Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Aku di Jakarta kamu di Bali....


__ADS_3

Masa pengantin baru yang amat singkat. Hanya 2 hari cuti setelah menikah kemudian kembali ke kehidupan nyata lagi. Nyari uang lagi. Bermacet-macet Ria lagi.


Begitulah yang dirasakan oleh pasangan pengantin baru Nia dan Daniel. Jadwal penerbangan Daniel ke Bali jam 7 lagi, Ia sudah bersiap-siap berangkat sejak jam 4 pagi. Supir kantornya sudah stand by di lobby apartement dari jam setengah 4 pagi. Daniel tak mau naik taksi. Ia lebih memilih disupiri karena alasan keamanan dan kenyamanan.


Tak ada supir yang menolak jika Daniel menyuruh jemput jam berapapun. Bukan karena Daniel menakutkan, melainkan karena Daniel tak segan memberikan tips besar jika melakukan apa yang diperintahkannya.


Daniel bukan tipikal lelaki pelit yang perhitungan dengan uang. Kalau perlu semua uangnya diberikan pada sang istri tercinta. Rejeki suami berasal dari rejeki istri juga. Baginya uang bisa dicari, namun kejujuran, loyalitas dan kebahagiaan tidak bisa.


Daniel memegang 2 buah rekening, yakni rekening untuk kehidupan sehari-hari dan rekening hasil keuntungan bisnisnya. Ia memberikan satu rekening pada Nia karena Ia yakin Nia akan mengatur pengeluarannya dengan sebaik-baiknya. Nia bukan perempuan materialistis seperti wanita yang suka mengejarnya dulu.


Awalnya Nia mau mengembalikan atm milik Daniel karena kaget melihat isi di dalamnya, namun melihat mata Daniel yang melotot dan akan marah Ia akhirnya menurut saja. Namun Nia berjanji akan mempergunakannya hanya sesuai kebutuhan saja.


Jam setengah 4 pagi alarm hp Daniel berbunyi. Tak ingin membangunkan Nia Ia pun mematikan alarm dan langsung ke kamar mandi. Selesai mandi Ia menghubungi supir mengatakan Ia akan segera turun ke lobby.


"Aku berangkat dulu ya sayang." Daniel mencium kening Nia.


Ia membuka matanya hendak bangun dan mengantar Daniel ke lobby. "Ssst.... gak usah antar aku. Kamu tidurlah lagi. Nanti kamu kerja jadi ngantuk. Aku berangkat ya. Love you."


"Love you too. Hati-hati di jalan ya Sayang." Nia pun kembali tidur lagi.


******


Nia sudah berada di dalam taksi. Hampir saja Ia kesiangan. Nia sibuk menutupi bekas kissmark di lehernya akibat ulah Daniel semalam. Sebagai seorang Customer Service rambutnya tidak boleh digerai, harus disanggul. Itu membuat lehernya yang jenjang dapat terlihat jelas. Ia harus berterima kasih pada penemu concealer bahkan kalau bertemu harus cium tangan, berkat concealer Ia bisa menutupi lehernya.


Seperti biasa jika ada pengantin baru di kantor pasti akan diledekkin. Banyak yang bilang Nia jadi terlihat lebih cantik setelah menikah lagi. Ah mereka bisa saja, mungkin karena Ia sangat bahagia dengan Daniel jadi aura bahagia membuat wajahnya berseri dan tidak murung seperti biasanya. Mereka pun mendoakan Nia agar segera diberikan keturunan, Nia mengaminkannya dengan sungguh-sungguh karena memang itu yang sangat diharapkannya.


Pulang kerja Nia merasakan kesepian tak ada Daniel disisinya. Apartemen yang besar ini terasa kosong tanpa kehadiran dan kejahilan Daniel. Nia malas untuk masak makan malam karena hanya makan untuk Ia sendiri lebih baik Ia beli saja.


Sebelum makan malam Nia mau berenang terlebih dahulu. Ia membawa peralatan renangnya dan turun ke kolam renang. Nia memang sudah jago berenang sejak dulu. Tinggal di apartemen yang ada kolam renang adalah salah satu mimpinya yang akhirnya terwujud.


Nia berenang sampai merasa lelah. Ia pun beristirahat di kursi dekat kolam renang. Tidak banyak yang berenang hari ini, mungkin pemilik apartemen di sini masih sibuk mencari uang sampai tidak menikmati fasilitas yang diberikan. Mereka mencari uang sebanyak mungkin untuk membeli apartemen ini namun tak ada waktu menikmatinya. Nia teringat suaminya Daniel yang sedang bekerja keras di luar kota demi bisa memberikannya kehidulan yang layak.


Nia teringat lagi ATM yang diberikan Daniel. Nia tak menyangka Daniel memiliki uang sebanyak itu. Uang tersebut murni hasil kerja keras Daniel tanpa bantuan Papanya. Nia bangga dengan Daniel. Ia cerdas dan mandiri. Tak mau tergantung dengan orang tuanya.

__ADS_1


Nia belum sempat bertanya bisnis apa yang dijalani Daniel dan temannya. Satu yang pasti, Ia berhasil lepas dari bayang-bayang Papanya yang pengacara hebat.


"Sendirian aja, Ni?" Nia kaget ketika ada yang menyapanya dan duduk di kursi yang ada di sampingnya. Ronald. Ya, siapa lagi. Tidak ada yang Ia kenal selain Anita dan Ronald di apartemen ini.


