
Anita mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Setelah mendengar perkataan Nia rasanya Ia bagai tersambar petir di siang hari. Ia harus mendengar kenyataannya langsung dari mulut Ronald.
Sudah puluhan kali Ia menelepon Ronald, namun tak juga diangkat. Ratusan pesan Whats App juga tak dibalas, dibaca pun tidak. Kesabarannya sudah diambang batas, apalagi setelah mendengar dari Nia kalau Ronald tidak akan bisa memberikannya anak. Rasanya seluruh angan-angan dan cita-cita yang sudah dirangkainya hancur seketika.
Anita langsung memarkirkan mobilnya dan menuju security menanyakan ruangan Ronald. Anita mengikuti arahan security dan menunggu di ruang tunggu khusua nasabah sementara security memanggilkan Ronald.
Ronald keluar dari ruangannya dan mencari siapa yang ingin menemuinya. Wajahnya langsung berubah masam manakala Ia tau bahwa Anita orangnya.
"Akhirnya aku bisa ketemu kamu lagi, Nal." kata Anita.
"Ada apa? aku sedang kerja. Kalau tidak penting aku mau kembali kerja saja!" Ronald berniat balik badan meninggalkan Anita.
"Aku habis menemui Nia." ucapan Anita menghentikan langkah Ronald. Dengan emosi Ronald langsung menarik tangan Nia dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. Ia tak mau seisi kantor tahu masalah rumah tangganya.
"Ngapain kamu menemui Nia? Aku peringatkan ya jangan ganggu Nia!" ancam Ronald.
"Kenapa? toh kalian akan bercerai!"
"Aku gak akan menceraikan Nia. Aku akan memperbaiki rumah tangga aku lagi. Jadi jangan ganggu Nia, Ia masih istri aku!"
"Lalu bagaimana dengan aku? kita menghabiskan waktu bersama dan bersenang-senang selama ini. Apa arti aku di mata kamu, Nal.?" air mata Anita berlinang deras. Suaranya pun bergetar.
"Sudahlah. Aku tak mau hubungan kita dilanjutkan lagi. Kita putus saja. Aku akan balikkan lagi dengan Nia." jawab Ronald dengan gampangnya.
"Kenapa? apa karena hanya Nia yang bisa menerima kekuranganmu? apa hanya Nia yang bersedia hidup bersamamu walau tak akan dikarunia anak?" Ronald menatap tajam ke arah Anita.
"Apa maksud kamu?"
"Nia yang memberitahu aku. Nia pula yang menyuruh aku mengambil kamu, asalkan mau menerima kekuranganmu itu. Benarkah yang dikatakan oleh Nia, Nal?"
Ronald menunduk menahan malu dan amarahnya. "Kalau iya, kenapa? Aku memang susah punya anak. Tapi hanya Nia yang mau mendampingiku. Namun karena perbuatanku satu-satunya pendampingku akan pergi. Aku gak bisa biarkan Nia pergi. Walau bagaimanapun aku akan mempertahankan pernikahan kami."
"Tapi ... "
__ADS_1
"Pulanglah. Pikiran aku sedang mumet. Aku gak mau melampiaskan kemarahanku sama kamu. Aku tahu semua ini salahku. Aku bersalah sama Nia. Aku juga bersalah sama kamu. Aku yang brengsek di sini. Aku mau minta maaf atas semua perbuatanku." Ronald mengusap wajahnya dengan telapak tangannya. "Tapi aku akan memilih Nia dan mengakhiri hubungan kita. Pergilah. Carilah pria baik yang akan mencintaimu apa adanya. Jangan menunggu aku yang brengsek ini" Ronald membuka pintu mobil dan pergi meninggalkan Anita.
Anita masih menangis tersedu-sedu. Semua pengorbanannya selama ini sia-sia. Ronald bahkan tidak memilihnya. Air mata yang mengalir melunturkan make up di wajahnya. Menampilkan bekas jerawat yang selama ini selalu ditutupinya dengan bantuan make up.
****
Nia masih setia menunggu Papa di drive thru. Diambilnya ranting dari pohon dan seakan berimajinasi ranting tersebut adalah spidol, Ia menuliskan kata-katanya diatas aspal. Sambil menunduk Ia asyik dengan pikirannya sendiri sampai tak sadar ada sebuah mobil sport yang berhenti di depannya.
"Neng, ikut abang dangdutan yuk?"
