
Mobil yang dikendarai Daniel baru saja tiba di halaman Villa. Jam 7 malam. Setidaknya Ia tidak telat pulang dan bisa menyuapi Nia makan malam.
Seharian Ia sibuk mengurus kerjaannya. Biasanya Ia sempatkan mencuri waktu melihat sang istri tercinta dari CCTV. Namun hari ini Ia sama sekali tidak dapat melakukannya.
Ia hanya sekali menerima telepon Nia yang minta ijin mau menggantikan tugas Anton menjaga resepsionis. Ia ijinkan karena itu pekerjaan yang tidak akan membuat Nia kelelahan dan dapat mengurangi kebosenannya selama di Villa.
Daniel membaca pesan Mama Asih kalau Ia akan datang tapi telat karena harus mengantar Papa dulu check up.
Sejak kejadian Papa ditemukan oleh Papa Adi, sekarang Papa jadi rutin check up memeriksakan kesehatan jantungnya. Mama selalu menemani agar Papa tidak melewatkan jadwal check up nya.
Daniel menutup pintu mobilnya dan berjalan ke meja resepsionis. Terlihat sudah ada Anton yang kembali menjalankan tugasnya.
"Weits udah balik nih yang habis kencan? Gimana? Berhasil gak?" sapa Daniel.
"Berhasil dong. Siapa dulu? Anton Si Tampan Mandraguna."
"Ish sombongnya. Mana Nia?"
"Non lagi sama Nyonya besar di restaurant. Makan malam sama geng arisan hedonnya. Tadi rame banget di sini."
"Rame kenapa?"
"Gak tau sih jelasnya gimana. Tadi baru sampe Nyonya Besar agak marah karena nyuruh Nia gantiin meja resepsionis. Terus Nyonya bilang ke temen-temennya kalau menantunya yang baik lagi gantiin karyawannya."
"Terus?"
"Ya terus mereka ke restaurant deh minta dibukain meja buat geng mereka. Nia juga diajak kesana. Udah sana samperin."
"Iya ini mau kesana." Daniel lalu berjalan menuju restaurant. Dilihatnya sang Mama sedang berpidato dan mengumumkan kehamilan istrinya. Mama terlihat amat senang dan bangga memiliki Nia. Tanpa memandang status Nia yang mantan janda.
"Menantu Saya yang cantik dan baik hati ini, puji Tuhan saat ini sedang hamil." pengumuman Mama disambut dengan tepuk tangan meriah teman-temannya.
"Selamat ya Jeng Asih."
"Wah anak Jeng tok cer. Barus sebulan menikah sudah bisa bikin melendung."
"Jeng Asih lengkap banget hidupnya. Menantu cantik dan calon cucu. Bikin kita semua iri."
"Ah bisa aja nih Ibu-ibu." Mama Asih merendah. Mama Asih melihat kedatangan Daniel. "Pas banget nih anak saya datang. Sekalian saya kenalin sama ibu-ibu semua. Daniel sayang, sini." Mama Asih melambaikan tanganya agar Daniel mendekat.
__ADS_1
Daniel berjalan mendekat, dengan tersenyum Ia menghampiri istrinya lalu mencium pipinya. Sikapnya itu mengundang sorak sorai ibu-ibu arisan.
"Widih... mesra banget ya pengantin baru."
"Jadi pengen buru-buru pulang nih kita."
"Ganteng banget Jeng anaknya. Kayak artis."
"Ah coba anaknya Jeng mau sama anak saya."
Mama Asih pun menenangkan teman-temannya yang rusuh."Tenang Jeng." Mama Asih lalu melihat ke arah Daniel. "Heh, kan yang manggil kamu tadi Mama. Kenapa kamu malah langsung nyamperinnya istri kamu?"
"Emang kenapa sih Ma? Kan Daniel kangen sama istri dan calon anak Daniel." kata Daniel sambil memeluk Nia dari belakang.
"Yah Jeng Asih sudah di nomor-duakan nih." ledek ibu-ibu baju pink.
"Tuh kan bener Mama udah gak diperdulikan?!" Mama Asih pura-pura merajuk.
Daniel melepaskan pelukannya pada Nia lalu gantian memeluk Mama kesayangannya. "Gak lah. Mama tetap nomor satu."
"Aduh Jeng... pengen banget punya anak kayak Daniel."
Bukannya menenangkan ulah ibu-ibu eh Daniel malah menambah ramai. "Mama Mau dicium juga?" muach.. muach.. Daniel mencium pipi Mama Asih dengan penuh kasih sayang.
