Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Fakta atau gosip?


__ADS_3

Tak ada yang berubah dari interior mobil Ronald. Gantungan gambar cupid yang sedang berciuman hadiah dari Nia masih tergantung disana. Tempat tissue bermotif hello kitty yang juga Nia pilihkan masih tetap ada.


Bantal jok bermotif hello kitty juga masih tetap pada tempatnya. Tak ada yang berubah. Hanya hubungan diantara mereka saja yang sekarang sudah beda.


"Mau bicara apa?" tanya Nia to the point. Ia merasa tak nyaman berlama-lama dengan Ronald. Biar bagaimanapun mereka mantan suami istri yang bercerai tidak dengan baik-baik. Ada rasa enggan bertemu sebenarnya.


"Kita ngobrolnya di Mc Cafe aja ya?" tanya Ronald.


"Terserah. Jangan lama-lama aja."


"Siap, cantik." Nia berpura-pura tidak mendengar gombalan Ronald. Ia bosan digombali terus.


Ronald memarkirkan mobilnya di parkiran Mc Cafe. Nia mengikuti saja saat Ronald memilih tempat duduk.


"Mau minum apa, Ni?"


"Apa aja"


"Apa dong? Jangan apa aja jawabnya. Aku kan bingung."


"Fanta float aja" jawab Nia pada akhirnya.


"Mau apple pie atau makan berat ga?"


"Gak usah."


"Tumben. Biasanya paling doyan ayam goreng. Diet ya?"


"Kalau masih lama aku pulang aja ya!" Nia sudah mau bangkit dari duduknya namun dicegah oleh Ronald.


"Weitss... sabar atuh cantik. Mas pesankan dulu ya. Jangan kemana-mana, ok?"


Nia hanya diam saja tak menjawab perkataan Ronald. Tak lama Ronald datang dengan membawa makanan dan minuman yang dipesannya.


"Silahkan dinikmati...." Ronald menaruh minuman dan makanan untuk Nia.


"Makasih. Jadi kamu mau bicara apa?"

__ADS_1


"Kabar kamu gimana Ni? Rumah terasa sangat sepi saat gak ada kamu."


"Baik. Udah deh cepet intinya aja mau ngomong apa."


"Kamu segitu bencinya ya sama aku, sampai ngobrol sama aku aja gak mau lama-lama? Padahal aku kangen banget sama kamu, Ni." Ronald menatap dengan pandangan tulus dan mengiba.


Nia lagi-lagi hanya diam tak menanggapi omongan Ronald. "Baiklah. Diamnya kamu sudah menjawab semua. Aku tahu aku banyak menyakiti hati kamu Ni. Sejujurnya aku tak mau menyerah begitu saja atas rumah tangga kita. Tapi ancaman dari pengacara kamu membuat aku mundur."


Daniel meminum es kopi yang dipesannya. "Aku lalu mencari tahu siapa pengacara kamu. Ternyata pengacara hebat. Aku salut kamu bisa menyewa pengacara semahal dan sehebat itu. Aku lalu bertanya dan mencari tahu tentang Daniel yang ternyata adalah anak dari pengacara kamu."


Nia juga meminum fanta floatnya. Ia berusaha meredam emosinya dan bersikap tenang mendengarkan apa yang ingin dibicarakan Ronald.


"Lalu apa hubungannya dengan aku?"


"Karena kamu dekat dengan Daniel. Itu hubungannya. Kamu mantan istriku. Wanita yang kucintai dan akan selamanya selalu kucintai dekat dengannya. Aku memang melepas kamu karena diancam. Tapi aku gak rela kamu sampai jadi dengan Daniel."


"Maaf ya Mas, jangan berusaha mencampuri urusanku."


"Aku gak mencampuri, Ni. Aku hanya gak rela kamu punya hubungan dengan seorang gay!"


Kagetnya Nia sampai tersedak dan terbatuk-batuk. Ronald langsung mendekat dan menepuk punggung Nia. Ia memberikan air mineral miliknya untuk Nia.


"Sorry... aku tadi cuma mau nolong kamu saja." Ronald kembali duduk di bangkunya.


"Kamu jangan fitnah Daniel deh. Dia cowok yang baik. Dia yang menolong aku disaat terpuruk dan sakit hati!" Nia tak terima dengan perkataan Ronald.


"Aku gak fitnah, Ni. Aku dapat informasi dari teman kuliah Daniel yang juga teman satu kantorku. Mana mungkin temanku berbohong?"


