
Nia terbangun dari tidur nyenyaknya. Rasanya sangat nyaman sampai Ia tertidur amat pulas. Ia sering insomnia sejak mengetahui perselingkuhan mantan suaminya namun saat ini Ia merasa tidurnya amat nyenyak dan nyaman, sampai malas membuka matanya.
Akhirnya dengan perlahan Nia membuka matanya. Dikuceknya matanya karena tak percaya dengan yang dilihatnya. Keningnya pun berkerut.
"Daniel? Ngapain kamu..."
"Suami... suami... udah jadi suami kamu sekarang." Daniel menunjuk ke dadanya sendiri mengingatkan Nia kalau mereka sudah resmi menikah sekarang.
"Oh iya... aku lupa....." Nia menepuk jidatnya, kesadarannya sekarang sudah benar-benar pulih.
"Ini istri Tarzan. Kamu lupa sama Tarzan?" Daniel menirukan adegan di film Tarzan versi Mandra.
"Jane dong? ha..ha..ha... kamu lucu banget Niel." Nia mencubit hidung mancung Daniel. Sepertinya ini menjadi hobby baru Nia sejak menikah dengan Daniel. Melihat hidung Daniel memerah ada sensasi tersendiri.
"Niel Niel aja. Panggil Ayang. Udah lupa?"
"Iya.. lupa... he..he..he... Maaf ya Niel eh Yang."
"Nah gitu dong. Kan enak dengernya. Tidur kamu lelap banget kayaknya."
"Iya. Udah lama aku insomnia tapi semalam aku tidur nyenyaaaakkk banget. Segar banget rasanya pas bangun tidur." Nia mengatakannya sambil tersenyum senang.
"Oh enak ya? Gak tau ya kalau tangan aku pegal semalaman jadi bantal kamu?"
"Jadi aku semalaman tidur di tangan kamu? Nanti malam kayak gitu lagi ah biar tidur aku pulas he...he...he... "
"Pijitin dulu. Sakit nih." Daniel mengulurkan tangannya yang pegal. Nia bangun dari tidurnya dan memijat tangan Daniel. Ia merasa bersalah membuat tangan Daniel sakit.
"Udah enakkan belum?" tanya Nia yang sekarang gantian Ia yang pegal kelamaan memijat Daniel.
"Udah. Enak juga ya punya istri. Kalau pegal ada yang pijitin." Nia tidak memijat tangan Daniel lagi.
"Kalau mau sarapan juga tinggal bilang." Nia menguncir rambutnya dan turun dari tempat tidur. "Aku siapkan sarapan dulu ya."
"Iya sayang..." Daniel bangun dari tidur dan membantu Nia membereskan tempat tidurnya. Mama Asri mengajarkan Daniel harus bisa melakukan kerjaan rumah sendiri tanpa bantuan asisten rumah tangga, karena itu Daniel terbiasa membereskan tempat tidurnya sendiri.
Kamar Nia sudah rapi, Ia pun mengambil bajunya di tas dan berniat mandi namun tiba-tiba Nia membuka pintu kamar. "Ayo kita sarapan." ajak Nia.
Daniel meletakkan kembali baju yang diambilnya dan mengikuti Nia ke meja makan. Nia memasakkan nasi goreng ikan asin yang belum pernah Daniel makan sebelumnya.
__ADS_1
"Yang, ini nasi goreng apa?"
"Nasi goreng ikan asin. Memangnya kamu belum pernah makan?" Daniel menggelengkan kepalanya memberitahu kalau Ia belum pernah mencoba makan nasi goreng ikan asin.
"Coba dulu. Kalau gak suka aku sudah siapkan roti bakar. Aku mau kasih kamu sesuatu yang beda aja." Nia mengambilkan roti bakar yang baru saja matang dan menghidangkannya di depan Daniel.
Agak bingung awalnya namun akhirnya Daniel mencoba nasi goreng ikan asin buatan Nia. Suapan pertama perlahan masuk ke dalam mulut Daniel. Suapan kedua sampai terakhir Daniel habiskan tanpa sisa. Nia hanya tersenyum saja melihat Daniel lahap memakan masakannya.
"Enak?" tanya Nia setelah piring nasi goreng Daniel sudah habis.
"Enak banget. Baru kali ini aku makan nasi goreng yang enak banget. Biasanya rasi goreng yang aku makan standar hotel yang gitu-gitu aja. Tapi asli deh ini enak banget. Top deh punya istri jago masak kayak kamu."
Nia sangat senang mendapat pujian dari Daniel. "Yaudah nanti aku akan sering membuatkannya untuk kamu ya."
"Yang, aku mau bicara sama kamu."
"Bicara apa?" kata Nia sambil membereskan piring bekas mereka makan dan mencucinya.
"Kita pindah yuk."
Nia mematikan air keran yang mengalir dan menghentikan kegiatannya mencuci piring. Ia berbalik badan dan menatap Daniel. "Pindah kemana?" Nia takut diajak tinggal bareng dengan Pak Darmwan. Walau mertuanya baik namun Ia merasa kastanya jauh dibawah mereka. Ia takut tak bisa beradaptasi.
"Memang kenapa kalau tinggal disini?"
