Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Konflik-2


__ADS_3

"Ke Jalan Mawar No.2 ya Pak, pertigaan belok kanan" Nia memberitahukan alamatnya kepada supir taksi. Matanya sudah bengkak sehabis menangis sepanjang perjalanan. Ya, Nia sudah memutuskan akan pulang ke rumah Papa. Disanalah tempat Ia mengadu berkeluh kesah atas semua masalahnya.


"Andai Mama masih ada... pasti Mama sedih melihat putrinya diperlakukan seperti orang yang mandul" batin Nia menangis, hatinya terasa sangat pedih.


Dari jauh pagar rumahnya sudah terlihat. Rumah mungil nan asri yang selalu dirindukannya. Tinggal di rumah mungil itu lebih terasa adem dan tenang dibanding tinggal di rumah yang lumayan mewah tapi bersama ibu mertuanya, rasanya panas.


"Berhenti di depan saja Pak" Nia mengeluarkan uang dari dompetnya dan membayar sesuai argo. Tak lupa dilebihkan sedikit untuk tips. Supir taksi tersebut mengucap terima kasih dan tersenyum senang. Ah, indahnya berbagi walau sedikit.


Nia turun dari taksi dan berjalan ke depan pagar rumah. Diliriknya jam di hp blackberrynya, jam 11 malam. "Papa sudah tidur belum ya" gumam Nia dalam hati. Dibukanya pintu pagar, Ia berjalan sambil menenteng tas jinjingnya. Ada rasa ragu untuk masuk, tak mau Papanya kepikiran dengan masalah yang Ia alami. Namun mau kemana lagi? Dihembuskannya nafas berat lalu Ia ketuk pintu rumahnya.


Tok...tok...tok... tak ada jawaban. Apakah sudah tidur Papa dan Nesia? diketuk lagi pintu sampai akhirnya Nia melihat lampu ruang tamu dinyalakan.


"Siapa?"


"Nia... Pa" Papa langsung membuka pintu dan melihat putri cantiknya datang dengan mata sembab dan membawa tas. Dicarinya sang menantu ke sekeliling namun tak ada siapa-siapa.


Nia langsung menghamburkan diri ke pelukan Papanya. Air matanya tumpah tuah. Papa mendekap erat putrinya yang menangis tersedu-sedu. "Ada masalah apa ini sampai putriku pulang sendirian di malam hari" gumam Papa dalam hati.


"Sudah ayo masuk dulu" Papa pun menuntun Nia masuk ke dalam rumah. Nesia yang mendengar suara Kakaknya datang langsung keluar kamar dan melihat sang kakak sedang menangis dipelukan Papa.


"Kak Nia kenapa Pa?" tanya Nesia penasaran.

__ADS_1


"Ambilkan kakakmu minum Nes" perintah Papa. Nesia pun langsung ke dapur dan mengambilkan segelas air putih dan memberikannya untuk kakaknya.


"Minum dulu Ni, nanti ceritakan sama Papa apa yang sudah terjadi. Tenangkan dirimu dulu" Nia meminum air yang disediakan oleh Nesia. Nia mulai mengatur nafasnya karena hidungnya tersumbat kebanyakan nangis.


"Sudah tenang?" tanya Papa. Nia pun mengangguk. "Ceritakan sama Papa apa yang sudah terjadi, mana suami kamu?"


Nia menaruh gelas bekas minumnya di meja. Ia pun mulai menceritakan tentang Mama mertuanya yang meminta untuk periksa ke Rumah Sakit, tentang sang suami yang membela Mamanya. Air mata Nia kembali tumpah ruah. Papa mendengarkan dengan seksama curahan hati putrinya tersebut. Tangannya mengepal menahan kesal atas perlakuan yang sudah diterima oleh puterinya tersebut. Nia menceritakan semuanya sampai akhirnya Ia memutuskan pulang ke rumah Papanya malam hari.


"Sudah malam Nak. Kamu tidur saja dulu di kamar kamu. Besok kita pikirin caranya bagaimana. Kamu juga lelah kan habis bekerja seharian. Sudah cuci muka kamu terus tidur ya" Nia pun menuruti permintaan Papanya.


