Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Bali-9


__ADS_3

"Kamu haus gak, Sayang?" tanya Daniel penuh perhatian.


"Enggak kok."


"Masih sakit?"


Nia menggeleng. Daniel masih saja mengelus-elus perut Nia. Perbuatannya membuat banyak ibu-ibu yang sedang menunggu dipanggil dokter pun iri.


Ah...akhirnya aku merasakan hal ini juga. Walaupun hanya sakit kram biasa saja namun Daniel memperlakukanku sangat spesial- Nia.


Nia tiba-tiba teringat masa lalu. Saat Ia harus berjuang sendirian menunggu dokter kandungan sambil ditatap banyak pasang mata karena datang sendirian dan tidak hamil pula.


Sekarang Ia juga ditatap banyak pasang mata. Namun bukan tatapan nyinyir, melainkan tatapan iri karena memiliki suami yang super perhatian seperti ini, padahal Nia hanya sakit kram perut saja.


Aneh bin ajaibnya, sakit kram perut yang Ia rasakan seolah hilang saat Daniel mengusap perutnya. Setelah menunggu beberapa pasien akhirnya nama Nia dipanggil oleh suster.


Dengan dibantu Daniel, Nia berjalan pelan agar perutnya tidak sakit. Sayup-sayup Nia mendengar para ibu-ibu membicarakannya. Akhirnya Ia merasakan juga rasanya ditemani saat ke dokter kandungan oleh suami sendiri.


"Siang, Dok." sapa Daniel saat masuk ke ruang periksa.


"Siang. Silahkan duduk Pak... Bu..."


"Jadi istri saya sejak 2 hari lalu mengeluh perutnya sering sakit, Dok. Kram katanya." Daniel menjelaskan keadaan Nia.


"Sudah konsul ke Dokter sebelumnya, Pak?" tanya Dokter Lia.


"Tadi pagi saya memanggil Dokter Meita untuk memeriksa istri saya. Dokter Meita merujuk untuk ke Dokter Spesialis Kandungan."


"Ibu Nia terakhir kali menstruasi kapan?"


Nia mencoba mengingat-ingat terakhir Ia menstruasi. "Seharusnya sih 2 hari lalu, Dok."


"Sekarang belum menstruasi lagi?"


"Belum, Dok."


"Silahkan naik ke tempat periksa, Bu." Daniel lalu menuntun Nia sampai naik ke tempat tidur.


Seorang suster sudah berdiri di samping tempat tidur. "Maaf ya, Bu." Suster itu pun membuka baju sehingga perutnya terlihat jelas. Suster tersebut lalu meneteskan gel dingin dan melapisi celana Nia dengan tissue.

__ADS_1


Pekerjaan suster tersebut lalu digantikan oleh Dokter. Dokter meletakkan alat USG di perut Nia. Lalu seperti mencari-cari sesuatu di perut Nia akhirnya Ia menemukannya.


Dokter itu lalu menzoom agar gambar yang terlihat oleh alat USG dapat lebih jelas lagi terlihat di monitor yang berlayar LED 32 Inch.


"Seperti yang Bapak dan Ibu lihat. Ini sudah ada kantongnya."


Merasa bingung dengan penjelasan Dokter, Daniel pun bertanya lagi. "Maksudnya apa ya Dok? kantong apa?"


"Saat ini kantongnya masih kosong. Bapak dan Ibu bisa datang kesini sebulan lagi untuk memeriksa kondisi janin."


"Janin? Maksud dokter saya hamil?" tanya Nia tak sabaran.


"Iya, Bu. Tapi untuk mengetahui apakah janinnya berkembang dengan baik Ibu bisa kembali lagi sebulan lagi."


"Istri saya beneran hamil Dok?" tanya Daniel tak percaya.


"Iya, Pak. Usia kandungannya sudah 4 minggu." penjelasan Dokter membuat Daniel kaget. Ia dan Nia saling bertatapan.


"Tapi kami baru menikah 3 minggu, Dok. Bagaimana bisa usia kehamilannya bahkan sudah 4 minggu?"


"Itu kan baru perkiraan di mesin USG, Pak. Usia kehamilan biasanya dihitung sejak terakhir kali menstruasi. Kalau dari keterangan Ibu Nia memang benar sudah 4 mingguan terakhir kali Ibu Nia menstruasi."


Wajah Daniel yang awalnya tak percaya sekarang berbinar-binar bahagia. "Kamu hamil, Sayang." Daniel lalu mengecup pipi Nia tanda bersyukur.


Daniel kembali menuntun Nia turun sampai duduk di kursi periksa lagi. "Dijaga baik-baik ya Pak. Jangan sampai istrinya kecapean. Makan makanan yang bergizi. Saya resepkan obat penguat dan vitamin diminum setiap hari ya."


"Minum susu hamil boleh Dok?" tanya Daniel lagi.


