Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Dua Sisi-2


__ADS_3

Motor sport Daniel berhenti di tempat yang banyak motor parkir. "Tempat apa ini?" pikir Nia. Tak berani banyak bertanya, Nia mengikuti saja kemana Daniel melangkah. Ternyata Daniel masuk ke sebuah warung.


"Bu, beli Pop M*e 2 sama air mineral 2. Kalau ada yang rasa kari ya" Daniel lalu menyerahkan selembar uang seratus ribu rupiah. Ibu pemilik warung memberikan satu kantong plastik berisi pesanan Daniel. "Kembaliannya ambil saja Bu" Ibu tersebut langsung tersenyum bahagia mendapatkan rejeki tak terduga di pagi hari.


Nia tersenyum melihat perbuatan baik yang dilakukan Daniel. "Jauh-jauh kesini cuma buat beli Pop M*e saja" gerutu Nia saat Daniel menghampirinya. Dengan membawa plastik Daniel pun mengajak Nia mengikutinya. Daniel membayar tiket masuk untuk 2 orang. Masih belum mengerti kemana Daniel akan mengajaknya, Nia ikut saja.


"Kita mau kemana sih?" tanya Nia tak sabaran.


"Udah ikut aja"


"Dingin tau. Lagi enak-enak tidur di Resort mewah malah ngajak keluar ke gunung" gerutu Nia.


"Sini pegang tangan aku kalau dingin" Daniel lalu mengulurkan tangannya agar Nia dapat memegangnya.


"Gak usah yeh" Nia pun menolak tawaran Daniel.


"Yaudah kalau gak mau. Ayo kita lanjut lagi"


Mereka lalu berjalan cukup jauh menelusuri jalur pendakian. "Kita dimana sih?" tanya Nia penasaran karena beberapa kali Ia melihat para pendaki gunung, baik yang mau naik maupun turun gunung sambil membawa tas ransel yang besar.


"Di kaki Gunung Pangrango" jawab Daniel.


"Mau ngapain?" Nia sudah mulai kelelahan mendaki. Keringat sudah mulai menetes di keningnya.


"Mau sarapan"


"Sarapan aja jauh-jauh banget" protes Nia lagi. "Aku capek nih"


"Sabar. Sebentar lagi sampai kok"


"Berapa lama lagi?" tanya Nia.


"Ya... 10 menit lagi lah"


"Huh.. masih jauh dong?" keluh Nia.

__ADS_1


"Makanya nikmatin aja. Jangan kebanyakan mengeluh malah makin capek nanti" omel Daniel.


Nia mencoba menikmati perjalanannya agar tak terasa lelah. Udara pegunungan yang bersih terasa segar di paru-parunya. Matahari sudah mulai bersinar namun sinarnya masih terhalang pepohonan. Jam 7 lewat. Lumayan lama juga mereka berjalan, hingga akhirnya sampai di pertigaan antara Puncak Gede dan Air Terjun Cibeureum. Daniel berbelok ke arah Air Terjun Cibeureum.


Suara Air Terjun sudah terdengar berarti tempat tujuan mereka sudah dekat. Nia berjalan mendahului Daniel seakan sudah hapal dengan jalannya. Sesampainya di Air Terjun Nia disuguhi pemandangan alam yang indah dan asri. Rasanya tak sia-sia Ia mendaki jauh, semua seakan terbayar saat melihat indahnya ciptaan Yang Maha Kuasa.


Nia melepas sepatunya dan langsung menceburkan kakinya di dinginnya Air Terjun. Rasanya segar sekali. Daniel hanya memandang wajah bahagia Nia dari kejauhan. Senang rasanya melihat Nia tersenyum.


"Niel... ayo kesini" teriak Nia memanggilnya. Daniel pun ikut melepas sepatunya dan berjalan menghampiri Nia. Kakinya terasa sangat sejuk. Plastik berisi makanan dan minuman Ia ikat di tas selempangnya. Ia pun mencuci tangan dan wajahnya dengan Air Terjun yang jernih. Nia mengikuti apa yang dilakukan Daniel, ternyata memang segar.


"Ih ikut-ikut aja" protes Daniel.


"Biarin. Mana nih katanya mau sarapan? Aku lapar sehabis mendaki. Kok gak ada yang berjualan?"


"Tenang saja. Kan ada Chef Daniel. Ayo kita cari tempat duduk" Mereka pun mencari tempat yang nyaman untuk duduk.


Daniel lalu membuka plastik berisi Pop M*e. Membuka bungkus kemasan lalu mengeluarkan termos air panas mini dari tas selempangnya dan menuangkannya ke dalam Pop M*e. Setelah menunggu 3 menit Ia pun memberikan pada Nia.


"Jauh ya mau sarapan Pop M*e aja sampai harus nanjak gunung segala" Nia menerima Pop M*e yang diberikan Daniel.