"Apa ada buktinya kalau Daniel memang gay?" Nia masih belum percaya akan perkataan Ronald.


"Silahkan kamu tanya sendiri jurusan hukum kampusnya Daniel. Hampir semuanya tahu kalau Dia itu Gay. Bahkan pernikahannya yang terakhir hanya sebagai topeng untuk menutupi orientasi seksualnya tersebut. Ternyata Tuhan berkehendak lain. Pernikahannya hanya satu hari saja. Dan sekarang, Ia sedang mendekati kamu, Ni. Bahkan Ia meminta Papanya untuk membela tanpa kamu mengeluarkan uang sepeserpun."


Nia masih mencerna informasi yang diberikan oleh Ronald. "Coba kamu pikir Ni. Untuk apa Ia baik selama ini sama kamu kalau tidak ada maksud tersembunyi di belakangnya?" Ronald masih mencoba memanaskan situasi dan menanamkan pengaruhnya pada Nia.


"Aku mau pulang, Mas. Aku pusing. Aku gak mau memikirkan hal itu."


"Baiklah. Biar aku antar."

__ADS_1


Ronald pun mengantar Nia pulang. Selama perjalanan Nia hanya diam saja memikirkan semua perkataan Ronald. Pergulatan batinnya dengan akal sehatnya terus terjadi. Apakah mungkin Daniel memang seorang Gay? Daniel memang baik, tapi selama mereka berteman Daniel memang tak pernah kontak fisik kecuali hanya peluk dan pegangan tangan saja.


Nia berusaha mengingat-ingat lagi percakapannya dengan Daniel, namun tak pernah sekalipun Daniel bercerita tentang teman-temannya selama kuliah. Lebih banyak Nia yang bercerita dibanding Daniel. Tanpa terasa mereka sudah sampai depan rumah Papa.


"Makasih, Mas." Nia turun tanpa menawari Ronald untuk masuk. Ronald hanya tersenyum melihat perubahan sikap Nia yang akhirnya termakan omongannya. Setidaknya Ia sudah membalas ancaman Daniel waktu itu.


Pasti hubungan mereka akan kandas dan aku bisa merebut kembali hati Nia -Ronald.


Ronald melajukan mobilnya meninggalkan rumah Nia dengan hati yang berbunga-bunga. Sementara Nia sedang melamun di kamarnya. Pernikahannya tinggal beberapa hari lagi. Apakah suaminya benar seorang Gay? Apakah memang pada akhirnya aku tetap tidak akan memiliki seorang anak? Air matanya mulai mengalir membasahi pipi.


Apa yang harus aku lakukan Tuhan? Haruskah aku membatalkan pernikahan ini sebelum terlambat? Ataukah aku tetap menjalani pernikahan yang selamanya hanya menjadi topeng saja? -Nia.


Tuhan langsung menjawab pertanyaan Nia. Seperti sebuah telepati, Daniel langsung menghubungi Nia karena perasaannya terasa tidak enak. Daniel menelepon Nia, dalam dering kedua Nia langsung menjawab telepon Daniel.


"Hallo calon istri Abang." gurau Daniel.


"Iya." Daniel mendengar suara Nia seperti habis menangis.


"Ada apa lagi? Siapa yang menyakiti hati kamu lagi? Jangan nangis terus dong." kata Daniel lembut.


"Aku gak apa-apa kok."


"Tuh bohong kan? Dari sini tuh aku bisa menerawang kalau kamu sedang menangis di tempat tidur sambil membayangkan wajah gantengku, iya kan?"


Kok Dia bisa tahu? Apa Dia memasang CCTV di kamarku ya? -Nia lalu mencari keberadaan CCTV di kamarnya tapi tidak ditemukannya.


"Hallo Ni..."


"Iya... iya... "


"Kemana aja sih? lagi nyariin CCTV ya?"


"Ih kok tahu sih?" Daniel tertawa terbahak-bahak mengetahui kalau Nia beneran mencari CCTV.


"Ini yang bikin aku kangen sama kamu, Ni. Tunggu aku pulang ya. Aku langsung nikahin kamu."


Tiba-tiba keraguan di hati Nia sirna. Ia tak peduli mau Daniel gay atau bukan. Ia yakin kalau Ia nyaman hidup bersama Daniel. Ia akan menerima kekurangan Daniel, seperti Daniel yang selalu menerima Nia apa adanya.

__ADS_1


"Iya aku tunggu kamu." kata Nia sambil tersenyum ikhlas.


******


__ADS_2