
Rumah sakit swasta pada hari sabtu pun banyak pasien. Tak hanya hari biasa, ternyata banyak pekerja yang biasanya sibuk pada weekday lebih memilih ke Rumah sakit pada sabtu. Jadi tak heran jika pada hari sabtu banyak pasienny.
Tak terkecuali Rumah Sakit AA khususnya di klinik obgyn atau lebih dikenal dokter kandungan. Nia sudah sejak jam 9 pagi mendaftar untuk konsultasi. Selesai mendaftar di pendaftaran di lantai dasar, Nia harus mendaftar ulang di bagian dokter kandungan.
Sudah ada beberapa suster yang berjaga. Suster menerima nomor pendaftran Nia lalu disuruh menunggu dipanggil lagi. Map yang berisi catatan kesehatan pasien diantarkan lalu Nia dipanggil lagi untuk dicek tensi darah dan berat badan. Suster pun mengajukan beberapa pertanyaan.
"Baru pertama kali Bu ke dokter kandungan?" kata Suster sambil memasangkan alat tensi darah otomatis ke tangan Nia.
"Iya Sus"
"Udah telat mens berapa lama Bu?" tanya Suster lagi.
"Belum telat Sus. Saya mau konsultasi dulu"
"Oh baik, Bu. Tensi darahnya normal. Di timbang dulu ya Bu berat badannya" Suster lalu melepas tensi darah dan melihat timbangan. Dicatatnya hasil tensi dan berat badan Nia. "Nanti dipanggil lagi ya Bu. Silahkan tunggu dulu, Dokternya masih belum datang"
Nia menunggu di ruang tunggu. Sudah banyak ibu-ibu yang menungu untuk diperiksa. Bedanya adalah, mereka menunggu dengan keadaan sedang hamil, sedangkan Nia tidak. Mereka periksa ditemani dengan suaminya, namun Nia tidak. Ronald ada jadwal kerja hari sabtu ini, jadi Nia pergi sendiri ke Rumah Sakit.
Nia masih teringat kata-kata mertuanya yang menyuruhnya ke Rumah Sakit. Jadi sebelum jadwal menginap ke rumah mertuanya datang Ia sudah harus ke dokter supaya mertuanya tidak marah lagi.
Ternyata dokter baru datang jam setengah 10 pagi. Nia mendapat nomor urut 20. Setiap pasien bisa diperiksa 10 menit. "Wah bisa pulang jam berapa nih?" gumam Nia dalam hati.
Nia turun ke kantin karena lapar belum sarapan, sekarang sudah jam 11 namun baru antrian 10. Nia membeli cemilan khas rumah sakit, kayak lontong isi ayam, risol, pastel dan tak lupa air mineral dingin. Nia kembali lagi ke ruang tunggu. Dimakannya cemilan sambil menunggu gilirannya dipanggil untuk periksa.
Jam menunjukkan pukul setengah 1 siang tatkala namanya dipanggil. Nia mengikuti suster masuk ke ruangan dokter.
"Jadi Ibu Nia belum hamil. Mau konsultasi kehamilan?"
"Iya Dok. Sudah setahun lebih 2 bulan saya menikah namun belum diberi momongan juga."
__ADS_1
"Jadwal menstruasinya tiap bulan bagaimana Bu? Teratur atau tidak?"
"Teratur Dok"
"Baiklah. Coba test darah dulu ya Bu setelah kita cek USG" Dokter meminta naik ke tempat tidur untuk di USG. Suster membuka perut dan setengah celana lalu menutupi bagian bawah Nia dengan kain. Suster juga mengolesi perut Nia dengan gel. Dokter lalu datang dan melakukan USG.
"Hasil USG nya bagus kok Bu. Kita coba cek darah dulu ya. Selesai cek darah Ibu balik lagi kesini"
"Iya Dok"
Nia pun diarahkan oleh suster untuk melakukan cek darah. Setelah menunggu cek darah Nia kembali lagi ke dokter membawa hasil cek darahnya. Dokter memeriksa hasil laboratoriumnya.
"Hasil cek darah Ibu bagus kok. Oh iya, suaminya mana Bu?"
