
Hari yang sudah ditunggu akhirnya tiba. Sesuai surat panggilan, hari ini adalah sidang perdana gugatan cerai Nia terhadap Ronald dilakukan. Nia sudah mengajukan cuti kerja agar dapat hadir di sidang.
Pagi-pagi sekali Daniel sudah menunggu Nia di depan rumahnya. Mengenakan setelan kemeja dan jas yang dipadukan dengan warna dasi yang sama yakni biru doungker, Daniel terlihat tampan dan berwibawa. Nia pun sampai terkesima melihatnya.
"Weits... ganteng banget, Bang. Eh kok dipanggil Abang ya? seharusnya aku panggil Oppa.. Oppa ganteng bingits sih" gurau Nia saat keluar dari rumah.
"Gimana ya??? Kapten Ri mah kalah ganteng dibanding aku" sombong Daniel sambil menyebut salah satu tokoh di drama korea.
"Wow penggemar drakor juga nih Oppa?"
"Enggak sih. Kebetulan aja suka liat berita isinya Kapten Ri. Kirain kapten beneran, eh ternyata tokoh drama. Yaudah ayo kita jalan. Udah siang nih." Daniel lalu membukakan pintu untuk Nia masuk ke dalam mobil. Ia lalu berjalan memutar dan masuk lewat pintu satu lagi. Setelah memakai seat belt, Nia pikir mereka akan langsung jalan namun Daniel malah diam.
"Kenapa, Niel? Ada yang ketinggalan?"
"Gak ada. Aku cuma mau semangatin kamu aja. Kamu harus kuat menghadapi sidang hari ini ya. Jangan nangis. Kamu harus kuat, jangan terlihat cengeng. Kalau kamu yakin bercerai, tunjukkan. Kalau kamu....batal bercerai.... katakan juga ya jangan ragu" Daniel terdiam agak ragu dengan kata-katanya sendiri.
"Tenang saja. Aku sudah siap dan sudah yakin akan bercerai hari ini. Lets go!!" kata Nia dengan semangat 45.
Nia dan Daniel sudah tiba di pengadilan agama setengah jam sebelum sidang dimulai. Ronald juga sudah hadir ditemani dengan pengacaranya dan Mama Sri. Daniel menatap pengacara yang disewa Ronald.
Lumayan bagus juga pengacaranya. Pasti mahal tarifnya, soalnya dari kantor pengacara Bapak Tri. Niat juga Dia mau rujuk sama Nia- Daniel.
Ronald tersenyum sinis menatap Daniel. Dipikirnya Daniel yang akan melawan pengacara mahalnya tersebut. Ia tak tahu kalau Daniel juga hebat sebagai pengacara, hanya saja Ia lebih banyak memegang kasus-kasus perusahaan besar yang lebih banyak menghasilkan uang, bukan sidang perceraian yang gajinya kecil.
Pengacara Ronald bangun dari duduknya dan menyapa Daniel. "Pak Daniel, apa kabar Pak?" Pengacara tersebut ingin berjabat tangan dengan Daniel.
Daniel menyambut uluran tangan pengacara tersebut. "Baik. Kamu yang mewakili pihak laki-laki?"
"Iya Pak. Pak Daniel sedang apa disini?"
"Oh saya menemani teman saya yang menggugat cerai klien Bapak."
__ADS_1
"Kebetulan sekali ya Pak. Saya pikir Pak Daniel yang jadi pengacaranya, ternyata bukan ya. Setahu saya Pak Daniel biasanya mengurus perusahaan besar bukan kasus kecil kayak gini ha..ha..ha.."
Daniel tersenyum kecil. "Bukan saya yang pegang, Pak tapi Papa saya" jawaban Daniel membuat kaget pengacara tersebut. Hampir saja Ia tersedak saat mengetahui lawannya nanti adalah Pak Darmawan, pengacara terkenal yang hampir tak pernah gagal dalam setiap kasusnya. Pengacara tersebut pun pamit mau menemui kliennya, Daniel pun mengiyakan.
Wajah panik pengacara Ronald tak bisa ditutupi. Melihat pengacaranya kembali dengan keadaan tidak sepercaya diri seperti sebelumnya membuat Ronald heran.
"Ada apa, Pak?" tanya Ronald penasaran.
"Saya baru dapat info, Pak. Katanya yang akan menangani bukan Pak Daniel."
"Lalu siapa?"
"Bapaknya yaitu Pak Darmawan."
