
"Nih... minum dulu... pelan-pelan kalau makan" Daniel menyodorkan air mineral yang sudah dibukakan tutupnya ke Nia.
Nia meminum air tersebut dan tersedaknya pun hilang. "Kamu sih bikin orang kaget saja. Lagi asyik ngemil kerupuk kulit eh malah ngajak nikah. Cerai aja belum." omel Nia.
"Kalau udah cerai berarti mau dong?" tanya Daniel lagi.
"Au ah.... malah ngebahas kayak gini"
Daniel terdiam sejenak. Sorot matanya menatap pemandangan danau didepannya. Ia masih memikirkan apakah akan memberitahu Nia atau tidak. Nia yang menyadari perubahan sikap Daniel merasa tidak enak akan ucapannya.
"Kamu marah ya Niel atas ucapanku tadi? Maaf ya, aku gak bermaksud menganggap remeh lamaran nikah kamu tapi ...."
"Aku gak marah kok. Lamaran aku mungkin terdengar becanda, tapi aku serius. Seperti yang kamu ketahui, dulu orang tua kita menjodohkan agar kita menikah. Ternyata kita sudah menikah dengan pasangan masing-masing walau pada akhirnya toh kita juga berpisah dan dipertemukan kembali. Aku merasa mungkin Tuhan sudah mentakdirkan kita bersama."
"Tapi Niel..."
"Tenang saja. Aku gak akan maksa kamu kok. Aku ngerti keadaan kamu"
"Bukan begitu Niel. Jujur aku masih mencintai Ronald. Aku takut menyakiti kamu. Aku takut kita menjalani rumah tangga tanpa ada rasa cinta diantara kita"
Daniel menatap Nia yang sedang menunduk sambil memainkan es podengnya.
Kata siapa tak ada rasa cinta diantara kita? kamu wanita pertama yang berhasil membuka hati aku Nia - Ronald.
"Kita belum menjalaninya Nia. Kita belum tahu apa yang akan terjadi nanti. Tapi satu hal yang pasti, aku tak akan menyakiti kamu seperti yang dilakukan Ronald, itu janji aku." kata Daniel dengan penuh keyakinan.
Daniel mengeluarkan hp nya. Ia mencari satu pesan suara yang disimpannya. Diputarnya suara Papa Nia sebelum terjadinya kecelakaan tersebut.
"Sudah kamu rekam, Niel?" tanya Om Adi
"Sudah Om" jawab Ronald.
Nia mendengar suara Papanya sontak langsung mengangkat kepalanya. Daniel meneΔ·an tombol pause di rekaman tetsebut.
"Apa itu Niel? kok ada suara Papa aku?" tanya Nia penasaran.
"Sebelum kecelakaan Papa kamu menelepon aku. Minta tolong jemput kamu pulang kerja. Tapi anehnya Ia minta aku merekam pembicaraan kami. Aku akhirnya merekam. Kamu mau dengar?"
__ADS_1
"Iya. Tolong putarkan!"
Daniel memutarkan rekaman pembicaraannya lagi.
"Niel, sidang cerai Nia sebentar lagi. Tolong bantu Dia ya Niel" pesan Papa.
"Siap, Om. Tenang saja" jawab Daniel dengan santai seperti biasanya.
"Niel..."
"Iya, Om"
"Setelah Nia bercerai, tolong nikahi Nia ya. Om mohon Niel... jaga anak Om..." suara Papa terdengar bergetar.
"Maksud Om?"
"Om menyetujui pertunangan kalian dulu. Om sudah bilang saja Papa kamu. Om minta Papa kamu menikahkan kalian berdua. Papa kamu sangat setuju tapi semua terserah kalian berdua. Hati Om tenang jika menitipkan Nia pada kamu Niel. Janji ya Niel kamu akan menjaga Nia?"
"Iya, Daniel janji Om. Masalah pernikahan Daniel tak mau memaksa Nia. Tapi Daniel akan menikahi Nia sesuai permintaan Om."
"Makasih ya Niel. Om percaya sama kamu"
"Maaf ya Niel, aku banyak merepotkan kamu... hiks..hiks.." kata Nia dengan sesegukan.
Daniel mengusap lembut punggung Nia. "Kamu gak ngerepotin aku kok. Aku senang melakukannya buat kamu."
Nia menghapus air matanya, ditatapnya Daniel. Laki-laki tampan yang walau jahil namun baik hati.
"Baiklah, Niel. Ayo kita menikah setelah aku bercerai nanti." kata Nia yakin.
