Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Bali-1


__ADS_3

Air hangat yang diminum Nia membuat tubuhnya lebih baik. "Terima kasih" ucap Nia pada Ronald.


Ronald tau Nia tidak suka berbasa-basi dengannya, karena itu Ia lebih memilih tidak mengajaknya ngobrol. "Istirahatlah. Biar lebih sehat lagi."


Nia mengangguk. Ia pun menyenderkan tubuhnya ke kursi dan menatap pemandangan dari luar jendela pesawat. Untunglah cuaca hari ini cerah. Awan terlihat amat indah jika terlihat dari atas sini. Tak terasa Nia pun tertidur. Benar-benar Ia tak enak badan. Ia sudah bangun siang tapi masih mengantuk saja.


Ronald sedang membaca kembali koran yang baru dibaca sedikit tadi. Ia suka membaca koran dibanding lewat Hp. Berita politik menarik minatnya, namun wanita di sampingnya lebih menarik perhatiannya.


Ia sebenarnya sedih saat melihat Nia telah menggantikan posisi dirinya dengan Daniel. Ronald sadar kalau sekarang Nia sangat mencintai Daniel. Bahkan Ia rela dalam keadaan sakit namun masih saja mau menghampiri suaminya tersebut.


Nia sudah tidak mencintai Ronald lagi. Ronald sadar, Ia sudah kehilangan segalanya. Ia hidup bagaikan sebuah cangkang kosong sekarang. Hanya menjalani saja hidup tanpa ambisi dan tujuan lagi. Hidupnya hampa. Ia masih tinggal bersama Anita tanpa pernikahan.


Orang pasti berpikir kalau Ia tinggal bersama Anita karena kebutuhan biologisnya, tapi tidak seperti itu. Sejak bercerai dengan Nia, Ia tidak memikirkan lagi kebutuhan tersebut. Ia hanya tidak mau pulang ke rumah yang sepi dan dingin tanpa adanya cinta dari Nia, karena itulah Ia lebih memilih tinggal bersama Anita dari pada kesepian.


Anita masih mencoba mendekatinya, bahkan merayunya juga. Namun hati Ronald seakan mati. Jantung Ronald kembali berdenyut kencang hanya jika melihat Nia walau sebentar saja. Penyesalan memang selalu datang belakangan.


Ronald berusaha mengikhlaskan Nia karena Ia sadar luka yang Ia dan Mamanya buat dulu teramat dalam membekas di hatinya. Ia hanya ingin Nia bahagia. Ronald menatap Nia yang sudah tertidur di sampingnya.


Tidur Nia begitu lelap sampai kepalanya sesekali mengenai jendela. Ronald memberikan bahunya untuk Nia. Ia memegang lembut kepala Nia lalu disandarkan ke bahunya. Ia tak mau membangunkan Nia.


Selama 2 jam perjalanan akhirnya pesawat landing dengan selamat di Bali. Ronald yang akhirnya tertidur lelap di samping Nia sudah terbangun duluan sebelum Nia bangun.


Nia agak kaget saat terbangun ternyata Ia sedang bersandar di bahu Ronald. Merasa kikuk Nia pun duduk tegak kembali dan membuang wajahnya melihat ke arah jendela.


Ronald berjalan duluan keluar dari pesawat. Ia berjalan pelan sesekali matanya melihat ke belakang khawatir Nia sakit lagi. Awalnya Ronald berusaha menjaga jarak agar Nia tidak merasa risih. Namun melihat Nia yang tak kunjung keluar dari pesawat rasa khawatir Ronald datang.


Ronald berhenti dan menunggu sampai Nia turun. Akhirnya Nia turun juga. Berjalan pelan sekali seakan ada rasa sakit yang ditahannya.


Tak tega membiarkan Nia kesakitan seperti itu Ronald pun berbalik dan menghampiri Nia. "Ayo aku tuntun agar kamu tidak jatuh." ucap Ronald penuh perhatian.


"Aku gak apa-apa kok. Hanya kram perut saja kalau jalan cepat agak sakit." Nia menolak halus niat Ronald. Ia melihat gurat khawatir di wajah Ronald. Ia kenal Ronald. Hatinya lembut dan baik, terlepas dari perselingkuhannya dulu Ronald suami yang baik. Tak pernah sekalipun Ronald berbuat kasar padanya. Saat Nia sakit pun Ronald yang paling khawatir padanya.


"Yaudah pelan-pelan saja jalannya. Aku temani." Ronald menghargai keinginan Nia berjalan sendiri, Ia akhirnya berjalan pelan menyeimbangi langkah Nia.


"Suami kamu kan gak tau kamu nyusul kesini, lalu habis dari bandara kamu mau naik apa? Taksi?"


Nia mengangguk menjawab pertanyaan Ronald. Terlihat Ronald mengerutkan kedua alisnya. Seakan tidak mengerti dengan jalan pikiran Nia. Kenapa sedang sakit masih saja bersusah payah mendatangi suaminya, sesibuk itukah suaminya sampai tidak pulang-pulang?


