Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Bali-10


__ADS_3

🎶Terbanglah tinggi menuju angkasa.... meraih bintang mencapai semesta....Buatlah cita-cita menjadi nyata...Raih segalanya...raihnya semua... taklukan dunia... jadilah bintang....🎶 lagi-lagi Anton sedang bernyanyi riang sambil bermain game di PSPnya. Hatinya berbunga-bunga. Akhirnya Ia bisa mengantarkan Dokter Meita pulang.


Anton masih mengingat saat tadi berduaan di mobil dengan Dokter Meita. Dalam imajinasi Anton, Dokter Meita sedang merasa dag dig dug juga detak jantungnya seperti yang Ia rasakan.


"Mas Bul-"


"Anton. Nama lengkap saya Anthony Prasetya. Sesuai namanya saya orang yang setia." celoteh Anton panjang lebar tanpa ditanya.


"Iya, Mas Anton. Yang tadi sakit itu beneran istrinya Mas Daniel ya?" selidik Dokter Meita.


"Yaps... betul Dok." Anton sengaja mengemudikan mobilnya dengan kecepatan pelan agar lama sampainya jadi bisa berduaan lebih lama lagi.


"Kapan nikahnya? Kok saya gak tau dan gak diundang sih?"


"Baru nikah sebulan Dok. Acaranya di Jakarta. Selametan aja gak dirayain besar-besaran. Saya aja gak diundang, Si Bos gak mau beliin tiket pesawat. Pelit banget!" gerutu Anton yang kesal tidak diajak ke Jakarta saat itu oleh Daniel.


"Memangnya Mas Daniel pelit? kayaknya enggak deh." Dokter Meita berusaha membela pujaan hatinya tersebut.


"Bohong Dok. Bae Dia mah. Cuma lebay aja."


"Mas Anton udah kenal lama sama Mas Daniel?"


"Dari Daniel masih ingusan Dok sampe sekarang suka ngupil, satu yang pasti ya Dok. Saya lebih keren dari Daniel. he..he..he.."


Dokter Meita tersenyum mendengar perkataan Anton. "Mas Anton lucu ih."


"Ah Dokter bisa aja. Saya mah selain keren dan lucu juga romantis tau Dok."


"Masa sih?!" Dokter Meita seolah tak percaya .


"Kan Daniel berguru sama saya. Kalau gak karena saya mana bisa Dia dapetin Nia?! Daniel tuh gak pengalaman pacaran. Baru beberapa kali aja."


"Emangnya Mas Anton udah banyak?" Dokter Meita sekarang mulai banyak menanyakan tentang Anton. Mulai tertarik Dia.


"Pacar mah gak banyak Dok. Baru 5 aja. Tapi kerennya saya tuh walau sudah putus kami masih temenan bahkan sahabatan." pamer Anton.


"Kok bisa? Biasanya kan kalau udah putus bisa berantem. Tipsnya apa?"


"Hmm... tipsnya itu cuma satu Dok."


"Apa?"

__ADS_1


"Jago me-maintain hati. Walau kita putus biarkan waktu yang menyembuhkan luka itu. Sadizzzz gak tuh?!"


Dokter Meita tertawa terbahak-bahak. Baru kali ini Ia tidak menjaga imagenya dan bebas tertawa. Anton melirik Dokter Meita yang berparas oriental tersebut. Lesung pipi Dokter Meita membuat wajahnya makin cantik kala tersenyum.


"Bisa aja nih Mas Anton. Terus obat patah hati karena melihat gebetan sudah punya istri apa dong?"


Anton sudah menebak kemana arah pembicaraan Dokter Meita tersebut. Seolah berpikir keras, Anton pun memberikan jawabannya.


"Kasus anda lumayan rumit, Dok. Saya tidak bisa mendiagnosis langsung, sebaiknya saya rujuk anda ke Dokter Cinta."


Dokter Meita menahan tawanya. "Alamatnya dimana ya? Saya mau konsul ke Dokter Cinta."


"Alamatnya ada di samping kanan Anda. Sayalah Dokter Cinta tersebut." Dokter Meita kembali tertawa terbahak-bahak. Bahkan air matanya pun menetes tak kuasa Ia tahan.


"Aduh sakit perut saya. Kamu tuh lucu banget ya Mas. Pantas saja mantan kamu gak mau lepas. Boleh lah ya untuk melepas galau."


Mobil Anton sudah sampai di depan rumah Dokter Meita.


"Kalau untuk galau mah bisa kali besok malam kita jalan-jalan lagi." Anton langsung gercep alias gerak cepet dipepet terus Dokter Meita jangan sampai lepas.


"Boleh. Tau kan nomor hp saya? Kabarin aja ya." Dokter Meita pun tersenyum lalu turun dari mobil Anton.


"Siap."


*****


"Eh Buluk, ambilin minum buat Nia! Cengar-cengir aja. Kering deh giginya!" omel Daniel panjang lebar.


