Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Selamat Jalan, Pa.....


__ADS_3

Semua anak Papa langsung berlari menuju ruangan Papa di UGD. Ronald yang ingin mengisi formulir operasi pun diminta masuk ke dalam dan mengisi formulirnya nanti.


Tiba di ruangan Papa, kaki Nia lemas. Dokter sedang berusaha sekuat tenaga menyelamatkan Papa yang berada di ambang kematian. Berbagai usaha sudah dilakukan, namun keadaan Papa justru drop.


"Maaf, Pak...Bu... Keadaan Pak Adi semakin lemah. Jika kita paksakan untuk operasi hasilnya juga akan sia-sia." salah satu dokter menjelaskan pada anak-anak Papa. Dokter mempersilahkan keluarga pasien mendekat di saat-saat terakhir Pak Adi.


"Ya Tuhan... Papa.... " jerit Nesia histeris.


Nia hanya menangis tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.


"Pa... jangan pergi, Pa... Papa harus sembuh" isak tangis Kak Nay.


Tak lama alat pendeteksi denyut jantung Papa berbunyi tut...... Dokter bergegas melakukan pertolongan semampu mereka, namun Papa telah pergi.


Tak mampu menahan kesedihan, Nia pun pingsan. Daniel yang berada di sampingnya dengan sigap menangkap Nia dan membawanya ke salah satu tempat tidur yang kosong di UGD.


"Waktu kematian adalah pukul 22:00 WIB. Maafkan kami hanya mampu berusaha sejauh ini." ucap dokter yang menangani Papa.


"Papa......." tangis Kak Nay dan Nesia pun pecah. Tak ada yang pernah menyangka Papa akan pergi selamanya. Tadi pagi Papa masih ceria dan mengantar Nia berangkat kerja, namun ternyata Tuhan berkehendak lain. Mobil Papa mengalami kecelakaan saat pulang meeting.


Daniel masih menemani Nia yang pingsan. Hatinya menatap iba akan nasibnya. Rumah tangga yang tak dikaruniai anak, mertua yang suka menyakiti, suami yanh berselingkuh dan kini orang tua satu-satunya tempat Ia berlindung pun telah diambil Tuhan.


Daniel mengusap lembut rambut Nia. Setitik air matanya menetes, tak tega Ia melihat permainan nasib Nia yang telah ditentukan Tuhan. Daniel sudah menghubungi Papanya dan memberitahu keadaan Pak Adi. Papa langsung datang dan mengurus administrasi rumah sakit, bahkan tempat pemakaman pun sudah Ia persiapkan. Daniel diminta tetap di samping Nia, karena itulah Daniel tak beranjak dari sisi Nia.

__ADS_1


Nia mulai tersadar dari pingsannya. Kepalanya terasa pusing sekali. Daniel membantu Nia duduk.


"Jangan langsung berdiri, nanti kamu pusing. Duduklah dahulu"


Nia hanya diam saja dengan pandangan kosong. Daniel lalu mendekat dan langsung memeluk Nia. Akhirnya Nia dapat menangis mengeluarkan isi hatinya. Daniel membiarkan air mata Nia membasahi bajunya. Ia tak mau Nia hanya diam dan malah jadi tertekan tanpa bisa mengeluarkan air matanya. Diusapnya lembut rambut Nia.


"Kuatkan hati kamu, Ni. Ikhlaskan kepergian Papa kamu. Papa kamu kini sudah bertemu dengan Mama kamu di surga. Sabar ya..." Daniel mengusap air mata Nia. "Ayo temui Papa kamu untuk yang terakhir kalinya"


Daniel menuntun Nia ke ruangan Papa. Disana kakak dan adik Nia masih menangisi kepergian Papa. Nia menghampiri saudaranya, memeluk erat keduanya dan menangis bersama.


Administrasi sudah siap. Ambulance juga sudah ada. Jenazah Papa pun siap di bawa pulang. Nia ikut menemani Papa di dalam ambulance, sementara Nesia dan Nay pulang masing-masing dengan Pacar dan suaminya.


Berita kematian Papa sudah tersebar luas. Saat mobil ambulance sampai ke dekat rumah, sudah banyak para pelayat yang datang. Ambulance agak kesulitan untuk masuk karena banyaknya mobil yang parkir.


