Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Ingkar-1


__ADS_3

Hasil cek lab akan keluar 3 hari lagi. Nia tak sabar menunggu hasil yang sudah ditunggu-tunggunya. Setelah menanti hampir 1,5 tahun pernikahan akhirnya sang suami mau juga diperiksa.


Seperti yang sudah diduga, mood Ronald setelah diperiksa langsung jelek. Selama di Rumah Sakit mukanya ditekuk terus. Apalagi saat tahu hasil testnya tidak langsung jadi melainkan menunggu 3 hari lagi, makin bete lah Ia.


Sebagai penebus kebeteannya Nia harus ikut ke rumah Mama Sri. Nia akhirnya menuruti kemauan sang suami dengan berat hati. Sudah lama Ia tak main ke rumah Mama Sri, sejak terakhir kali mereka bertengkar Nia tak kunjung datang.


Ronald selalu mengajaknya namun Nia menolak. Nia beralasan jika Ronald belum menepati janjinya untuk di cek lab maka Ia juga tak mau ke rumah Mama Sri. Hari ini Ronald menepati janjinya, begitupun Nia harus menepeti janjinya juga.


"Pokoknya kalau aku gak betah, aku pulang ya" ancam Nia saat berada di mobil.


"Iya. Kenapa sih gak betah banget di rumah Mama?"


"Bukan gak betah Mas. Aku males aja kalau Mama kamu selalu menyudutkan aku"


"Iya nanti aku bilangin Mama nya. Biar kamu betah. Sabarlah. Biar bagaimana pun Mama kan ibu kandung aku, Mama kamu juga"


"Mama aku udah meninggal kali" gumam Nia dalam hati, tak berani Ia mengatakannya, Ia hanya berkata "Iya Mas"


Mobil pun sudah memasuki rumah Mama. Nia turun dari mobil namun tak langsung masuk, melainkan menunggu sang suami masuk lebih dahulu.


Ronald turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah diikuti oleh Nia. Mama Sri menyambut kedatangan anaknya. Senyum yang terpasang di wajah Mama Sri menghilang saat dilihatnya Ronald mengajak Nia.


"Sehat Ma" Sapa Nia lalu mencium tangan mertuanya.


"Iya" Mama Sri mengulurkan tangan untuk dicium Nia namun raut muka cemberut tak lepas dari wajahnya.

__ADS_1


"Masak apa Ma? Ronald lapar nih" Ronald mencium kening Mama sambil menanyakan Mama.


"Masak ayam goreng sama balado kentang. Memang di rumah belum makan?" tanya Mama balik. Nia langsung masuk dan duduk di ruang tamu. Ia pura-pura bermain hp agar tak mendengar sindiran Mama mertuanya tersebut.


"Baru sarapan roti bakar aja. Gak nampol" Ronald langsung ke dapur untuk mengambil piring untuk makan. Mama mengikuti Ronald ke dapur untuk mengambilkan anaknya makan tapi Nia tahu bahwa ada yang mau dibicarakan dan pasti tentang dirinya.


Nia cuek saja lalu naik ke atas dan menghampiri kamar Rena. Diketuknya pintu kamar Rena.


"Ren... kamu ada dikamar?"tanya Nia. Rena lalu membuka pintu. Dilihatnya sang kakak ipar dan juga teman sekampusnya berdiri di depan pintu.


"Nia" dipeluknya Nia erat. "Kemana aja sih gak pernah main lagi. Kangen tau sama kamu"


"Aku juga kangen sama kamu. Kayak gak tau aja ada apa hehehe..."


"Aku tahu. Tapi aku gak mau ikut campur. Itu urusan rumah tangga kamu. Tapi jujur aja aku agak kecewa sama kamu. Seharusnya kamu lebih sabar menghadapi Mama. Ya... Mama memang sifatnya gitu. Kalau sudah punya keinginan harus dipenuhi. Mungkin karena Papa terlalu memanjakan Mama" Nia tahu Rena pasti akan memihak Mamanya. Namun Nia tak mau menyalahkan Rena, Ia tak mau pertemanannya dengan Rena pupus.


