Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Hidup Baru-3


__ADS_3

Perut kenyang hati pun senang. Begitu banyak orang bilang. Setelah makan sore yang amat lezat ditambah jalan-jalan menikmati matahari terbenam di pinggir pantai hati Nia pun senang.


Ternyata inilah hidup barunya. Lembaran baru bersama pria yang menurut rumor adalah penyuka sesama jenis. Nia masih heran, jika memang Daniel penyuka sesama jenis kenapa hobby sekali minta cium ya?


Mereka baru saja sampai di apartemen. Rasanya Nia ingin mencoba berenang di kolam renang milik apartemen namun Daniel tak mau pisah sedikitpun darinya, menempel terus. Mulai dari parkiran sampai keluar lift dan tiba di depan apartemen mereka Daniel selalu menggenggam tangannya. Hanya saat memasukkan nomor pin saja Ia melepaskannya.


"Hi tetangga baru." Nia dan Daniel menengok ke asal suara yang menyapa mereka.


Nia agak kaget saat berbalik badan dan melihat Ronald sedang digandeng tangannya dengan Anita.


Ternyata mereka masih berhubungan setelah kami bercerai. Apa yang Ronald katakan kalau Ia tak bisa hidup tanpaku ternyata hanya bualan saja- Nia.


Ada sedikit rasa tak nyaman yang menyusup ke dalam hati Nia. Tak bisa dipungkiri kalau Ronald adalah mantan suami yang pernah dan masih Ia cintai walau sekarang sudah mulai memudar. Terakhir kali Nia melihat mereka bersama adalah saat menangkap basah perselingkuhan mereka. Namun sekarang Ia melihat kebersamaan mereka kembali bahkan sambil bergandengan tangan. Lebih tepatnya Anita yang bergelayut di lengan Ronald.


"Hi, Ni! Aku dengar kalian baru saja menikah." Ronald mulai menyapa Nia.


"Kalau iya kenapa?" Daniel yang menjawab sapaan Ronald.


"Gak apa-apa hanya ingin mengucapkan selamat saja. Aku gak nyangka aja. Dulu kalian yang menggerebek perselingkuhan aku dan Anita. Mengajukan gugatan cerai bahkan sampai mengancam akan memenjarakan aku dengan tuduhan KDRT jika berani naik banding. Seakan kalian paling benar. Eh ternyata gak lama habis cerai malah kalian yang menikah."


"Maksud kamu ngomong kayak gitu apa ya Mas?" Nia mulai tersulut emosinya.


"Gak ada maksud apa-apa. Hanya saja kok justru kayak kalian yang selingkuh lalu mengekspose perselingkuhan kami. Gak fair aja." Ronald masih memancing emosi Nia.


"Udah ngomongnya? Kalau udah kami mau masuk dulu. Mau ehem.... kalian tau lah. Seperti yang biasa kalian lakukan. Maklum pengantin baru, masih hot-hot nya. Ayo sayang kita masuk." Daniel lalu mengajak Nia masuk.


Tak mau kehilangan momen berharga karena berhasil membuat Nia kesal dan menahan emosinya Ronald pun melancarkan serangan kata-kata pedas berikutnya. "Yakin? Aku tahu kamu mulai ragu, Ni. Kamu tau kan, selain perselingkuhan aku bukan orang yang suka berbohong. Jangan lupakan perkataanku waktu itu."


Daniel yang sudah mau masuk apartemen mendadak berhenti. Ia penasaran akan maksud perkataan Ronald pada Nia.


"Apa maksud Dia, sayang?" tanya Daniel pada Nia.

__ADS_1


"Bukan apa-apa. Gak penting. Ayo kita masuk saja." Nia mendorong Daniel masuk ke dalam dan langsung menutup pintu dengan kesal.


Ronald tersenyum penuh kemenangan. Ia sangat kenal sekali dengan sikap Nia yang mudah sekali percaya perkataan orang. Ia yakin Nia mulai termakan hasutannya. Ia hanya tinggal menunggu waktu saja sampai pernikahan Nia berakhir dan Ia akan merebut kembali Nia.


Anita yang awalnya tak mengerti perkataan Ronald perlahan mulai sadar kalau Ronald hanya memanfaatkannya agar Nia cemburu. Anita lalu menarik tangan Ronald dan mengajaknya masuk ke dalam apartemen.


"Maksud kamu apa Nal ngomong gitu sama Nia? Kamu deketin aku hanya untuk Nia saja?" Anita yang kali ini tersulut emosinya. Ia pikir Ronald sudah melupakan Nia dan sadar kalau Ia yang lebih mencintainya dibanding Nia.


Anita mengakui bahwa Ia memancing kedatangan Ronald dengan memakai alasan Ia bertetangga dengan Nia. Ia tak menyangka Ronald benar datang karena Nia bukan karena dirinya.


"Kamu kan tahu kalau aku masih mencintai Nia. Salah kamu sendiri yang memancing aku dengan menjual nama Nia." jawab Ronald tanpa rasa bersalah.


