
Bisa dibilang Ronald memiliki keberuntungan dalam hidupnya. Tinggal dengan keluarga yang lumayam mapan, tak pernah merasakan susahnya tak punya uang untuk makan. Golden Boy itulah julukannya. Sebagai anak laki-laki kesayangan Mamanya semua yang Ia inginkan selalu dipenuhi.
Mama Sri terbiasa membeda-bedakan perlakuan antara Ronald dan Reina. Bagi Mama Sri, anak laki-laki sangat spesial. Anak laki-lakinya akan menjadi tulang punggung keluarganya nantinya. Karena itu Ronald sangat manja dengan mamanya.
Ronald juga memiliki kemampuan untuk mendekatkan diri dengan orang lain, mudah bergaul istilahnya. Ia memiliki banyak teman. Bagi Ronald hidup tuh work hard play hard. Rajin sekolah, rajin juga gaulnya.
Sejak jaman kuliah, Ronald sering menikmati dunia gemerlap. Rokok dan alkohol seakan dunianya. Mama tak pernah melarangnya karena menurut Mama tidak apa-apa Ronald menikmati hidupnya, tak melulu hanya belajar.
Papa Ronald berbeda dengan istrinya. Ia adalah tipikal Papa yang keras dalam mendidik anak. Sering kali Mama dan Papa berselisih paham tentang metode mendidik anak yang berbeda. Papa menentang keras kebiasaan Ronald yang sering pulang pagi dan mabuk-mabukkan setelah dugem. Namun, Mama tak membiarkan anaknya diomeli bahkan oleh suaminya tersebut. Kecintaannya terhadap sang anak membutakan kesalahan anaknya.
Semuanya berubah, saat sang Papa meninggal dunia karena kecelakaan. Ronald yang tinggal semester akhir tersadar akan pola hidupnya yang salah dan akhirnya fokus kuliah sampai selesai. Papa masih menyisakan saham perusahaan 30% yang membuat keluarga Ronald masih bisa hidup dengan nyaman sampai sekarang. Namun Ronald menyesal tak mendengarkan nasihat yang diberikan sang Papa saat hidup.
__ADS_1
Ia pun membenahi hidupnya. Kuliah diselesaikan secepatnya. Kehidupan malamnya pun ditinggalkan. Sampai akhirnya Ia diterima bekerja di Bank terkemuka. Kemampuannya yang mudah bergaul memudahkannya mendapat nasabah, tak ayal karirnya pun menanjak drastis. Di usia muda Ia sudah menjadi Supervisor dan sering mendapat reward jalan-jalan ke luar negeri.
Banyak rekan kerjanya yang naksir dengan Ronald. Walau Ronald tak begitu tampan namun karena prestasinya banyak yang menyukainya. Berganti-ganti pacar semudah berganti baju. Sampai akhirnya Ia bertemu dengan Nia saat sedang menunggu adiknya Reina sidang skripsi. Ronald langsung jatuh hati pada pandangan pertama dengan Nia. Ronald langsung pdkt dengan Nia dan mengajak berkenalan. Nia tak memberikan nomor hp nya namun Ia tak habis akal, dibelikannya adiknya Reina cokelat agar mau memberikan nomor hp Nia. Reina pun tak menolak, toh menurutnya kakaknya cocok dengan Nia.
Ronald pun gerak cepat sebelum Nia dimiliki oleh yang lainnya. Ia mengajak Nia berkencan dan langsung mengajak pacaran, tak disangka Nia juga menyukainya. Sejak mengenal Nia, ia tak bisa menahan diri, ingin rasanya memiliki Nia secepatnya. Ia pun melamar Nia, menyiapkan cincin berlian dari toko berlian ternama membuat Nia terkesan dan menerima lamarannya.
Proses lamaran sampai pernikahan berlangsung lancar tanpa halangan, walau Mama entah mengapa seperti menunjukkan raut tidak suka dengan Nia, Ronald hanya berpikir Mama sedih anak laki-laki kesayangannya akan menikah jadi tak diambil hati.