Daniel tersenyum dan mengusap lembut rambut Nia. "Walau nanti kita menikah, kamu bisa tetap menganggap aku seperti teman. Gak usah dipikirkan dulu. Kita fokus dengan perceraian kamu dulu ya."
Nia mengangguk setuju. Nia melanjutkan makan es podeng dan kerupuk kulitnya sambil melempari danau dengan batu krikil lagi.
********
Sidang perceraian Nia kembali digelar. Kali ini Ronald tanpa ditemani siapapun. Berbeda dengan Nia yang selalu ditemani oleh Daniel dan Pak Darmawan.
__ADS_1
Pak Darmawan memanggil pengacara Ronald dan mengajak berbicara. Nia memperhatikan raut wajah pengacara tersebut pucat, senyum di wajahnya perlahan hilang berganti raut muka serius. Tak lama percakapan mereka selesai, pengacara tersebut kembali ke Ronald.
Nia sekarang memperhatikan percakapan serius antara Ronald dan pengacaranya. Merasa penasaran Nia pun bertanya pada Daniel.
"Niel...." bisik Nia pelan sambil menyenggol lengan Daniel yang sedang sibuk membaca berkas.
"Hmm..." jawab Daniel.
"Apa yang dibicarakan Papa kamu sama pengacaranya Ronald? kok mukanya langsung berubah serius gitu. Ronald juga mukanya kaget setelah diberitahu pengacaranya. Ada apa sih?"
Daniel mengangkat wajahnya dari berkas yang sedang Ia periksa lalu melihat Ronald dan pengacaranya yang berbicara serius. Jarak mereka yang lumayan jauh membuat percakapan kedua orang itu tak terdengar.
"Oh... biasa... Papa lagi ngeluarin kartu As." Daniel langsung paham situasi yang terjadi.
"Kartu As? maksudnya apa?" Nia masih bingung, maklumlah Ia bukan orang hukum yang mengerti istilah-istilah dan cara bekerjanya.
"Maksudnya Papa aku tuh lagi mengeluarkan kartu As gunanya menggertak pengacara lawan agar tidak naik banding. Jadi sidangnya lebih cepat diputuskan tanpa digantung lebih lama lagi."
"Terus kok mukanya itu pengacara sampai kayak orang pusing? Memang apa kartu As nya?" Nia masih tidak puas dengan jawaban Daniel.
"Kartu Asnya adalah rekaman cctv waktu Ronald paksa kamu sampai kamu luka-luka." kata Daniel pelan.
"Loh kok kamu kasih? kan aku bilang kalau aku gak mau sampai Ronald di penjara?" protes Nia.
"Sst... tenang dulu cantik. Itu kan hanya gertakan saja. Lihat saja nanti, pasti mereka akan mundur."
"Cantik.... cantik... gendut gini kok cantik... huh ngibul!"
"Lah memang cantik itu harus langsing? kan gak ada tuh standarnya kalau cantik harus langsing. Kalau hatinya baik ya cantik saja tau"
"Iya... iya... ayo ke dalam. Semua udah masuk kita aja yang belum" Daniel mengikuti Nia masuk ke dalam ruang sidang.
Persidangan berlangsung dengan cepat. Hakim memutuskan menyetujui gugatan cerai yang Nia layangkan. Hakim juga bertanya apakah pihak tergugat akan mengajukan banding. Dengan wajah kesal Ronald menjawab tidak. Ternyata kartu As yang dikeluarkan Pak Darmawan berhasil. Pihak pengacara dan Ronald pun tak berkutik.
Hakim mengetuk palu mengesahkan gugatan cerai Nia. Surat perceraian pun di tanda-tangani kedua belah pihak. Dengan penuh emosi Ronald meninggalkan ruang sidang. Sementara Nia hanya diam saja. Sekarang statusnya sudah berubah, bukan lagi istri orang melainkan menjadi janda. Status yang akan menjadi buah bibir banyak orang.
Daniel langsung menggenggam tangan Nia. Genggaman tangan Daniel seakan tiang yang menopang agar Nia kuat dan tak mudah jatuh. Nia tersenyum pada malaikat pelindungnya. Ia akan memulai hidup dan membuka lembaran baru.
__ADS_1
*****
Banyak yang minta up sehari 2x.. hmmm.... sesekali mungkin boleh ya. Tapi gak bisa setiap hari πππ. Jangan lupa vote dan ajak teman sebanyak mungkin ya buat baca novel ini. Yuk.... like dan vote... maacih ππππ