Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Ronald-3


__ADS_3

Anita meminum es kopi yang dibelikan oleh Ronald sambil tersipu malu. Sejak SMP, Anita memang sudah menyukai Ronald. Diantara teman-teman nongkrongnya yang suka meledek dan menjahilinya, hanya Ronald saja yang tak pernah melakukannya. Bahkan Ronald suka membela Anita jika teman-temannya mulai body shamming dan mengejek Anita.


Siapa yang sangka Anita yang dulu mereka ejek ternyata telah tumbuh menjadi gadis cantik nan jelita? Teman-temannya mungkin akan kagum jika Ia beritahu bahwa Anita sekarang sudah menjadi seorang Arsitek. Tak sia-sia Ia membela Anita sewaktu di sekolah dulu. Sekarang saat bertemu dengannya Anita terlihat senang sekali.


"Aku lupa nanya, kamu lagi apa pagi-pagi sudah nongkrong di kedai kopi? lagi kerja?" Anita mencoba melirik sedikit ke arah laptop, namun Ronald gerak cepat langsung menutupi layar laptopnya yang berisi film dan bukan tentang pekerjaan.


"Hmm... aku tadi janjian sama nasabah, tapi cancel yaudah aku lanjutin kerjaan kantor saja yang tertunda sambil ngopi"


"Kok ditutupin? Aku gak boleh liat ya?"


"Bukan gitu kok. Ini banyak data nasabah, aku gak boleh memperlihatkan kepada sembarang orang" Ronald mulai membual, agar tak terlihat grogi Ia mematikan laptopnya dan memasukkan ke dalam tas laptopnya.


"Loh kok dimasukkin? Kamu gak jadi kerja? aduh aku ganggu kamu ya? aku pergi aja deh kalau gitu" Anita ingin beranjak bangun dari duduknya namun tangan Ronald menariknya dan mencegah Ia pergi.


"Gak kok. Kamu gak ganggu. Aku gak mau aja ada cewek cantik malah dianggurin sama laptop. Makanya aku matiin aja. Kerjaan mah gampang" Ronald mulai melancarkan jurus gombalnya.


"Bisaaaa... ajaaa...." Anita pun tertawa. "Oh iya kamu sekarang kerja dimana?"


"Aku kerja di Bank Swasta di Jalan Sudirman, deket kok dari sini" Ronald meminum lagi es kopinya. Ia lalu menawari Anita donut miliknya namun Anita menolak.


"Wah dulu aku bercita-cita tuh kerja di Bank, sayang Mama Papa aku lebih milih aku jadi arsitek" cerita Anita.


"Seharusnya kamu berterima kasih sama kedua orang tua kamu. Lebih enak jadi arsitek ketimbang karyawan bank yang harus nguber-nguber nasabah agar mau nabung atau meminjam kredit"

__ADS_1


"Ya begitulah. Sekarang aku berterima kasih sama jasa kedua orangtuaku. Rumah kamu masih di komplek Anggrek Nal?"


"Masih. Mama aku tapi yang tinggal disana. Aku tinggal terpisah di rumah aku"


"Keren ya kamu, sudah punya rumah sendiri. Mobil juga lumayan. Pekerjaan kamu juga bagus. Kamu memang pintar sih Nal dari jaman dulu"


Ronald merasa bangga bisa dipuji oleh Anita. Sudah lama tak ada yang memuji dirinya seperti ini. Mungkin inilah yang ingin dirasakan Ronald selama ini. Pujian dan kasih sayang, tak melulu tentang anak terus.


"Ah kata siapa aku pintar? biasa aja kali. Mungkin faktor keberuntungan aja dan rajin berusaha. Oia kamu biasa mendesign apa?"


Anita menopang wajahnya dengan tangan kanan sambil menatap Ronald intens. "Udah pintar, gak sombong lagi. Ternyata Ronald dari dulu memang baik ya" Anita terbangun dari lamunannya saat Ronald mengajukan pertanyaan padanya.


"Tergantung project nya. Kadang kalau lagi dapat tender design gedung atau ruang kantor. Tapi kalau lagi gak ada job aku suka buka jasa design rumah juga kok" Anita ragu mau menanyakan sesuatu, Ronald melihat raut wajah keingintahuan Anita.


