Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Pesan Papa


__ADS_3

"Permisi.... Pak... Mie ayam..." Suara Mas Supri tukang mie ayam depan komplek memanggil Papa. Ronald menggantikan Papa keluar karena yang ngidam makan mie ayam dirinya.


Ronald mengambil pesanan mie ayam dan es campur sekalian membayarnya agar tidak bolak balik nanti. Ia juga berpesan agar nanti Mas Supri yang mengambil kembali mangkuk miliknya.


"Sayang ini mie ayamnya" Ronald menyerahkan nampan berisi 2 porsi mie ayam dan 3 es campur.


Nia mengambil mie ayam miliknya dan ikut bergabung dengan Papa makan bersama di meja makan, sementara Ronald makan di ruang tamu sambil menonton pertandingan bola.


"Gimana Pa, enak tidak udang dan cuminya?" tanya Nia.


"Mantap" kata Papa sambil mengacungkan dua jempol tangannya.


"Seneng deh aku kalau Papa suka. Nanti aku masakkin lagi deh. Aku mau makan mie ayam saja. Kangen mie ayam Mas Supri"


"Kalau kangen sering-seringlah main kesini. Kamu jarang banget kesini sekarang. Sibuk banget kayaknya sampai lupa sama Papa" protes Papa.


Sambil kepedesan Nia menjawab "Hu. hu.... gak lupa... lah.. sama Papa... Bukan Nia yang sibuk Pa. Ronald tuh sibuk kerja" Nia lalu meneguk air putih untuk menghilangkan rasa pedasnya.


"Memang sabtu juga masuk kerja ya? bukannya bank operasionalnya cuma sampai hari jumat saja? kok masuk sih hari sabtu?" tanya Papa penuh selidik.


"Tau tuh. Setiap hari juga pulang malam. Sejak Dia naik jabatan dan mampu membelikan Nia mobil, sejak itu pula Dia pulang malam dan lembur hari sabtu" kata Nia berkeluh kesah.

__ADS_1


"Tapi beneran kerja kan?" tanya Papa sambil berbisik. Nia hanya menunduk tak menjawab pertanyaan Papa. Ternyata Papa menyimpan suatu kecurigaan, hanya Nia saja yang telat menyadarinya dan seratus persen percaya saja pada suaminya.


"Kenapa kamu diam saja?" tanya Papa dengan suara pelan agar Ronald tak mendengar percakapan mereka berdua. Untunglah Nesia makan di dalam kamarnya, jadi mereka berdua bebas curhat asal tak terdengar oleh Ronald.


"Nia kurang tahu Pa. Jujur saja Nia mulai curiga. Kenapa sampai malam sekali pulangnya, sedangkan Nasabah kan gak mungkin ketemuan sama Dia sampai tengah malam. Gak tau lah Pa. Nia gak mau mikirin"


"Terus mertua kamu gimana? Gak protes juga anaknya pulang malam terus?"


"Gak tau Nia, Pa"


"Mertua kamu masih jahatin kamu Ni?" selidik Papa lagi.


"Udah enggak Pa. Sejak hasil test Mas Ronald kelu...ar...." Nia langsung menyadari kecerobohannya.


"Maaf Pa. Bukan gak mau kabarin Papa. Soalnya hasilnya kurang bagus" Nia mengambil nafas sejenak agar bisa menyampaikan kenyataannya lebih tenang. "Mas Ronald susah untuk punya anak. Satu-satunya cara ya dengan bayi tabung. Itu pun belum tentu berhasil dengan satu kali percobaan. Papa tahu sendiri bayi tabung mahal"


"Apa?" kata Papa dengan intonasi tinggi.


"Sssstt... nanti Mas Ronald dengar" Nia mencoba menenangkan Papanya.


"Terus mertua kamu yang sombongnya segede langit gimana? Apa reaksi Dia saat tahu anaknya biang masalah kalian gak punya anak selama ini?" tanya Papa sewot namun kali ini dengan nada suara pelan. Suara pertandingan bola di tv yang kencang dan Ronald yang berteriak-teriak memaki pemain bola membuat percakapan ayah dan anak itu tak terdengar sampai ke ruang tamu.

