Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Ingkar-2


__ADS_3

Dua insan manusia yang awalnya saling mencintai, Nia dan Ronald masih saling bersitegang. Nia masih melepaskan tangan Ronald yang menggenggamnya erat, bahkan terlalu erat sampai menyakitkan dan menyisakan bekas merah di kulitnya yang putih. Sementara Ronald masih berperang untuk memenangkan ego-nya, ego sebagai seorang suami yang bahkan setiap titahnya harus dituruti sang istri.


Nia, memiliki pola asuh demokratis tak bisa diatur dalam kepemimpinan sang suami yang dianggapnya otoriter dan tak bisa memegang janji. Janji untuk tak memaksa Nia tetap tinggal jika Ia tak betah boleh pulang ke rumah namun tidak ditepati suaminya. Bahkan sang suami yang biasanya lemah lembut mulai bersikap kasar. Apa kata sang Papa jika tau anak perempuannya diperlakukan seperti itu?


Ronald, biasa dimanja dan dianggap laki-laki adalah seorang pemimpin, baik di rumah maupun di kantor. Setiap perintahnya harus dituruti, jika Ia ingin A maka harus A. Bahkan janji yang diucapkannya pun Ia lupa. Melihat sang istri yang penurut membantah keinginannya membuatnya emosi.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN?" Mama Sri marah setelah melihat dan mendengar pertengkaran anak dan menantunya. Suaranya menggelegar terdengar bahkan sampai ke kamar Reina. Reina kaget dan langsung turun melihat apa yang terjadi. Ia hanya menyaksikan pertengkaran keluarganya dari tangga rumah.


Nia dan Ronald spontan melihat ke arah sang pemilik suara.


"Ronald, lepaskan tangan kamu. Kalau kamu melakukan kekerasan kamu bisa kena pasal KDRT" Ronald langsung melepaskan tangan Nia. Nia langsung menarik tangannya dan merasakan sakit di tangannya yang memerah.


"Nia, ada apa sih dengan rumah ini? kenapa kamu gak pernah betah berada disini? Apa Mama menyiksa kamu?" Mama marah sambil berkacak pinggang.


Nia hanya diam saja tak menjawab pertanyaan Mama Sri. Ia tahu, Mama tak butuh jawabannya. Jika Ia jawab malah makin membuat Mama makin emosi, jadi Ia memilih diam.


"Setiap kesini selalu berantem. Mau sampai kapan begini terus?"

__ADS_1


Nia dan Ronald sama-sama terdiam.


"Kenapa kalian diam? Kenapa kalian berantem? Ronald, jawab Mama"


"Ronald kesel Ma, tadi pagi Ronald lagi tidur Nia ngajak Ronald cek up ke Rumah Sakit, padahal Ronald pulang malam capek Ma. Eh sekarang Ronald lagi santai minta pulang. Gimana Ronald gak marah coba?" Ronald mengadukan semuanya ke Mamanya layaknya seorang anak kecil.


Nia tak menyangka, semudah itu Ronald ingkar pada janjinya didepan Papa dulu saat menjemputnya. Nia merasa dikhianati dan ditusuk dari belakang oleh suaminya lagi. Ini kedua kalinya, sang suami bukannya membela sang istri tapi lagi-lagi mendorong ke dalam jurang demi menyelamatkan diri sendiri.


"Betul itu Nia?" Mama berpura-pura tak tahu padahal sejak tadi Mama mendengar semua pertengkaran mereka.


"Nia memang ngajak Mas Ronald pulang Ma. Karena Nia lapar. Nia belum sarapan tadi pagi dan makan chiki di kamar Rena" Nia sengaja playing victim untuk mengimbangi sikap Ronald yang dirasanya seperti anak kecil dan menganggap dirinya korban padahal telah menyakiti hati orang lain.


"Tuh kan kena jebakan"gumam Nia dalam hati.


