
Hari berganti tanpa terasa. Awalnya hanya kebosenan namun sejak Daniel meluangkan sedikit waktunya untuk mengajak Nia jalan-jalan, kebosenan itu perlahan tergantikan dengan rasa senang karena bisa menghabiskan waktu dengan orang yang dicintainya.
Nia sudah tidak lagi mengenakan hot pants seperti biasanya. Daniel sudah menyuruh sekretarisnya membeli Nia beberapa stel baju, tentunya bermerk terkenal lalu mengantarkannya setelah di laundry dahulu. Daniel tak mau istri dan calon anaknya memakai pakaian yang tidak steril kebersihannya.
Anak-anak mahasiswa yang menginap di Villa pun sudah kembali ke Jakarta. Sebelum pulang, Mike pun pamit pada Nia. Senang karena sudah mengenal Nia.
Steve dan teman-temannya pun sudah kembali lagi ke negaranya. Mereka membawa kenangan manis selama di Bali. Kenangan akan keramahan orang Indonesia yang terkenal memang benar adanya.
Tamu pun berganti. Kali ini rombongan ibu-ibu arisan hedon yang akan menyewa villa 3. Masih ada beberapa tamu turis lokal yang menginap di villa 2. Benar-benar laris manis villa milik Daniel ini.
Seperti biasa rutinitas yang Nia lakukan adalah sarapan pagi di lobby dekat resepsionis. Daniel yang sudah rapi dengan kemeja garis-garisnya dengan penuh kasih sayang menyuapi Nia. Karena kemauan anak di dalam perut Nia kalau disuapi papanya makannya lebih lahap maka Daniel selalu meluangkan waktu menyuapi istri tersebut dengan penuh kasih.
"Ya Tuhan... kapan dua merpati ini kembali ke Jakarta? Kenapa Engkau siksa hamba dengan melihat pemandangan seperti ini terus setiap hari? Tidakkah kau kasihan pada jones (jomblo ngenes) seperti hamba? Kalau kau kasihan, suruh mereka cepat pulang atau hidup hamba semakin melas saja melihat ke-lebay-an mereka." Anton yang duduk manis di sofa lain tak henti hentinya berdoa.
Sebenarnya Nia malu harus melakukan adegan suap-suapan di depan Anton tiap kali Ia makan (kecuali makan siang karena Daniel harus kerja) namun Daniel yang meminta mereka makan di lobby, sekalian menjahili Anton.
Aksi saling balas antara Anton dan Daniel belum usai. Sepertinya tidak akan usai sampai Nia melahirkan. Anton yang melihat kesempatan mengerjai Bosnya yang tak berdaya terus-terusan menyerang. Daniel pun tak mau kalah. Hanya dengan pamer kemesraan maka Anton sudah Ia balas telak.
"Mas Anton mau disuapin sama Daniel?" Nia pun menawarkan berbagi suapan nasi goreng dengan Anton.
"Ih Sayang. Jangan ditawarin. Tuman. Dia mah apa sih yang nolak. Lagi juga males aku nyuapin Dia. Nanti tangan aku cantengan lagi bekasnya. ha..ha..ha.." Daniel tertawa mengejek.
"Hus.. ga boleh gitu. Inget!" Nia mengingatkan Daniel agar tidak keterlaluan becandanya.
"Iya.. iya.." Daniel pun langsung cemberut.
"Pamer aja terus kalian. Nanti kalau aku udah jadian sama Dokter Meita bakal aku balas kalian nanti." Anton tak mau kalah pamer juga ternyata.
"Emang kapan kamu jadian sama Dokter Meita? liat muka kamu aja Dokter Meita melengos."
"Ih gak tau aja sekarang tuh Dokter Meita sudah membuka hatinya sama aku. Dokter Meita sudah sadar kalau bukan ketampanan seseorang yang Ia cari, melainkan cinta tulus dari seorang pemuda yang memujanya yang dapat menjadi senjatanya menghadapo kejamnya dunia ini." celoteh Anton panjang lebar.
"Mas Anton ngomong apa sih? Aku gak ngerti?!" pertanyaan Nia membuat Daniel tertawa makin terbahak-bahak.
"Jangan kebanyakan berfilsafah deh. Gak cocok sama muka. Ups.. keceplosan." Daniel kembali tertawa lagi. Nia pun tak kuat menahan tawanya.
__ADS_1
"Non, please deh. Jangan ikut-ikutan Si Bos Romusha deh. Bos mah emang kejam. Lebih kejam dari ibu tiri. Lebih kejam dari ibu-ibu komplek kalau lagi ngegosip. Sadis."
Nia menghentikan tawanya. Tidak mau membuat Anton tersinggung. Nia mencubit lengan Daniel menyuruhnya berhenti tertawa.
"Memangnya sekarang progres hubungan Mas Anton dan Dokter Meita sudah sampai mana?" tanya Nia penasaran.
"Baru sampai kirim-kiriman pesan WA aja sih." Anton menunjuk ke Hpnya, menunjukkan pesan Wa yang dikirim oleh Dokter Meita.
"Paling isinya cuma nyuruh kamu beliin nasi goreng." celetuk Daniel.
"Non, suruh suaminya berangkat kerja sana! Udah selesai nyuapin juga bukannya buru-buru kerja malah nongkrong melulu."
"Eh, Bos mah bebas mo jalan kerja jam berapa. Memangnya kacung kampret kayak kamu harus stand by dari pagi. Wekk."
"Udah Sayang kamu berangkat sana. Udah siang. Biar pulangnya gak kemaleman." Nia menyuruh Daniel berangkat karena sudah jam 9 pagi.
