
Anton baru saja menutup telepon dari Daniel sambil terkekeh-kekeh mendengar Si Bos nya sedang menikmati masa bulan madunya, tiba-tiba teleponnya berbunyi lagi. Si Bos calling.
"Apa sih Bos? Anen (kangen) ya? Baru ditutup udah te-" ucapan Anton terputus.Suara Bos nya terdengar panik.
"Luk, tolong teleponin Dokter Meita. Suruh kesini sekarang!" perintah Daniel.
"Siapa yang sakit?"
"Nia. Udah cepet telepon. Nomornya ada di meja resepsionis. Cepet ya!"
"Iya, Bos. Tenang dulu. Kasih minum dulu aja Si Non-nya."
"Iya." telepon pun langsung diputus Daniel.
Anton menelepon Dokter Meita dan menyuruhnya segera datang ke Villa sesuai perintah Daniel.
******
Dokter Meita datang terburu-buru ke Villa 1. Kedatangannya langsung disambut dengan wajah panik Daniel.
"Kenapa Mas Daniel?" sapa Dokter Meita akrab. Sudah lama Ia menaruh hati dengan Daniel namun Daniel hanya cuek saja.
"Istri saya Dok. Perutnya sakit."
Istri? Mas Daniel sudah menikah? Kapan? Dengan siapa?- Dokter Meita.
"Istri?" tanya Dokter Meita heran. Pertanyaannya menuntut harus dijawab.
"Iya, istri saya, Dok. Mari saya antar."
Dokter Meita berjalan mengikuti Daniel menuju kamarnya di Villa 1. Sepanjang jalan Dokter Meita memperhatikam dari belakang Daniel, terlihat gurat khawatir di wajah Daniel yang tak bisa disembunyikannya. Siapa wanita yang dinikahinya sampai Daniel yang terkesan cuek itu bisa sekhawatir ini. Ah, beruntungnya wanita itu. Dokter Meita merasa amat iri.
Daniel membuka pintu kamar. Terlihat kamar yang berantakan, bantal berserakan di bawah dan sprei kasur yang kusut. "Hmm... telah terjadi sesuatu disini." pikir Dokter Meita.
Wajah Dokter Meita bersemu merah membayangkan Mas Daniel melakukan hal itu. Andaikan Mas Daniel melakukan hal itu dengannya....
"Ini Dok istri saya, Nia." ucapan Daniel membuyarkan lamunan nakal Dokter Meita.
"Oh iya Mas." Dokter Meita langsung menghampiri Nia yang terbaring lemah di tempat tidur. "Sejak kapan sakitnya, Bu?"
Kok kalau manggil Daniel pakai Mas, sedangkan kalau sama aku manggilnya Ibu? Kan Daniel lebih tua dari aku, kesannya kayak aku yang lebih tua aja pakai dipanggil ibu.- Nia.
"Sejak hari jum'at malam, Dok." jawab Nia.
"Coba saya periksa dulu." Dokter Meita lalu melakukan pemeriksaan dengan stetoskopnya dan tidak lupa mengukur tekanan darah Nia.
"Semuanya normal, Bu. Coba saya periksa perut bagian mana yang sakit?"
__ADS_1
"Perut bagian bawah, Dok." Nia menunjukkan tempat yang sakit.
"Sakitnya kayak gimana ya Bu?"
"Hmm... kayak kram, Dok. Seperti mau menstruasi." jelas Nia.
"Ibu terakhir kali menstruasi kapan?"
"Sebulan yang lalu."
"Kalau menstruasi suka sakit kayak gini tidak?"
"Belum pernah, Dok. Baru kali ini saja."
Dokter Meita mengangguk paham. "Hmm... Mas Daniel."
Kok manggil Daniel dengan suara manja gitu sih? Kayaknya Dokter Meita menaruh hati nih sama Daniel- Nia.
"Iya, Dok." jawab Daniel yang sejak tadi berada di samping Nia sambil mengusap lembut rambutnya.
"Sebaiknya Mas Daniel membawa Nia ke dokter kandungan. Peralatan disana lebih lengkap. Ibu Nia bisa diperiksa dengan alat USG jadi ketahuan apa yang menyebabkan perut Ibu Nia sakit."
"Tapi istri saya baik-baik saja kan Dok?" tanya Daniel khawatir. Ia tak mau istrinya kenapa-napa.
"Ibu Nia baik-baik saja. Sebaiknya diperiksakan langsung ke dokter kandungan agar lebih jelas. Saya tidak memberi obat dulu ya Mas. Biar dokter kandungan yang meresepkannya nanti." Dokter Meita membereskan peralatannya dan berdiri.
