Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Rumah Mama Tercinta


__ADS_3

Sabtu sore Nia dan Ronald pulang kerumahnya setelah menginap semalaman di rumah Mama Sri. Sepanjang jalan pulang Nia hanya terdiam saja di dalam mobil. Ronald sesekali bersenandung kecil mengikuti lagu yang diputar dari radionya. Tersadar akan diamnya Nia, Ronald pun menanyakan apa yang terjadi.


"Sayang kamu kenapa? Kamu diam saja. Ga enak badan?" tanya Ronald penuh perhatian. Namun Nia yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya saja tanpa berkata apa-apa. Membuat ronald makin penasaran apa yang terjadi.


"Tuh ga sakit tapi kok diam saja? ayo dong cerita ada apa. Kan aku jadi cemas" Ronald pun menepikan mobilnya didepan sebuah taman. "Ayo cerita ada apa? kalau ada masalah cerita jangan dipendam saja. Kita kan sudah berjanji akan menyelesaikan masalah bersama-sama" Ronald mengambil tangan Nia dan menggenggamnya.


"Aku gak apa-apa kok Mas. Nih aku senyum lebar" Nia menyembunyikan kegalauannya dengan senyumnya. Nia tidak mau Ronald tau sesak dadanya dengan perkataan dan sikap Mama Sri terhadapnya. Biar bagaimanapun Mama Sri adalah Mama kandung Ronald. Sebagai seorang anak Ia pasti akan membela mamanya yang melahirkannya, bukan wanita yang baru dikenalnya beberapa bulan saja seperti Nia.


Ronald menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Ia lalu melepaskan genggaman tangannya ke Nia. Dengan raut wajah kecewa Ia berkata "Kamu tuh diam begini sejak tadi pagi kita makan bersama. Kamu marah sama kata-kata Mama?" Nia masih diam saja tidak menjawab. "Menurutku apa yang Mama mau wajar kok. Kan Mama hanya ingin cepat punya cucu. Ambil positifnya saja. Berarti usaha kita kurang, nah nanti selesai kamu mens kita usaha lagi, ya...."


"Aku juga mau punya anak secepatnya kok Mas. Kan kita baru nikah sebulan, masih kecepetan untuk bertanya seperti itu. Mungkin Tuhan belum kasih kita, aku bisa apa?" Nia pun menitikkan air matanya. Tangisnya akhirnya pecah tak terbendung.


"Cup...cup... jangan nangis sayang. Sudah...sudah... jangan terlalu dipikirkan. Kita aja belum sempat honeymoon kan? Udah... udah... cup... cup..." Ucapan lembut Ronald menguatkan hati Nia lagi. Ronald lalu menghapus air mata istrinya.


Nia akhirnya berhenti menangis. Sakit hatinya sedikit berkurang. Ronald pun memeluknya. Nia merasa amat nyaman berada di pelukan suaminya yang selalu melindunginya.


"Maafkan aku ya Mas yang sudah seperti anak kecil" kata Nia setelah air matanya tak mengalir lagi.


"Sst.. kamu gak salah ko sayang. Udah jangam dipikirin ya. Nanti kamu malah stress dan sakit. Kita jalanin aja ya" Nia pun mengangguk setuju. Setelah keadaan tenang, Ronald kembali melajukan mobilnya ke rumah mereka.


*****

__ADS_1


Kehidupan berumah tangga Nia dan Ronald kembali ke rutinitas seperti biasanya. Pagi hari menyiapkan sarapan lalu berangkat bersama ke kantor. Sore hari menunggu di jemput Ronald untuk pulang kerja bareng. Dan malam hari mereka makan bersama. Tanpa terasa sudah hari Jumat.


Jadwal minggu ini adalah menginap di rumah Mama dan Papa. Nia sudah semangat 45 menunggu kedatangan Ronald untuk menjemputnya supulang kerja. Mereka langsung ke rumah Mama.


Perjalanan pulang tak dirasa oleh Nia, karena rindu yang amat sangat dengan kedua orangtuanya. Sejak menikah hampir sebulan lalu Nia belum pulang kerumah lagi. Namun komunikasinya dengan Mama dan Papa tak pernah putus. Nia dan Mama suka telpon-telponan untuk mengusir rasa kangen mereka.


