Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Permintaan Maaf-1


__ADS_3

Sejak Nia memutuskan tinggal lagi di rumah Papa, maka sejak itu pula Ia menjadi putri Papa yang selalu diantar jemput bila mau bekerja. Pagi ini Nia diantar Papa sampai depan kantor. Rasanya sudah lama sekali Ia tak ada yang mengantar.


Nia mencium tangan Papa dan berpamitan. Setelah Nia turun dari mobil, Papa melajukan kembali kendaraannya menuju kantor. Nia menyunggingkan senyum tatkala security kantor menyapanya. Sudah menjadi protokol security untuk menyapa dan mengucap selamat datang.


Nia lalu menuju loker miliknya dan mengganti flat shoes yang dikenakannya dengan sepatu high heels. Karena sudah make up dan memakai seragam, Nia langsung menuju meja kerjanya. Sekarang Ia harus semangat bekerja karena pekerjaan inilah yang akan menghidupinya kelak jika suda bercerai dengan Ronald.


Semalam Papa bilang akan mampir ke kantor Pak Darmawan untuk mengurus perceraian Nia. Hanya diam dan tak melawan, Nia serahkan saja perceraiannya pada Papa. Ia tak mau hatinya goyah lagi jika Ronald membujuknya.


Waktu menunjukkan pukul 8 pagi. Nia menuju ke tengah tempat morning briefing biasa dilakukan. Setelah semua staff kumpul, Manajer Operasional menyampaikan informasi baru dan mengingatkan standarisasi dalam bekerja, yakni unsur kehati-hatian. Morning briefing tak berlangsung lama, hanya 10 atau 15 menit saja lalu semua kembali ke posisinya bekerja.


Walau masalah menumpuk, senyum di wajah tak boleh hilang. Nia tetap senyum manis menyambut setiap nasabah yang datang. Senyum Nia langsung hilang manakala nasabah pertama yang datang adalah suaminya, Ronald.


Manajer Operasional sedang berkeliling mengawasi para anak buahnya bekerja. Agar tak kena omel Nia akhirnya memasang senyum dan menyambut Ronald yang berpura-pura menjadi nasabah.


"Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?"


"Kamu kemana saja Ni? Kamu tinggal dimana sekarang? Aku selalu mencari kamu. Aku mau minta maaf sama kamu Ni. Aku menyesal"


"Bapak mau buka rekening baru atau ada keluhan?" kata Nia tak menanggapi omongan Ronald.


"Baiklah, aku mau buka rekening" Nia lalu menyiapkan formulir yang harus diisi oleh Daniel. "Aku mau bicara sama kamu Ni. Aku benar-benar menyesal atas perbuatanku. Aku janji gak akan mengulanginya lagi"

__ADS_1


Masih tak menggubris omongan Ronald, Nia menyuruh Ronald mengisi formulir pembukaan rekening. "Bisa minta KTPnya, Pak?"


"Nia. Please... aku gak bisa hidup tanpa kamu. Cinta aku tuh cuma buat kamu saja Ni" kata Ronald dengan suara memelas. Nia masih saja acuh seolah tak mendengar suara Ronald.


"KTP nya Pak?" tagih Nia karena Ronald tak memberikan KTPnya juga. Dengan terpaksa Ronald membuka dompetnya dan memberikan KTP miliknya. "Terima kasih" ucap Nia.


"Ni, kita ngomong empat mata ya. Aku tunggu saat jam istirahat. Kamu istirahat jam berapa?" Nia masih sibuk mengisi data nasabah di komputernya. Setelah semua terisi Nia memberikan selembar slip setoran dan meminta Ronald ke teller untuk melakukan setoran pertama pembukaan rekening lalu kembali lagi ke tempatnya.


Ronald yang melihat Nia sama sekali tak meresponnya mengambil slip tersebut dengan muka cemberut. Ia lalu ke teller dan melakukan penyetoran. Ia kembali lagi ke tempat Nia setelah selesai di teller. Ia berharap Nia akan meresponnya kali ini.


Baru sebentar Ronald duduk, Nia meminta Ronald memasukkan pin untuk ATM nya. Dengan sengaja Ronald memasukkan tanggal ulang tahun Nia sebagai pin dan Nia tahu persis apa yang dilakukan Ronald. "Aku pakai ulang tahun kamu ya, nanti kalau kamu mau jajan pakai saja sesuka kamu. Beli apa yang kamu mau. Apapun itu"


"Apapun bisa aku beli?" tanya Nia berpura-pura tertarik. Ronald merasa umpannya berhasil. Nia akhirnya menanggapinya. Ia tak tahu kalau Nia menanggapinya karena tak ada sang Manajer Operasional yang mengawasi.