"Kamu tunggu sebentar ya, Sayang." Daniel pamit dulu sama Nia.
Nia mengangguk namun seakan tak rela kalau Daniel akan mengantarkan Dokter centil tersebut.
Dokter Meita melambatkan langkahnya agar bisa lebih lama berjalan di samping Daniel. Wajah Daniel sudah tidak sekhawatir tadi saat Ia baru datang. Dokter Meita iri dengan keberuntungan Nia yang mendapatkan Daniel yang tampan dan tajir ini.
"Tapi bener kan ya Dok, Nia gak apa-apa?" tanya Daniel lagi meyakinkan.
"Bener, Saya-... saya sudah periksa tadi tapi jangan lupa dibawa ke dokter kandungan ya, Mas." hampir saja Dokter Meita keceplosan memanggil Daniel dengan sebutan Sayang.
Anton terlihat menghampiri Dokter Meita yang sudah selesai memeriksa Nia. "Luk, tolong antar pulang Dokter Meita." perintah Daniel.
Terlihat wajah Dokter Meita menggambarkan kekecewaan. Ia pikir Daniel yang akan mengantarnya sampai ke rumah. Membayangkan akan berduaan di mobil saja sudah membuat Dokter Meita senang. Ternyata malah Si Buluk ini yang mengantarnya. Huft....
"Terima kasih banyak ya Dok sudah datang kesini dan memeriksa istri saya."
"Sama-sama Mas Daniel. Hubungi saya saja kapanpun Mas Daniel butuh." Anton pun lalu mengantar Dokter Meita.
Daniel berlari kembali ke Villa 1 tempat Nia berada.
"Ayo kita ke Rumah Sakit, Sayang." ajak Daniel.
__ADS_1
"Tapi aku belum mandi. Malu keluar belum mandi kayak gini." tolak Nia.
"Kan kamu tadi denger sendiri kalau kita disuruh periksa ke Dokter Kandungan. Ayo cepat mandi."
"Males. Nanti sakit lagi perutnya. Baru aja enakkan." tolak Nia lagi.
Tak sabar menunggu, Daniel pun menggendong Nia.
"Kamu mau bawa aku kemana Yang?" tanya Nia kaget dengan perbuatan Daniel yang tiba-tiba itu.
"Biar aku yang mandiin kamu. Sekalian kita mandi bareng."
"Tapi-"
"Udah jangan bawel." Daniel pun membawa Nia ke kamar mandi. Ia mendudukkan Nia dengan lembut di bath up. Melepaskan pakaiannya satu persatu. Nia masih agak malu diperlakukan Daniel seperti itu. Ia pun menutup bagian dadanya dengan tangannya.
"Jangan gitu dong. Kan aku juga jadi malu jadinya." omel Daniel.
"Kan aku malu."
"Huft.... kalau kamu gak lagi sakit udah abis deh sama aku di kamar mandi." Nia tersenyum melihat Daniel yang terlihat menahan nafsunya.
Daniel menyiramkan badan Nia dengan shower lalu menyabuninya dengan sabun cair. Tak lupa rambut Nia dikeramasin dengan shampoo. Ia membilas lagi agar tidak ada sabun yang tersisa di badan Nia.
"Nyengir dulu. Iiii" Daniel menyuruh Nia nyengir agar dapat menyikati gigi istrinya tersebut. Dengan lembut Ia menyikat gigi Nia.
Selesai sudah Ia memandikan Nia. Ia lalu mengeringkan Nia dengan handuk dan memakaikannya baju. Tak henti-hentinya senyum Nia selalu mengembang. Ia lihat betapa cintanya Daniel pada dirinya. Ia sangat bersyukur akan hal itu.
"Makasih Sayang." Nia mencium pipi Daniel sebagai balasan atas kebaikan Daniel.
"Iya. Makanya kalau sakit kabarin aku ya. Jangan hubungi laki-laki lain. Aku akan memperlakukan kamu lebih baik lagi dari ini kalau kamu memberitahu kamu sedang sakit. Oke?"
"Oke."
Daniel menyunggingkan senyum manisnya. Senyum yang hanya untuk Nia seorang.
"Sekarang gantian ya aku yang mandi. Habis itu kita ke Rumah Sakit, oke? Kamu istirahat saja, jangan ngapa-ngapain. Nonton TV saja."
Daniel bahkan mengambilkan Nia remote tv yang terletak di ruang tamu barulah Ia pergi mandi.
*******
Siapa yang mau Up lagi?
Vote dulu dong 🤣🤣🥰🥰
Tapi 1 aja ya. Hari minggu waktunya sama keluarga.
__ADS_1
Kalau Votenya banyak nanti di Up lagi, oke?