Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Berubah Sikap


__ADS_3

Suasana di dalam mobil sunyi senyap. Bahkan radio pun tak diputar. Penumpang dan sopirnya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Mama Sri terlalu shock menerima kenyataan bahwa putranya sulit memiliki momongan. Ronald pun seakan tak percaya pada hasil test. Ia berniat akan melakukan test kembali di Rumah Sakit berbeda, tentu Rumah Sakit yang lebih mahal dan fasilitas yang lebih lengkap. Bagaimana dengan Nia?


Entah harus senang atau sedih saat mengetahui hasil test lab bahwa sang suamilah penyebab mereka belum memiliki momongan, disamping memang belum direstui Tuhan. Senang karena ternyata Tuhan membela Nia, selama ini Nia dizolimi bahkan dikira mandul oleh Mama mertuanya sendiri. Sedih karena selama ini bahkan Nia usaha tanpa henti agar diberi keturunan namun ternyata semua sia-sia jika jalan satu-satunya adalah bayi tabung.


Jika dalam perjalanan berangkat ke Rumah Sakit Nia dicuekkin oleh ibu dan anak didepannya yang asyik mengobrol, perjalanan pulang justru Mama mertuanya tiba-tiba bersikap amat baik pada dirinya. Mama Sri bahkan menawarkan untuk mampir di sebuah restaurant terlebih dahulu untuk makan siang bersama. Nia mengiyakan saja keinginan mertuanya. Entah apalagi yang akan direncanakan Nia tak peduli, kenyataan yang diterimanya hari ini sudah cukup menyita pikirannya, Ia tak peduli pada rencana dan niat sang mertua.


Tanpa sepatah kata pun Ronald menuruti saja perintah Mamanya untuk berhenti di Rumah Makan Padang Sederhana tak jauh dari Rumah Sakit berada. Dengan pandangan mata yang kosong Ia bahkan mampu mengendarai mobil dengan selamat. Setelah memarkirkan mobilnya Ia pun ikut turun bersama Mama dan Nia.


Mama memesan prasmanan di mejanya agar anak dan menantunya lebih berselera makan setelah mendengar kabar tak mengenakkan. Ronald duduk disamping Mama Sri, sedangkan Nia diseberangnya.


"Nia, kamu sudah coba es kopyor di restauran ini belum?" Nia yang sedang menunduk membaca pesan di hp nya mengangkat kepalanya, seakan tak percaya Mama Sri sedang bertanya padanya.


"Tumben. Biasanya boro-boro ditanya, aku hanya dicuekkin saja. Kenapa tiba-tiba nanya basa-basi kayak gitu ya" guman Nia dalam hati.


"Belum pernah Ma" jawab Nia singkat.


"Yaudah Mama pesenin ya. Enak deh, kamu wajib coba" Mama Sri tersenyum ke arah Nia. Mama Sri lalu memesankan dua buah es kopyor dan sebuah jus alpukat untuk Ronald.


"Makin aneh. Perasaanku gak enak nih" kata Nia dalam hati.


Makanan pun disajikan di meja. Nia memilih lauk ayam gulai. Tiba-tiba Mama mengambil paru goreng kering dan menaruhnya di piring Nia.


"Kamu cobain deh pakai paru goreng kering ini. Biar makin enak makannya" Lagi-lagi Mama Sri tersenyum ke arahnya. Nia merasa bulu kuduknya merinding, tak biasa mendapat perlakuan khusus seperti ini dari Mama Sri.


"I..iya.. Ma. Makasih" Nia pun melanjutkan makannya. Sesekali Nia menatap suaminya. Ronald masih makan dalam diamnya, terkadang sorot matanya terlihat kosong.

__ADS_1


Nia merasa kasihan dengan suaminya. Namun entah mengapa hanya rasa kasihan, bukan sedih. Seharusnya Ia sedih dan menangis meraung-raung saat mengetahui bahwa suaminyalah penyebab rumah tangganya belum dikarunia momongan, namun air mata itu tak menetes, entah mengapa. Mungkin terlalu sering dipojokkan oleh Ronald dan Mama Sri membuat Ia hanya ingin membuktikan pada seluruh dunia bahwa Ia wanita normal dan baik-baik saja, bukan wanita mandul seperti cap yang diberikan mertuanya.


