Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Stalking


__ADS_3

Wajah Daniel juga memerah, bukan hanya karena grogi namun juga karena menahan tawa melihat Nia yang berpikir Ia akan berbuat macam-macam padanya. Ia ingin tertawa namun takut Nia akan ngambek jadi ditahan saja.


Sejak dipasangkan seat belt dengan Daniel, Nia membuang muka dan hanya menatap keluar jendela. Ia merasa malu sudah berpikir yang tidak-tidak.


Ah mana mungkin Daniel menyukaiku. Bodoh sekali kamu Nia. Daniel kan tampan, mana mungkin menyukai cewek gendut sepertiku?- Nia


Kenapa cewek ini semakin lama dilihat semakin imut ya? Baru kali ini aku bertemu cewek lugu seperti ini- Daniel.


Mobil Daniel masih membuntuti di belakang mobil Ronald. Daniel sengaja menjaga jarak agar Ronald tak sadar telah dibuntuti. Untunglah kaca mobil Daniel agak gelap jadi Ronald tak akan melihat kalau Nia membuntutinya.


"Udah dong malunya. Gak enak nih diem-dieman aja"


"Ih siapa yang malu?"


Daniel menghentikan laju mobilnya karena lampu lalu lintas berwarna merah. Tangannya lalu menopang kepalanya, sambil tersenyum Ia menatap Nia. Spontan Nia grogi lagi dan wajahnya kembali memerah.


"Tuh kan malu. Wajah kamu yang memerah tuh gak bisa dibohongin tau"


"Ih... jahil banget jadi orang" Nia lalu mencubit lengan Daniel sampai Daniel meringia kesakitan.


"Ampun.. ampun.. Neng.... Sakit nih beneran" Daniel memegang lengannya yang memerah dicubit Nia.


"Sukurin... emang enak. Makanya jangan jahil" Nia menjulurkan lidahnya gantian meledek Daniel.


"Habis jaman sekarang masih ada ya cewek yang wajahnya langsung merah merona kalau malu. Nih ya aku kasih tau, cewek jaman sekarang tuh merona merah karena pakai apa tuh namanya.. blouse on. Lah kamu mah baru dikerjain dikit aja udah merona merah. Kan lucu tau. Jadi mainan baru nih buat aku..ha...ha..ha.." Daniel lalu tertawa terbahak-bahak.


"Udah ah ayo kita fokus lagi. Tuh sudah mau lampu hijau"


"Siap Bos" Daniel lalu melajukan lagi mobil mengikuti mobil Ronald. Untunglah jalanan masih pagi jadi lebih lancar, kalau macet bisa sulit mengikuti Ronald kalau sudah tertinggal. Daniel memberikan topi miliknya yang ada di dashboard mobil dan memberikan pada Nia.


"Nih pakai. Sekalian pakai kacamata sunglass aku juga" Daniel memberika kacamatanya pada Nia.

__ADS_1


"Untuk apa?"


"Aku mau lebih dekat lagi membuntutinya. Takut Ia melihat kamu. Lebih baik kamu menyamar"


Nia menuruti saja perintah Daniel tanpa membantah. Karena jalanan lengang jika Daniel terlalu jauh jaraknya dengan Ronald dikhawatirkan akan kehilangan jejak. Daniel pun lebih mendekatkan mobilnya.


Mobil Ronald memberikan kode lampu sen kiri pertanda Ia akan berbelok atau menepi. Daniel menjaga jarak namun ikut mengambil jalur kiri. Dilambatkannya kecepatan mobilnya. Ia melihat Ronald berhenti di halte bus.


"Tuh suami kamu berhenti. Kayaknya lagi jemput seseorang deh"


"Iya" Nia celingak-celinguk melihat siapa yang dijemput Ronald.


"Tuh kan bener. Itu selingkuhannya" kata Daniel penuh antusias.


Nia melihat seorang wanita sedang menaiki mobil Ronald. Ia tak melihat jelas siapa wanita tersebut.


"Aku gak keliatan jelas. Majukan sedikit mobil kamu. Apa perlu aku langsung turun?" Nia mulai tak sabar.


Daniel kembali membuntuti Ronald. Sesekali Daniel melirik wajah Nia yang mulai pucat pasi. Ingin rasanya Daniel menggenggam tangan Nia untuk menenangkannya, namun tak Ia lakukan. Ia tak mau Nia berpikir dirinya terlalu lancang dan tak sopan.