"Baik. Aku akan beli OTAK buat kamu pakai. Jangan tunggu aku lagi, tunggu saja surat panggilan dari pengadilan" kata Nia pedas sambil memberikan buku dan ATM pada Ronald. Nia lalu berdiri dan bersiap menyambut nasabah lagi. "Silahkan selanjutnya Nomor 231"


Ronald yang merasa diusir dengan cara halus pun pergi meninggalkan Nia. Kata-kata pedas Nia masih terngiang di telinganya. Mengapa Nia jadi seberani itu? Siapa yang mempengaruhinya?


Ronald masih duduk di dalam mobilnya. Menunggu sampai tiba jam istirahat Nia. Ronald memutar otaknya mencari cara meluluhkan hati Nia. Tiba-tiba Ronald teringat aksi penggerebekan yang dilakukan Nia 2 hari lalu. Benar, Nia tak sendiri. Nia tak mungkin punya keberanian sebesar itu. Ada seorang laki-laki yang membantu Nia memvideokan semuanya. Siapakah laki-laki yang bersama Nia? Seingatnya, Nia tak pernah punya seorang pun sahabat laki-laki.


Apa mungkin selama ini Nia juga berselingkuh seperti dirinya? Ah rasanya tak mungkin. Nia tak akan punya keberanian sebesar itu untuk melakukannya. Ronald masih menunggu sampai jam 3 sore, namun Nia tak kunjung keluar kantor. Sepertinya Nia sengaja menghindarinya.

__ADS_1


Ronald memutuskan tetap menunggu sampai jam pulang kerja. Ia tahu Papa pasti akan telat jemput karena jarak kantor Papa lumayan jauh.


Benar dugaan Ronald, Nia menunggu Papanya di drive thru. Segera Ronald turun dan menghampiri.


"Hi Nia" sapa Ronald. Nia yang sedang asyik main hp lalu mengangkat wajahnya mendengar ada yang menyapanya. Ia kaget setelah melihat ternyata orang tersebut adalah Ronald.


"Mau apa kamu?" tanya Nia ketus.


"Nia, aku mohon... aku benar-benar minta maaf, Ni. Aku menyesal. Aku mohon maafkan aku. Ayo kita pulang ke rumah. Aku kangen sama kamu. Please..." Nia mengacuhkan semua permintaan maaf Ronald.


"Nia... aku janji... aku akan berubah. Aku gak akan mengulangi lagi perbuatanku. Tolong maafkan aku ya... " Ronald mencoba meraih tangan Nia namun Nia menampiknya.


"Udah ngomongnya? Kalau sudah, pergi sana. Aku gak ada waktu mendengarkan omong kosong kamu" usir Nia.


"Ni. Aku sama sekali tak mencintai Anita, Ni. Yang aku cintai hanya kamu. Aku hanya bersenang-senang sesaat dengannya" Ronald mencoba merayu Nia.


"Oh ya? kalau memang kamu hanya bersenang-senang, untuk apa kamu menjanjikan akan memilih Ia dibanding aku? Dasar laki-laki buaya" semprot Nia.


"Aku cuma ngegombal aja Ni. Satu-satunya wanita yang aku cintai cuma kamu. Aku hanya tertekan dengan keadaan rumah tangga kita. Dengan tuntutan Mama yang menginginkan kita segera diberikan anak. Dengan sikap kamu yang terprovokasi Mama sehingga memaksa segera punya anak. Aku stress. Karena itu aku melampiaskannya dengan bersenang-senang saat Anita menawarinya. Kucing mana yang akan menolak jika diberi ikan? Aku pun begitu. Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa"


"Jangan menyalahkan aku atas dosa yang kamu perbuat. Yang merusak rumah tangga kita bukan Mama, tapi perbuatan kamu" Nia mulai mau bangkit dari duduknya lalu berkata "Satu lagi, kucing kalau sudah kenyang tidak akan melirik jika dikasih ikan lagi. Memang dasar kamu cowok kegatelan"

__ADS_1


Nia langsung meninggalkan Ronald ketika dilihatnya mobil Papa dari kejauhan sudah datang. Ditahannya air mata yang akan turun. Ia tak mau Papa mengetahui kalau Ronald berusaha membujuknya.


Sementara Ronald masih terpaku duduk di trotoar drive thru. Usaha merayu Nia hanyalah sia-sia belaka.


__ADS_2