"Gak apa-apa sih. Tapi disini kan ada Nesia. Aku gak mau Dia terganggu dengan kita."
"Memangnya kita mau ngapain sampai Nesia terganggu?" Nia tak mengerti arah pembicaraan Daniel.
"Ya gak enak aja. Kita kan suka becanda takut Ia terganggu saja. Kita pindah ya.... please... Nanti kamu bisa main kesini kapanpun kamu mau. Aku janji" Daniel mengangkat tangannya tanda bersumpah atas janjinya tidak akan melarang Nia pulang ke rumah kapanpun Nia mau.
"Aku ikut saja apapun keputusan kamu. Sekarang kan kamu suami aku. Sebagai istri aku nurut aja apa keputusan kamu. Kamu pasti punya pertimbangan sendiri kan?" Nia tersenyum ke arah Daniel.
"Ya ampun..... so sweet banget sih kamu.... gemeshh....."Daniel hendak mencium pipi Nia namun suara Nesia membatalkannya.
"Ehem.... iya tau yang pengantin baru.... sosor terus...." gerutu Nesia yang ingin sarapan sebelum berangkat ke kantor.
"He..he..he.. adik ipar gangguin aja deh." Daniel dan Nia hanya senyum saja karena acara mesra-mesraan mereka diganggu Nesia.
"Aku mandi dulu ya Beb.... Kalau mau mandi bareng ketuk aja pintu kamar mandinya ya."
__ADS_1
"Anggap aja aku gak ada deh. Dunia memang milik kalian berdua. Aku ngontrak...." Daniel makin cekikikan melihat Nesia kena jebakannya.
Ah jahilnya suami aku- Nia
********
Baju dan perlengkapan Nia sudah selesai di packing. Alat make up, sandal dan sepatu pun sudah rapi. Daniel membantu mengangkat ke bagasi mobil. Nia segera menyusul setelah mengunci rumah.
Nesia sudah berangkat ke kantor setelah sarapan dengan muka sebal karena dikerjai Daniel terus. Nia mengedarkan pandangan ke dalam rumah. Sepi. Sunyi. Ini kedua kalinya Nia meninggalkan rumah Papa dan ikut kemana suami mengajaknya. Nia lalu mengunci pintu dan menaruhnya di tempat rahasia yang hanya Ia dan Nesia yang tahu yakni di dalam sepatu butut milik Papa.
Nia masuk ke dalam mobil dan melihat Daniel sedang menelepon seseorang. Nia tak sengaja mendengar percakapan antara Daniel dan temannya.
"Iya. Nanti aku kesana lagi. Jangan lupa booking tempat ya kalau penuh."
Booking? Booking hotel maksudnya? Apa ini pacar sesama jenisnya Daniel? Kok Daniel santai saja ngobrol di telepon dan didengar aku? Apa Dia mulai terang-terangan sekarang - Nia.
"Memang sekangen itu sama aku? iya bawel... seminggu lagi aku kesana. Yaudah kabari saja kalau ada perkembangan baru. Dah."
Kangen? Kok mesra banget ya? Percakapan mereka kok seperti percakapan Daniel ke aku? Oh God... apa benar yang dikatakan Ronald kalau Daniel penyuka sesama jenis? Tadi pagi Daniel romantis sekali denganku dan sekarang Ia ngomong kangen dengan orang lain- Nia.
Nia mengernyitkan dahinya menyimak percakapan mereka yang akhirnya selesai. Daniel lalu menutup teleponnya dan menaruhnya di dashboard.
"Kamu udah siap? Ayo kita berangkat." Daniel memasang seat beltnya. Nia masih tak bergeming menatap Daniel.
Daniel menyadari Nia sejak tadi menatapnya dan bukan memakai seat belt. "Kenapa? Terpesona ya sama kegantengan suami kamu?" Daniel memasang senyum jahilnya namun Nia hanya diam saja. Seribu pertanyaan hendak Nia lontarkan, namun Ia memilih satu saja untuk ditanyakan. Rumah tangganya baru satu hari, Ia tak mau merusak kebahagiaannya dengan rasa ingin tahu yang terlalu besar.
"Siapa yang telepon, Beb?"
"Teman aku di Bali. Aku seminggu lagi ke Bali ya. Ada urusan bisnis." Daniel mulai melajukan mobilnya setelah Ia yang akhirnya memakaikan Nia seat belt.
"Berapa lama?" Nia tak kuasa menahan rasa ingin tahunya.
"Pengennya sih 2 atau 3 hari. Tapi kalau disana belum kelar ya bisa kayak kemarin, seminggu baru selesai."
"Oh... " Nia menjawab singkat. "Jadi pacarnya benar ada di Bali. Dan aku harus mulai berbagi Daniel dari sekarang. Seperti istri tua yang berbagi suami bersama istri muda." gumam Nia dalam hati. Baru hari kedua rumah tangganya sudah ada cobaan baru.
******
Selamat menikmati membaca kisah Nia. Aku mulai perbanyak nulis mulai sekarang. Doakan makin imajinatif dan bermutu ya hasil karyaku. Jangan lupa vote, like dan ajak teman untuk ikut membaca juga ya... 😘😘😘😘
__ADS_1