"Cobain aja dulu. Rasanya akan jauh lebih enak karena kamu udah mengeluarkan banyak tenaga untuk sampai kesini. Makan disaat lapar itu lebih nikmat tahu"


"Tuh kan, apa aku bilang? Siapa dulu... Chef Daniel"


"Serah... Niel... serah.. " Daniel tertawa melihat ekspresi Nia.


Lucu dan menggemaskan- Daniel.


*********


Ronald mendatangi satu persatu sahabat-sahabat terdekat Nia. Ia tak mau hanya sekedar telepon, Ia ingin memastikan sendiri ada dimanakah keberadaan Nia. Berkat bantuan Reina (yang dipaksa oleh Mama untuk membantu Ronald) akhirnya Ronald mendapatkan alamat sahabat-sahabat Nia.


Ronald mulai mencari ke rumah Nur, namun ternyata Nur sedang dinas keluar kota. Selanjutnya ke rumah Resti. Rumah Resti sepi, keterangan dari pembantunya Resti sedang mengaji.


Rumah berikutnya adalah Afri, namun Afri sedang menginap di rumah mertuanya. Yang terakhir rumah Fitri.

__ADS_1


Ronald membunyikan bell rumah dan kebetulan Fitri yang membukakan pintu. "Ronald? Ada apa ya?" tanya Fitri tanpa mempersilahkan Ronald untuk masuk ke dalam rumah.


"Maaf Fit, Nia ada disini gak?" Ronald langsung bertanya to the point.


"Kenapa nyariin Nia? Nia kabur ya?" tanya Fitri sinis.


"Kamu tahu dari mana? Nia ada disini ya?" Ronald celingak celinguk mencari keberadaan Nia di rumah Fitri.


"Percuma kamu cari, Nia gak ada di sini"


"Lalu kamu tahu darimana kalau Nia kabur?" selidik Ronald.


"Pasti kamu sudah ketahuan selingkuh ya sama Nia?" Ronald kaget mendengar perkataan Fitri.


"Maksud kamu apa?" tanya Ronald pura-pura tak tahu.


"Udah deh jangan kebanyakan sandiwara. Aku liat sendiri kok kamu selingkuh. Bahkan sampai ciuman di depan umum. Gak tahu malu. Padahal istri kamu percaya 1000% sama kamu tapi malah dibalas sama penghianatan"


"Jadi kamu yang memberitahu Nia kalau aku selingkuh?" marah Ronald.


"Iya aku yang beritahu, namun Nia tetap saja tak percaya sebelum melihat langsung, walaupun aku memberikan bukti foto kamu dan selingkuhanmu"


"Seharusnya kamu tidak memberitahunya"


"Kenapa? biar kamu bisa terus selingkuhi sahabat aku yang baik hati itu?" kata Fitri tajam. "Nia tidak ada disini. Silahkan cari di tempat lain" Bruugggg... Fitri menutup pintu rumahnya tepat di depan muka Ronald. Sia-sia lagi pencarian Ronald hari ini.


Besok aku harus menemui kamu Nia. Pasti kamu ada di kantor. Enggak mungkin kamu terus sembunyi dari aku- Ronald.


Ronald pun meninggalkan rumah Fitri dengan emosi. Fitri mengintip dari balik jendela. Setelah Ronald pergi Ia lalu mengirim pesan ke Nia kalau Ronald sedang mencarinya namun Nia tak membalas.


Nia sedang asyik lomba renang di Resort Daniel. Ya walau pada akhirnya Nia kalah dan harus kena hukuman jalan jongkok sambil memegang telinga mengitari kolam renang. Daniel tertawa terbahak-bahak melihat wajah Nia yang merah padam. Usai sudah tugas Ia untuk membuat Nia tak bersedih lagi.


Daniel mengulurkan tangannya ketika Nia sedang jongkok sambil memegang telinga. "Udah ayo. Aku cuma becanda aja. Gak akan tega aku nyuruh kamu jalan jongkok ngiterin kolam renang. Bersiaplah. Kita pulang" kata Daniel serius.


"Sekarang?" Nia memegang tangan Daniel dan berdiri.

__ADS_1


"Iya. Besok kamu harus menghadapi kenyataan pahit lagi. Tapi aku yakin, selama disini beban kamu sudah banyak berkurang. Kamu sudah lebih tegar. Hadapi semua masalah dengan berani. Angkat kepala kamu. Jangan biarkan orang lain menyakiti hati kamu lagi" pesan Daniel panjang lebar.


Berkaca-kaca mata Nia mendengarnya. Spontan Nia langsung memeluk Daniel. "Makasih Niel. Aku gak tau bagaimana jika gak ada bantuan kamu" Nia menangis terharu. Daniel masih diam mematung, Ia tak siap tiba-tiba Nia memeluknya tanpa aba-aba terlebih dahulu. Baru Ia sadari jantungnya berdegup sangat kencang.


__ADS_2