Nia tak menjawab pertanyaan basa-basi Ronald. Ia lelah sehabis kerja dan berenang. Hatinya lelah jika harus meladeni Ronald.


"Kamu kenal Daniel dimana Ni? Sejak kapan?"


Nia menikmati es kopi yang Ia beli di tumbler. Ia sebenarnya malas mengobrol dengan Ronald.


"Saat kita menikah? Kamu sudah pacaran dengannya saat itu?"


"Diam saja, Ni. Berarti benar dong jawabannya. Jadi kita sama-sama selingkuh dong?"


"Apa yang salah ya Ni dengan rumah tangga kita dulu? Kita saling mencintai walau belum hadirnya anak diantara kita. Kita hidup enak ya walau tidak semewah saat ini, minimal kita punya rumah dan mobil sendirilah. Kenapa rumah tangga kita hancur ya Ni? Apa waktu itu kamu tidak bisa memaafkan aku sekali saja? Jika kamu memaafkan aku sekali saja, aku pasti menyesali perbuatanku dan memperbaikinya. Kita akan mulai kembali dari awal dan kita bisa program bayi tabung. Karirku juga semakin meningkat, kita juga lebih bahagia."


Ronald duduk dan menatap Nia yang dari tadi mendiamkannya. "Kita tidak akan seperti sekarang, Ni. Hidup bersama orang yang tidak kita cintai. Hanya kemewahan ini yang kita dapat, tapi kita tidak mencintai pasangan kita. Kalau kamu mau kembali sama aku, kita mulai lagi semua. Kita pindah ke luar kota. Kita tidak butuh kemewahan ini. Yang kita butuhkan adalah cinta diantara kita. Aku maafkan jika memang kamu selingkuh dengan Daniel dulu Ni. Ayo kita pergi dari sini dan mulai lembaran baru lagi."


Ronald berusaha meraih tangan Nia. Langsung Nia menepisnya. "Jangan sentuh aku! Sekarang aku istri orang. Aku harus menjaga kehormatan suami aku."


"Tadi kamu bilang apa? Kita akan bahagi bila mulai semuanya lagi dari awal. Kita? Kamu kali, Aku mah enggak. Aku gak mau meninggalkan laki-laki yang mencintaiku dan juga aku cintai saat ini hanya demi kamu. Aku tidak mencintai kamu lagi sejak kamu menghianati rumah tangga kita. Jadi berhentilah menggangguku lagi."


Nia berbalik badan baru berjalan beberapa langkah Nia berhenti. Ia berbalik badan kembali.


"Aku cuma mau ingetin. Jangan kelamaan buffalo gathering alias kumpul kebonya. Kasian Anita diajakin buat dosa sama kamu terus." Nia menyunggingkan senyum mengejek lalu berjalan meninggalkan Ronald dengan wajah kesalnya.


******


Nia baru sampai apartemennya dan mendengar Hp nya berbunyi. Daniel yang menelepon.


"Sayang, kamu gak apa-apa? baik-baik saja kan?"


"Malam Sayang. Ucap salam aja belum udah banyak pertanyaan deh." Nia menaruh perlengkapan renangnya di ruang cuci baju.

__ADS_1


"Oh iya. Selamat malam istriku sayang. Kamu kemana aja sih? Dari tadi aku telepon, sms, wa bahkan aku fb messenger gak dijawab!" keluh Daniel kesal.


"Aku baru aja selesai renang. Aku gak bawa Hp. Aku tinggal di kamar. Aku baik-baik saja kok."


"Ya sudah aku batalkan dulu!"


"Apa yang kamu batalkan?" Nia bingung dengan perkataan Daniel.


"Tiket pesawat yang aku pesan. Aku berencana langsung pulang dan sudah memesan tiket pesawat karena gak dapat kabar dari kamu. Aku takut kamu kenapa-napa."


Nia melongo tak percaya akan ulah Daniel. Hanya karena Ia tak menjawab telepon saja Ia langsung pesan tiket pesawat pulang.


"Kamu gak usah khawatir. Aku bisa jaga diri aku kok. Kalau ada apa-apa aku akan hubungi kamu. Janji!" Nia terenyuh dengan kasih sayang yang Daniel berikan untuknya.


"Aku tenang kalau begitu. Aku kangen banget sama kamu. Kepikiran kamu terus."


"Sejak kapan kamu suka gombal begitu?"


"Aku bukan gombal, Sayang. Aku tuh beneran kangen banget. Aku di Bali sendiri hanya di temani si Buluk itu sedangkan kamu di Jakarta. Aku kesepian nih." tumben sekali Daniel bermanja ria pada Nia.


"Mau aku nyusul kesana?"


"Beneran kamu mau nyusul?" nada suara Daniel langsung terdengar antusias.


"Gak jadi deh kan kamu selasa juga sudah pulang. Sabar aja ya. He...he..he..."


"Ih jahatnya! Yaudah cium dulu supaya kangennya bisa aku tahan sampai selasa." pinta Daniel.


"Muach..." ucap Nia.


"Itu baru di kening. Di pipi kiri, pipi kanan, hidung dan bibir belum!"


"Emangnya keliatan? kan kita lagi teleponan bukan video call?"

__ADS_1


Telepon langsung terputus. Tak lama Daniel melakukan Video call. Ia menagih cium dari Nia. Sebenarnya Nia juga kangen tapi Ia masih jaga gengsi. Video call Daniel membuat Nia lupa makan malam dan lupa sepinya apartemen. Cinta memang membuat orang lupa ya....


__ADS_2