
"Nia?" Mama Sri menatap Nia dengan pandangan tidak percaya. Mengapa dari sekian banyak orang dan sekian banyak tempat harus bertemu dengan Nia disini, di Bali.
"Mama Sri?" Nia lupa kalau terakhir kali mereka bertemu di sidang perceraian dan Nia sudah memanggilnya dengan sebutan Tante. Karena terbiasa memanggil Mama maka Nia memanggilnya Mama.
"Kamu disini? Setelah bercerai dari Ronald kamu malah jadi resepsionis saja? Tau gitu enakkan kamu jadi istrinya Ronald tinggal terima gaji saja." ucap Mama Sri dengan sinis.
"Mama panitianya? Tolong isi formulir pendaftaran check in dulu ya." Nia memberikan kertas pada Mama Sri untuk diisi. Ia tidak mau banyak bicara. Toh kenyataannya yang diucapkan oleh Mama Sri tidak benar, untuk apa menimpalinya.
"Kamu kurus sekali sekarang Ni. Kayak ga dikasih makan saja. Lihat dong Anita sekarang setelah tinggal bareng Ronald. Makin semok saja. Itu artinya apa? artinya Dia bahagia. Waktu kamu sama Ronald kan saking bahagianya kamu sampai gendut badannya. Sekarang melihat kamu kurus begini kok kayak lagi tekanan batin ya. Ah pasti kamu menyesal sekali ya bercerai dengan Ronald?" Nia hanya tersenyum saja mendengar perkataan Mama Sri yang sangat nyelekit dan membuatnya sakit hati. Tapi itu dulu, sekarang bahkan Ia tidak mau memasukkan perkataan mantan mertuanya ke dalam hati.
"Eh tapi Ronald juga sudah bahagia sih sama Anita. Tinggalnya di apartemen mewah di pusat kota. Anita juga sangat royal, apapun yang Mama minta selalu dipenuhi. Tidak pelit kayak kamu, baru beliin Mama jam harga dibawah sejuta udah sombong. Nih kamu lihat, tas yang dibelikan oleh Anita." Mama Sri menunjukkan tas jinjing bermerk Kate Spad* yang dibawanya. "Bagus dan mahal kan?"
"Iya." jawab Nia pendek.
"Kamu mah gak sanggup beliin Mama tas kayak gini, ya kan?"
Aduh ini mantan mertua sombongnya naujubileh. Pake acara dilama-lamain lagi ngisi formulirnya - Nia.
"Iya." jawab Nia lagi. Agak malas sebenarnya menimpali.
"Oh iya Mama lupa, Ronald kan sedang di Bali juga. Apa kata Ronald ya kalau mantan istrinya sekarang cuma jadi seorang resepsionis saja? Takutnya anak Mama yang baik itu akan merasa kasihan sama kamu. Kan kamu tau sendiri Ronald itu suka enggak tegaan. Mama kan gak enak sama Anita."
"Ronald tau kok Ma kalau aku ada disini." beritahu Nia.
"Darimana kamu tau? Kamu masih stalking sosial media Dia ya? Atau kamu masih memata-matai kegiatan Dia?"
Nia tersenyum mendengar mantan mertuanya masih saja berburuk sangka pada dirinya.
"Kami kebetulan tanpa sengaja satu pesawat waktu mau kesini. Ronald akhirnya mengantarkan aku sampai sini." Nia menerima KTP yang diberikan Mama lalu mengcopynya. Setelah itu Ia mengembalikan lagi KTP yang asli.
__ADS_1
"Kok bisa? Kamu sengaja ngikutin Dia kesini ya supaya kalian bisa sering bertemu di belakang Anita?" Mama Sri mulai curiga bahkan menyudutkan Nia.
"Ya enggaklah Ma. Masa sih aku selingkuh sama mantan suami aku sendiri? Lagi juga kan Ronald belum menikah dengan Anita. Beda dengan dulu ketika Anita merebut Ronald saat kami masih menikah. Mama gak usah khawatir. Aku sama Ronald gak ada hubungan apa-apa kok." Walau sebal dan ingin membalas namun Ia masih menghormati Mama Sri sebagai orang yang lebih tua.
"Oh begitu." Nia pun memberikan kunci Villa 3 pada Mama Sri.
"Sebentar ya Ma. Nia panggilkan karyawan disini untuk bantu mengangkat koper." Nia pun menelepon bagian restauran dan meminta dipanggilkan Mang Udin bagian kebersihan sekaligus tukang angkat koper.
Mama Sri menatap Nia dari ujung rambut hingga ujung kaki. Nia jauh lebih cantik dibandingkan saat menjadi menantunya dulu. Walau hanya memakai celana jogger dan kaus lengan pendek namun terkesan mewah saat Ni yang pakai.
