Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Bali-2


__ADS_3

Mobil Avanza hitam yang berhenti di pekarangan villa menarik perhatian Daniel. Hari ini Villa sudah full book menurut informasi dari si Buluk Anton penyewa akan datang sekitar jam 8 malam, kenapa sekarang sudah datang?


Daniel memicingkan matanya yang silau terkena sinat matahari. Ia sedang menyiram tanaman, cara yang salah sebenarnya menyiram siang hari. Karena ulahnya mungkin saja tanaman itu malah mati bukannya tumbuh subur. Tau apa Daniel tentang merawat tanaman?


Supir mobil Avanza tersebut terlihat turun dari mobil dan membukakan pintu untuk atasannya. Daniel mematikan selang air yang Ia pegang. Perhatiannya kembali fokus melihat siapa tamu yang datang. Ia harus menolak jika tamu tersebut ingin menyewa villanya karena sudah dibooking.


Villa dengan banyak nuansa hijau mulai dari pemandangan, tanaman, maupun cat temboknya itu memang paling laris. Banyak turis lokal maupun asing yang ingin membookingnya karena fasilitasnya yang lengkap.


Seorang pria baru saja menurunkan kakinya dari mobil. Sang supir beralih ke pintu penumpang satu lagi dan membukakan untuk penumpang yang lain. Seorang wanita yang turun.


Cahaya matahari yang lumayan terik membuat Daniel harus memicingkan matanya. Siapa yang datang?


Sang supir langsung ke bagasi belakang mobil dan menurunkan sebuah koper lalu memberikannya pada atasannya. Akhirnya Daniel melihat dengan jelas siapa orang tersebut.


Ronald?


Daniel melihat siapa yang bersama Ronald. Betapa terkejutnya Ia saat melihat ternyata istrinya yang datang bersama Ronald.


Nia?


Emosi seketika menguasai Daniel. Bagaimana bisa Nia datang bersama-sama dengan Ronald, mantan suaminya? Daniel membuang selang air yang sudah Ia matikan ke tanah. Dengan tangan terkepal Ia menghampiri Nia.


"Hai, Say- " belum selesai Nia bicara Daniel sudah memotong ucapannya.


"Kenapa kamu ada disini? Bukannya kamu di Jakarta? Kenapa bisa kesini bareng sama Dia?" kata Daniel seraya menunjuk ke arah Ronald.


"Aku bisa jelaskan. Jadi-" lagi-lagi Daniel tidak membiarkan Nia menyelesaikan ucapannya.


"Kenapa gak ngabarin aku kalau mau kesini? Kenapa justru bareng sama Dia? Apa kamu janjian sama Dia?" todong Daniel dengan bermacam pertanyaan.


Ronald yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. "Weits... santai, Bro. Aku cuma nganterin istri kamu aja yang kayak anak ilang mau nyamperin suaminya."


Daniel yang sudah terlanjur termakan api cemburu dan emosi malah tambah emosi mendengar perkataan Ronald.


"Gak usah ikut campur ya masalah rumah tangga kami!"

__ADS_1


Ronald melipat kedua tangannya di dada. Senyum tersungging di pipi Ronald. "Cemburu, Bro? Gak suka ya perempuan yang udah kamu rebut dari aku bakalan aku rebut lagi?"


Daniel sudah mengepalkan tangannya dan hendak maju ingin menampol Ronald. Namun Nia maju dan mencegahnya.


"Yang, stop! Ini semua gak seperti yang kamu pikirkan!" kata Nia sambil memegangi perutnya yang kram lagi karena berlari mencegah Daniel memukul Ronald.


Daniel menurunkan tangannya melihat Nia yang sudah didepannya mencegahnya bertengkar dengan Ronald.


"Kami gak sengaja ketemu. Sumpah!" Nia mengangkat dua jarinya menunjukkan Ia bersumpah berkata jujur.


"Kalau gak sengaja bertemu kenapa bisa gak sengaja sampai kesini? sampai diantar segala? memang gak ada taksi?" sekarang Daniel meluapkan amarahnya pada Nia.


"Hmm.... aku seneng nih liat adegan kayak gini." ucapan Ronald menarik perhatian Daniel. "Tapi maaf, Bro. Kalau memang aku mau merebut Nia gak pake cara kayak gini. Nia yang akan kembali padaku sendiri. Aku cuma nganterin istri kamu yang lagi gak enak badan tapi maksa mau ketemu suaminya yang jarang pulang."


Emosi Daniel mulai mereda melihat wajah pucat Nia. Ia pun menurunkan tangannya. Belum sempat Daniel bicara, Ronald sudah bicara duluan.


"Aku balik ke kantor dulu, Ni. Jangan lupa periksa ke dokter!" pamit Ronald.