"Kan gak ditawarin.... sama Mama. Mas Ronald juga gak nawarin Nia makan sejak tadi. Maaf Ma, sejak minum obat dari dokter, Nia jadi mudah laper makanya badan Nia melar begini" Mama dan yang lainnya hanya diam saja, Nia pun melanjutkan serangannya. " Mas Ronald memang Nia bangunkan tadi pagi untuk cek lab, Nia periksa sudah setahun lebih loh Ma tapi gak pernah Mas Ronald datang. Jangankan untuk periksa, menemani Nia aja gak pernah....."


"Apa salahnya sih periksa sendirian?" Ronald menyela ucapan Nia.

__ADS_1


"Apa Mas tahu rasanya menunggu bareng ibu hamil yang sangat bahagia menanti sang buah hati ditemani suaminya? Sementara aku tak kunjung punya momongan dan menunggu sendirian tanpa ada suami yang menguatkanku?" Kembali semuanya terdiam. Air mata Nia sudah menetes tak terbendung. Ya, Ia akan meluapkan semuanya biar mereka tahu rasanya disakiti.


"Sekarang aku tanya sama Mama, apa salah jika dokter meminta suami aku untuk dites juga? Apa begitu hinanya di tes sampai Mama tak mengijinkan Ronald dites? Lantas kenapa Mama memaksa hanya Nia saja yang diperiksa? Apa Nia sehina itu dimata Mama? Dokter Ma yang menyuruh Ronald diperiksa, bukan Nia. Kenapa Mama gak marah-marah saja ke dokternya?"


"Aku minta Mas Ronald pulang karena Mas Ronald yang janji sama Papa tidak akan memaksa aku nginep kalau aku gak betah. Aku hanya menagih janji suamiku saja. Aku mau pulang sekarang terserah kamu mau nginep atau mau apa, yang pasti hasil lab akan keluar 3 hari lagi" Nia lalu pergi meninggalkan rumah Mama Sri.


Sepeninggal Nia, Ronald langsung mengambil kunci mobilnya dan mengejar Nia sebelum Nia pergi lagi ke rumah Papa seperti waktu itu.


Mama Sri hanya menunduk menahan amarah bercampur malunya. Habis sudah kata-katanya mendengar perkataan Nia. Reina yang melihat pertunjukkan Nia sudah selesai, mengendap-endap kembali lagi ke kamar.


*****


Nia sudah menyetop taksi dan meninggalkan rumah Mama Sri saat Ronald mengejarnya. Ronald lalu menyalip taksi yang ditumpangi Nia dan berhenti didepan taksi tersebut, sehingga mau tidak mau taksi tersebut ikut berhenti. Ronald lalu menyuruh Nia keluar dan pulang bersamanya.


Nia yang sudah kehabisan tenaga untuk emosi akhirnya turun dari taksi, tak lupa Ia membayar taksi terlebih dahulu. Dalam diam Ia masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang. Ronald masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya ke rumah mereka. Sepanjang perjalanan mereka pun sama-sama terdiam menahan emosi.


Sesampainya di rumah mereka masih diam-diaman. Nia langsung menuju dapur dan membuat semangkuk ramen korea pedas dengan toping telur dan sosis. Wangi ramen korea tersebut menggugah selera Ronald yang sedang asyik nonton tv. Ronald pun menghampiri dan berharap Nia membuatkan juga untuknya. Ternyata Nia hanya membuat untuk dirinnya sendiri. Nia asyik saja memakan ramen tanpa memperdulikan Ronald yang celingak-celinguk mencari mie untuknya. Melihat tak ada mie untuknya Ronald pun berinisiatif membuat sendiri.

__ADS_1


Sesekali diliriknya Nia yang makan dengan lahap sambil kepedesan. "Sepertinya enak banget tuh ramennya" kata Ronald dalam hati, Ia pun menelan liurnya membayangkan enaknya ramen Nia.


Ramen yang dibuat Ronald pun telah matang. Ronald memakannya di meja makan, niatnya ingin pamer kalau Ia juga bisa masak sendiri, tapi Nia sudah selesai makan langsung mencuci piring dan masuk ke kamar. Ronald lalu mencicipi ramen buatannya ternyata rasanya hambar, Ia tak tahu jika membuat ramen tak perlu banyak kuah. Hilang sudahlah selera makannya.


__ADS_2