__ADS_1


"Pulang dari Rumah Sakit Mama langsung ngajak aku makan bareng di Rumah Makan Padang. Terus Dia baik-baikkin aku, membelikan aku es kopyor sambil bicara manis sama aku"


"Ih... gak modal banget, masa' baik-baikkin kamu makan di Rumah Makan Padang biasa? Gak inget apa dulu Dia nyindir-nyindir kamu, ngatain kamu mandul lah. Papa yang sakit hati anak Papa diperlakukan begitu. Eh ternyata Tuhan Maha Baik. Ia tunjukkan siapa yang sebenarnya mandul" terlihat sorot mata Papa memerah menahan marah.


Nia lalu menepuk-nepuk bahu Papa dengan lembut. "Nia tau kok Papa sayang banget sama Nia, sampai Papa tak rela anaknya diperlakukan seperti ini. Seperti yang Papa bilang, Tuhan Maha Baik, Nia percaya Tuhan akan selalu melindungi Nia dari orang-orang yang menyakiti Nia. Tuhan pula yang membolak-balikkan hati manusia. Sekarang Tuhan sudah membuka mata Mama Sri, Ia sekarang sudah baik sama Nia, jadi Papa tak perlu khawatir lagi ya sama Nia" Nia lalu menghapus air mata yang menetes di pipinya.


"Ya Tuhan Nia... kasihan sekali nasib kamu Nak. Jika kamu terus bersama Ronald maka sulit bagi kamu untuk punya anak. Kamu gak apa-apa?" tanya Papa khawatir.


"Gak apa-apa Pa. Nia ikhlas. Saat menikah dulu dengan Mas Ronald kan Nia sudah berjanji untuk menerimanya dalam suka maupun duka. Inilah peran Nia sekarang, menerima Mas Ronald dalam kekurangannya. Tapi Nia akan terus usaha Pa, Nia akan nabung untuk bayi tabung. Doakan Nia selalu ya Pa...."


"Pasti sayang. Doa Papa selalu menyertaimu dan anak-anak Papa yang lain. Yang Papa sesalkan, kenapa dulu tidak Papa jodohkan saja kamu dengan anak Pak Darmawan. Mungkin dengannya kamu akan bahagia" sesal Papa.


"Sudahlah Pa. Mungkin ini memang jalan hidup Nia. Pasti rencana Tuhan lebih indah. Nia percaya itu"


"Kamu memang istri yang baik untuk Ronald. Semoga saja dengan semua pengorbanan kamu selama ini menyadarkan Ronald agar Ia juga menjadi suami yang baik buat kamu. Jika suatu hari nanti Ronald mengecewakanmu dan Papa sudah tiada.." Nia langsung memotong ucapan Papa.


"Ih Papa jangan ngomong begitu ah. Nia takut. Pokoknya Papa akan selalu ada di sisi Nia. Gak boleh pergi. Titik"


"Sayang.... ingat pesan Papa ya. Kamu harus mencari Pak Darmawan jika ada hal buruk yang menimpa kamu. Bilang sama Pak Darmawan kamu adalah anak yang Papa titipkan. Ia berjanji akan menjaga kamu dengan nyawanya sendiri. Ingat itu" pesan Papa.


"Iya Pa. Papa tak usah khawatir. Nia sudah dewasa. Nia sudah punya suami dan pekerjaan tetap. Eh tapi kok hanya Nia yang Papa titipkan? Kak Nay dan Nesia gimana?"

__ADS_1


"Bukannya Papa pilih kasih, entah mengapa yang selalu dipikirkan Mama bahkan sebelum Ia meninggal adalah kamu. Papa juga, selalu khawatir sama kamu. Hati Papa seakan tak pernah tenang. Nay dan Nesia punya watak keras dan pasti bisa membela dirinya sendiri. Berbeda dengan kamu yang berhati lembut dan mudah mengalah, banyak yang akan memanfaatkan kebaokan hati kamu. Itulah mengapa hanya kamu yang Papa titipkan sama Pak Darmawan" Nia lalu bangun dari duduknya dan langsung memeluk Papa yang sangat mengasihinya.


__ADS_2