
Sabtu ini sahabat Nia selama di kampus akan mengadakan ketemuan. Syaratnya adalah tidak ada yang membawa anak dan suami, jadi mereka bisa bebas ngobrol tanpa harus rempong memikirkan suami yang bete atau anak yang rewel.
Mereka janji ketemuan jam 11 siang. Seperti biasa, waktu adalah karet. Janji jam 11 baru terealisasi jam 1 siang. Itulah kebiasaan genk mereka.
Tempat favorit mereka adalah di Solari*. Bisa makan enak dan nongkrong sepuasnya. Ya, gak lama juga sih nanti suami mereka nyariin. Biasanya yang pertama datang adalah yang menempati tempat duluan. Kali ini Nia yang pertama datang. Ia memilih tempat di pojok dengan sofa yang nyaman. Sengaja Ia memilih tempat agak jauh dari keramaian agar suara tawa mereka yang suka lepas kendali tak mengganggu pengunjung yang lain.
Nia memesan minuman ice cappucino terlebih dahulu. Biar enak nunggunya sambil minum dan main handphone. Dibacanya group genk mereka. Semuanya bilang sudah otw. Entah beneran otw alias on the way atau memang masih di rumah namun takut bilang.
Nia iseng membuka sosial media dan membaca-baca berita terkini. Gosip tentang artis yang bercerai karena pasangannya selingkuh dan berujung perebutan hak asuh anak dan harta gono gini sedang jadi trend. Apa mereka lupa janji setia saat menikah dulu? begitu pikir Nia.
Nia kembali mengingat kecurigaan akan suaminya. Sering pulang malam dan lembur di weekend. Jarang bertemu dengannya, satu ranjang tapi sudah lama sekali mereka tak berhubungan suami istri.
Ya, sejak mendapat diagnosa susah punya anak, Ronald yang sudah jarang berhubungan dengannya malah makin dingin. Nia yang pemalu juga tak meminta haknya sebagai istri. Ia hanya manut saja. Nia pikir suaminya masih syok atas diagnosanya dan berpikir sia-sia berhubungan jika tidak akan menghasilkan anak. Nia menerima saja keinginan sang suami.
Jika ditanya apa Ia bahagia? jawabnya sudah pasti tidak. Sudah lama Ia dan Ronald tak bercanda tawa bersama. Komunikasi antara mereka juga hanya sebatas tinggal bersama seperti anak kost. Pagi menyiapkan makan, siang sama-sama kerja dan malam baru bertemu tengah malam. Satu ranjang namun jarang ngobrol.
Awalnya Nia selalu menyalahkan dirinya sendiri. Apa mungkin karena Ia terlalu terprovokasi oleh mertuanya yang sangat menginginkan cucu jadi malah membuat suaminya tertekan? Namun ternyata setelah diagnosa dokter semuanya tak ada perubahan.
Rumah tangga yang dingin tanpa kehadiran buah hati menjadi semakin dingin. Nia kangen dengan masa pacaran dulu. Dengan sikap romantis dan gombal Ronald padanya. Dengan perhatian kecil yang didapatkannya. Semua seakan hilang. Nia merasa sangat kesepian.
Nia sebenarnya ingin mencurahkan isi hatinya. Tapi sama siapa? Papa sudah tua, beban pikirannya sudah banyak sejak ditinggal Mama. Kak Nay sibuk dengan rumah tangganya. Nesia seakan tak peduli dengannya hanya memikirkan hubungannya saja dengan pacarnya. Temannya di kantor juga tak mungkin, Ia tak mau rumah tangganya menjadi konsumsi publik yang mencibir tanpa tau kebenarannya seperti apa.
Bertemu dengan sahabat-sahabatnyalah obat segala kesepiannya. Selama ini mereka hanya berkomunikasi di group WA saja. Kali ini mereka akan bertemu langsung.
__ADS_1
Satu persatu sahabat Nia berdatangan. Dimulai dari Resti yang datang 15 menit setelah Nia. Lalu Afri, disusul Fitri dan terakhir Nur. Memang Nur paling ngaret padahal rumahnya yang paling dekat dengan tempat ketemuan. Sudah biasa itu.
