Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Bali-8


__ADS_3

Hampir sebulan berumah-tangga namun tetap saja Nia masih belum terbiasa melihat six pack milik Daniel. Ia pasti akan terpana melihatnya. Tak bosan-bosannya dilihat.


Six pack milik Daniel seakan maha karya Tuhan yang pantas diabadikan. Tayangan di TV pun kalah menariknya dibandingkan melihat Daniel yang baru keluar dari kamar mandi.


Dengan sehelai handuk yang dililitkan di pinggangnya, Daniel berjalan santai di depan Nia. Mata Nia yang melihat pemandangan indah itu tak bisa berpaling. Daniel cuek saja berjalan ke lemari pakaian mengambil baju yang hendak dipakainya. Ia tak menyadari sejak tadi mata Nia memandang six packnya seolah mata seekor anak kucing yang kelaparan.


Hampir saja air liur Nia menetes. Hampir 2 minggu lamanya Ia tidak melihat pemandangan indah ini. Pemandangan saat Daniel berjalan dengan handuk di pinggang dan memamerkan perut sixpacknya itu. Indahnya kuasa Tuhan....


Nia bahkan melupakan kram perutnya. Hilang sudah. Obatnya sungguh aneh. Bahkan melihat Daniel seperti itu membuat Nia merasa gerah. Bukan karena udara yang panas, melainkan ada hasrat lain dalam dirinya yang ingin disalurkan.


Mereka bahkan belum lama bercinta, sex in the morning istilah orang jaman sekarang. Namun entah kenapa Nia ingin melakukannya lagi.


Daniel akhirnya menyadari kalau sejak tadi Nia menatapnya tanpa berkedip. Daniel pun berjalan menghampiri Nia.


"Kenapa? Masih sakit lagi?" tanya Daniel penuh perhatian.


Oh God... Nia bisa melihat six pack itu lebih dekat. Mata Nia tidak bisa dibohongi. Ia seperti kucing yang ngiler melihat paha ayam. Tanpa disadari tangannya terangkat dan menyentuh six pack Daniel. Keras. Perut yang berotot itu terbentuk karena Daniel rajin berolah raga dan berenang.


"Sayang." Panggilan Daniel menyadarkan Nia.


"Hah. Iya. Kenapa?" Nia menurunkan tangannya seperti pencuri yang seakan ketahuan. Wajah Nia bersemu merah karena malu.


"Pegang aja gak apa-apa." Daniel berusaha menutupi malu istrinya tersebut. "Kamu masih sakit gak perutnya?"


"Udah enggak kok." jawab Nia.


"Pegang perutnya udah belum nih? Kalau belum aku nunggu kamu sampai bosan dulu baru deh pakai baju." kata Daniel sambil tersenyum jahil.


"Oh. Udah kok." Nia langsung menunduk malu.


"Nanti aja ya puas-puasin pegang perutnya kalau udah pulang dari rumah sakit, oke?"


Nia mengangguk setuju. Dalam hatinya tersenyum senang nanti bisa Ia mainkan lagi six pack Daniel.


"Yaudah aku pakai baju dulu ya." Daniel pun memakai baju yang tadi sudah diambilnya. Ia tersenyum jahil melihat Nia yang masih curi-curi pandang melihat six packnya. Tak sia-sia olahraganya selama ini.


Selesai berpakaian Daniel mengambil dompetnya dan memasukkan ke kantong belakang celana jeansnya. Ia memakai kaus tangan pendek berwarna putih, terlihat makin bening saja kalau dilihat. Tak lupa kacamata sunglassnya untuk melindungi matanya dari sinar matahari siang yang terik ini.

__ADS_1


"Udah siap?" tanya Daniel.


"Iya." Nia pun menurunkan kakinya dari tempat tidur. Baru satu kaki diturunkan Daniel langsung melarangnya.


"Stop! Jangan turun dari tempat tidur!" Daniel menghampiri dan menggendong Nia layaknya pangeran menggendong cinderella.


"Aku udah gak apa-apa, Sayang. Asalkan jalan pelan aku bisa kok, gak sakit lagi." Nia merasa malu jika para turis melihatnya digendong seperti itu.


"Udah jangan bandel. Aku kan bilang, kalau aku tahu kamu sakit, aku akan memperlakukan kamu lebih baik lagi dari siapapun. Bahkan suster dan dokter pun kalah."


"Iya... iya..." Nia menurut saja perintah suaminya. Entah mengapa itu membuatnya merasa nyaman dan aman. Saat digendong Daniel, Nia menyandarkan kepalanya di dada bidang Daniel. Ia dapat mendengar suara detak jantung Daniel yang menenangkannya. Harum tubuh Daniel yang maskulin pun membuat Nia tak bosan-bosannya menghirup harumnya.


Daniel menurunkan Nia dengan pelan-pelan, seakan Nia adalah porselen yang mudah pecah bila diperlakukan dengan kasar. Ia pun memakaikan seat beltnya juga.


Daniel memajukan tubuhnya hendak memasangkan seat belt. Muach... secara reflek Nia mencium pipi suaminya tersebut. Daniel pun tersenyum melihat ulah istrinya tersebut.


"Udah berani mancing-mancing ya dari tadi? nakal!" kata Daniel seraya mencium hidung Nia lembut.


"Yaelah depan jomblo mesra-mesraan melulu. Ini mau ke Rumah Sakit woy, bukan mau check in di hotel. Bikin mupeng aja." protes Anton yang sejak tadi berdiri melihat dua insan dimabuk cinta itu.


