
Waktu pulang kerja sudah hampir tiba. Setelah memberikan laporan harian pada atasannya, Nia pun bersiap-siap untuk pulang. Jam 5 Teng!!! sudah banyak pasukan pulang tenggo (tengg langsung go) sudah antri di depan mesin absen.
Demi mengejar angkutan umum yang datangnya tiap 15 menit sekali, Nia pun masuk ke dalam pasukan tenggo. Ia sudah antri di depan mesin absen dan absen pukul 05 lewat 2 menit. Loyalitas Nia hanya 2 menit saja untuk perusahaan ha..ha.ha...
Dengan mengenakan tas selempang dan sepatu flat kesayangannya Ia pun siap mengejar bus. Nia baru saja menuruni tangga lobby ketika ada yang memanggil namanya.
"Nia" sontak Nia mencari yang memanggilnya.
Nia terkejut melihat ternyata yang memanggilnya adalah Ronald. Bergegas Ronald langsung berjalan menghampiri sebelum Nia meninggalkannya.
Nia menghentikan langkahnya dan menunggu Ronald menghampirinya. "Kenapa?" tanya Nia acuh.
"Aku mau bicara sama kamu."
"Gak ada yang perlu dibicarakan lagi." kata Nia ketus.
"Please, Ni. Aku mau bicara baik-baik sama kamu. Please....." mohon Ronald dengan wajah memelas.
Tak tega melihat raut wajah Ronald, Nia pun menyanggupi. "Yaudah mau bicara apa?" Nia pun menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
"Jangan bicara disini. Gak enak, banyak yang melihat. Ayo naik ke mobil, nanti aku antar kamu pulang sekalian!" Nia menimbang-nimbang permintaan Ronald, akhirnya Ia pun menyetujui dan naik mobil Ronald.
"Kamu mau makan apa? Kita bicara di cafe kesukaan kamu saja ya" kata Ronald setelah di dalam mobil.
"Terserah" hanya jawaban pendek yang Nia ucapkan.
__ADS_1
Ronald pun mengemudikan mobilnya menuju cafe kesukaan Nia. Suasana sunyi di dalam mobil, tak ada percakapan pun dari kedua pihak. Nia hanya diam saja sambil menatap keluar kaca mobil.
Jarak cafe yang tidak terlalu jauh ditempuh dalam waktu 10 menit saja. Ronald memarkirkan mobilnya lalu membukakan pintu untuk Nia. Hal yang sudah lama sekali tak di lakukannya.
Ronald mengulurkan tangannya agar Nia bisa menggandengnya, namun Nia acuh saja dan berjalan lurus ke dalam cafe. Ronald menatap tangannya yang diacuhkan Nia, dulu Nia selalu senang menggandeng tangannya, namun sekarang dilihat pun tidak.
Nia memilih tempat duduk yang agak jauh dari keramaian. Ia pun duduk dan menaruh tas di sampingnya agar tak ada seorang pun yang duduk, termasuk Ronald.
"Kamu mau minum apa?" tanya Ronald menawarkan.
"Terserah" jawab Nia singkat.
"Jangan terserah aja dong. Kamu mau minum apa? terus makan apa? Kalau aku pesankan nanti kamu gak suka gimana?" tak tahan dengan berbagai pertanyaan Ronald, Nia pun mengambil buku menu dan memilih Jus alpukat dan roti bakar keju.
"Dulu, kalau malam minggu kita suka nongkrong disini ya, Ni. Kamu inget gak kalau ada band yang perform terus nyanyiin lagu yang aku request buat kamu. Waktu itu kamu..." ucapan Ronald diputus oleh Nia.
"Mau ngomong apa? gak usah membahas masa lalu. Gak penting untuk dikenang." jawab Nia ketus.
"Jangan gitu, Ni. Banyak kenangan kita disini."
"Kalau gak ada yang mau dibicarakan lagi lebih baik aku pulang saja" ancam Nia.