"Iya. Jujur saja aku terbawa emosi Ren. Aku juga menginginkan punya anak secepatnya. Aku mengusahakan berbagai cara untuk mendapatkannya, termasuk periksa ke dokter. Aku juga rutin minum vitamin dan obat dari dokter namun belum ada hasilnya" curhat Nia.


"Yaudah makan dulu cemilannya. Mau kopi atau susu dingin?"


"Susu saja. Aku gak boleh minum kopi" Rena mengambilkan Nia susu uht dingin dari kulkas kecil di kamarnya.


"Nih" Rena memberikan susu tersebut ke Nia. "Aku perhatikan kamu sekarang montok banget Ni. Lebih berisi. Makan melulu ya?"


Nia mengambil susu dari Rena dan meminumnya. Segar sekali panas-panas minum minuman dingin. "Iya Ren. Aku gendut sekarang. Sejak konsul ke dokter, obat yang ku minum bikin aku jadi doyan makan. Bawaannya laper dan pengen ngemil aja. Jadilah berat badan aku naik hampir 20kg"

__ADS_1


"Gile... naiknya drastis ya. Pantesan pipi kamu chubby banget sekarang. Mas Ronald gak komplain gitu? Dia kan bawel kalau liat cewek gendut dikit, aku aja diomelin kalau banyak makan, gak boleh makan gorengan banyak-banyak, gak boleh minum es sering-seringlah. Ah.. banyak deh dia ngomel kalau aku gendut"


"Ya enggaklah Ren. Kan Mas Ronald tau aku gendut karena minum obat dari dokter, ya tujuannya juga buat punya anak, gak mungkin komplain lah dya" Nia mengambil cemilan dan memakannya sambil minum susu. Lapar sekali. "Enaknya Mas Ronald sudah langsung makan pas baru sampai, aku lapar banget nih, untung saja Rena baik menyuguhi aku banyak cemilan" gumam Nia dalam hati.


Nia dan Rena masih asyik ngobrol. Cerita tentang pekerjaannya dan kadang nostalgia jaman mereka kuliah. Tak terasa sudah sore hari, Nia pun pamit pada Rena karena akan pulang. Nia lalu menghampiri suaminya yang sedang tiduran di karpet sambil menonton tv.


"Mas, pulang yuk. Udah sore nih" ajak Nia. Nia mengedarkan pandangannya mencari sang mertua namun keberadaannya tak ditemukan, mungkin di kamarnya sedang semedi.


"Besok pagi saja pulangnya" jawab Ronald singkat. Nia langsung bete. Kan perjanjiannya hanya main saja tidak menginap. Nia menatap Ronald dengan pandangan tak percaya segampang itu janji dilupakan. "Sabar... Nia... sabar..." kata Nia dalam hati menguatkan dirinya.


"Ayo Mas pulang" ajak Nia lagi.


"Kan tadi aku bilang, besok pagi saja" kata Ronald tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.


"Yaudah kalau Mas mau menginap disini. Aku pulang duluan ya" Nia lalu beranjak bangun namun tangannya ditarik Ronald.


"Kamu mau kemana? Kan aku bilang pulangnya besok. Gak betah banget sih nginep sehari saja"


"Kan tadi perjanjiannya cuma main saja Mas, gak nginep. Mas lupa?"


"Apa salahnya sih nginep disini? ini kan rumah Mama kamu juga" Ronald makin keukeuh dengan keinginannya. Nia mulai terpancing emosinya.


"Yaudah kalau Mas mau nginep gak apa-apa. Aku pulang saja sendiri" tangan Ronald masih belum melepas genggamannya pada Nia malah makin kencang, Nia pun merasa kesakitan namun tak juga dilepaskan. Sekarang Ronald pun melotot kearahnya.


"Aku kan sudah mengikuti kemauan kamu untuk dicek lab. Sekarang kamu yang nurutin kemauan aku untuk menginap disini. Adil kan?" Nia masih berusaha melepaskan genggaman tangan Ronald dan tak melihat jika Mama Sri sudah berdiri tak jauh dari mereka. Ia mendengar semua pertengkaran Nia dan Ronald sambil mengepalkan tangannya.

__ADS_1


__ADS_2