"Tenangkan diri kamu. Siapkan hati kamu. Hal terburuk mungkin akan terjadi. Nih minum dulu" Daniel menyerahkan sebotol air mineral pada Nia.


Nia meminum air mineral yang diberikan oleh Daniel. Benar kata Daniel, Ia harus kuat. Karena kenyataan terburuk mungkin akan terjadi. Ia lalu menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Dirinya sudah jauh lebih tenang lagi.


Mobil Ronald memberikan kode lampu sen kiri lagi dan masuk ke dalam sebuah apartemen. Daniel dengan sigap mengikuti. Antrian di lobby apartemen membuat Daniel tertinggal dari Ronald.


"Kamu turun dulu ya di lobby. Nih pakai masker, tutupi wajah kamu. Kamu ikuti wanita itu, aku mau parkir mobil dulu. Nanti kamu telepon aku lagi. Jangan kemana-mana. Lihat saja mereka naik lift ke lantai berapa. Oke?" Setelah memberikan sebuah masker pada Nia, Daniel lalu menurunkan Nia di lobby.


Nia turun dan mencari keberadaan wanita tadi, sementara Daniel memarkirkan mobilnya dahulu di basement. Nia melihat wanita dengan cardigan hijau yang tadi naik mobil Ronald. Wanita itu sedang menunggu Ronald. Nia berjalan mendekat dengan detak jantung yang berdegup kencang.


"Sayang" Ronald memanggil wanita itu. Nia mengumpat di belakang tembok takut ketahuan Ronald. Ia lalu mengintip dan betapa kagetnya Ia melihat siapa wanita tersebut.

__ADS_1


"Mbak Anita???" Nia tak bisa berkata-kata lagi. Nia langsung ingin menghampiri namun Daniel datang dan mencegahnya. Daniel memberikan menggelengkan kepalanya memberi tanda agar Nia jangan ceroboh. Daniel menggenggam tangan Nia yang sangat dingin.


Ronald dan Anita memasuki lift. Setelah pintu lift tertutup Daniel menarik tangan Nia melihat ke lantai berapa lift tersebut menuju. Lift berhenti di lantai 10.


"Ayo kita ke atas" Nia sudah mau naik lift.


"Jangan. Tunggu dulu setengah jam lagi" cegah Daniel.


"Untuk apa?"


"Sst.. tenangkan diri kamu. Ini apartemen, gak bisa sembarangan masuk. Lagi juga mereka kan belum ngapa-ngapain. Kamu punya bukti apa kalau mereka selingkuh?" Ucapan Daniel langsung membuat Nia terdiam. Nia bukannya melepas genggaman tangan Daniel justru malah menggenggamnya erat. Saat ini yang Ia butuhkan adalah seseorang untuk menopangnya tetap berdiri tegar. Daniel melihat Nia berusaha sekuat hati menahan air matanya. Diusapnya rambut Nia lembut.


"Kita ke parkiran dulu ya"


"Mau apa ke parkiran lagi?" tanya Nia.


"Mau ambil kartu apartemen. Kebetulan Papa aku punya properti di sini. Ayo" Daniel lalu menekan lift ke lantai basement sambil tetap memegang tangan Nia.


Sampai di basement, Daniel membukakan pintu untuk Nia. "Masuklah dulu" Nia menuruti saja dan masuk ke dalam mobil. Daniel ikut masuk ke dalam mobil juga.


Daniel mencari kartu apartemennya di dalam tas yang ada di dalam mobil. "Untung saja aku bawa kartu ini"


"Yaudah ayo kita langsung ke atas" ajak Nia.


"Tadi aku bilang apa? sabar dan kuatkan hati kamu"


"Tapi mereka bisa berbuat macam-macam nanti"


"Memang itu tujuan kita. Sadarlah kamu. Mereka adalah sepasang kekasih. Mereka pasti sudah melakukan perbuatan macam-macam sejak dulu. Dengan kamu melihat langsung, kamu punya buktinya. Karena itu aku bilang sama kamu, sabar. Hal yang lebih menyakitkan lagi akan kamu alami"


Jantung Nia berdetak kencang, lebih kencang dari saat menaiki roller coaster. Nia lalu menarik tangan Daniel dan menggenggamnya. Ia lebih butuh dukungan saat ini. Ia tak peduli apa pendapat Daniel tentangnya.

__ADS_1


__ADS_2