Nia memasuki kamar dan tidur setelah mencuci muka dan berganti baju. Papa memperhatikan sampai Nia tertidur. Diselimutinya putri cantiknya dan dimatikan lampu kamar. Ia pun keluar dari kamar sang anak lalu masuk ke dalam kamarnya.


Papa mencari di dalam laci lemari bajunya sebuah kartu nama. Ia ingat kalau dulu ada seorang sahabat lama yang pernah merasa sangat berhutang budi atas kebaikannya, sahabat tersebut ingin menikahkan anaknya dengan Nia sebagai balas jasa. Belum sempat Papa mengutarakan eh Nia sudah terlanjur dilamar oleh Ronald.


Akhirnya kartu nama yang dicarinya ketemu. Tertulis nama Darmawan, S.H (Advokat- Pengacara) dan alamat kantornya di salah satu gedung di SCBD Jakarta. Papa menyimpan kartu tersebut di dompetnya, besok Ia akan meneleponnya.


******


Rumah Ronald


Ronald tak menyangka Nia akan nekat pergi seorang diri, malam hari pula. Selama ini Nia selalu menurut apapun yang diperintahkannya. Sebulan sekali mereka menginap di rumah orang tua masing-masing, Nia pun menurut. Ronald juga melihat usaha istrinya untuk memenuhi keinginan sang Mama agar punya anak. Nia menjaga pola makannya. Rajin mengkonsumsi madu dan kurma muda juga. Pola hidupnya juga sehat, dan terakhir disuruh konsultasi ke Rumah Sakit pun diturutinya tanpa mengeluh.

__ADS_1


Posisi Ronald yang berada antara sang istri dan Mama yang melahirkannya. Jika harus memilih, maka Ia tak akan sanggup memilih. Keduanya adalah wanita yang dicintainya. Seperti saat ini, Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Lebih baik Ia meredakan amarah Mamanya dulu baru mencari istrinya.


"Ma. Nia kan sudah nuruti kemauan Mama untuk ke dokter, sudah dong Ma jangan emosi terus. Kasian Nia disudutkan terus"


"Jadi kamu lebih membela istrimu dibanding Mama?" Mama pun melotot dan marah ke Ronald.


"Ya kan Nia istri Ronald, Ma. Dia tanggung jawab Ronald. Nanti Ronald bujuk Nia agar mau lanjutkan pengobatan. Kalau Mama gak mau Ronald diperiksa yaudah Ronald ga usah diperiksa"


"Pokoknya kamu jangan mau ya diperiksa. Enak aja Dia mau nyalahin kamu atas ketidakhamilan Dia. Jangan mau pokoknya" ancam Mama sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah Ronald.


"Iya Ma.. iya... Yaudah Ronald sekarang mau pulang dulu" Ronald lalu bangun dari duduknya dan mengambil kunci mobilnya.


"Ngapain kamu pulang? Gak jadi nginep? Ngapain sih istri kurang ajar begitu kamu cariin?"


"Selama Nia masih istri Ronald, Ia tanggung jawab Ronald, Ma. Sudahlah Mama jangan marah melulu ke Nia. Ronald pulang dulu Ma"


Ronald lalu meninggalkan rumah Mama Sri menuju rumahnya. Sesampainya depan rumah ternyata rumahnya sepi. "Waduh, Nia pulang kerumah Papanya nih. Habislah aku. Pasti bakal kena omelan Papanya nih" gumam Ronald. Ia menimbang-nimbang untuk menjemputnya sekarang, namun sudah jam 1 pagi.


Ronald tetap ke rumah Papa. Mobilnya sudah berhenti didepan rumah Papa, namun diurungkannya masuk ke dalam. Ia melihat ada sepatu Nia didepan rumah. "Ternyata benar ke rumah Papa" gumam Ronald.


Ronald memutuskan akan kembali lagi besok untuk menjemput Nia. Ia tidak mau menjemput dalam keadaan semua masih emosi seperti sekarang. Ia lalu meninggalkan rumah Nia dan pulang ke rumahnya.

__ADS_1


Tanpa Ia sadari Papa mengintip dari jendela dan melihat sang menantu yang tak berani menjemput puterinya....


__ADS_2