Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Gosip


__ADS_3

Life must go on. Setelah menghadapi masalah rumah tangga sampai berakhir di meja sidang, Nia harus memulai hidupnya yang baru. Lembaran baru berisi rencana sudah mulai disusunnya.


Biasanya ada jatah uang bulanan dari Ronald yang jumlahnya lumayan cukup sampai gaji bulanannya utuh dan bisa Ia tabung. Sekarang Nia harus mandiri. Membayar tagihan selama tinggal di rumah Papa dan juga biaya hidup sehari-harinya harus Ia tanggung sendiri.


Nesia memang sudah bekerja sekarang, namun Ia tak tega meminta adiknya ikut patungan. Nia tipikal wanita yang menanggung masalahnya sendiri. Itu yang membuat Nia semangat mencari uang.


Gosip tentang statusnya yang sudah berubah dari istri orang menjadi seorang janda sudah menyebar luas di kantor. Banyak sorot mata yang mencuri pandang saat Ia lewat. Image seorang janda yang negatif seolah dialamatkan padanya.


Mereka tidak bertanya langsung pada Nia,melainkan menggunjingkannya di belakang. Alasannya menjaga perasaan Nia, namun hal itu malah membuat gosip tentang dirinya menyebarluas tanpa tahu keadaan Nia yang sebenarnya. Gosip kalau Nia berselingkuh dengan pria tajir karena Daniel sering menjemputnya sudah seperti berita selebritis sampai satu kantor pun tahu.


Para lelaki hidung belang pun tak mau kalah, walau sudah beristri namun berusaha mendekati Nia. Mereka pikir dengan statusnya sekarang Nia membutuhkan pria pendamping dan akan bersedia menjadi madu siapapun yang mendekat. Ah, stigma negatif itu terlalu buruk. Tak ada yang mau rumah tangganya berantakan sampai menyandang status janda atau duda.


Nia berusaha mengacuhkan, namun makin lama pandangan merendahkan, bahkan pandangan menyelidik sering Ia dapatkan. Nia janda kembang yang masih muda dan cantik. Umurnya baru 27 tahun, belum punya anak dan bodynya aduhai. Siapa yang tidak akan tertarik?


Setelah vonis cerai diputuskan, Daniel mengajak Nia ikut gabung di club fitnessnya. Semua dilakukan Daniel agar Nia tidak merasa minder lagi dengan berat badannya. Selama ini Nia merasa karena Ia gendutlah maka Ia tak cantik lagi.


Usaha yang dilakukan Daniel tak sia-sia. Nia mulai menyibukkan diri dengan olahraga. Pikirannya tak memikirkan hal-hal menyakitkan dalam hidupnya. Usaha keras Nia membuahkan hasilnya. Bentuk tubuhnya yang semula gendut karena banyak minum vitamin akhirnya kembali seperti sebelum menikah dulu.


Selain terlihat lebih kurus, Nia juga lebih cantik. Wajahnya yang segar karena banyak berolahraga lebih memancarkan kecantikannya. Karena itulah banyak pria yang meliriknya.


Melihat Nia mulai banyak penggemar, Daniel tak mau kalah. Ia juga makin rajin menjemput Nia sepulang kerja. Seperti hari ini, saat Daniel mau menjemput Nia ternyata ada saja rekan kerja Nia yang menemaninya menunggu jemputan, berharap hati Nia akan berpaling padanya.


Daniel membunyikan klakson memberi kode pada Nia bahwa Ia telah sampai. Nia pamit duluan pada teman yang menemaninya lalu berjalan menghampiri Daniel. Nia langsung masuk ke dalam mobil.


"Cie... yang lagi dikelilingi cowok-cowok... betah banget kayaknya" kata Daniel sambil melajukan kendaraannya.


"Habis gimana ya? Aku kayak magnet sih yang menarik perhatian banyak pria...he...he...he.." tawa Nia tak disambut Daniel. Raut wajah Daniel terlihat jelas ada kecemburuan di wajahnya.


"Kenapa sih diem aja? marah ya?" Nia melihat perubahan wajah Daniel dan tak lagi mengajaknya becanda.


"Kapan kita akan menikah?" pertanyaan Daniel sontak membuat Nia kaget. Ternyata Daniel masih mengingatnya.

__ADS_1


"Kamu masih mau menikah sama aku?" tanya Nia ragu-ragu.