"Kamu mah nurut aja apa kata Si Bul- maksudnya Anton. Yaudah aku jalan dulu." Daniel pun mencium kening Nia lalu menengok ke arah Anton. "Mau dicium juga? Sana minta cium sama tembok! ha...ha..ha..."
Masih saja Daniel jahil sebelum berangkat. Nia hanya senyum-senyum saja melihat ulah dua sejoli ini. Setelah Daniel pergi, Nia pun menginterogasi lagi Anton.
"Baru ngobrolin hal-hal sepele aja sih."
"Ajak jalan dong Mas. Biasanya cewek tuh senang kalau cowoknya gercep alias gerak cepet. Nongkrong di cafe daerah Jimbaran kek atau ajak jalan ke mana gitu. Mas Anton pasti taulah daerah Bali melebihi aku. Cari tempat yang cozy dan asyik buat ngobrol." saran Nia.
"Aku gak yakin Dia mau. Sebenarnya kata-kata Daniel tuh ada benarnya juga. Masa sih Dokter Meita yang awalnya menyukai Daniel malah suka sama kacung kampret kayak aku? Perbedaan aku dan Daniel kan jauh."
"Hmm..bener sih perbedaannya jauh."
"Tuh kan Si Non mah malah bikin saya tambah drop." murung Anton.
"Aku kan memang bicara sesuai kenyataan Mas. Tapi, kalau menurut aku cinta itu bukan hanya tentang wajah tampan atau melihat harta saja. Cinta itu tentang kenyamanan. Kalau Mas Anton bisa membuat Dokter Meita nyaman, lama kelamaan cinta itu akan hadir kok." kata-kata Nia berhasil mempengaruhi Anton.
"Iya juga ya. Jadi saya harus ngajak Dia jalan nih?"
Nia mengangguk.
__ADS_1
"Saya Wa dulu ya. Mau ngajak motoran keliling Bali." Anton pun mengirim pesan ke Dokter Meita menanyakan apakah mau diajak jalan-jalan.
Nia lalu membereskan bekas sarapannya dan membawanya ke bagian dapur restauran. Setelah mengembalikan piring Nia kembali lagi ke lobby.
"Non. Ternyata Dokter Meita mau loh." Anton langsung mengumunkan hasil chatnya dengan Dokter Meita saat melihat Nia datang dari restaurant.
"Yaudah sana gercep." kata Nia antusias. Kalau Dokter Meita jadi sama Anton kan saingannya berkurang 1.
"Ya kan saya lagi kerja Non. Si Siti yang biasanya jaga resepsionis lagi sakit jadi gak masuk kerja. Saya harus stand by jaga kalau gak nanti Si Bos marah. Kan mau ada tamu yang datang rombongan ibu-ibu arisan. Kalau sore Dokter Meita ada praktek soalnya. Ah saya bingung nih." Anton menggaruk kepalanya yang tidak gatal tersebut.
"Tenang aja. Kan ada aku yang jaga. Cuma tinggal administrasi sama kasih kunci saja aku mah gak masalah. Sudah sana pergi. Biar aku jaga resepsionis. Aku kan dulu kerjanya melayani nasabah. Gak ada bedanya dengan melayani tamu, ya kan?"
"Nanti Si Bos marah gimana?" Anton khawatir juga menyuruh Nia takut Daniel marah.
"Aku telepon dulu ya minta ijin." Nia lalu menelepon Daniel dan meminta ijin menjaga resepsionis karena Anton akan jalan dengan Dokter Meita. Awalnya Daniel tidak mengijinkan namun Nia berhasil membujuknya dengan syarat Nia gak boleh kecapean.
"Boleh, Mas. Sudah kamu siap-siap pergi sana. Pakai baju yang rapi dan pakai parfum yang banyak. Pokoknya ini kesempatan kamu. Gunakan sebaik mungkin." kata Nia semangat.
"Siap. Makasih banyak ya Non." Anton pun pergi meninggalkan Nia yang sekarang harus menjaga meja resepsionis.
Selama satu jam sejak Anton pergi suasana masih sepi. Tidak ada tamu yang datang jadi Nia hanya nonton drakor saja di TV yang ada di lobby.
Ketika ada suara bus masuk ke halaman Villa, Nia pun menghentikan kegiatannya nonton. Bus 3/4 itu berhenti dan satu persatu tamunya turun. Berbeda dengan wajah kucel mahasiswa waktu turun dari bus karena kecapean menempuh jarak jauh, wajah ibu-ibu arisan ini segar. Mereka ternyata naik pesawat terbang dan baru naik bis dari bandara. Pantas saja mereka masih rapi dan kece.
Salah seorang panitia datang menghampiri meja resepsionis. Nia yang sibuk mempersiapkan keperluan check in tidak melihat siapa yang datang. Ia agak kaget saat namanya dipanggil oleh panitia tersebut.
"Nia?"
Nia mengangkat wajahnya. Betapa kagetnya Ia saat tahu siapa yang menjadi panitianya.
"Mama Sri?"
Ya, mantan mertuanya yang menjadi panitia sekaligus tamu di Villa Daniel selama seminggu ke depan.
****
__ADS_1
Hi semua. Aku nulis judul baru lagi nih. Gak kalah seru. Judulnya NAMAKU AYU. Bercerita tentang Ayu yang harus putus dengan pacarnya karena harus menikahi laki-laki yang tidak dikenalnya karena perbuatan terlarang yang tidak sengaja dilakukannya. Akankah Ayu siap menghadapi kehidupan barunya? Semoga kalian suka juga ya.