Mereka lalu memesan makanan dan minuman, tak lupa langsung membayar pesanan mereka masing-masing. Biasanya Fitri yang bertugas memesan dan membayar.
Sambil menunggu makanan datang mereka biasanya saling menceritakan tentang kehidupannya masing-masing. Nostalgia pun dimulai. Satu persatu menggosipin teman kuliah mereka yang dulu terkenal dan sekarang sudah menjadi janda kembang. Ah julid sekali, tapi begitulah perempuan kalau sudah bertemu, yang ada hanya ngegosip saja.
Makanan dan minuman yang dipesan pun datang. Sambil makan obrolan dimulai kembali. Gosip teman kuliah berganti dengan gosip artis. Artikel yang baru saja dibaca Nia jadi bahan pembahasan. Artis yang bercerai karena suaminya selingkuh dan sekarang sedang bersidang memperebutkan anak dan harta gono gini. Mereka mulai julid lagi tapi Fitri tiba-tiba terdiam.
"Kenapa Fit? diem aja. Biasanya paling julid hahahaha" kata Nur meledek Fitri.
Setelah terdiam sesaat tiba-tiba Fitri bertanya "Kalau seandainya kalian melihat sendiri suami sahabat kalian sedang selingkuh di depan mata kalian sendiri, apa yang akan kalian lakukan? Diam saja atau memberitahu sahabat kalian?"
"Ih kenapa topiknya jadi serius begitu sih" protes Resti.
"Kamu bertanya kayak gitu bukan tanpa alasan kan? Pasti ada sesuatu deh" selidik Afri. Di antara mereka berlima hanya Afri yang bisa membaca karakter orang.
"Iya ada apa sih Fit?" tanya Nia penasaran.
"Mau aku blow up di sini atau nanti saja bicara personal?" tanya Fitri balik.
"Di sini lah. Kita udah terlanjur penasaran nih" lagi-lagi Nur vokal. Yang lain pun mengamini.
"Bener?" tanya Fitri lagi.
__ADS_1
"Iya. Lama amat dah. Muter-muter aja bikin orang penasaran" Nur mulai tak sabaran.
"Sabar Bu..."Nia menenangkan Nur.
"Tapi jangan marah ya? janji?" tanya Fitri lagi memastikan.
"Iya janji" jawab mereka berempat kompak.
Fitri menghembuskan nafas berat. "Jadi gini, waktu itu aku lagi main sama suami aku di Mall. Kita baru aja selesai nonton, tiba-tiba dari jauh aku lihat ada adegan seorang cowok mencium pacarnya di depan umum. Aku pikir lebay banget. Pas aku lihat ternyata itu orang yang aku kenal"
"Siapa?" tanya mereka kompak.
"Hmm.... suami salah satu di antara kalian. Dan aku ngeliatnya mencium cewek lain dan bukan kalian" jawab Fitri takut-takut.
"Siapa Fit? Gak mungkin Eka kan?" mata Resti mulai berkaca-kaca takut suaminya yang selingkuh.
"Bukan Ti. Yang aku lihat... maaf... suami kamu Nia, Ronald"kata Fitri.
Duar.... bagai disambar petir di sang hari. Kaget bukan main Nia mendengarnya. Rasanya tak percaya akan perkataan Fitri. Namun Fitri tak mungkin membohonginya.
"Kamu serius Fit? Suami aku?" tanya Nia memastikan. Air mata mulai menggenangi sudut matanya. Yang lain menenangkan Nia, mengusap tangannya dan memeluknya.
"Maaf Nia, aku gak akan berani ekspose kalau gak punya buktinya. Ini... aku ada foto mereka" Fitri lalu mengeluarkan hp nya dan menunjukkan foto Ronald sedang merangkul seorang wanita.
__ADS_1
Air mata Nia tak kuasa lagi tuk dibendung. Dilihatnya foto tersebut, Ia langsung mengenali bahwa itu memang Ronald suaminya. Kemeja yang dikenakannya adalah kado ulang tahun dari Nia beserta tas laptop yang dikenakan. Nia menangis tersedu-sedu. Sahabat yang lain memeluknya erat. Merasakan kesedihan yang dirasakan Nia.