"Tentu saja, Pak. Susu hamil mengandung asam folat yang bagus untuk pertumbuhan otak janin. Jangan makan daging yang masih mentah ya Pak. Dikhawatirkan masih ada bakteri didalamnya."


"Dok, kami masih boleh berhubungan suami istri tidak?" Nia langsung menoleh ke arah Daniel. "Dasar mesum. Sempat-sempatnya mikirin kayak gitu." gerutu Nia dalam hati.


Dokter tersebut tersenyum mendengar pertanyaan Daniel. Dokter Lia maklum dengan status mereka yang masih pengantin baru, sedang hot-hotnya.


"Sebenarnya boleh, Pak. Tapi mengingat kondisi Ibu Nia yang suka kram perutnya sebaiknya dilakukan dengan pelan dan jangan sampai melakukan penetrasi di dalam. Dan frekuensinya tolong dikurangi. Kalau mau aman sih tunggu sampai usia kandungan memasuki usia 16 minggu."


"Hah? Saya harus puasa selama itu, Dok?" Daniel tak bisa lagi menyembunyikan protesnya.


Dokter Lia tersenyum. "Ah, mesranya pasangan baru ini." gumamnya dalam hati.

__ADS_1


"Boleh, Pak. Tapi jangan terlalu hot ya melakukannya. Nanti kalau Ibu Nia kram lagi, langsung istirahat di tempat tidur. Kakinya bisa angkat keatas untuk mengurangi rasa kramnya."


"Kami kesini lagi kapan ya Dok? Saya mau melihat lagi bayi di perut saya." tanya Nia antusias.


"Sebulan lagi ya Bu. Biar lebih jelas hasil USGnya. Jangan lupa diminum obat dan vitaminnya ya, Bu."


"Iya, Dok. Terima kasih." Nia dan Ronald pun keluar dari ruang periksa sambil menunggu suster memberikan resep dan bill.


"Pelan-pelan, Sayang. Hati-hati." Nia tersenyum melihat suaminya yang amat perhatian. Nia lalu duduk kembali di kursi tunggu sementara Daniel melakukan pembayaran di kasir.


Daniel kembali setelah membayar dan memberikan resep ke apotek. Senyumnya yang mengembang tak pernah lepas dari wajahnya sejak tadi.


Aku akan jadi Papa. Papa Daniel. Aku akan punya anak. Aku akan dipanggil Papa- Daniel.


Daniel menghampiri Nia yang sedang mengusap perutnya dengan sedih. Air matanya menetes namun langsung Ia usap.


"Kok kamu nangis sih? Kamu gak seneng?" Nia lalu menyandarkan kepalanya di dada Daniel.


"Aku seneng. Seneng banget. Aku gak pernah menyangka kalau akhirnya aku bisa hamil juga."


"Sstt... jangan ngomong begitu. Buktinya sekarang kamu hamil kan?" Daniel mengusap lembut rambut istrinya lalu mencium kepala Nia. Harum shampoo sejak Ia mandikan Nia tadi belum hilang, masih wangi terasa.


"Ibu Karunia. Ibu Karunia." terdengar nama Nia dipanggil. Pertanda obat yang ditebus Daniel sudah bisa diambil.


"Aku ambil obat dulu ya." Daniel mengusap air mata Nia lalu berjalan ke tempat pengambilan obat. Ada 2 jenis obat yakni vitamin dan obat penguat.


"Ayo kita pulang." ajak Daniel. "Aku gendong aja. Biar perut kamu gak sakit."


Tanpa meminta persetujuan Nia, Daniel langsung menggendongnya membuat banyak pasang mata kembali menatapnya. Daniel tak peduli, Ia tetap saja berjalan sambil senyum yang tak hentinya terukir di wajah tampannya.


"Yang, aku malu nih diliatin banyak orang. Kamu jangan senyum-senyum kayak gitu terus. Nanti banyak yang naksir lagi." omel Nia.


"Siap Tuan Putri." Daniel lalu memasang muka cemberutnya.


"Gak gitu juga kali. Biasa aja." protes Nia sambil tertawa melihat ulah Daniel.


Tanpa diduga tiba-tiba Daniel mencium pipi Nia. Muaachh... Makin banyak saja yang melihat ke arah mereka berdua. Nia kembali menyembunyikan wajahnya di dada Daniel. Sudah seperti kepiting rebus wajahnya yang memerah tersebut.


******

__ADS_1


Note: info tentang kehamilan diatas hanya sebatas pengetahuan yang dimiliki penulis saja. Lebih lengkapnya bisa tanya langsung ke dokternya.


Maaf up nya lama dan dikit (Kalau keasyikan mah bilangnya dikit padahal lebih dari 1000 kata loh ini), author lagi banyak kerjaan. Semoga besok bisa Up lebih banyak lagi ya. Sekali lagi jangan lupa vote dan like ya. Maacih.😘😘😘


__ADS_2