlihat lezat.
"Aku mau lobster dan kepiting saus padang. Tumis kangkung dan es teh manis tak boleh ketinggalan juga. Pasti kamu mau mengikuti menu yang aku pesan kan?"
"He..he..he.. tau aja nih."
"Iyalah. Aku kan laki-laki yang peka sama istrinya."
"Iya."
"Keren ga?"
"Keren." jawab Nia pendek.
"Cium kalo keren mah." Daniel menunjuk bibirnya.
"Au amat ah." Nia lalu mengambil hp dan berpura-pura memainkannya.
Daniel memanggil pelayan dan menyebutkan pesanan mereka. Sambil menunggu pelayan datang Daniel memandangi Nia yang sedang memainkan hp nya.
"Cantik."
"Siapa yang ngomong sama kamu?" elak Daniel.
"Kan tadi kamu panggil aku."
"Panggil apa?"
"Cantik." jawab Nia pede.
"Emang kamu cantik?" pertanyaan Daniel langsung menurunkan sikap kepedean Nia.
"Tau deh." jawab Nia acuh lalu ingin memainkan hp nya lagi.
"Kamu tuh gak cantik Beb."
"Iya aku tau." jawab Nia sebal.
"Udah ngambek aja. Aku kan belum selesai bicara." Nia menghentikan lagi bermain hp nya. "Kamu tuh cantik banget."
"Ih... apaan sih... " Nia tersipu malu dengan perkataan Daniel.
"Cantik..." panggil Daniel lagi
"Hmm..."
__ADS_1
"Kalau dipanggil jawabnya kok hmm?"
"Iya. Apa?"
"Gak apa-apa, ngetes aja."
"Ngeselin ya lama-lama. Timpuk nih!" Daniel tertawa terpingkal-pingkal melihat muka kesal Nia.
Pelayan pun membawakan pesanan Daniel. Nia terlihat menelan liurnya saat melihat lobster dan kepiting.
"Ayo makan!" ajak Daniel setelah semua hidangan siap.
Nia memakan dengan lahap tanpa menjaga imagenya di depan Daniel. Hal itulah yang membuat Daniel menyukainya. Daniel suka Nia bersikap apa adanya tidak seperti wanita lain yang terlihat jaim namun di belakangnya malah malu-maluin.
Melihat Nia makan dengan lahap juga membuat makan Daniel lebih lahap lagi. Akhirnya mereka kekenyangan menghabiskan semua pesanan. Nia mengusap-usap perutnya kekenyangan.
"Mau nambah lagi?" Daniel menawari Nia untuk pesan jika masih kurang.
"Sudah cukup. Ini juga sudah kekenyangan. Bisa gendut lagi aku kayak dulu kalau tidak di rem makannya." tolak Nia.
"Gak apa-apa gendut yang penting sehat. Dari dulu kan aku selalu bilang begitu sama kamu. "
"Iya... iya... "
"Kita jalan-jalan dulu ya sebelum pulang. Mau gak?" ajak Daniel.
"Mau banget."
"Aku sih udah tau kamu gak akan nolak. Yaudah ayo kita jalan. Jangan kelamaan disini." Daniel lalu menuju meja kasir dan membayar semua pesanan mereka.
Nia menunggu di luar sambil melihat pemandangan senja. Matahari sudah mau terbenam. Tak lama Daniel pun keluar.
"Mau rangkul aku lagi gak?" Daniel menawarkan lengannya namun Nia menolak.
"Pegangan tangan saja. Aku masih kekenyangan." jawab Nia jujur.
Daniel lalu menggenggam tangan Nia. Bersama mereka menyusuri jalan di pinggir pantai. Walau hari ini hari kerja namun pantai Ancol tetap saja ramai pengunjung.
"Beb..."
"Iya."
"Cium."
"Mulai deh....."
Daniel tersenyum melihat Nia. "Semoga kita bisa tetap jadi sepasang suami istri sampai maut memisahkan kita ya."
"Amin." Nia mengaminkan perkataan Daniel.
"Kalau nanti kita bertengkar, jangan pernah lupakan momen hari ini ya. Momen kita sedang bahagia. Oke?"
Nia lalu mencium pipi Daniel. "Oke."
Daniel senang melihat Nia berinisiatif menciumnya duluan tanpa Ia minta.
"Kok kamu gak bales cium aku sih?"
__ADS_1
Daniel tersenyum lalu menjawab. "Pulsanya habis."
"Ih rese banget ya jadi orang." Nia berniat memukul Daniel namun Daniel menarik tangannya dan memeluk Nia. Daniel lalu mencium kening Nia bersamaan dengan tenggelamnya sang surya.