"Ya masihlah." jawab Daniel yakin.


"Gak nyesel?" tanya Nia lagi meyakinkan.


"Kenapa harus nyesel?" tanya balik Daniel.


"Karena aku janda." jawab Nia.


"Aku duda. Masalahnya dimana?" Daniel tak mau kalah.


"Banyak yang underestimate dengan janda. Kalau duda kan enggak."


"Kebanyakan alasan ah. Itu mah tergantung orangnya. Jadi mau gak nih nikah?" tanya Daniel.


"Ih kok ngelamar orang pake marah-marah gitu."


"Kamulah. Siapa lagi coba?"


Keduanya pun sama-sama terdiam sepanjang perjalanan pulang. Sampai akhirnya tibalah mereka di depan rumah Nia. Daniel masih saja diam. Nia melepas seat beltnya dan berniat pamit namun tiba-tiba Daniel bicara.


"Kapan aku bisa nikahi kamu?" kali ini raut wajah Daniel terlihat sangat serius.


Nia terdiam memikirkan jawaban yang akan diberikannya pada Daniel.


"Kalau aku gak bisa mencintai kamu gimana?" tanya balik Nia.


"Gak apa-apa. Aku yang akan belajar mencintai kamu seumur hidup. Dengan begitu aku bisa menjagamu dan menepati janjiku pada almarhum Papa kamu." jawab Daniel yakin.


"Baiklah. Kita nikah secepatnya. Aku turun dulu." Nia lalu turun dari mobil dan tak menawari Daniel masuk. Ia langsung menuju kamarnya dan duduk di kasur. Pikirannya berkelana.

__ADS_1


Apakah Daniel menikahiku hanya karena janjinya pada Papa? Apakah hanya karena utang budi saja mereka baik padaku? Apakah aku harus menjalani pernikahan tanpa cinta dan hanya berlandaskan balas budi saja?


Berjuta pertanyaan hinggap di kepala. Tanpa terasa sudah jam 10 malam dan Ia belum sempat mandi karena terlalu banyak berpikir dan melamun. Nia lalu mandi dan beranjak tidur.


*****


Hari sabtu adalah hari bermalas-malasan bagi pekerja kantoran yang sudah bekerja sejak senin hingga jumat. Bangun siang adalah agenda pertama yang dilakukan.


Jam di dinding menunjukkan pukul 8 pagi. Nia bangun tidur lalu memakai lulur. Ia sudah berencana akan luluran sendiri. Ia tak ada rencana pergi dan ingin seharian menikmati liburnya di rumah.


Selesai luluran Nia langsung mandi dan mengganti bajunya dengan celana hot pant dan kaus tangan pendek. Busana yang nyaman dipakai sehari-hari. Nia ke dapur dan memakan setangkup roti yang diolesi selai cokelat. Sambil memakan roti Ia membaca pesan di hp nya. Tak ada pesan satu pun dari Daniel. Mungkin Ia bete dengan sikap Nia semalam, Nia tak peduli. Ia tak mau ambil pusing. Ia mau menikmati harinya.


Nia meminum susu dingin yang diambilnya dari kulkas. Sedang asyiknya menikmati sarapan tiba-tiba pintu rumah diketuk. Nia pun berjalan membukakan pintu. Ternyata Kak Nay yang datang.


"Sendirian aja, Kak? anak dan suami kamu mana?" tanya Nia tatkala melihat Kak Nay hanya datang seorang diri.


"Iya. Mereka gak ikut." tiba-tiba dari arah belakang keluarlah Nesia.


"Udah datang Ka?" tanya Nesia.


"Kok kamu tau kalau Kak Nay mau datang, Dek? Kalian janjian ya?"


"Kak Nay dan aku mau bicara sama Kak Nia."


"Sama aku? bicara apa?"


"Kita bicara di ruang tamu saja ya" Nia lalu mengikuti Kak Nay dan Nesia duduk di ruang tamu.


"Mau bicara apa?" tanya Nia.


"Jadi gini, Ni. Aku sama Nesia sudah sepakat akan menjual rumah ini dan membaginya sama rata."

__ADS_1


"Apa?" Nia langsung tersedak karena kaget dengan perkataan Kak Nay. Mau dijual? Lalu aku akan tinggal dimana? berbagai pertanyaan hinggap di kepala Nia. Baru aja santai ternyata ada saja masalah baru. Huft....


__ADS_2