
Daniel mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia bingung mau membawa Nia kemana. Sejak pergi meninggalkan rumahnya, Nia hanya diam saja. Sorot matanya menatap nanar pemandangan di luar jendela. Raganya ada di mobil Daniel, namun pikiran dan batinnya berkelana entah kemana.
Daniel mulai khawatir, sejak melihat perselingkuhan suaminya di apartemen tadi sampai sekarang tak ada setetes pun air mata yang mengalir. Daniel takut jika tidak dilampiaskan amarahnya bisa berakibat fatal pada kesehatan mental Nia.
Daniel bisa saja bertanya sama Papa dimana rumah Pak Adi, Papa kandung Nia. Namun melihat Nia hanya menatap kosong membuat hatinya berat untuk memulangkan Nia. Ia lalu membawa Nia ke Resort milik Papanya di daerah Puncak.
"Nia, hp kamu bunyi terus tuh dari tadi" Daniel membuyarkan lamunan Nia.
Nia tersadar lalu melihat hp nya yang berada di dalam tasnya. Ada 30 panggilan tak terjawab dari Ronald dan 10 dari Papa. Pesan di Whats App sudah lebih dari 100. Lagi-lagi paling banyak dari Ronald. Nia melewati saja pesan Ronald tanpa dibaca.
Papa kembali menelepon, Nia pun langsung mengangkatnya.
"Hallo Nia. Kamu tidak apa-apa Nak?" tanya Papa khawatir.
"Nia baik-baik saja Pa. Ada apa ya?" tanya Nia berpura-pura seakan tak ada masalah.
"Tadi Ronald kesini mencari kamu. Ia pikir kamu ada disini dan bilang mau minta maaf. Papa sudah tau dari Ronald tentang perbuatannya sama kamu. Kamu dimana Nak? Pulanglah. Pintu rumah Papa selalu terbuka untukmu"
Nia terdiam sesaat. Jadi Papa sudah mengetahui semuanya, bukan dari mulutnya namun dari Ronald sendiri. "Kita dimana Nil?" tanya Nia pada Daniel yang sedang mengemudi.
"Puncak" jawab Daniel.
"Hah? kok kita ada di puncak? kamu mau bawa aku kemana?" Nia kaget dan lupa menutup teleponnya sehingga Papa bisa mendengar percakapannya dengan Daniel.
"Hallo... Nia.. kamu sama siapa? ngapain kamu ke Puncak?" Papa mulai khawatir.
"Nia sama Daniel, Pa. Anaknya Pak Darmawan, teman Papa"
"Loh kok kamu bisa kenal Daniel?" tanya Papa heran.
"Panjang Pa ceritanya. Intinya Daniel yang sudah membantu Nia hari ini untuk mengungkap perselingkuhan Ronald" jawab Nia.
"Nia, Papa mau bicara sama Daniel" Nia pun memberikan hp nya pada Daniel.
"Nih, Papa aku mau bicara sama kamu"
Daniel pun menerima hp yang diberikan oleh Nia. "Hallo Om"
"Nil, Kamu mau bawa Nia kemana?" tanya Papa khawatir.
__ADS_1
"Mau ke Resort Papa yang ada di Puncak Om. Nih udah mau sampai"
"Kenapa gak langsung bawa ke rumah Om?"
"Biar Nia tenang dulu Om. Kasian dari tadi Dia shock berat ngeliat ulah suaminya. Tenang aja Om gak akan Daniel apa-apain kok"
"Baiklah. Om percayakan Nia sama kamu. Toh sejak awal memang Dia adalah tunangan kamu. Andai saja dulu Ia menikah dengan kamu, pasti kejadian seperti ini tak akan pernah terjadi" Suara Papa terdengar bergetar karena tak bisa menahan tangisnya.
"Iya Om. Om gak usah khawatir ya. Daniel pasti jaga Nia" ucapan Daniel menenangkan Papa.
"Terima kasih Nil" Papa pun menutup teleponnya. Daniel mengembalikan kembali hp nya pada Nia.
"Papa bilang apa?"tanya Nia penasaran dengan apa yang dibicarakan Papa dan Daniel.
"Om bilang kamu tenangin diri aja dulu sama aku. Besok kamu ijin gak masuk kerja. Bilang saja sakit. Nanti sisanya aku yang urus" Daniel kembali fokus mengemudi.
