
Nia tak menyangka sang mertua akan datang dan menanyakan langsung hasil tes laboratorium suaminya. Nia memang belum sempat ambil karena hari senin kerja,dan baru bisa mengajukan cuti dadakan. Sehabis mandi Nia sudah berniat menghubungi Rumah Sakit untuk daftar online. Ternyata Mama Sri sudah datang pagi-pagi dan berniat ikut serta ke Rumah Sakit.
Nia lalu mendaftarkan dirinya ke Rumah Sakit khususnya bagian Obgyn atau Dokter Spesialis Kandungan. Ronald yang baru bangun tidur pun langsung mandi dan bersiap ikut pergi sesuai titah Mama Sri yang tak bisa terbantahkan. Nia masuk kembali ke dalam kamar untuk make up dan bersiap-siap.
Selesai mandi dan sudah rapi Ronald menuju mobilnya untuk dipanaskan sebelum pergi. Mama Sri juga sudah menunggu di luar rumah. Nia mengunci rumah dulu baru masuk ke mobil.
"Mau duduk dimana kamu? Mama yang duduk di depan, kamu di belakang saja" usir Mama saat Nia ingin duduk di bangku depan.
"Iya Ma" Nia menurut saja kemauan mertuanya. Ia lalu naik mobil dan duduk di kursi belakang. Mama Sri lalu naik dan duduk di kursi depan. Terlihat wajah puas telah mengusir Nia. Sepanjang jalan Nia hanya diam saja sambil memainkan hp nya. Tak mengacuhkan Mama Sri dan Ronald yang mengobrol sambil sesekali menyindir dirinya yang dianggap tak becus sebagai seorang istri.
Jalanan selasa pagi itu lumayan lancar, mungkin karena anak sekolah sudah masuk kelas dan karyawan sudah sampai kantor jadi jalanan lebih lengang. Setelah memarkirkan mobil mereka mereka lalu menuju tempat pendaftaran, tak lupa Nia mengambil hasil tes nya dari lab.
Hasil tes tersebut masih tersimpan rapi dalam amplop. Biarkan saja dokternya yang membuka dan membacakan hasilnya pada mereka semua, pikir Nia. Nia berjalan di depan memimpin jalan sementara Mama dan Ronald mengikutinya di belakang. Nia lalu menuju Poli Kandungan dan menunggu dokter tiba di ruang tunggu yang disediakan. Perutnya berbunyi karena belum sempat diisi sarapan sama sekali.
Karena dokternya belum datang, Nia pamit mau beli cemilan di bawah. "Ma, Nia mau beli sarapan dulu ya. Mau nitip apa?" tak ada jawaban yang didapat. Bahkan pasien lain yang duduk didepan Nia sampai menoleh kasian melihat Nia dicuekki seperti itu padahal niat Nia baik.
Merasa tak ada jawaban, Nia pun pergi meninggalkan ruang tunggu dan berjalan menuju kantin rumah sakit. Tadinya Ia mau membelikan sarapan juga untuk Ronald dan Mama, namun Ia kesal juga karena dicuekkin , jadinya Ia hanya membelikan air mineral saja. Nia lebih memilih makan bakso di tempat, setelah kenyang Ia kembali ke atas sambil membawa 3 botol air mineral.
Nia duduk kembali di tempat tunggu, melihat Nia hanya membawa air mineral saja Ronald bertanya pada Nia. "Mana sarapannya? Kok cuma air saja yang kamu bawa?"
"Aku makan ditempat gak dibungkus. Tadi kan aku udah tanya mau sarapan apa tapi gak ada jawaban yaudah aku pikir kalian sudah kenyang. Nih aku belikan air mineral takutnya haus" Nia menyerahkan 2 buah air mineral dengan wajah tanpa dosa. Sementara Ronald mendengus kesal melihat ulah istrinya. Pasien yang duduk didepan Nia hanya tersenyum seolah mendukung apa yang Nia lakukan.
__ADS_1
"Sudahlah Nal. Mama sudah sarapan. Kita tunggu saja dokternya datang" Mama Sri berusaha menahan gengsinya. Ronald pun menurut saja, padahal Ia juga lapar.
