Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Air mata Papa


__ADS_3

Matahari sudah hampir tenggelam dan lampu jalanan sudah dinyalakan. Nia dan Ronald pamit pulang meninggalkan Papa dengan sorot mata sedih. Ya, sedih hati Papa memikirkan nasib anak perempuannya tersebut. Kenyataan sulit diberikan momongan serta tekanan dari keluarga suaminya membuat Papa seakan tak ikhlas melepas kepulangan Nia. Jika saja waktu bisa diputar... akan Ia larang Nia menikah dengan pilihan hatinya. Ia akan membuat Nia seperti Siti Nurbaya yang menikah dengan lelaki pilihannya. Ia yakin jika Ia nikahkan dengan Nia dulu bukan Ronald melainkan Daniel putra Pak Darmawan maka hidup Nia akan bahagia.


Setidaknya Daniel adalah anak baik, begitu penilaian Papa saat pertama kali bertemu dengannya. Waktu itu Papa diundang makan malam dengan Pak Darmawan dan keluarganya. Papa hanya datang berdua dengan Mama karena Pak Darmawan mengundangnya makan di hotel bintang lima, tak enak hati jika membawa banyak keluarganya, Papa memilih pergi berdua saja dengan Mama.


Pak Darmawan, istrinya dan anaknya Daniel sudah menunggu kedatangan Papa. Berpikir kalau Papa akan membawa serta anak-anaknya. Ternyata Papa datang berdua saja dengan Mama. Hal itu tak membuat kecewa keluarga Pak Darmawan, toh bintang tamu acara makan malam itu adalah Papa.


Seperti dugaan Papa, hotel bintang lima tersebut terlihat sangat mewah. Restaurannya juga tak kalah mewahnya, dengan interior yang terkesan elegan dan lampu kristal besar di tengah ruangan membuat orang kecil seperti Papa merasa minder, seakan ini bukan dunianya. Dunia Papa sebagai seorang PNS yang bekerja dengan jujur hanya mampu membeli sebuah rumah dan mobil sederhana, itu pun nyicil dengan menggadaikan SK PNS nya ke bank.


Pak Darmawan, istri dan anaknya langsung berdiri dari duduknya menyambut kedatangan Papa. Senyumnya merekah senang karena Papa memenuhi undangan mereka. Papa pun memperkenalkan Mama dengan keluarga Pak Darmawan.


Makan malam berlangsung dengan penuh keakraban. Keluarga Pak Darmawan sudah menganggap Papa sebagai keluarga sendiri. Namun Papa masih tahu diri, tak pernah meminta apa pun dari Pak Darmawan. Bahkan Pak Darmawan berniat menjodohkan anak satu-satunya yang bernama Daniel dengan salah seorang anak perempuan Papa.


Papa tidak matrealistis dan langsung mengiyakan permintaan Pak Darmawan. Ia menolak dengan halus keinginan Pak Darmawan dengan mengatakan membebaskan anak-anaknya memilih jodohnya sendiri. Pak Darmawan tak kuasa memaksakan kehendaknya.


*****


Papa mengingat kenangan 2 tahun lalu saat makan malam bersama keluarga Pak Darmawan. Hanya Pak Darmawanlah satu-satunya penolongnya. Tempat Ia menitipkan anaknya nanti jika Ia tiada. Istrinya sudah pergi lebih dulu, sementara keluarganya sudah sibuk dengan keluarganya masing-masing.


Masa depan Nay sudah tak lagi Ia pikirkan, suaminya sangat mencintainya dan Ia juga sudah dikaruniai seorang anak. Nesia sudah selesai kuliah hanya tinggal skripsi, sudah punya pacar sejak kuliah dan berniat akan menikah setelah lulus kuliah, pacarnya pun anak baik. Hanya masa depan Nia yang Ia pikirkan. Apakah Nia akan hidup seorang diri tanpa adanya anak disisinya? Siapa yang akan membelanya nanti jika Ia disakiti oleh mertuanya, sementara suaminya lebih membela mamanya sendiri dibanding istrinya.

