Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Bukan Malam Pertama


__ADS_3

Daniel mengambil handuk dan peralatan mandinya dari tas yang tadi Ia bawa. Sengaja Ia hanya membawa sedikit baju. Daniel lalu menuju kamar mandi rumah Nia. Kamar mandi tersebut berukuran kecil, sangat jauh bila dibandingkan dengan kamar mandi di rumahnya. Walau berukuran kecil dan tanpa ada keran air panasnya namun kamar mandi tersebut sangat bersih. Terlihat sekali kalau Nia dan adiknya rajin membersihkan kamar mandi.


Suara marah-marah Nia dan suara kesal Nesia yang terdengar sampai ke kamar mandi membuat Daniel tak kuasa menahan gelak tawa. Pantas saja tadi Nesia berpikir yang tidak-tidak. Ia saja pasti akan berpikir seperti itu jika mendengar Nia berteriak kesakitan, padahal kesakitan karena mencabut bulu mata bukan karena hal lain.


Daniel mengambil air dari ember besar dan mengguyur seluruh tubuhnya. Rasanya segar sekali. Tubuhnya terasa sangat letih. Ia tidak bilang pada Nia kalau Ia baru sampai Jakarta tadi pagi jam setengah 5. Ada masalah pengurusan ijin proyek yang mengakibatkan rencana pulang ke Jakarta mundur. Untunglah Ia sempat tidur di pesawat dan di taksi kalau tidak Ia pasti tidak konsentrasi saat pernikahan tadi.


Selesai mandi Daniel baru teringat kalau Ia meninggalkan baju gantinya di kamar Nia. Terpaksalah Ia keluar kamar hanya dengan handuk yang dililitkan di pinggangnya. Daniel mengetuk pintu kamar Nia.


"Masuk." Nia sudah mengganti bajunya dengan handuk mandi dan sedang membersihkan make up di wajahnya. Daniel masuk kamar setelah diijinkan Nia.


"Udah tercabut bulu mata palsunya Ni?"


"Sudah. Ahhh..." teriak Nia kaget dan langsung menutup matanya dengan kedua tangan saat melihat Daniel hanya memakai handuk saja dan bertelanjang dada.


"Apa sih teriak-teriak aja. Berisik tahu udah malam." Daniel dengan santainya melenggang masuk kamar dan mencari tas berisi pakaian gantinya.


"Pakai baju dong kalau keluar kamar mandi." Nia masih menutup matanya dengan kedua tangan, tak berani membukanya sampai Daniel selesai berpakaian.


"Baju aku ketinggalan. Yaudah sih liat aja. Nanti juga kamu akan terbiasa ngeliat aku begini. Kita kan sudah suami istri. Santai aja." Daniel lalu memakai bajunya.


"Maaf.... aku kan belum terbiasa melihat cowok lain gak pakai baju."


"Oh... kalau melihat mantan suami kamu sudah biasa ya?" perkataan Daniel menyulut emosi Nia.


"Bisa gak kita tidak membahas mantan suami aku mulai sekarang? Itu kan hanya masa lalu yang gak perlu aku ingat lagi." Nia kesal sekali dengan perkataan Daniel.

__ADS_1


Daniel menyadari bahwa Ia sudah mengungkit luka lama Nia. "Maaf ya. Aku keceplosan." Daniel mendekati Nia yang duduk di meja rias dan memegang tangan Nia yang masih menutupi matanya. Perlahan Ia membuka tangan tersebut. "Aku udah pakai baju. Jangan ditutup terus matanya."


Nia membuka mata dan melihat Daniel sudah memakai kaos dan celana pendek. "Jangan bilang kamu gak biasa liat cowok lain lagi ya. Aku bukan cowok lain lagi. Aku suami kamu. Maaf aku agak kesal kamu bilang aku 'cowok lain' karena itu aku bicara yang nyakitin kamu. Kamu maafin aku kan?"


Nia mengangguk "Kamu juga maafin aku ya." Nia menyadari kesalahannya juga.


"Iya. Cepat mandi sudah malam. Tak bagus mandi malam hari." Nia menuruti perintah Daniel dan mengambil handuk dan baju gantinya lalu ke kamar mandi.


Daniel melihat-lihat kamar Nia. Hanya ada tempat tidur berukuran single di kamarnya. Banyak foto-foto Nia dan sahabatnya ditempelkan di dinding. Tak banyak hal yang menarik. Kamarnya bersih dan nyaman walau ukurannya kecil. Lebih besar kamar mandi di rumah Papa malah bila dibandingkan dengan kamar Nia.