Mobil Daniel memasuki suatu kawasan dan ada sebuah resort besar nan mewah. Pemandangan alam yang bagus dan udara yang sejuk membuat tenang pikiran Nia.
"Yuk turun" ajak Daniel setelah memarkirkan mobilnya. Setelah melepas seat beltnya Nia pun turun. Daniel langsung mengeluarkan koper milik pakaian Nia.
Salah seorang pegawai yang melihat anak pemilik resort datang dengan sigap langsung menghampiri dan membawakan koper milik Nia.
"Ayo ikut aku" Daniel langsung menggandeng tangan Nia yang masih diam di tempat. Nia mengikuti saja kemana langkah kaki Daniel membawanya. Daniel membawa Nia ke kolam renang outdoor resort.
Pengunjung resort sudah mulai sepi. Biasanya resort milik Papa akan ramai jika hari jumat dan pengunjung akan check out hari minggu siang karena besok akan kembali bekerja. Hanya tersisa beberapa orang saja, biasanya wisatawan asing yang masih stay di Indonesia lebih dari seminggu.
Kolam renang outdoor resort memiliki pemandangan yang sangat indah. Keindahannya bahkan berhasil mengalihkan kesedihan yang dialaminya.
"Wow... bagus banget viewnya. Jadi pengen berenang" puji Nia dengan mata berbinar-binar.
"Yaudah berenang saja"
"Gak bawa bajunya. Lagi juga sudah mau malam, pasti dingin banget airnya. Brr... "Nia mulai merasakan udara Puncak yang mulai dingin.
Seorang chef resort datang menghampiri Daniel dan membawakan pesanannya.
"Permisi Tuan. Makanan dan minumannya sudah siap. Mau ditaruh dimana?"
"Oh disitu saja" Daniel menunjuk tempat duduk di tepi kolam renang yang kosong. Chef tersebut pun lalu menghidangkannya.
__ADS_1
"Silahkan Tuan"
"Terima kasih" jawab Daniel sopan. Chef itu pun pergi meninggalkan Daniel dan Nia.
"Ayo minum hot chocolate dulu. Udara sudah mulai dingin" lagi-lagi Nia menuruti saja perintah Daniel. Ia seperti anak kucing yang mengikuti tuannya.
Nia meminum hot chocolate yang ditawarkan Daniel, hangatnya minuman tersebut menghangatkan badannya.
"Makan juga kuenya. Dari tadi belum makan dan minum apapun takut kamu sakit. Nanti kita makan malam lagi. Untuk sementara makan cemilan dulu"
Nia meletakkan kembali hot chocolatenya. Bukannya mengambil kue, Ia malah melamun memikirkan masa depan pernikahannya kelak.
"Tuh kan bengong lagi. Ayo dong di makan. Nanti sakit maag loh. Kenapa? gak suka? kalau gak suka biar aku suruh chefnya ganti menu lain"
"Aku gak nafsu makan" jawab Nia singkat.
Mendengar jawaban Nia, Daniel bangun dari duduknya dan menghampiri Nia. Diambilnya piring berisi kue dan berniat menyuapi Nia.
"Buka mulutnya... aa..." Daniel memaksa Nia makan.
"Nanti saja" jawab Nia lesu.
"Udah cepat. Kalau gak mau aku cium nih. Aaa..."
"Ih apaan sih"
"Aku hitung ya. Satu...dua...ti.." Nia langsung membuka mulutnya takut akan ancaman Daniel yang akan menciumnya.
"Nah gitu dong. Kan enak kalau nurut gak usah dipaksa. Ayo makan dan habiskan. Atau mau aku suapi terus?" goda Daniel.
"Aku makan sendiri saja" Nia memakan kuenya dengan cepat agar segera habis.
"Udah makannya?" Nia mengangguk menjawab Daniel. "Ayo aku antar kamu ke kamar. Mandi biar segar dan menjernihkan pikiran nanti aku jemput lagi untuk makan malam, oke?"
"Iya bawel" Daniel hanya tersenyum melihat Nia yang cemberut dan merutukinya.
****
Ayo yang suka sama novel ini mana suaranya? like dan vote dong biar semangat nulis. vote yang banyak ya.... 😁😁😁
__ADS_1