"Nanti ada satu teman saya ya yang nyusul. Ketinggalan pesawat Dia karena harus mengantar suaminya dulu. Kabarin ya kalau Dia sudah datang." pesan Mama Sri.
"Iya Ma."
Tak lama Mang Udin datang. Mama Sri dan rombongan arisan hedon pun masuk ke dalam Villa 3.
Saat Mama Sri pergi Nia mengusap dadanya. "Sabar...sabar... Maklumin saja namanya juga orang tua. Sabar...sabar..."
*****
Nia hanya ijin untuk mandi dan meminta Mang Udin menggantikan posisinya di meja resepsionis selama Ia mandi. Selesai mandi Nia kembali lagi ke lobby.
Ia mengenakan dress selutut warna hitam merk Zar* yang baru dibelikan Daniel. Ia langsung duduk di lobby menunggu suaminya pulang sambil nonton drakor.
Ia mendengar suara mobil memasuki halaman Villa. Sebuah mobil avanza hitam pun parkir. Nia mengenali mobil tersebut, karena mobil itu yang mengantarkan Nia dulu ke villa ini.
Benar saja dugaan Nia, Ronald keluar dari mobil itu. Yang lebih membuat Nia malas adalah tak lama kemudian Mama Sri keluar dari Villa 3 bersama dengan geng arisannya hendak makan malam di restaurant.
"Ronald." panggil Mama Sri saat melihat putranya datang. Mama Sri lalu memperkenalkan anaknya pada teman-temannya sambil menyombongkan diri kalau anaknya sedang ditugaskan memegang cabang Bali.
__ADS_1
Mereka lalu berjalan ke restauran namun harus melalui lobby tempat Nia berada. "Hi, Ni." sapa Ronald saat melihat Nia sedang duduk di sofa sambil menonton TV.
"Hi juga Mas."
"Loh kok anaknya Jeng Sri kenal dengan Mbaknya yang jadi resepsionis disini sih?" tanya Ibu-ibu yang lain.
"Sebenernya saya malas cerita. Jadi Nia ini mantan istri anak saya Ronald. Ya mantan menantu saya dulu. Semenjak cerai Ia sekarang malah jadi resepsionis, padahal dulu waktu sama anak saya enak loh kerjaannya tinggal terima gaji saja. Anak saya yang sudah jadi manager kan gajinya lumayan. Eh pas cerai malah jadi kayak gini. Saya kan jadi gak tega ya melihat nasibnya sekarang." Mama Srì memasang wajah penuh simpati padahal Nia tahu kalau itu hanya dusta saja.
"Ma, jangan gitu ah. Nia kan-" Ronald berusaha membela mantan istrinya namun Mama Sri memotong ucapannya.
"Sekarang nih ya Jeng, anak saya udah deket sama seorang arsitek terkenal. Tinggalnya aja di apartemen mewah di pusat kota. Cantik. Seksi. Wah menantu idaman banget. Saya saja dibelikan melulu barang-barang mewah setiap Dia pulang dari luar kota." pamer Mama Sri.
Entah mengapa Nia tidak merasa sakit hati seperti dulu. Malahan Ia menahan tawanya dari tadi. Lucu saja mendengar kesombongan mantan mertuanya tersebut. Ronald yang sadar akan perbuatan Mamanya berusaha menghentikan namun selalu disuruh diam saja.
"Wow beruntung banget ya anaknya Jeng Sri dapat jodoh yang lebih baik lagi. Tapi mbak ini cantik loh. Walau nasibnya tidak lebih baik sih dari calon menantu Jeng Sri." kata Ibu-ibu lain.
Huh dasar ibu-ibu nyinyir. Kata-katanya tuh nyelekit banget. Sama-sama makan nasi saja sombong, apalagi kalau sudah makan besi makin sombong saja deh- Nia.
"Iyalah. Anak saya kan pintar cari pacar dan jodoh. Mungkin waktu memilih Dia dulu karena ngeliat cantik aja kali ya. Gak liat bibit, bebet dan bobotnya."
"Ma. Sudahlah." pinta Ronald yang tak tahan melihat ulah Mamanya.
"Kamu seharusnya tuh bersyukur sayang bercerai dari Nia dan mendapatkan Anita. Kamu harus berterima kasih sama Tuhan." ceramah Mama Sri.
Percakapan mereka terhenti tatkala sebuah mobil Pajero Sport berhenti di halaman. Semua pasang mata menatap kedatangannya.
"Akhirnya Dia datang juga." ucap salah seorang anggota Arisan Hedon.
Hmm... siapa ya yang datang???
__ADS_1
*******
Hi semua! udah baca belum novel aku yang satu lagi. Bertema romantis loh sesuai permintaan kalian yang lebih suka novel romantis dibanding horor. Baca juga ya judulnya 'Namaku Ayu'. Terinspirasi dari kisah nyata juga loh. Cuz dibaca atuh. maacih... 😘😘😘