
"Kamu suka juga dengan caramel frapuccino?" tanya Daniel memulai pembicaraan.
"Hmm... lumayan suka. Tapi aku jarang minum kopi. Lebih suka minum boba. he..he..he.." entah apa yang merasuki Nia. Baru saja mengenal cowok di depannya tapi langsung mengajak bercanda.
"He..he... jangan sering-sering Nia gak bagus buat kesehatan. Eh aku panggil kamu Nia aja gak apa-apa kan? kayaknya kita seangkatan deh" Daniel lalu menyeruput kopinya.
"Ah masa sih? Memangnya kamu umurnya berapa?" tanya Nia tanpa basa-basi.
"26 tahun. Kamu?"
"24 tahun" jawab Nia.
"Tuh kan kita seumuran" Daniel senang tebakannya benar.
"Iya. Walau tuaan kamu 2 tahun. Tapi ya bisa di bilang seumuran lah"
Nia memakan tiramisu cakenya. Rasa manis terasa hanya di lidahnya saja, namun tak ada rasa enaknya karena hati Nia sedang sedih.
"Sst... sst... Nia... bengong lagi Dia" Daniel melambai-lambaikan tangannya di depan mata Nia ketika melihat Nia tiba-tiba melamun.
"Iya... Maaf"
"Kamu lagi ada masalah?" tanya Daniel penuh perhatian.
Nia menghela nafas berat, pikirannya kosong lagi. Ia lalu menatap cowok tampan di depannya. Cowok berkulit putih dan tinggi yang dikiranya seorang playboy kakap ternyata perhatian juga padanya. Nia pikir tak ada salahnya cerita sama orang yang tak dikenalnya, toh belum tentu mereka akan bertemu lagi.
"Bohong kalau aku bilang gak ada masalah" jawab Nia.
"Habis nangis ya semalaman?" tanya Daniel lagi penuh selidik.
"Tau darimana?"
"Tuh mata bengkak gitu"
Nia langsung mengambil kaca kecil di dalam tasnya. Dilihatnya kedua matanya yang bengkak kebanyakan menangis semalam. Terburu-buru pergi tadi lagi Ia lupa tak memakai makeup sama sekali. Nia begitu malu.
__ADS_1
"Ya ampun. Muka aku kayak monster" Nia baru sadar dari tadi nongkrong ngopi dengan cowok tampan namun dengan muka kucel dan bengkak kebanyakan nangis.
"Monster apa? Cuma bengkak karena nangis aja matanya sudah melabeli diri sendiri dengan monster. Kamu tuh cantik walau tanpa make up" puji Daniel spontan.
"Idih... gombal. Aku tuh udah nikah tau"
"Siapa yang gombal? emang jujur kok. Cewek tuh kalau hatinya cantik wajahnya juga akan ikut cantik. Tapi kalau wajah cantik kalau hati busuk juga akan terlihat busuk. Memang kamu saja yang sudah nikah? aku juga... weekkk..."
"Ngeselin banget ya. Kenapa nongkrong sama aku kalau udah punya istri? Sana sama istrinya nongkrong bareng" usir Nia sambil bercanda.
"Udah gak bisa nongkrong lagi sama istri" jawab Daniel singkat.
"Kenapa? Udah punya anak ya? jadi susah diajak hangout?" tanya Nia.
"Gak kok. Dia udah pergi jauuuuhhh banget. Dan gak akan lembali"
"Maksudnya?" tanya Nia bingung.
"Istriku udah meninggal sehari setelah resepsi pernikahan kami"
Nia langsung terdiam dan merasa bersalah. "Maaf ya aku gak bermaksud meledek. Aku turut berduka cita ya. Bener deh aku minta maaf banget. Aku lagi ada masalah jadi bercandain kamu. Sekali lagi maaf ya" kata Nia penuh penyesalan.
"Kok kamu enggak ada sedih-sedihnya sih?"
"Ya namanya juga dijodohin. Aku belum ada rasa sama istriku. Makanya gak ada perasaan sedih. Hanya syok aja, kok bisa jadi duda dalam semalam"
Nia hanya diam saja memandang iba pada cowok tampan di depannya.