Es kopyor yang dipesan pun datang. Bersamaan dengan datangnya jus alpukat.


"Ayo kamu coba deh"


"Iya Ma" Nia lalu mencoba es tersebut. Ternyata memang enak seperti yang dikatakan Mama Sri.


"Bagaimana? Enak kan?"


"Enak Ma" jawab Nia singkat.


"Tuh kan. Apa Mama bilang. Kamu suka makan sate padang tidak?"


"Suka, Ma"


"Iya, kenapa Ma?" jawab Ronald kaget.


"Ih kamu bengong aja. Nanti anterin Mama sama Nia makan sate padang ya di Pasar Santa" perintah Mama.


"Iya Ma"


"Yaudah makan lagi. Kamu mau nambah lagi Nia?"


"Gak usah Ma. Makasih" tolak Nia dengan halus.

__ADS_1


Nia merasa ada sesuatu yang direncanakan Mama Sri terhadapnya. Tidak biasanya Mama Sri bersikap ramah padanya, bahkan mengajak Nia makan diluar bersama. Selama hampir 2 tahun menikah, tak pernah sekalipun Mama Sri mengajak bicara dengan banyak senyum. Apa Mama Sri merasa bersalah telah menjahati Nia selama ini? Atau Mama Sri merasa malu dengan perbuatannya? Entahlah. Yang pasti Nia tak mau terlalu bahagia dan terlena dengan sikap baik Mama yang tiba-tiba, mengingat selama ini Nia sudah mengenal sikap Mama Sri yang sebenarnya.


Nia hanya menjawab sekedarnya setiap pertanyaan dan obrolan yang seakan mengajaknya menjadi bagian dari obrolan tersebut, padahal mah biasanya Ia dicuekkin. Selesai makan, Nia hendak membayar tagihan namun dicegah oleh Mama.


"Biar Mama yang traktir" Mama lalu menuju kasir dan membayar billing makan mereka.


"Biarlah. Lumayan hemat tak jadi keluar uang" gumam Nia dalam hati.


Setelah makan, Nia dan Ronald mengantarkan Mama Sri pulang terlebih dahulu. Mama Sri menyuruh Nia duduk di bangku depan dan dirinya di belakang. Padahal saat berangkat tadi Nia dilarang duduk di depan.


Mama meminta Nia dan Ronald langsung pulang saja tak perlu mampir karena melihat Ronald yang lelah dan tak bersemangat. Ronald pun mengiyakan dan langsung pulang ke rumah.


*****


Nia sudah menyiapkan makan malam. Ia memasak menu yang simple saja yakni sayur sop dan ayam goreng. Kebetulan ada stok ayam yang sudah diungkep tinggal goreng saja. Ia sudah menata makanan dan juga air minum di meja makan, tinggal mengajak Ronald makan saja.


Ronald sedang tidur-tiduran sambil memainkan hp nya. Sorot matanya masih kosong. Nia lalu berjalan menghampiri Ronald.


"Mas, ayo makan malam dulu" ajak Nia.


"Mas gak lapar. Kamu makan saja sendiri" tolak Ronald.


"Makan dulu Mas. Tadi makan siang saja Mas cuma makan sedikit. Pagi juga gak sarapan. Kalau gak makan malam nanti Mas sakit"


"Mas gak nafsu makan, Ni"

__ADS_1


"Yaudah Nia suapin mau?"


Ronald bangun dari tidurnya. Dipandanginya wajah istrinya, air matanya tak kuasa tuk dibendung. Ronald menangisi nasibnya. Tak tega melihat kesedihan suaminya Nia dengan lembut memeluknya. Nia juga menepuk-nepuk punggung Ronald. Pelukan Nia yang hangat membuat Ronald semakin merasa bersalah. Cukup lama Ronald menangis dipelukan Nia, sampai baju Nia basah oleh air matanya. Nia menunggu sampai tangis Ronald reda baru melepaskan pelukannya.


__ADS_2