
Nia meletakkan sendok dan garpu yang sedang dipakainya makan. Hilang sudah selera makannya. Diteguknya es teh manis yang sudah dipesankan untuknya. Melihat Mama Sri yang memelas memohon maafnya membuat hati Nia melembut. Ia terbayang Mamanya, yang akan berbuat apapun demi membela anak-anaknya. Yang dilakukan Mama Sri hari ini pun sama, yakni ingin membela anaknya.
Nia hanya diam saja mendengarkan sepatah demi sepatah kata penyesalan dan maaf yang keluar dari mulut Mama. Kata-kata pedas dan menusuk hati yang dulu Ia terima sekarang justru kata-kata manis berharap Nia kembali berumah tangga dengan Ronald.
Sampai waktu jam istirahat hampir selesai Nia hanya diam saja tanpa berkata apapun. Ingin rasanya Ia berteriak dan bersumpah serapah menyuarakan isi hatinya, namun ajaran Mama dan Papa agar menghormati orang yang lebih tua tetap dipegang teguh. Ia diam karena memandang Mama Sri sebagai orang yang lebih tua. Ia diam karena menghormati Mama Sri.
"Bagaimana Ni... kamu mau kan balikkan dengan Ronald?" tanya Mama Sri penuh harap.
"Nia tak bisa janji, Ma. Papa sudah mengurus surat perceraian dengan pengacaranya" jawab Nia dengan tenang.
"Jangan Ni. Jangan akhiri pernikahan kalian berdua. Kalian sudah membangunnya selama ini. Akan sangat disayangkan jika hancur karena perceraian. Pertahankan ya sayang. Pertahankan cinta kalian berdua" bujuk Mama.
Nia sudah gemas menahan dirinya sejak tadi. Ia tak kuat lagi menahan lidahnya untuk berbicara sesuai kata hatinya. "Maaf, Ma. Bukan Nia yang menghancurkan pernikahan kami berdua. Bukan Nia yang mengkhianati cinta yang kita bangun. Maaf, lebih tepatnya yang Nia bangun. Gak ada gunanya Ma mempertahankan rumah tangga yang hanya berdiri diatas keegoisan. Rumah tangga yang tak menghargai cinta dan pengorbanan pasangannya hanya demi kesenangan sesaat. Kalau hari itu Nia tidak menangkap basah saat Mas Ronald berselingkuh, akankah Ia mengakhiri hubungan terlarangnya dengan kesadaran sendiri? Tidak akan Ma. Selingkuh itu ibarat candu, susah dihilangkan. Kalau memang Ronald cinta sama Nia, sejak awal Ronald tidak akan memulai hubungan terlarang tersebut dan memikirkan perasaan Nia. Maaf Nia harus kembali ke kantor Ma. Makasih traktirannya"
Nia meninggalkan Mama yang menatap minta belas kasihan namun Nia tetap saja berjalan meninggalkan tanpa pernah menengok ke belakang lagi. Nia kembali bekerja namun dengan pikiran yang bercabang. Untunglah nasabah tidak terlalu banyak, jadi Ia tidak akan diomeli atasannya jika tidak fokus bekerja.
******
Nia jadi lebih pemurung saat Papa menjemputnya sepulang kerja. Papa tidak bertanya dan membiarkan Nia asyik dengan pikirannya sendiri. Terkadang ada yang bisa ditanyakan, ada juga yang hanya membiarkannya menyelesaikan masalah sendiri.
Nia menatap ke luar jendela. Pikirannya berkelana mengingat perbuatan Mama dulu saat menjadi mertuanya. Nia pernah membelikan jam tangan sebagai kado ulang tahun Mama. Setelah menyisihkan gajinya Ia pun membelikan jam tangan di toko Gue** saat sedang ada sale 70%. Harga setelah diskon pun masih di atas 500 ribu, namun demi membayangkan bahagianya sang mertua Nia bela-belain membelikannya. Nia menggunakan uang gajinya sendiri tanpa minta sama Ronald.
__ADS_1
Kotak jam pun dibungkus dengan cantik menggunakan pita dan ada kartu ucapan selamat ulang tahun. Nia dan Ronald mengajak Mama makan malam di luar. Saat makan malam Nia memberikan kado yang telah dipersiapkan pada Mama.
Mama membuka kado yang diberikan Nia. Segurat kecewa terpancar di wajahnya dan tertangkap dengan jelas di mata Nia. Mama tidak berusaha menutupi ketidaksukaan atas kado yang Nia berikan.