"Kenapa ngeliatin aku kayak gitu? Gak usah merasa kasihan. I'm fine" Daniel langsung bisa membaca pikiran Nia. "Kamu sendiri, udah nikah nongkrong sendirian di sini dengan mata bengkak kalau bukan ada masalah ada apa coba?"
"Ya ada masalah makanya di sini" jawab Nia.
"Gantian dong cerita. Kan tadi aku udah cerita. Kenapa? takut aku bocor ya? tenang aja, kita juga gak kenal. Ya anggap saja teman curhat. Keluar dari kedai kopi ini kita juga akan saling gak kenal lagi"
Nia berpikir tentang apa yang dikatakan oleh Daniel. "Benar juga. Siapa tau aku bisa bertukar pikiran sama Dia tentang masalah aku"gumam Nia dalam hati.
__ADS_1
"Oke. Aku cerita. Jadi suami aku selingkuh"
"Udah gitu aja ceritanya? tau darimana suami kamu selingkuh? buktinya apa?" tanya Daniel lagi.
"Dari temanku. Ia ngeliat sendiri lalu difoto dan dikasih liat ke aku. Nih aku simpan" Nia lalu menunjukkan bukti foto yang dimilikinya pada Daniel. Setelah cukup mengamati Daniel mengembalikan kembali ke Nia.
"Udah nanya belum sama suami kamu?"
"Belum"
"Bagus. Kalau hanya dengan bukti kayak gini pasti suami kamu akan ngeles, lalu Ia makin hati-hati saat sedang selingkuh, karena Ia tau kamu pasti akan mencurigai Dia sampai kamu dapat bukti yang lebih jelas lagi"
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Nia penasaran. Nia merasa jawaban Daniel masuk akal, mungkin karena Daniel sesama laki-laki jadi pola pikirnya sama.
"Pura-pura gak tau. Kamu kumpulin bukti yang lebih banyak lagi"
"Kalau itu sih teman-temanku juga udah kasih tau"
"Sekarang pertanyaan aku, kamu masih mau balikkan sama suami kamu atau mau bercerai?"
Deg.. pertanyaan Daniel yang to the point mengagetkan Nia. Ia tak berpikir sampai situ.
"Aku belum tahu" jawab Nia lemah.
"Yaudah pikirin dulu. Kalau memang mau lanjutin pernikahan kamu, kasih bukti yang hanya 1 buah foto itu ke suami kamu, bilang kamu maafin Dia tapi jangan diulangi lagi. Tapi ya.. selingkuh itu semacam candu, kayak narkobalah. Sekali dimulai biasanya bikin ketagihan. Susah diobati. Apa kamu siap seumur hidup dipenuhi dengan rasa curiga suami kamu akan selingkuh lagi? Gelas yang sudah jatuh mungkin tidak pecah, namun tidak lagi utuh, ada bagian yang sudah tergores. Begitu pun rumah tangga kamu nanti. Tak lagi sama"
Nia terdiam memikirkan kata-kata Daniel. Inilah teman curhat yang diharapkannya. Yang akan membukakan kenyataan pahit apa yang akan Ia dapatkan jika Ia memilih suatu keputusan.
"Lalu bagaimana kalau aku memutuskan untuk bercerai?" tanya Nia dengan suara bergetar. Air matanya menetes lagi di pelupuk matanya. Dengan sigap Daniel memberikan sapu tangan miliknya untuk menghapus air mata Nia.
"Makasih" Nia menerima sapu tangan tersebut.
Daniel meminum kopi untuk membasahi tenggorokannya yang kering setelah banyak bicara.
"Diam saja. Jangan bicarakan tentang perselingkuhan suami kamu. Jangan sampai suami kamu curiga kalau kamu sudah tau Dia selingkuh. Berpura-puralah seakan semua baik-baik saja. Lalu kumpulkan bukti sebanyak mungkin. Kalau perlu kamu lihat dengan mata kepala kamu sendiri saat Ia selingkuh. Dijamin Ia pasti tidak akan bisa mengelak. Pikirkanlah. Temui aku lagi kalau kamu sudah menemukan jawabannya. Minggu besok jam 8 pagi aku ada di kedai kopi ini"
__ADS_1
Nia masih terdiam dan berpikir. Daniel memutuskan meninggalkan Nia agar bisa berpikir jernih.
"Aku pergi duluan ya. Oh iya makasih kopi dan kuenya. Dah.."