Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Pindah Rumah


__ADS_3

"Beb...Yank... Nia... " panggilan Daniel membuyarkan lamunan Nia. Terlalu banyak yang Nia pikirkan sehingga Ia tidak menyimak perkataan Daniel.


"Iya kenapa?" kata Nia gelagapan.


"Tuh kan melamun aja. Aku ajak ngomong juga dari tadi. Mikirin apa sih?" keluh Daniel.


"Maaf Yang. Tadi kamu ngomong apa? coba ulangin lagi."


Sekarang Daniel yang ngambek. Sejak tadi Ia ngoceh panjang lebar eh Nia malah asyik dengan pikirannya sendiri. Sambil menunggu lampu merah berganti jadi lampu hijau Daniel berniat mengerjai Nia dengan pura-pura marah.


"Kamu marah sama aku?"


Daniel hanya diam saja.


"Maaf Yang. Sekarang aku beneran akan dengerin kamu ngomong deh. Ayo dong cerita lagi yang tadi membahas apa." Nia bergelayut manja di tangan Daniel. Tak kuasa melihat keimutan Nia amarah Daniel pun reda.


"Cium dulu." Daniel menunjuk pipi kirinya agar dicium Nia.


"Iya." Nia pun mencium pipi Daniel sesuai permintaannya. Daniel tersenyum senang melihat Nia sangat penurut dan takut dirinya marah.


"Ayo cerita lagi tadi lagi ngomong apa?"


"Tadi aku tuh lagi nanya sama kamu. Mau tinggal di apartemen yang deket kantor apa di rumah cluster tapi agak jauh dari kantor kamu?" Daniel memberikan pilihan dimana tempat mereka akan tinggal nanti.


"Aku mah ikut aja kamu mau dimana." jawab Nia.


Daniel mulai melajukan kembali mobilnya setelah lampu merah berubah menjadi lampu hijau. "Aku sih terserah sama kamu. Aku kan kerjaannya gak ada jam kerjanya, mau datang kapanpun bebas. Kalau kamu kan ngejar absen tiap hari. Lokasi rumah kita kan menentukan kehidupan kamu sehari-hari. Kalau rumah yang di cluster memang agak jauh dari kantor kamu, tapi nanti kamu pakai saja mobil aku buat pulang dan pergi ke kantor."


"Aku gak mau ah pakai mobil kamu. Yaudah yang dekat kantor saja biar kamu bisa antar jemput aku tiap hari." Nia memilih apartemen di dekat kantornya.


"Hmm... masalahnya aku gak bisa antar jemput kamu tiap hari mulai sekarang."


"Memang kenapa? Dulu waktu masih pdkt kamu antar jempur aku terus. Apa karena sudah menikah jadi kamu gak mau antar jemput lagi?" Nia sudah mulai terbawa emosi dengan pembicaraan ini.


Daniel menghela nafas panjang. "Bukan begitu sayang. Aku akan lebih sering keluar kota jadi gak bisa antar jemput kamu dulu. Selama aku di Jakarta mah gak masalah akan aku antarkan kamu kemana saja, kecuali kalau aku sedang ada jadwal sidang ya itu gak bisa di ganggu gugat."

__ADS_1


"Memang kamu ngapain sih keluar kota melulu? Kita kan baru menikah." Nia mulai cemberut dan menekuk wajahnya.


"Aku ada bisnis disana sayang. Jadi aku harus bolak balik Jakarta Bali dulu untuk sementara."


"Yaudah terserah kamu sajalah." Nia mulai mengeluarkan senjata sakti kaum wanita yaitu kata 'terserah'. Bagi kaum lelaki kata tersebut adalah buah simalakama, salah menjawab akan berbuah petaka hahahaha...


"Habis ini kalau aku salah jawab kamu pasti akan bilang kalau aku tuh gak peka deh." Nia yang awalnya mau marah spontan menengok ke arah Daniel dan tak kuasa menahan tawanya.


"Kok kamu tahu sih kalau aku akan bilang kamu gak peka?"


"Nih ya, kata terserah sama gak peka itu udah satu paket. Kami kaum laki-laki sudah tau kalau kalian mau ngambek pasti menggunakan kata seperti itu."


"Iya aku udah gak jadi ngambek. Tapi serius deh aku ikut keputusan kamu saja. Mau tinggal dimana pun aku gak masalah. Aku ikut kamu saja."


"Nah gitu dong. Kita tinggal di apartemen dekat kantor kamu aja ya. Itu punya aku kok bukan punya Papa, makanya aku ngajak kamu tinggal di rumah yang aku beli pakai uang aku sendiri. Biar terasa jadi suaminya gitu."