__ADS_1


Kepala Papa sakit memikirkan masalah Nia. Ia biarkan saja rasa sakit melanda kepalanya tersebut. Lama kelamaan rasa sakit tersebut semakin menjadi. Ia pikir hanya pusing biasa, lalu Papa pun mengambil obat pereda sakit kepala yang Ia beli di warung. Perlahan sakit kepala tersebut hilang.


"Pa, Nesia masuk ya" kata Nesia setelah mengetuk pintu kamar Papa.


"Iya masuklah" jawab Papa.


Nesia pun masuk ke dalam kamar Papa. Diberikannya surat undangan yang dibawanya kepada Papa.


"Pa, ini surat undangan wisuda Nesia. Sabtu besok Nesia wisuda"


"Wah kamu sudah mau wisuda. Papa senang kamu akhirnya sudah lulus kuliah" kata Papa tersenyum senang, sudah lupa Ia akan sakit kepalanya. Papa lalu membuka surat undangan tersebut. "Di JCC hari sabtu jam 8 pagi. Kita ajak Nia dan Nay ya?" tanya Papa.


"Iya juga ya. Tapi Papa tanya saja dulu, siapa tau Dia mau ikut. Kalau gak ditanyain takut ngambek Dia. Tau sendiri kakak kamu itu kan pundungan orangnya" Papa lalu mengambil hp dan menelepon Nay dan Nia. Nay senang Nesia sudah selesai kuliah namun tak bisa datang ke acara wisudanya karena seperti yang dipikirkan Nesia, Nay takut anaknya rewel. Papa mematikan teleponnya setelah memastikan kalau Nay tak bisa datang.


Papa kemudian menghubungi Nia. Ternyata diangkat oleh Ronald. Agak malas sebenarnya Papa dengan menantunya tersebut.


"Hallo, Nia ada Nal?" tanya Papa.


"Nia sedang mandi, Pa. Ada apa ya nanti Ronald sampaikan"

__ADS_1


"Titip pesan saja ya Nal, hari sabtu besok Nesia wisuda. Nia mau ikut atau tidak? Nanti suruh Nia telepon Papa lagi ya" pesan Papa


"Iya Pa. Nanti Ronald sampaikan" tak lama Papa pun menutup teleponnya.


Nia baru saja keluar dari kamar mandi. Handuk masih melilit di rambutnya yang basah. Ia tadi sayup-sayup mendengar suara hp nya berbunyi.


"Tadi hp Nia bunyi ya Mas?" tanya Nia pada Ronald yang sedang asyik main hp.


"Iya. Papa telepon. Katanya sabtu besok Nesia wisuda. Kamu disuruh telepon balik" Ronald pun fokus lagi main hp. Nia langsung menelepon balik. Papa mengajak Nia hadir di wisuda Nesia menemaninya, Nia pun mengiyakan ajakan Papa.


****


Acara wisuda Nesia berlangsung dengan mengharukan. Nia teringat saat Ia wisuda dahulu ada Mama yang menangis sedih namun bangga saat Ia mengenakan toga. Kasian Nesia, Ia tak merasakan apa yang dulu Ia dan Kak Nay rasakan.


Nesia terlihat cantik dengan kebaya yang dikenakannya. Make up nya yang natural menambah cantik dandanannya hari ini. Nia datang sendiri tanpa ditemani Ronald. Pagi-pagi Ia sudah membawa mobil dan menjemput Papa serta adiknya tersebut.


Papa beberapa kali terlihat menyeka air matanya yang menetes di pipi. Selesai sudah tugasnya menyekolahkan ketiga putriya sampai lulus kuliah. Ia sudah menunaikan janjinya pada istrinya untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai bangku kuliah, meskipun harus banting tulang dan hidup berhemat setiap hari.


Semoga kelak ketiga putrinya dapat hidup rukun dan bahagia. Itulah doa tulusnya sebagai seorang ayah. Tak hentinya Ia tersenyum bangga saat di foto. Sudah lengkap ada 3 foto wisuda yang akan terpajang di rumahnya nanti. Papa yakin Mama sedang tersenyum diatas sana melihat keberhasilannya menyekolahkan ketiga anaknya. Hanya tinggal memastikan Nia bahagia dan Nesia menikah dengan orang yang dicintainya maka tugasnya selesai. Akankah Ia memiliki waktu melihat semua itu?

__ADS_1


__ADS_2