"Kamu tau aja. Aku mau tahu nih, hidup kamu kan sudah sempurna banget nih. Pintar, kerjaan juga sudah mapan, keren dan udah punya asetlah kayak rumah dan mobil. Kamu pasti banyak yang ngefans deh. Kamu udah punya pacar apa belum?"


Ronald tersenyum saat mendengar perkataan Anita. "Bisa aja kamu. Hidup aku tuh gak sesempurna itu kali. Aku saat ini gak punya pacar. Tapi...." Ronald menghentikan ucapannya, membuat Anita penasaran.


"Tapi apa?" Anita makin gak sabaran.


"Tapi aku sudah menikah" Ronald lalu menunjukkan cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya.


"Oohhh" ucap Anita kecewa. "Aku telat dong ketemu kamunya?"

__ADS_1


"Telat? emang kalau aku ketemu sama kamu duluan dibanding sama istri aku, kamu bakalan mau apa sama aku? kamu kan arsitek keren. Mana mau lah sama aku yang cuma karyawan biasa" lagi-lagi Ronald merendah.


Dengan wajah memerah menahan malu Anita menjawab pertanyaan Ronald. "Ya mau lah. Kan kamu itu cinta pertama aku sejak SMP dulu"


Ronald yang sedang menyeruput kopinya lalu tersedak saat mendengar pengakuan Anita. Anita bangun dari duduknya dan mendekati Ronald untuk membantu menepuk-nepuk punggungnya.


"Aduh maaf aku ngagetin kamu ya" Anita jadi merasa serba salah. Antara malu dan harus jujur.


"Udah... udah gak apa-apa kok" Anita lalu duduk kembali di kursinya.


"Mau aku pesenin air putih?"


"Gak. Gak usah. Aku kaget aja kamu ngomong kayak gitu" Ronald lalu terdiam memikirkan sesuatu. Dalam benaknya ada sang setan dan malaikat yang sedang berperang. Malaikat menasihati Ronald agar setia dengan istrinya. Sementar sang setan terus membisiki Ronald bahwa ini adalah kesempatan, Anita cantik, siapa yang tak mau dengannya? Siapa yang akan menang? Ternyata sang setan yang menang. Ibarat kucing dikasih ikan, siapa yang akan menolaknya?


Ronald lalu memasang wajah sedih, akal bulus playboynya keluar. "Sebenarnya jika aku ketemu kamu lebih dahulu dibanding istriku, aku pasti akan memilih kamu. Pernikahan aku tidak bahagia"


Anita merasa iba, ternyata hidup Ronald tak seberuntung yang dikira. "Tidak bahagia kenapa?"


Ronald menarik nafas dalam dan membuangnya. "Istriku tidak akur dengan Mamaku. Selalu bertengkar, membuat aku harus memilih membela istri atau Mama kandungku. Padahal Mama adalah Mama terbaik di dunia. Ia yang mendukung aku sampai aku bisa seperti sekarang, bukan istriku. Namun istriku begitu membenci Mama, sampai main ke rumah Mama saja tidak betah. Itulah yang membuat pernikahanku tidak bahagia" Ronald lalu memegang tangan Anita dan menggenggamnya. "Seandainya kamu yang jadi istri aku, mungkin aku bisa hidup tenang. Mama juga pasti akan bangga punya menantu seorang arsitek hebat kayak kamu. Mama pasti akan menyayangi kamu. Gak akan ribut terus seperti istriku sekarang" Ronald menunduk agar terlihat makin menyedihkan dimata Anita.


Anita melihat cinta pertamanya sedih tak kuasa menahan rasa sedihnya. Ia ikut merasakan penderitaan Ronald. Ronald lalu mengangkat wajahnya dan menatap Anita lekat.


"Kamu tahu, kenapa saat teman-temanku mengejek dan menghina kamu dulu aku selalu membela kamu? Karena kamu juga adalah cinta pertamaku...." Anita pun luluh mendengar pernyataan Ronald.

__ADS_1


__ADS_2