Seperti biasa Nia meminta Ronald untuk menepikan mobilnya karena akan membeli makanan untuk kedua orangtuanya. Nia memesan seekor ayam bakar kesukaan Mama untuk dimakan bersama. Setelah ayam bakar matang mereka melanjutkan perjalanan dan sampai di rumah Mama sekitar jam 8 malam. Ternyata jalanan tidak terlalu macet, mungkin juga Tuhan merestui kedatangannya kerumah dibanding ke rumah mertuanya. Haha..


Nia tertawa dalam hati.


Saat mobil Ronald sudah sampai didepan rumah, Mama langsung menyambutnya didepan pintu. Nia turun dari mobil dan langsung memeluk Mamanya tercintanya.


"Iya Mama juga kangen... Ayo masuk" ajak Mama.


Didalam sudah ada Papa yang masih asyik nonton pertandingan bola.


"Siapa yang tanding Pa?" Ronald langsung mencium tangan Papa. "Persija lawan Persib"


"Wah seru nih"


"Iya udah 1-0. Ayo ikutan nonton sama Papa."

__ADS_1


Dan kedua pria itu pun langsung asyik menonton bola. Nia masuk ke dapur dan menghidangkan ayam bakar yang dibawanya.


"Ma, Nia bawa ayam bakar kesukaan Mama nih"


"Asyik... tau aja kamu kesukaan Mama. Ayo kita siapin buat makan malam. Kalian pasti lapar kan?"


"Tau aja deh Mama ini" Kedua ibu anak itu kemudian menyiapkan piring, lauk, nasi dan alat makan. Tak lupa air putih. Mama lalu memanggil Papa, Ronald dan Nesia untuk makan bersama.


*****


"Gimana rasanya menikah?" tanya Mama saat sesi curhat di kamar Mama berlangsung. Hanya Nia dan Mama saja. Nesia sibuk dengan tugas kuliahnya jadi hanya keluar kamar saat makan malam saja lalu masuk kamar lagi.


Nia langsung berubah raut wajahnya. Yang awalnya ceria lalu teringat lagi tentang ucapan dan perlakuan mertuanya. Nia memang tak pernah bisa berbohong dengan Mama.


"Ada apa? Kok diem aja? Ada masalah ya? Ayo cerita sama Mama" Nia lalu tiduran di paha Mama dan Mama langsung membelai rambut anaknya dengan lembut.


Diceritakanlah oleh Nia tentang kejadian minggu kemarin saat Ia menginap. Tentang sikap Mama Sri dan ucapan Mama Sri yang menurutnya menyakitkan. Mama juga sebenarnya agak emosi anaknya diperlakukan seperti itu dengan besannya. Namun emosi tak menyelesaikan masalah. Didengarkannya cerita sang anak dengan seksama dan sebagai ibu, Ia harus menasehatinya dengan bijak agar anaknya lebih dewasa dan siap menghadapi kerasnya dunia.


"Nia sayang, sekarang Nia sudah berumah tangga. Setiap rumah tangga pasti banyak cobaan. Ada yg diuji dengan tidak punya anak, ada yang tak akur dengan mertuanya, yang diuji dengan harta dan ada pula yang pasangannya selingkuh. Jalani dengan sabar, inget janji kalian saat menikah dulu, bersama-sama dalam suka maupun duka. Semua cobaan pasti ada hal indah yang tersembunyi didalamnya. Semua sudah rencana Tuhan. Saat kena musibah kamu pasti akan bertanya-tanya "Tuhan kenapa kejam padaku" tapi yakinlah bahwa suatu hari nanti kamu akan mengucap syukur atas kejadian dan musibah yang menimpamu hari ini. Tetap sabar ya Nak" Pesan Mama panjang lebar.


Nia merasa pesan Mama kali ini terasa sangat berbeda. Entah hanya kebetulan semata atau memang sebuah firasat. Yang jelas berkat nasehat Mama sekarang Nia lebih sabar dan berjanji akan lebih dewasa lagi. Dipeluknya lagi sang Mama tersayang. Nyamannya.....

__ADS_1


__ADS_2