Anita akhirnya memutuskan untuk membuang semua harga dirinya agar bisa kembali lagi dengan Ronald. Anita lalu memeluk Ronald dari belakang. "Kembalilah padaku, Nal. Kita mulai lagi semuanya dari awal."


Ronald hanya diam saja tak bergeming. "Lupakanlah Nia perlahan-lahan. Aku akan membantu kamu melupakannya."


"Akan aku pertimbangkan." Ronald lalu berbalik dan hendak pulang namun Anita mencegatnya.


Ronald merasa tinggal bareng dengan Anita bukanlah ide yang buruk. Ia bisa leluasa memantau Nia yang tinggal di seberah apartemen Anita. "Hmm... baiklah. Aku akan mencoba memulai kembali hubungan kita."


"Makasih ya Nal... makasih.... Kamu akan tinggal disini kan?"


Ronald berpura-pura mempertimbangkan tawaran Anita padahal itu yang Ia harapkan sejak tadi. "Baiklah. Aku akan menemanimu tinggal disini." Anita tersenyum senang. Akhirnya Ronald kembali lagi padanya.


******


Daniel dan Nia masuk ke dalam apartemen dengan hati kesal. Kenapa mereka harus bertemu lagi dengan pasangan menyebalkan itu lagi. Daniel memicingkan mata penuh curiga ke arah Nia. Apa yang membuat Nia terlihat kesal seperti itu? Karena melihat Ronald dan Anita atau karena perkataan Ronald? Lantas apa maksud perkataan Ronald tadi? Apakah Nia dan Ronald bertemu lagi di belakangnya?


"Beb, maksud perkataan Ronald tadi apa?" Daniel bukan tipikal orang yang bisa menyembunyikan sesuatu, Ia akan menanyakan apa yang ada di pikirannya. Berbeda dengan Nia yang suka memendam masalahnya sendiri.


"Perkataan yang mana? Yang tentang kita selingkuh? Sudahlah gak usah ditanggapi." Nia tahu maksud pertanyaan Daniel, namun Ia berusaha menghindarinya.

__ADS_1


"Kamu masih sering bertemu dan berkomunikasi dengan Ronald tanpa sepengetahuan aku?" Daniel mulai terbakar api cemburu. Umpan yang diberikan Ronald berhasil termakan olehnya. Kalau Ronald tahu pasti Ia akan bertepuk tangan kegirangan.


"Enggak kok." Nia kembali berbohong.


Daniel tahu kalau Nia berbohong. Nia bukanlah tukang bohong, maka saat Ia melakukannya dengan mudah jiwa pengacara Daniel mengetahuinya. "Aku gak mau ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Aku mau rumah tangga kita penuh keterbukaan. Bicarakanlah apa yang menjadi unek-unek kamu agar kita bisa saling introspeksi diri."


Daniel menunggu kejujuran Nia namun Nia tak bergeming dan hanya diam saja. Tak mau semakin emosi Daniel pun mencoba menenangkan diri. "Aku mau berenang dulu untuk menjernihkan pikiran." Daniel lalu mengambil perlengkapan renangnya dan pergi meninggalkan Nia.


*******


Nia juga menenangkan dirinya dengan mandi air dingin. Ia tak mau amarah menguasainya. Selesai mandi, kemarahannya pun reda. Ia berniat mengatakan semua pembicaraan antara dirinya dan Ronald pada Daniel. Nia menunggu Daniel di kamar.


Sudah jam 10 malam dan Daniel masih belum pulang. Nia mulai mengantuk. Ia pun memutuskan untuk tidur. Baru saja Ia menarik selimut terdengarlah suara Daniel masuk.


Daniel seperti sedang berbicara di telepon dengan seseorang. Nia berpura-pura tidur agar dapat menguping pembicaraan Daniel.


"Aku gak bisa kesana sekarang. Aku baru saja menikah. Apa kata keluargaku nanti kalau aku meninggalkan Nia sekarang?" Daniel sedang mendengarkan lawan bicaranya di seberang sana.


"Kenapa aku sih yang harus mengalah? Gak mau. Kamu urus saja sendiri. Masalah sepele kok harus aku yang turun tangan sendiri?"


Sepertinya mereka sedang bertengkar. Kasihan juga ya Daniel, dalam waktu bersamaan bertengkar dengan pacar dan istrinya- Nia.


"Jangan manja deh jadi cowok. Mandiri dong. Aku percayakan semua sama kamu."


Cowok? Apa mungkin ini seperti yang dikatakan Ronald?


Daniel masih mendengarkan lawan bicaranya di telepon bicara panjang lebar. Nia mendengar Daniel menghembuskan nafas berat dan kesal.


"Fine. Aku kesana paling cepat lusa saat Nia masuk kerja. Aku mau temani Dia dulu selama Ia cuti. Ya sudah aku tutup teleponnya."


Daniel mau pergi? ke Bali lagi? Katanya minggu depan? Apa pacarnya lebih penting dari aku? Tenang Nia, sabar... Ini keputusan kamu dari awal. Kamu harus menerima konsekuensi dari keputusanmu.-Nia.

__ADS_1


*******


__ADS_2