Nia berbalik dan mengucapkan terima kasih pada mantan suaminya tersebut. Terlepas dari konflik yang pernah melanda rumah tangga mereka, hari ini Ia sudah ditolong Ronald. "Iya. Makasih ya....Nal"


Nia tak menawarkan Ronald masuk dulu dan menyuguhkan minum sebagai bentuk sopan santun. Dirinya juga ragu apakah Daniel akan menerimanya mengingat wajah Daniel masih merah padam menahan emosinya.


"Kalau Nia kamu anggurin dan sakitin, aku akan senang hati merebut Ia kembali." Ronald lalu menyunggingkan senyum devil nya. Mobil avanzanya pun langsung tancap gas sebelum terjadi hal yang tidak memungkinkan.


Wajah Daniel kembali memerah. Tangannya kembali terkepal. Nia memegang tangan Daniel mencoba meredakan emosinya. Namun Daniel menghempaskan tangan Nia.


"Masuklah!" perintah Daniel. Ia pun berbalik badan dan meninggalkan Nia yang harus membawa kopernya.


Nia ingin berlari dan mengambil kopernya lalu menyusul Daniel. Namun kram di perutnya malah semakin sakit. Ia pun jongkok sambil berpegangan pada kopernya. Perutnya terasa amat sakit. Nia mengusap pelan mencoba mengurangi rasa sakitnya.


Daniel yang terus saja berjalan dengan menahan emosinya baru tersadar kalau Nia tidak mengikuti langkahnya. Ia pikir hanya membawa koper saja tidak mungkin Nia tidak akan kuat. Daniel pun berbalik badan dan melihat Nia terjongkok sambil memegangi perutnya.


Daniel berlari dan menghampiri Nia. Sesuatu pasti terjadi. Tak mungkin sampai Nia berjongkok di halaman.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Daniel dengan wajah khawatir. Hilanglah sudah emosi di wajahnya berganti dengan khawatir melihat betapa pucatnya Nia.

__ADS_1


"Buluk.... Luk...!!! Anton!!!" teriak Daniel memanggil Anton agar datang.


Dengan tergesa-gesa Anton pun berlari menghampirinya. Nafasnya pun tersengal-sengal dan ucapannya masih terbata-bata. "Ke..napa?"


"Bawain tuh koper!" Daniel menggendong Nia dan matanya menunjuk ke koper berwarna pink yang tergeletak di samping tempatnya berdiri. Anton pun menuruti perintah Daniel.


Daniel menggendong Nia dan membawanya ke ruang tengah. Ia pun menurunkan Nia hati-hati di sofa yang terlihat amat nyaman itu.


"Ambilin air hangat!" perintah Daniel pada Anton.


Anton pun langsung mengikuti perintah Daniel. Diambilnya air hangat segelas lalu ditaruh di meja dekat sofa Nia. Daniel langsung mengambilnya dan menyuapi Nia.


Anton meninggalkan Daniel dan Nia berduaan. Nampaknya ada masalah diantara mereka yang harus dibicarakan.


"Sudah makan?" tanya Daniel sambil meletakkan gelas yang baru saja Nia minum. Nia mengangguk.


"Makan apa?" selidik Daniel karena wajah Nia yang pucat membuat Ia harus mengintrogasi istrinya tersebut.


"Roti sama donut" jawab Nia takut-takut. Nia masih melihat amarah di mata Daniel. Ternyata Daniel yang jahil jika sedang marah justru lebih menyeramkan lagi dan lama redanya pula.


"Kapan terakhir kali makan nasi?" Daniel memegang dahi Nia dengan tangannya mengukur suhu tubuh Nia yang ternyata normal dan tidak demam.


"Kemarin waktu makan siang"


"Kenapa gak makan nasi?"


"Gak nafsu makan."


"Mau makan apa?" Daniel mengambil Hp nya dari kantung belakang celana pendeknya hendak memesan makanan dari aplikasi Go Food.


Nia menggeleng menolak tawaran Daniel.


"Udah sakit gini masih gak mau makan juga! Gimana sakitnya gak tambah parah?" omel Daniel. Kata-katanya masih tajam. Nia seakan tidak mengenal sifat Daniel.


Memang benar pernikahan mereka berlangsung singkat tanpa proses pacaran yang lama untuk saling mengenal. Nia hanya mengenal kalau Daniel baik. Itu saja. Nia belum tau bagaimana sebenarnya sifat Daniel jika marah. Dan Nia baru mengetahuinya sekarang.

__ADS_1


****


Kok pendek banget Thor? Abisnya like sama votenya dikit jadi gak semangat nulisnya he..he..he..😅😅😅 ayo vote dan like sebanyaknya ya.


__ADS_2