"Memangnya kenapa kalau Pak Darmawan yang membela?" tanya Ronald bingung.
"Pak Darmawan itu pengacara hebat, Pak. Hampir setiap kasus yang diambilnya selalu menang."
"Saya tak berani janji, Pak. Saya akan berusaha semampunya. Namun lawan kita kali ini berat, Pak. Lebih baik Bapak terima saja apapun hasil keputusan hakim nanti."
Percakapan mereka pun terhenti ketika persidangan akan dimulai. Persidangan dimulai dengan tahap mediasi, namun dari pihak Nia tetap ingin bercerai dan tak menginginkan adanya mediasi dengan alasan pihak laki-laki telah berselingkuh. Pak Darmawan yang datang agak terlambat langsung mengeluarkan bukti-bukti yang tak terbantahkan lagi. Hakim akan meninjau kembali dan memutuskan perkara perceraiannya dalam waktu seminggu lagi. Sidang pun ditunda selama seminggu.
Nia keluar dari ruang sidang dengan hati kesal. Ia pikir kalau hanya cukup sekali sidang saja lalu dapat diputuskan gugatan cerainya, namun ternyata prosesnya tidak semudah itu. Saat di luar persidangan, Mama Sri berjalan mendekati Nia.
"Nia, boleh Mama bicara sebentar?" Nia melihat ke arah Daniel meminta persetujuan. Daniel mengangkat bahunya yang berarti terserah Nia saja.
"Yaudah mau bicara apa Ma?"
"Jangan disini bicaranya. Itu siapa? kok kamu kayak minta ijin sama Dia?" tanya Mama Sri sambil menunjuk ke arah Daniel.
"Teman aku, Ma. Mau bicara apa, Ma? Disini saja biar Daniel bisa dengar."
__ADS_1
"Tapi, Nia...."
"Kalau gak mau ya sudah, Nia mau langsung pulang, Ma." Nia sudah mau meninggalkan Mama namun Mama Sri mencegahnya.
"Baiklah. Disini saja kita bicaranya." Mama memegang tangan Nia dan mengeluarkan pandangan minta dikasihani. "Jangan bercerai ya, Ni. Pertahankan rumah tangga kalian. Pertahankan cinta kalian. Mama janji..... Mama tidak akan mengungkit tentang masalah punya anak lagi... Janji! Mama juga akan berubah jadi Mama Mertua kamu yang menyayangi kamu seperti anaknya sendiri. Mama akan berubah, Ni. Mama mohon...."
Nia melepaskan pegangan tangan Mama Sri. Dengan tegas Nia berkata. "Maaf, Ma. Nia tetap ingin mengakhiri rumah tangga Nia. Permisi!" Nia menarik tangan Daniel dan pergi meninggalkan Mama Sri dan Ronald yang menatap kepergiannya tanpa bisa mengucap sepatah kata.
******
Nia sedang melempar sebuah batu ke danau buatan di depannya. Suara percikan air saat batu dilemparkan menambah keasyikan Nia melamun.
Daniel datang menghampiri Nia. Di tangannya sudah ada dua buah es podeng dan kerupuk kulit 1 bungkus.
"Jangan dilemparin terus. Penuh deh danaunya." Daniel lalu memberikan es podeng pada Nia.
"Wuih es podeng. Kayaknya enak nih." mata Nia berbinar-binar melihat es kesukaannya.
"Iyalah enak. Itu es langganan aku dari dulu. Nih sambil makan pake ini" Daniel lalu memberikan kerupuk kulit yang dibawanya.
Nia menerima kerupuk yang diberikan Daniel dan menatap heran. "Kok gak nyambung ya? makan es podeng sama kerupuk kulit?"
"Udah jangan bawel. Udah gak ada cemilan lain. Itu juga beli di tukang sayur. Tadinya aku mau beli pisang uli. Lebih gak nyambung lagi kan?"
Nia tersenyum melihat ulah Daniel. "Kamu Niel. Ada-ada aja ulahnya. Jujur ya aku tuh kalau sama kamu jadi lupa sama masalah aku"
"Yaudah kalau begitu nanti kalau sudah resmi bercerai, kamu nikah ya sama aku"
Uhukk.. uhuk...uhuk... Nia langsung tersedak kerupuk kulit mendengar perkataan Daniel.
******
__ADS_1
Udah mulai sepi nih komen sama vote nya. Ayo vote lagi biar authornya semangat nulis. Maacih banget ya semua yang udah dukung aku. 😍😍😍😍