Nia yang sedang digendong Daniel mencubit pipi suaminya. "Inget. Jangan ngatain Mas Anton. Mau anaknya mirip sama Anton?" omel Nia.


"Oh My God. Lupa." Daniel lalu menurunkan Nia dengan pelan di sofa.


"Anton ganteng.... kasep... tolong ambilkan istriku air mineral dingin ya. Terima kasih." Daniel memasang senyum lebarnya dan menatap Anton dengan pandangan bak anak kucing.


"Ih tumben banget ngomong sopan gitu. Jadi merinding dengernya!" Anton mengusap tengkuk belakangnya. "Nia, suami kamu kenapa? salah makan? biasanya juga tuh congor gak diayak. Buluk-buluk aja. Kapan tau terakhir Dia manggil Anton. Aneh banget dah."


Nia hanya tersenyum saja. Daniel menutup wajah Nia dengan telapak tangannya. "Sst.. sayang. Jangan kebanyakan liatin Dia. Gak boleh. Takut ada gel buluk yang nempel." bisik Daniel di telinga Nia.


"Apa? Kalian lagi kenapa sih? Aneh tau. Udah aku ambil minum dulu. Aneh kok berjamaah." Anton pun mengambilkan 2 buah air mineral dari kulkas di samping meja resepsionis. Pasti Daniel minta diambilkan juga. Daripada nanti tuh anak rese nyuruh-nyuruh lagi.


"Nih minum. Biar lebih waras." Anton meletakkan air mineral tersebut di meja depan sofa.

__ADS_1


"Makasih, Mas." ucap Nia sopan. Daniel mengambilkan air mineral tersebut lalu membukakannya untuk Nia minum.


"Mulai deh lebay lagi. Biarin aja sih Niel kan Nia bisa ambil minum sendiri?!" Anton mulai sebal melihat kelebayan Daniel.


"Yeh sirik aja. Bini siapa coba? Suka-suka suaminya yang gantenglah." Daniel menjulurkan lidahnya meledek Anton.


"Iye. Bini situ. Terus gimana tadi hasil pemeriksaan Dokternya? Ngeliat kalian bahagia gitu kayaknya baik-baik aja."


"Iyalah baik-baik aja. Nia hamil." umum Daniel.


"Hamil? Serius? Secepat itu?!" tanya Anton seakan tak percaya.


"Gak percayaan banget sih jadi orang. Benerlah. Itu karena kekuatan ****** milik Daniel yang top markotop makanya langsung jadi." pamer Daniel. Nia hanya tersenyum malu saja sambil menyimak obrolan dua sahabat ini.


"Ah paling karena ****** bujang lapuk yang gak pernah dilampiasin aja sama siapapun jadinya siap tempur. Ibaratnya gak pake permisi langsung jadi. Udah kematengan tuh spermanya." ejak Anton yang langsung mendapat lemparan kotak tissue oleh Daniel.


"Sst... sayang jangan gitu. Inget. Gak boleh galak sama Mas Anton. Mau anaknya mirip?" omel Nia.


Anton yang mendengar ucapan Nia langsung matanya berbinar senang. "Wah seru nih! Akhirnya selama 9 bulan ke depan bisa menganiaya Daniel. ha...ha..ha.."


"Emang berani?" ancam Daniel.


"Takut sih. Tapi kapan lagi bisa bikin kamu bertekuk lutut dibawah perkataanku... ha.ha..ha.." Anton tertawa puas.


"Coba aja kalau berani. Potong gaji nih!"


"Sayang.... inget!" Nia mulai mengomeli Daniel.


Anton kembali tertawa terbahak-bahak. "Emang enak. Hi! Anton Junior, kamu nanti mirip sama Om ya."


"Gak..gak boleh. Jangan dengerin sayang. Kamu harus mirip Papa ya. Jangan sampai mirip Om itu ya, rugi!" Daniel mengusap-usap perut Nia sambil berbicara dengan bayi di dalam perutnya.


"Nanti namain Anton Junior ya!"


"Ogah."


"Yaudah mirip Om Anton aja ya." ledek Anton lagi.


"Timpuk lagi nih Luk!" Daniel sudah mengangkat bantal sofa hendak menimpuk lagi.


"Sayang...." Nia mulai memperingati Daniel agar tidak melewati batas.

__ADS_1


"Ha..ha..ha.. emang enak?! Takut ye sekarang! Akhirnya Tuhan berbuat adil juga pada hambanya ini! Terima kasih Tuhan!"


Daniel menurunkan tangannya tapi wajahnya masih cemberut. Nia mengusap pelan tangan Daniel. "Udah gak apa-apa. Kamu harus tahan. Demi masa depan anak kita nanti." Nia menguatkan Daniel. Daniel mencoba menahan sabarnya. Ia harus kuat.


__ADS_2