Satu yang disyukuri Daniel adalah kamar Nia ada AC nya. Ia tak bisa membayangkan tidur tanpa AC di ruangan yang sempit. Bisa kepanasan dan akhirnya begadang tak tidur semalaman.


Daniel sedang melihat foto Nia bersama teman kampusnya. Teman-temannya kebetulan datang tadi saat pernikahan. Mereka yang bertepuk tangan paling kencang dan juga menangis terisak saat akhirnya mereka sudah resmi jadi suami istri. Daniel iri dengan persahabatan mereka. Ia tidak memiliki sahabat seperti yang Nia miliki. Semua teman kuliah menjauh darinya sejak gosip tentangnya menyebar luas di kampus. Teman yang diundangnya tadi hanya anak buahnya di kantor dan beberapa kenalan bisnis yang sudah lumayan akrab dengannya.


Nia membuka pintu kamar tanpa mengetuk terlebih dahulu, mungkin karena sudah terbiasa. Rambut Nia basah habis keramas membersihkan bekas hair spray saat rambutnya disanggul tadi. Ia mengenakan pakaian tidur bermotif doraemon.


"Iya aku lihat kok. Mereka sangat sayang sama kamu. Beruntung kamu memiliki sahabat seperti mereka." Daniel memalingkan pandangannya dari foto dan melihat Nia sedang mengeringkan rambut. "Ada hair dryer gak? biar aku keringkan."


"Bener nih?"


"Iya. Sana cepat ambilkan."


Nia mengambil hair dryer dari laci meja riasnya. Ia memberikannya pada Daniel setelah disambungkan ke stop kontak. Daniel mengeringkan rambut Nia dengan teliti dan sabar sampai rambut Nia kering merata.


"Udah. Ayo tidur sudah malam." Daniel lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur Nia.

__ADS_1


"Hmm... tempat tidurnya kecil ya? Apa aku tidur sama Nesia saja?" tanya Nia gugup.


Daniel menarik tangan Nia sebelum Ia pindah ke kamar Nesia. "Muat kok. Udah sini tidur. Kita kan sudah resmi jadi suami istri. Apa kata orang kalau malam pertama kita sudah pisah ranjang?"


Omongan Daniel ada benarnya. Pelan-pelan Nia mendekat ke tempat tidur dan tidur di samping Daniel. Dari awal Nia sudah menyiapkan dirinya dan yakin kalau tidak akan terjadi sesuatu apapun di malam pertamanya, karena itu Nia santai saja dan tidak gugup.


"Sini tidur di lengan aku." Daniel menepuk lengannya agar Nia meletakkan kepalanya disana. Nia menurut saja apa kata Daniel.


Sekarang mereka sangat dekat, bahkan harum shampoo Nia dapat tercium di hidung Daniel. Jantung Daniel berdegup kencang. Ia mencoba menahan dirinya.


Cup. Daniel mencium pipi Nia. "Met malam istriku." Daniel lalu memeluk Nia dan tertidur lelap. Ia sangat lelah sekali menghadapi hari ini. Tak lama nafasnya mulai teratur, pertanda Ia sudah tertidur lelap.


Nia masih berusaha mengatur detak jantungnya yang berdetak kencang. Hanya dicium di pipi saja Ia sudah deg-degan. Ia lalu menyadarkan dirinya. Ia ingat perkataan Ronald. Tidur pulasnya Daniel pada malam pertama mereka seakan membuktikan kebenaran ucapan Ronald. Daniel tidak akan menyentuhnya karena Ia bukan seleranya Daniel.


Nia masih ingin berpikir banyak, namun pelukan Daniel yang hangat dan nyaman membuatnya merasa terlindungi. Rasa kantuk pun datang. Nia jatuh tertidur dalam pelukan Daniel. Mereka terus berpelukan selama semalaman, bahkan Nia berbalik badan dan memeluk erat Daniel seakan tak mau kehilangan pelukan nyaman miliknya.


********


Epilog


Daniel terbangun dari tidurnya saat dirasanya tangannya kebas. Ia hendak menarik tangannya namun saat membuka matanya Ia melihat Nia sedang tidur sambil memeluk erat tubuhnya. Ini pertama kalinya bangun tidur dan ada malaikat cantik yang tertidur di sampingnya.


Senyumnya merekah melihat Nia memeluk erat dirinya seakan takut terpisahkan. Ia mencium kening wanita yang kini menjadi istrinya seraya berkata "I love you."


******

__ADS_1


Gimana readers... suka ga sama kisah cinta Nia dan Daniel? kalau suka mana nih vote nya?? 🤣🤣🤣🤣 stay tune terus ya masih banyak cerita Nia lainnya.


__ADS_2