"Suami saya kerja Dok"
"Oh, nanti kalau bisa sama suaminya ya Bu. Biar di cek sekalian. Ini saya resepkan obat untuk meningkatkan kesuburan Ibu dan juga vitamin. Usahakan jangan stress ya Bu."
Nia keluar dari ruang periksa dan memberikan copy resep dan map berisi catatan kesehatannya ke suster. Suster lalu memberi copy resep dan meminta Nia membayar di kasir. Nia menuju kasir dan membayar biaya konsultasi dan cek lab sebesar Rp 500.000,- . "Wow.. lumayan mahal juga ya" gumam Nia dalam hati.
Nia menuju ke apotek untuk menebus obat. Nia membayar kembali obatnya sebesar Rp 300.000,-. "Wow sekali berobat bisa 800 Ribu. Lumayan juga kalau setiap bulan begini terus" gumam Nia. Nia kembali menunggu obatnya siap. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 2 siang. Sudah hampir 5 jam waktu dihabiskan disini. Lelahnya. Lapar pula. Cemilan tadi rasanya sudah lenyap.
Hp Nia pun berbunyi. Ronald menelepon. Nia mengangkatnya.
"Sayang kamu dimana? masih di Rumah Sakit?"
"Masih. Aku lagi nebus obat nih"
"Yaudah aku jemput ya. Aku udah di toll dalam kota nih. Aku langsung ke Rumah Sakit ya"
__ADS_1
"Iya, aku tunggu"
Nia pun menutup sambungan teleponnya. Kembali menunggu namanya dipanggil. Lelahnya. "Aku saja yang tidak hamil lelah banget nungguin periksa sampai nebus obat saja hampir seharian di Rumah Sakit, apalagi ibu hamil ya. Gak terbayang deh. Kalau hari biasa mungkin tak seramai ini. Tapi aku kan kerja , mana bisa check up hari kerja jika tak cuti?" Nia menggerutu dalam hati. 10 menit kemudian nama Nia dipanggil. Nia mengambil obatnya. Ada 2 jenis obat yang diresepkan yaitu obat penyubur kandungan dan vitamin.
Nia sedang menunggu di lobby saat mobil Ronald akhirnya datang menjemputnya. Nia langsung masuk ke dalam mobil dan memasang seat belt nya. Mobil pun melaju meninggalkan Rumah Sakit.
"Makan dulu Mas aku lapar" perintah Nia.
"Siap Bos. Memang belum makan?" tanya balik Ronald.
"Belum makan dari sarapan Mas. Tadi cuma beli cemilan lontong isi sama risol aja. Gak nampol"
"Iyalah gak mampol. Udah waktunya makan siang cuma makam cemilan. Yaudah mau makan apa?"
"Bebek kremes aja Mas"
"Oke. Gimana tadi, apa kata dokternya?"
"Tadi aku udah USG sama test darah. Hasilnya bagus kata Dokter gak ada masalah. Katanya nanti Mas suruh ikut buat diperiksa juga"
"Aku diperiksa juga? Lah kan yang bakalan hamil kan kamu kenapa juga aku yang diperiksa. Dokter yang aneh"
"Kan biar tau masalahnya dimana Mas"
"Enggak ah. Aku malu. Aku gak ada masalah kok sama kesuburan. Aku kan sudah gak pernah minum minuman keras lagi. Udah gak pernah clubing lagi. Gak ngerokok juga. Pasti bukan di aku lah masalahnya"
"Maksud kamu masalahnya di aku, gitu?" tanya balik Nia.
"Ya bukan gitu sayang. Mungkin dengan minum obat dari dokter kamu jadi lebih subuh sehingga mudah dibuahi gitu. Aku ga perlu minum obat segala, aku kan gak suka minum obat, suka muntah"
__ADS_1
"Terserah kamu lah. Aku udah ngikutin perintah Mama pokoknya. Udah ah aku lapar." Nia pun membuang pandangannya ke arah luar jendela. Sudah malas Ia menimpali Ronald yang ada nanti ribut lagi.
Mereka pun tiba di rumah makan Bebek Kremes favorit Nia. Ia pun memesan menu dan makan dengan lahap saat makanan telah tiba. Hilanglah lapar yang dari tadi dirasakannya.