"Sirik aja ye Si Buluk ngeliat kemesraan kita. Sayang sekali-kali kita ciuman bibir aja ya depan Si Buluk ini. Biar makin mupeng Dia. Ha..ha..ha.." Daniel puas sekali mengerjai temannya itu.


"Ih sombongnya mentang-mentang masih pengantin baru. Ntar ye kalau pacarku si Dokter Meita sayang datang lagi bakalan ku sosor Dia." balas Anton tak mau kalah.


"Sejak kapan Dokter Meita suka sama kamu, Luk? Ye ngarep!"


"Sekarang sih belum suka. Tapi nanti kalau udah kena sosoranku... uh... minta nambah Dia. Maunya disosor terus." Nia tertawa ngakak mendengar omongan Anton.


Daniel melotot mengomeli Nia. "Kamu jangan ketawa ketiwi sama ucapan Si Buluk. Ntar kamu naksir aja sama Dia. Awas aja ketawain Si Buluk lagi."


"Tuh kan liat, Bojomu aja tertawa denger ucapanku apalagi kalau kena so-" bruk Daniel melemparkan sepatunya tepat mengenai perut Anton. Ia pun langsung kabur takut terkena bogem mentah bosnya itu. Nia pun tertawa tak berhenti melihat ulah dua orang itu. Bahkan air matanya pun tak kuasa sampai menetes.


Daniel mengambil lagi sepatu yang tadi dilemparkannya lalu memakainya lagi. Biasanya Si Buluk suka bawa kabur sepatunya kalau Ia lempar. Untunglah kali ini Dia tak bawa. Kalau tidak bisa terjadi aksi kejar-kejaran macam Inspektur Vijay.


"Masih ngetawain Si Buluk?" melihat Daniel jealous malah makin membuat Nia tak kuat menahan tawanya.


Akhirnya Daniel ikut senyum melihat istrinya amat bahagia. "Ayo kita berangkat!" Daniel pun mengemudikan mobil menuju salah satu rumah sakit terdekat dan terlengkap disana.

__ADS_1


Setelah memarkirkan mobil Daniel lalu menggendong Nia kembali. Security Rumah Sakit pun dengan sigap mengambilkan kursi roda, berpikir kalau pasien yang datang gawat darurat karena sampai digendong segala.


"Silahkan Pak kursi rodanya." tawar security di pintu masuk.


"Oh gak perlu, Pak. Saya masih kuat gendong istri saya kok." tolak Daniel. Ternyata kedatangan Daniel yang seperti Tao Min Tse sedang menggendong Shan Cai banyak menarik perhatian pasien yang sedang berobat. Nia yang merasa malu menyembunyikan wajahnya di dada Daniel.


Daniel sih cuek saja dengan banyaknya pasang mata yang menatap dirinya. Dalam benaknya yang penting Nia tidak kesakitan lagi apalagi saat berjalan.


Daniel menurunkan Nia dengan pelan di kursi tunggu. Ia pun mendaftarkan Nia ke dokter kandungan sesuai dengan perkataan Dokter Meita tadi.


"Sakit apa Neng?" tanya nenek-nenek yang duduk di samping Nia.


"Kram perut, Nek." jawab Nia sopan.


"Oalah. Kirain sakit parah apa sampai digendong kayak gitu segala. Penganten baru ya?" Nenek itu pun tersenyum.


"Iya, Nek." jawab Nia malu-malu.


"Dijaga ya Neng suaminya. Sayang banget Dia sama kamu. Jaman sekarang banyak perempuan suka tega merebut laki-laki yang sudah jadi milik perempuan lain. Gak mikirin perasaan sesama perempuan, hanya mikir perasaan sendiri saja."


"Ia, Nek." dalam hati Nia berkata bahwa Ia sudah pernah mengalaminya dan tak akan mau mengalami hal seperti itu lagi.


Daniel menghampiri Nia setelah mendaftarkan Nia. Kali ini Nia menolak di gendong karena malu banyak yang menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dengan menggandeng Nia, mereka pun menuju bagian Obgyn.


Di bagian Obgyn, Daniel mendaftarkan ulang nama Nia. Suster menyuruh Nia menimbang berat badannya lalu mengukur tensi darah Nia. Sebelumnya Suster tersebut menanyai Nia beberapa pertanyaan. Nia sudah tahu apa yang akan ditanyakan padanya karena dulu Ia sering sekali konsultasi ke Dokter Kandungan.


Sebelum Suster menanyakan lagi hal yang akan mengingatkannya pada hal yang menyakitkan Nia langsung meng-cut pertanyaan seperti : hamil anak ke berapa? Sudah testpack belum? juga Sebelumnya pakai KB apa?.


"Kami kesini atas rekomendasi dari Dokter Meita, Dokter Spesialis Penyakit Dalam. Supaya dilakukan pemeriksaan lanjutan dengan USG." Suster tersebut langsung mengerti dan tidak mengajukan pertanyaan lagi pada Nia. Suster pun menyuruh Nia dan Daniel menunggu di kursi tunggu sampai namanya dipanggil nanti.


*****


Done ya. Hari ini Up sampai 2x. Tumben banget kan hari minggu Up sampai 2 episode.


Apa? pendek banget? yakin? keasyikan kali bacanya hehehehe... 🤣🤣🥰🥰.


stay tune terus ya. Jangan lupa like dan votenya kakak 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2