Pernikahan mereka pun awalnya sangat bahagia. Bangun pagi ada malaikat cantik disampingnya. Sarapan pagi sudah tersedia. Baju kerja sudah disiapkan. Pulang kerja pun demikian, meski Nia lelah seharian bekerja namun Ia tak lupa memasakkan makanan untuk makan malam mereka. Semua keindahan rumah tangga perlahan sirna saat Mama mulai menuntut minta cucu secepatnya. Jujur saja Ronald tak masalah langsung punya anak atau nanti, karena baginya anak bisa datang nanti saat Tuhan sudah memberikannya. Ia ingin bulan madu dulu, menikmati indahnya pernikahan.
Ia pun menuruti keinginan Mama agar Nia konsul ke dokter kandungan. Biar Nia saja yang check up, Ia tak usah. Buat apa coba? kan yang check up biasanya perempuan. "Lebih baik aku lembur saja di kantor daripada bergabung dengan ibu-ibu hamil di dokter" pikir Ronald.
__ADS_1
Sesuai niatnya, Ronald tak mengantar Nia ke dokter kandungan melainkan lembur di kantor. Namun Ia merasa tak enak hati, akhirnya Ia berinisiatif menjemput sang istri. Ronald merasa sudah memenuhi keinginan Mama nya untuk konsultasi ke dokter, maka saat kunjungan ke rumah Mama Ia pun merasa tenang. Ia juga melihat Nia membawa obat dari dokter untuk dipamerkan dengan Mamanya sebagai bukti Ia menantu yang penurut.
Namun rasa tenangnya tak berlangsung lama. Saat Nia meminta ijin Mama agar Ronald ikut diperiksa juga. Disitu Ronald merasa gelisah dan takut. "Bagaimana jika memang akulah penyebab Nia belum punya anak?" gumam Ronald dalam hati. Kekhawatirannya ternyata tak perlu, karena Mama sudah siap sedia membelanya.
Ternyata Mama lebih membela dirinya dan menyudutkan Nia. Ronald bingung harus membela siapa. Ia melihat sorot mata Nia meminta untuk dibela, namun Ia tak mau menyakiti Mamanya juga. Akhirnya Ronald menarik tangan Nia dan membawanya ke kamar, menenangkannya agar tak terjadi ribut berkepanjangan. Setelah menenangkan Nia, Ia pun menghampiri Mama dan berniat menenangkannya, tak disangka Nia menguping pembicaraannya. Perkataan Mama yang menyebut Nia mandul membuat emosi Nia tak terelakkan lagi. Nia pun meninggalkan rumah malam-malam.
Setelah menenangkan Mama, Ronald pun mengejar Nia dan memastikan Ia selamat sampai rumah. Ternyata di rumah tak ada. Akhirnya Ia mengemudikan kembali mobilnya ke rumah mertuanya. Benarlah sang istri disana. Ia tenang istrinya sampai dengan selamat. Ia ingin langsung membawa pulang Nia, namun tak ada keberanian dalam dirinya menghadapi Papa mertuanya. Ia pun kembali pulang dan memikirkan strategi berikutnya.
Seminggu tak ada Nia dirumah, Ronald pun merasa kesepian. Tak ada yang memasakkannya dan menemani tidurnya di malam hari. Bahkan Bi Isah yang beres-beres rumah pun tak datang. Ia kangen dengan istrinya. Apapun akan dilakukannya agar sang istri kembali pulang ke rumah.
Ia pun menjemput Nia sambil membawakan cemilan sebagai buah tangan. Awalnya Nia cuek dan tak mau pulang, tetapi Ronald mengeluarkan kartu As yang dimilikinya, yakni Ia bersedia dicek ke dokter. Namun Nia meminta untuk tak memaksa ke rumah Mama jika Ia tak nyaman, Ronald pun mengiyakan dengan berat hati. Akhirnya Nia pun kembali ke pelukannya lagi.
__ADS_1
*****
Note: Beberapa episode ke depan akan dari sudut pandang Ronald. Semoga suka ya..