"Iya... iya... nih buktinya kita tau-tau sudah sampai di parkiran. Gak usah nanya pendapat aku kalau kamu juga mau tinggal disini sejak awal."


"He..he..he.. ini tuh alam bawah sadar yang menuntun aku sampai kesini." ngeles Daniel.


"Aduh ampun Nyai... Jangan keluarkan kata sakti itu."


Nia hanya tersenyum melihat ulah Daniel. Ia memang tak bisa berlama-lama marah dengannya. Bahkan Nia lupa apa saja yang membuatnya marah tadi.


******


Barang bawaan Nia telah diturunkan dari bagasi mobil. Daniel membawa semuanya sendiri. Ia tak membiarkan Nia membawa yang berat-berat.


Daniel mendorong 2 buah koper berisi pakaian Nia dan masuk ke dalam lift, Nia mengikuti dari belakang. Daniel lalu menekan lantai 22.


Lift berhenti di lantai 22. Daniel mempersilahkan Nia keluar lift terlebih dahulu baru Ia menyusul kemudian dengan 2 buah koper. Daniel menuju apartemen miliknya. Ia menekan password kunci rumah lalu masuk ke dalam.


"Passwordnya hari pernikahan kita. Masuklah."


Nia mengedarkan pandangan melihat ke sekeliling apartemen mewah ini. Baru kali ini Ia masuk ke apartemen yang mewah dan terlihat lux.

__ADS_1


Karena ditempati oleh laki-laki nuansa apartemen Daniel lebih di dominasi dengan warna hitam dan abu-abu. Design interiornya pun minimalis. Tak ada kesan glamour namun terlihat rapi dan simple.


"Wow... apartemen kamu mewah ya." puji Nia saat melihat kamar mereka. Ada satu tempat tidur berukuran king size yang terlihat sangat nyaman untuk ditiduri. Kasurnya merk yang biasa dipakai hotel bintang lima. Berapa lama Nia harus menabung dari gajinya hanya untuk membeli sebuah kasur saja?


"Kamu lagi mikir apa? Ayo aku antar ke lemari baju."


"Gak mikir apa-apa kok." Nia sengaja berbohong agar tidak ditertawakan Daniel. Nia mengikuti Daniel ke satu ruangan.


Tunggu. Jadi maksud Daniel lemari baju itu satu ruangan yang isinya lemari baju semua? - Nia.


Nia masih tak percaya dengan penglihatannya. Kalau dahulu Ia harus berbagi satu lemari dengan Kak Nay dan Nesia, tapi Daniel memiliki satu kamar berisi lemari pakaiannya. Amazing.


Daniel menunjukkan satu sisi kosong lemari untuk dirinya meletakkan pakaian yang Ia bawa. Mata Nia masih menatap sekeliling ruangan. Koleksi jam mahal milik Daniel tersusun dengan rapi bersama kacamata sunglass miliknya. Ada juga sepatu berbagai model dan merk yang tertata rapi.


Daniel membantu Nia membereskan pakaian yang dibawanya. "Ayo aku ajak kamu berkeliling." Nia mengikuti saja kemauan Daniel. Ia juga penasaran seperti apa mewahnya apartemen yang akan Ia tempati nanti.


Daniel menunjukkan letak kamar mandi yang terletak di samping lemari pakaian. Lagi-lagi Nia takjub tatkala melihat ada televisi di kamar mandi. Jadi saat berendam di bath up bisa sambil nonton tv, itu yang akan Nia lakukan nanti kalau Ronald tak ada di rumah.


Daniel menarik tangan Nia dan mengajaknya ke dapur lalu mengajak Nia ke luar apartemen untuk menunjukkan fasilitas yang ada di apartemen ini. Baru saja Daniel dan Nia keluar ruangan tiba-tiba ada seorang wanita yang membawa kardus penuh berisi design rumah, tak sengaja Nia menabraknya. Kardus tersebut pun jatuh dan kertas designnya berhamburan.


"Maaf... maaf..."kata Nia dan Daniel kompak sambil membantu memunguti isi kardus yang berserakan di lantai.


"Nia?"


Kaget namanya disebut Nia pun mengangkat kepala dan tak menyangka siapa yang menabraknya.


"Anita?"


"Kamu tinggal disini? Aku juga. Kita tetanggaan sekarang?"


Oh God... apa lagi ini? Sekarang selingkuhan mantan suamiku ada disini juga? Kenapa aku harus ketemu Dia lagi sih???- Nia.


****


Hi semua.... Sesuai janji aku usahain upload 2 episode ya. Yang kemarin nanya tentang Anita ini sengaja aku ceritain lagi biar ceritanya gak gantung. Tetap dukung aku ya. Luv.. luv... luv... u all... 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2