"Aku antar saja ya? Aku ada supir kantor yang akan jemput." Ronald menawarkan diri.

__ADS_1


"Gak usah, Nal. Aku naik taksi saja. Lagi juga jauh ke Seminyak, kasihan supir kamu."


"Justru karena jauh, aku khawatir sama kamu, Ni. Takut ada apa-apa. Kamu juga lagi sakit gini. Please jangan nolak niat baikku ya. Aku cuma mau kamu selamat sampai tujuan."


Nia menatap wajah Ronald. Mantan suaminya yang dulu pernah Ia cintai kembali lagi. Inilah Ronald yang Ia kenal dulu. Terlihat wajah khawatir Ronald terpancar dari sorot matanya. Buru-buru Nia membuang pandangannya takut Ronald salah paham.


"Baiklah. Lagi juga aku gak tau daerah Bali terutama Seminyak. Terima kasih ya Nal." ucap Nia tulus.


Senyum bahagia terpancar dari wajah Ronald. Akhirnya Nia mau juga Ia antar. Nia mulai tidak membencinya lagi saja sudah membuat Ronald senang, apalagi sampai Ia mau diantar Ronald.


Ronald masih menjaga jarak dengan Nia, takut Nia akan risih. Mereka lalu menunggu koper yang di titipkan di bagasi.


"Koper kamu warna apa?" tanya Ronald setelah mengambil kopernya yang tiba lebih dahulu.


"Pink."


Ronald berniat mengambilkan koper Nia. Tak mau sampai Nia mengangkat kopernya dengan tubuhnya yang sedang lemah itu.


"Itu" Nia menunjuk koper miliknya. Dengan cekatan Ronald mengambil dan membawa 2 koper sekaligus.


Ronald masih mensejajari jalan Nia yang amat pelan. Beberapa kali Ronald menyarankan Nia agar duduk dulu namun ditolak. Nia bilang kalau jalannya pelan tidak terasa sakit.


"Pak kita ke Seminyak dulu ya. Ke jalan mana Ni?" kata Ronald setelah di dalam mobil. Ia duduk di samping Nia di kursi penumpang.


"Jalan Champlung Tanduk" jawab Nia.


"Iya antarkan kesana dulu ya Pak baru ke hotel saya." perintah Ronald.


"Baik, Pak." jawab sang supir sopan.


Nia diam saja selama perjalanan. Wajahnya masih terlihat pucat. Ronald ingat tadi Ia sempat membeli air mineral di Bandara.


"Minum dulu, Ni." Ronald menyerahkan air mineral tersebut pada Nia.


"Terima kasih." Nia mengambil air mineral yang ternyata sudah dibukakan tutupnya seperti kebiasaan Ronald sejak dulu padanya.


"Mau makan dulu gak? wajah kamu pucat banget tuh."


"Gak usah makasih, Nal."

__ADS_1


Suasana kembali sunyi. Ronald tak lagi mengajak Nia bicara, takut Nia risih. Akhirnya mereka sampai di Villa XY.


******


Daniel sedang mengeluarkan pot kembang yang biasa Ia taruh di ruang tamu lalu menyiramnya dengan air. Ia membiarkan tanaman tersebut terkena cahaya matahari yang lumayan terik ini.


Daniel menatap sebuah mobil avanza hitam yang memasuki pekarangan villa miliknya. Mobil tersebut berhenti. Daniel menghentikan kegiatannya menyiram tanaman dan menatap selidik siapa tamu yang datang.


Pintu terbuka, sang supir membukakan pintu untuk tuannya dan tamu di sampingnya. Ronald pun turun, agak kaget Daniel melihatnya. Lebih kaget lagi saat Ia melihat Nia turun dari pintu satunya lagi.


"Nia? Bersama Ronald?" Daniel mencoba mencerna apa yang sedang terjadi. Satu yang pasti, tangannya mengepal erat sampai buku jarinya memerah. Wajahnya pun memerah menahan marah.


*****


Hi semuanya!!!


๐Ÿคจ :Thor kok Nia sama Ronald lagi?


๐Ÿ˜ฌ: Thor jangan bikin Daniel salah paham lagi dong!


๐Ÿ˜”: Thor Nia mesra-mesraan dengan Daniel terus dong!


Hmmm....



Biar bagaimanapun masa lalu itu akan tetap ada. Jangan dihindarin. Seperti Nia dan Ronald yang punya masa lalu, masih bisa ketemu juga kan?


Kalo kebanyakan mesra-mesraan tanpa ada konflik juga terlalu flat ya kisahnya. Ini kan bukan cinderela yang setelah menikah bahagia selamanya. Cobaan justru ada setelah menikah.



Jadi....


Nikmatin aja ya sayang....


Jangan lupa vote ya. Gratis kok. Salam sayang untuk semuanya...


oh iya udah baca Insidious versi real belum?? seru loh. lebih real lagi ceritanya!!

__ADS_1


Tetap semangat ya!!! sayang kalian... ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2