"Mau...." jawab Ibu-ibu kompak.
"Tante mau dong Daniel..."
"Tante juga dong..."
"Ih udah ah ibu-ibu. Udah kayak tante-tante girang aja kita." akhirnya Mama Asih yang menyetop kegilaan ibu-ibu.
Daniel menyunggingkan senyum jahilnya. Puas Ia mengerjai mantan mertua Nia. Sejak datang Daniel sudah melihat keberadaan Ronald dan Mamanya dengan muka yang ditekuk.
Mama Sri terlihat sebal melihat adegan di depan matanya. "Lebay banget sih." gumamnya pelan namum Ronald bisa mendengar suara mamanya tersebut.
"Sst.. " Ronald melarang Mamanya berbuat sesuatu yang nanti akan lebih mempermalukannya lagi.
"Yaudah ayo kita makan. Sudah terhidang semua makanan kita." Mama Asih mempersilahkan tamunya untuk makan. "Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Mama Asih pada Daniel yang baru saja mengambil kursi agar duduk di samping Nia.
__ADS_1
"Nanti saja Ma. Daniel mau menyuapi Nia dulu." Daniel mengambil sendok dan ingin menyuapi Nia.
"Kok disuapi segala? Memang kamu tidak enak badan Sayang?" Mama Asih terlihat agak khawatir.
"Nia gak apa-apa Ma tenang saja. Sejak hamil makannya jauh berkurang. Nia tidak mual seperti ibh hamil lain namun susah makan. Nah kalau Daniel yang suapin kata Nia rasanya lebih enak." Daniel menjelaskan panjang lebar.
"Aa.. Sayang." agak malu Nia membuka mulutnya dan menerima suapan Daniel.
"Gak usah Yang. Aku malu dilihat sama Ibu-ibu."
"Biarin aja. Yang penting kamu makannya banyak. Buat anak kita juga. Udah makan lagi aa..." Daniel menyuapi Nia dengan telaten.
"Ya ampun Jeng. Cinta sekali ya anaknya Jeng sama Nia."
"Beruntung sekali loh Nia dapetin Daniel." komentar ibu-ibu berbaju ungu yang langsung dibalas oleh Daniel.
"Tidak kok Tante. Justru Daniel yang beruntung mendapat istri secantik dan sebaik Nia." Daniel lalu mengusap rambut Nia dengan lembut.
"Ah... indahnya jadi anak muda. Dulu waktu Tante muda tidak diperlakukan seperti itu sama suami Tante. Huh.." perkataan Ibu baju pink malah ditertawakan sama ibu-ibu yang lain.
"Tuker tambah aja Jeng suaminya sama panci." komentar ibu baju hijau.
"Enak aja. Emang suami saya barang bekas." jawab ibu baju pink sambil tertawa.
Lucunya ibu-ibu ini. Seru. Ramai. Tertawa dan ngegosip bareng. Tapi ada yang hanya diam saja di pojokkan.
Mama Sri hanya diam saja. Makanan pun tidak dinikmatinya. Padahal Ia memesan steak yang paling mahal karena kesal dengan sikap Jeng Asih yang kebanyakan pamer.
Ronald beda lagi. Sejak tadi Ia hanya memandang mantan istrinya yang kini tengah berbadan dua. Keinginan yang sejak dulu Nia minta namun tidak bisa Ia berikan. Ronald sedih namun Ia bahagia melihat Nia yang dilimpahi kasih sayang yang besar dari suami dan Mama mertuanya. Hal yang dulu tidak Nia dapatkan ketika menjadi istrinya.
Ronald menatap Daniel yang menyuapi Nia dengan penuh kasih. Selama Ia menikah tak pernah Ia menyuapi Nia seperti itu. Iri. Cemburu. Namun Ia lebih merasa senang karena melihat Nia bahagia.
Daniel tanpa sengaja beradu pandangan dengan Ronald yang sedang menatap kemesraan mereka. Daniel lalu mengalihkan pandangannya lagi dan fokus menyuapi istrinya.
*****
Hi Semuanya!!!!
Udah baca belum novel aku yang baru. Ayo dong mampir. Seru loh. Judulnya NAMAKU AYU. Bercerita tentang Ayu yang harus meninggalkan pacarnya karena harus menikahi Dio yang telah merenggut keperawananya saat mabuk dulu. Mampukah Ayu menjalani hidup yang jungkir balik seperti roller coaster? Mampukah menjalani hidup tanpa pacar yanh dicintainya?
__ADS_1