Dokter yang ditunggu pun datang. Pasien pertama dipersilahkan masuk. Nia masih menunggu gilirannya, yakni nomor 3. Setelah pasien pertama selesai masuklah pasien ke 2.
Perawat pun memanggil nama Nia setelah pasien ke 2 sudah keluar ruangan. Nia masuk ke dalam ruang periksa diikuti dengan Ronald dan Mama Sri.
"Pagi Dok" sapa Nia hangat.
"Pagi Ibu Nia. Wah tumben nih banyak yang antar, biasanya sendirian saja kayak anak hilang hehehe..."
"Iya Dok"
"Baik Ibu Nia mana hasil test lab nya?" Nia lalu memberikan amplop hasil test lab suaminya. Dokter lalu membuka dan membawa hasilnya. Terlihat kening sang dokter berkerut.
"Bagaimana hasilnya Dok? Anak saya baik-baik saja kan?" Mama Sri tak sabar langsung bertanya karena melihat perubahan ekspresi wajah dokternya yang awalnya hangat tiba-tiba terdiam setelah membaca hasil lab. Dokter pun menghembuskan nafas berat. Ronald dan Nia pun tak sabar menunggu jawabannya.
"Dari hasil laboratorium, ternyata hasilnya kurang bagus" Deg... Nia dan Mama langsung menatap ke arah Ronald.
Dokter lalu diam sejenak, memberi jeda agar keluarga pasiennya bisa menerima kenyataan dan tak terlalu kaget. "Disini terlihat jumlah ****** yang dihasilkan Bapak Ronald sangat sedikit, itu pun bukan ****** yang bagus untuk membuahi sel telur dalam artian spermanya terlalu lemah. Jadi proses pembuahan agak sulit dilakukan"
"Maksud Dokter anak saya mandul gitu?" tanya Mama Sri tak percaya.
__ADS_1
"Bisa dikatakan seperti itu Bu. Jumlah ****** yang sedikit dan hanya ****** lemah yang dihasilnya menyulitkan untuk punya anak"
Wajah Ronald langsung pucat pasi. Sementara Nia menutup mulutnya seakan tak percaya.
"Tapi masih bisa punya anak kan Dok?" Mama Sri masih tak percaya anaknyalah yang mandul.
"Bisa tapi agak sulit. Anak Ibu bisa mencoba dengan program bayi tabung. Tapi permasalahannya program bayi tabung biayanya mahal, dan tak pasti apakah akan berhasil dalam satu kali percobaan"
"Ya Tuhan... " Mama Sri menangis mendengar penjelasan Dokter.
Nia menatap wajah suaminya. Ronald hanya diam terpaku, air mata di pelupuk matanya mulai turun. Ia pun segera menghapusnya, tak mau menunjukkan sisi lemahnya sebagai seorang suami.
"Penyebabnya apa ya Dok?" Ronald memberanikan diri bertanya pada Dokter.
"Penyebabnya banyak Pak. Bisa dari faktor genetic atau pola hidup. Mungkin Bapak dulu sering minum-minuman beralkohol? itu bisa jadi penyebabnya"
Ronald langsung menyalahkan dirinya sendiri. Ya, kebiasaannya dulu yang sering minum-minuman beralkohol memiliki efeknya sekarang, menyesal pun sudah terlambat.
"Jadi Ibu Nia, sekarang sudah tak perlu konsul lagi. Obat dan vitamin yang saya berikan tak perlu dikonsumsi lagi. Ibu bisa minum vitamin apa saja." Dokter tersenyum ke arah Nia. Sejujurnya Dokter tersebut senang akhirnya terbukti bukan Nia yang salah. Dokter kasihan melihat Nia rajin datang kontrol tanpa didampingi sang suami, bahkan terkadang Nia menyalahkan dirinya sendiri. Sekarang semua sudah terbukti.
Nia pun meninggalkan ruang praktek dokter dan menuju kasir untuk membayar tagihannya. Mama dan Ronald hanya diam saja di belakangnya. Mereka sibuk menangisi nasibnya.
__ADS_1