Nia mengenali suara tersebut. Ia mengangkat kepalanya dan ternyata benar itu adalah Daniel.
"Ih ... Neng mah gak doyan dangdutan. Doyannya campur sari hehehe ...." Senyum di wajah Nia langsung mengembang menggantikan mendung hatinya.
"Ayo, naik! aku antar kamu pulang." ajak Daniel.
"Tidak usah, makasih. Papa nanti jemput aku." tolak Nia halus.
"Tuh kan aku gak bohong. Udah ayo naik!" Nia pun menuruti perkataan Daniel dan naik ke dalam mobilnya. Setelah Nia memakai seat belt, Daniel pun melajukan mobilnya.
"Siapa saja yang sudah gangguin kamu?" tanya Daniel.
"Gangguin? Maksudnya?" tanya Nia bingung.
"Iya maksudnya pasti sudah ada yang menemui kamu kan? entah itu Reynald atau siapapun itu."
"Ronald. Bukan Reynald" Nia membenarkan perkataan Daniel.
"Cie... yang masih hafal nama suaminya ...." ledek Daniel.
"Ralat ya. Calon mantan suami."
Daniel tersenyum mendengar perkataan Nia. "Iya, siapa saja yang sudah datang? feeling aku bukan hanya Ronald yang datang"
__ADS_1
"Ih tau darimana? Pasti Papa deh yang cerita sama kamu" tebak Nia.
"Bukan. Ini murni feeling aku. Papa kamu tadi cuma nitipin kamu sama aku dan minta tolong jemput kamu pulang. Papa kamu bilang, kamu murung terus beberapa hari ini. Aku menyimpulkan pasti ada yang gangguin kamu deh. Benar kan?" tanya Daniel sambil fokus menyetir. Jalanan ibukota yang macet saat jam pulang kantor sudah menjadi hal yang biasa bagi warga Jakarta. Daniel enjoy saja mengemudikan mobilnya di tengah kemacetan.
"Iya, kamu benar. Selain Ronald, ada mama mertuaku dan Anita, wanita selingkuhan Ronald yang juga teman Kak Nay." Nia lalu menceritakan apa saja yang dikatakan ketiga orang tersebut pada Daniel.
Daniel mendengarkan dengan seksama saat Nia bercerita. Saat ini yang Nia butuhkan ada teman yang bisa mendengarkan keluh kesah dan kesedihannya. Setelah Nia bercerita dan puas menangis barulah Daniel berbicara. "Apa yang kamu lakukan sudah benar menurut aku. Sikap tegas kamu yang menolak untuk kembali berumah tangga membuat orang lain tidak bisa seenaknya memandang kamu lemah. Good job, girls. Aku gak mau kasih kamu ceramah tentang kamu harus begini atau begitu. Lebih baik kita makan aja ya. Kita makan yang pedas biar seger pikiran kita, gimana?"
"Boleh tuh. Yaudah makan seblak aja. Mau gak?"
"Seblak? Itu nama makanan?" tanya Daniel heran.
"Iyalah nama makanan. Kamu belum pernah makan seblak?"
"Belum"
"Yaudah kita ke tempat makan seblak langganan aku ya. Tapi kita makannya di mobil kamu aja. Aku malu kalau makan di sana."
"Malu kenapa? Makan kamu banyak?" ejek Daniel.
"Bukan. Aku kalau kepedesan suka keringetan dan ingusan. Hahahahaha" Nia tertawa menutupi malunya.
"Ampun deh. Depan cowok ganteng kayak aku kok ngomongin ingus. Iiih... jorok. Nanti kalau aku ilfil gimana?"
"Bodo amat. Masih mau gak makan seblak bareng aku?" tanya Nia memastikan.
"Iya... iya... tukang ingusan" ledek Daniel.
"Bisanya ngeledekkin aku ya. Kita lihat aja nanti kalau kamu kepedesan gimana. Weekkk" Nia pun meledek Daniel. Mereka pun kemudian menuju tempat makan seblak langganan Nia.
*****
Maaf ya telat update. Pekerjaan di dunia nyata lagi super banyak. Diusahakan update tiap hari kok tenang saja. Ayo mana yg belum vote dan like? Jangan lupa ajak teman dan keluarganya baca novel ini ya. Dukungan kalian segalanya buat aku. Maacih 😘😘😘😘
__ADS_1