"Oh jam tangan Gue**..... Kemarin teman Mama beli merk Michael K*r* bagus deh. Murah lagi diskon cuma sekitar 2 jutaan. Eh tapi makasih ya Nia" kata Mama dengan senyum dipaksakan.
Jlebb... hati Nia teriris, pedih dan perih namun tak berdarah. Sampai saat ini Nia masih suka merasa sakit hati jika mengingat perbuatan Mama Sri dulu. Bukan hanya memaksa Nia segera punya anak sampai menuduhnya mandul, namun juga sering menyakiti hati Nia dengan perkataannya.
Apa yang terjadi hari ini benar-benar berbeda 180⁰. Tak pernah Nia menyangka Mama Sri akan mengorbankan harga dirinya demi meminta Nia kembali pada Ronald. Semua ini karena kekurangan Ronald, andai Ronald sehat dan baik-baik saja mungkin Nia yang akan diusir Mama tanpa ampun.
Sesampainya di rumah, Nia langsung mandi. Ia harus menjernihkan pikirannya dan berpikir tenang seperti yang diajarkan Daniel waktu itu. Diguyurkannya air dingin ke kepalanya yang banyak pikiran. Segarnya air membuat pikirannya kembali jernih. Hampir saja Ia tergoda untuk menerima maaf Mama Sri dan kembali lagi dengan Ronald karena melihat wajah Mama yang memelas.
*********
Nia sedang merapihkan berkas ketika security mempersilahkan nasabah masuk. Nia menyambut kembali nasabah dengan senyuman, namun senyumnya mendadak berubah. Demi nama profesionalisme Ia senyum terhadap wanita yang telah mencuri suaminya tersebut.
Ya, Anita datang menemui Nia. Dengan berpakaian ketat dan menonjolkan liuk tubuhnya Anita menghampiri meja Nia.
"Selamat Siang. Dengan saya Nia, ada yang bisa saya bantu?" sapa Nia dengan senyum walau hati teriris.
"Aku datang mau bicara sama kamu secara pribadi. Bukan untuk urusan Bank"
__ADS_1
"Maaf, saya sedang bekerja. Jika tidak ada keperluan silahkan berganti dengan nasabah yang lain" usir Nia halus.
"Baiklah, aku akan buka deposito lagi saja"
"Baik akan saya siapkan. Bisa dibantu KTP dan buku tabungannya" Anita memberikan yang Nia minta. Nia fokus mengerjakan pekerjaannya.
"Aku gak tau Ni kalau Ronald itu suami kamu. Ronald itu cinta pertama aku, Ni. Aku sampai perawatan demi bisa bertemu Dia lagi dengan kondisi aku yang cantik seperti sekarang. Maaf, Ni. Walau aku tahu kamu istrinya Ronald, aku tidak menyesal melakukannya. Dia satu-satunya laki-laki yang aku cintai"
Nia tak menggubris omongan Anita. Ia tak mau air matanya turun dan membuatnya malu di depan banyak orang.
"Silahkan disetor uang depositonya langsung ke teller ya" Nia menyerahkan slip setoran agar Anita bisa menyetorkan uangnya.
Anita pun melakukan penyetoran uang di teller. Nia menarik nafas dan menenangkan degup jantungnya yang berdebar kencang menahan emosi. Setelah menyetorkan uang, Anita kembali ke meja Nia dan menyerahkan bukti setorannya.
"Nia. Aku mohon sama kamu. Aku mohon dengan sangat.... Tolong lepaskan Ronald. Ceraikan Ia, Nia... Biarkan Ia bersamaku. Hanya Dia yang aku cintai... aku mohon Nia... aku mohon.... "
Nia menyerahkan sertifikat deposito pada Anita. Akhirnya air matanya tak kuasa ditahan. Buliran air mata menetes di pelupuk matanya yang langsung dihapusnya. Ia berusaha menahan suaranya yang bergetar menahan emosi.
"Ambillah, Mbak. Namun kau harus menerima kekurangan Ia. Apa kau siap menerima laki-laki yang tak akan pernah bisa memberimu seorang anak? Kalau Mbak bisa, aku ikhlas" perkataan Nia membuat Anita terkejut sampai tak mampu berkata apapun.
********
__ADS_1
Dukung terus novel ini ya. Jangan lupa vote dan like ya. Maacih 😍😍😍😍