Mama Sri dan Ronald pun datang memberikan penghormatan terakhir pada Papa. Nia menyambut dengan dingin kedatangan Ronald. Ia masih sangat berduka kehilangan Papa. Tak dipedulikannya segala perhatian yang diberikan Ronald. Nia hanya menatap kosong jenazah Papa yang sudah pergi dan tak kembali lagi


Rencananya pagi ini jenazah Papa akan dikebumikan. Pak Darmawan sudah mengurus segala keperluan untuk proses pemakaman, bahkan snack box untuk para pelayat juga sudah ada. Ini adalah bentuk penghormatan terakhir bagi orang baik hati yang telah menolong nyawanya.


Prosesi pemakaman Papa pun berjalan dengan khidmat. Banyak para pelayat yang mengantar sampai ke peristirahatan terakhir Papa. Orang baik akan meninggal dikelilingi dengan orang baik pula. Bahkan disaat meninggal pun Papa tak mau menyusahkan anak-anaknya.


Selamat jalan, Pa... Maafkan Nia yang belum bisa membahagiakan Papa... Terima kasih untuk semua cinta dan kasih yang telah Papa berikan pada Nia. Semoga Papa ditempatkan di surga Tuhan. Amin. - Nia


********

__ADS_1


Pemakaman Papa sudah usai. Para tamu pun sudah banyak yang berpamitan pulang. Nia memasukki rumah Papa yang sekarang terasa kosong. Tak ada kehangatan Papa yang terasa.


Daniel masih setia menemani Nia. Beberapa kali Ia menawarkan agar Nia mau makan, namun selalu ditolak. Nia merasa tak ada selera makan. Akhirnya hanya air putih yang masuk ke tubuhnya.


Ronald pun belum pulang sejak semalam. Ia terus memperhatikan keberadaan Daniel yang seakan selalu merapat di sisi Nia, tak membiarkan Nia lepas dari pandangannya sedikit pun.


Ronald menahan api cemburu melihat istrinya dekat dengan pria lain. Walau bagaimanapun status Nia masih istri sahnya, terlepas dari pengajuan cerai yang Nia lakukan. Ia bertanya-tanya, siapakah laki-laki yang berada di samping Nia tersebut. Ia ingat kalau laki-laki ini pula yang bersama Nia saat dirinya ketahuan berselingkuh dulu.


Ronald berjalan mendekati Nia. "Ni.. kamu mau makan apa? Biar aku suapi. Aku ambilkan ya" kata Ronald menawarkan Nia makan.


Nia menggeleng lemah "Aku gak mau" jawabnya.


"Atau kamu mau ngemil cokelat? kamu kan suka banget cokelat. Kamu mau yang rasa apa? matcha atau yang cashew? aku belikan dulu ya" kata Ronald semangat.


Lagi-lagi Nia hanya menggeleng menolak tawaran yang diberikan Ronald. Sekarang gantian, Daniel yang hanya memperhatikan dari jauh tanpa bisa berbuat apa-apa. Status Ronald yang masih suami Nia membuat Daniel tak bisa mengusir laki-laki itu pulang. Ia tak berhak. Itu yang membuatnya makin kesal. Ia tak sabar menunggu palu pengadilan memutuskan perceraian mereka.


Ronald melirik ke arah Daniel yang ketahuan sedang memperhatikannya. Ronald pun bangun dan mendekati Daniel. Nesia yang sedari tadi memperhatikan ulah Daniel dan Ronald berbisik di telinga pacarnya, Ari. Ia menyuruh Ari memisahkan jika sampai kedua laki-laki itu sampai bertengkar. Ia tak mau momen duka mereka dirusak dengan pertengkaran pacar dan mantan suami kakaknya.


Dengan tangan dilipat ke dadanya, Daniel menyambut Ronald dengan tenang.


"Kamu siapa ya? kok selalu ada di samping Nia?" tanya Ronald langsung ke intinya.


"Oh.... aku? aku calon suaminya Nia" jawaban Daniel membuat Ronald dan orang yang mendengarnya kaget.

__ADS_1


__ADS_2