"Oke... oke... aku gak akan bahas lagi. Tenang dulu ya jangan emosi dulu. Aku mau minta maaf untuk semuanya, Ni. Aku banyak salah sama kamu. Banyak nyakitin kamu. Banyak ngecewain kamu. Aku juga udah nyakitin kamu kemarin sampai kamu jatuh kena kursi. Aku... aku udah gak tau bagaimana aku harus minta maaf sama kamu." air mata Ronald mulai menetes dan suaranya mulai serak. "Aku biarkan kamu sementara tinggal di rumah Papa agar kamu lebih tenang dan berpikir tentang masa depan kita. Aku tidak menyangka kalau kamu akan benar-benar melayangkan gugatan cerai ke aku."
Ronald mengambil tissue dan menghapus air matanya. "Aku gak mau rumah tangga kita hancur, Ni. Apa yang kita bangun bersama. Kehangatan kamu di rumah. Aku gak mau kehilangan semua itu. Aku gak bisa hidup tanpa kamu, Ni. Maafkanlah aku kali.... Nia... aku mohon...."
__ADS_1
Nia menatap permohonan maaf Ronald yang terlihat sangat tulus. "Ni... kembalilah bersamaku. Kita mulai lagi semuanya dari awal. Aku janji tidak akan menyakiti hati kamu lagi. Mau ya...Ni..."
Melihat Nia yang hanya diam saja tak menanggapinya Ronald kembali membujuk Nia. "Kita mulai lagi dari awal ya, Ni. Aku akan berubah, aku janji." pandangan mata Nia masih kosong, tak ada jawaban apapun yang keluar dari mulutnya. "Ni..." Ronald berusaha meraih tangan Nia dan menyentuhnya. Hal tersebut mengagetkan Nia dan membuatnya tersadar. Secepatnya ditarik tangannya dari Ronald.
"Ni... please.... apa perlu aku berlutut memohon kamu kembali lagi sama aku? aku sayang kamu. Hanya kamulah yang aku cintai...."
"Maaf, Mas. Aku mau tanya" suara Nia pelan namun masih terdengar oleh Ronald.
"Iya. Mau tanya apa?" Ronald semangat, akhirnya Nia menanggapinya.
"Apa saat kamu berselingkuh dulu, kamu memikirkan rumah tangga kita? apa kamu memikirkan perasaanku?"
"Ni, aku.."
Nia langsung memotong ucapan Ronald. "Tidak kan? Kamu tidak memikirkan rumah tangga kita kan? Kamu tidak tahu rasanya setiap malam aku menunggu kamu pulang kerja namun ternyata yang aku tunggu malah selingkuh dengan wanita lain?! Kamu tidak tahu kan bagaimana tertekannya aku selama berumah tangga dengan kamu? Bagaimana aku harus memenuhi keinginan Mama kamu untuk segera punya anak? Bagaimana sakitnya hati aku melihat dengan mata kepala sendiri kalau suamiku selingkuh dengan teman makan siangku sendiri? Tidak, Mas. Kamu tidak pernah memikirkannya. Kamu hanya mementingkan diri kamu sendiri. Kamu hanya memikirkan akan kehilangan istri bodoh yang dapat kamu bodohi terus?"
"Aku gak pernah menganggap kamu bodoh, Ni. Aku memang selingkuh, tapi itu hanya main-main saja. Aku lebih memilih kamu Ni dibanding siapapun"
"Pilih? Aku bukan barang yang bisa kamu pilih dan buang seenaknya, Mas. Aku tidak meminta untuk dipilih sama kamu. Seharusnya kamu memikirkan perasaan aku sebelum melakukan tindakan bodoh itu!" emosi Nia naik dan air mata pun membasahi wajahnya.
"Aku minta maaf, Ni... aku minta maaf... maafkan aku....aku mohon"
"Maaf, Mas. Hati yang sudah retak tak akan pernah bisa kembali utuh lagi. Kamu sudah kehilangan kesempatan. Kita bertemu lagi nanti di persidangan." Nia mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Ronald yang terpaku menyesali perbuatannya. Air matanya pun tak guna menghentikan langkah Nia untuk menggugat cerai.
Nia menyetop taksi dan pergi meninggalkan Ronald. Ia berusaha memaafkan Ronald namun Ia tak bisa menerima kembali cinta Ronald. Karena akan selalu ada kecurigaan yang akan selalu menghantuinya jika Ia kembali bersama.
__ADS_1