Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Makan Siang Bersama Anita


__ADS_3

Pagi hari Nia mendapat pesan dari Anita. Mereka memang sudah janjian akan makan siang bareng, namun entah mengapa Anita selalu sibuk sehingga makan siang mereka diundur. Pagi ini Anita mengabari Nia bahwa Ia akan seharian di Mall depan kantor Nia mengurus proyeknya. Ia mengajak Nia makan siang bersama, karena tak ada teman selain Nia.


Nia agak heran kenapa Anita yang cantik dan sexy tak punya banyak teman. Kak Nay juga tak pernah cerita banyak, karena menurutnya Anita hanya sebatas teman saja bukan sahabat yang sangat dekat dengan dirinya. Anita mengajak Nia karena Ia kesepian jika makan siang seorang diri.


Nia membalas pesan Anita dan mengiyakan ajakannya. Nia juga memberitahu bahwa Ia hari ini jadwal istirahatnya jam setengah 2 sampai setengah 3 siang. Anita bilang akan menunggu Nia di kedai kopi seperti waktu mereka bertemu sebelumnya.


Nia sudah mengganti sepatu high heelsnya dengan sandal jepit. Ia tak membawa tas, hanya dompet dan hp yang ditaruh di saku blazernya saja. Tak lupa Ia pamit dengan teman-teman satu geng makan siang agar tak menunggunya karena Ia akan makan siang dengan teman yang lain.


Anita masih asyik dengan kerjaannya saat Nia datang.


"Permisi Bu.. " kata Nia sambil mengetuk meja.


"Eh kamu sudah datang Nia. Yuks kita langsung pergi saja. Aku sudah lapar nih" terburu-buru Anita membereskan pekerjaannya, kali ini tak seberantakan kemarin. Mungkin Ia sudah membereskannya sebelum Nia datang.


"Memang belum makan Mbak?" tanya Nia.


"Belum. Kan nungguin kamu. Ayo kita cuzzz..." Anita langsung menggandeng tangan Nia.


Kali ini mereka makan di foodcourt karena sudah jam setengah 3 sore jadi foodcourt sudah agak sepi. Kalau jam 12 pasti ramai oleh karyawan dan pengunjung mall.


"Kamu mau makan apa?" tanya Anita.


"Hmm... apa ya Mbak? Bakso Afung aja kali ya. Seger makan bakso siang-siang" usul Nia.

__ADS_1


"Wah boleh juga tuh. Yaudah yuk langsung pesan"


Mereka lalu memesan bakso campur isi 9 dengan kwetiauw. Porsi jumbo yang pas dikala lapar. Nia baru saja mau membayar makanan mereka ketika Anita menyalip langsung membayar dengan aplikasi di hp nya.


"Ih kan aku duluan yang mau bayar Mbak. Yaudah aku kasih cash aja ya sama Mbak" Nia baru mau mengeluarkan uang namun Anita langsung menolaknya.


"Gak usah. Aku saja yang bayar. Kan aku yang ngajakkin kamu makan siang bareng buat temenin aku. Udah simpan uangnya. Uang makan siang aku lebih mahal kok dari ini"


"Tapi Mbak.."


"Udah jangan bawel ya. Simpen aja. Santai aja masalah uang mah sama aku" tolak Anita. Nia lalu memasukkan kembali uang yang dikeluarkannya.


Mereka lalu masing-masing membawa makanan dan minuman masing-masing dan memilih duduk di dekat jendela agar terlihat pemandangan dari gedung bertingkat ini.


"Iya aku ceritain. Tenang aja" kata Anita sambil makan bakso. "Jadi aku waktu sekolah dulu tuh cupu banget. Item, dekil and the kumel lah. Nah aku biasanya dibully sama teman-teman cowok di kelas. Namun ada salah seorang anggota genk cowok disana yang selalu membela aku. Ia kadang suka mengomeli teman-temannya jika mulai menyakiti hati aku. Lulus SMP aku pindah ke luar negeri karena orangtuaku ditugaskan keluar negeri. Di luar negeri aku banyak bergaul dengan make up artist jadinya ya aku mulai kenal make up dan merawat tubuh"


Anita menyeruput es teh manisnya untuk membasahi tenggorokannya. "Aku juga kuliah ambil jurusan arsitek. Banyak yang mendekati aku. Namun rasa trauma karena dibully oleh teman-teman cowok membuat aku tak tertarik menjalin hubungan serius dengan pria"


"Aku lalu kembali lagi ke Indonesia. Papa dan Mama ingin menghabiskan masa tuanya di tanah kelahiran mereka. Aku ikut saja tapi dengan syarat aku boleh tinggal sendiri. Aku juga sudah punya kerjaan disini. Waktu aku sedang janjian dengan klien di daerah Sarinah, aku bertemu dengan cowok yang membela aku di sekolah dulu. Bertemu dengannya membuatku sadar, hatiku pun berdebar, aku yakin Ia adalah cinta pertamaku. Aku lalu menyapa dan ternyata benar Ia yang dulu selalu membelaku"


"Terus... terus... seru nih ceritanya" kata Nia antusias.


"Sabar Neng. Aku makan dulu" Anita lalu memakan baksonya. Nia dengan sabar menunggu Anita makan.

__ADS_1


"Oke, aku lanjutin ya. Pas Dia ngeliat aku tuh kayak gak ngenalin, si dekil and the kumel udah berubah. Dia langsung traktir aku minuman kopi sambil ditulisin gombalan gitu. Terus Dia juga ngajak makan siang aku juga. Dia juga ngajak aku kencan. Akhirnya kami resmi deh pacaran sampai sekarang"


"Wah penantian Mbak gak sia-sia ya? Hebat. Mungkin itulah namanya jodoh Mbak" kata Nia.


Wajah Anita tiba-tiba murung. "Aku gak tau ini bisa disebut jodoh atau bukan. Ternyata Ia sudah ada yang punya. Tapi Dia bilang kalau Ia lebih memilih aku. Katanya Ia merasa nyaman jika bersama aku. Ia hanya tak tega meninggalkan yang disana. Hanya menunggu waktu saja sampai akhirnya Ia memilihku. Sekarang saja Ia lebih banyak menghabiskan weekendnya sama aku dibanding wanita itu"


"Hmm... rumit juga ya cintanya Mbak"


"Memang kamu gak rumit?" tanya Anita balik.


"Gak lah Mbak. Aku kenal suami aku tuh waktu sidang skripsi, langsung Dia deketin aku lewat adiknya yang satu kampus. Trus ngajak ngedate, nembak dan pas aku selesai kuliah Dia ngajak nikah. Simpel kan Mbak?"


"Kamu nikah muda sih ya. Kakak kamu juga nikah muda. Memang sudah kebiasaan di keluarga kamu ya?"


"Gak gitu juga Mbak. Bagi Papa kalau memang sudah selesai kuliah lalu ingin menikah dengan pria yang mencintai anaknya ya boleh saja. Kebetulan kami bertiga kayak gitu. Adik aku juga yang baru lulus akan segera dilamar"


"Asyik juga ya Papa kamu gak kayak orangtua lain yang menjodohkan anaknya seenaknya saja tanpa memikirkan perasaan anaknya"


"Iyalah Mbak. Papa Mama is the best lah" pamer Nia.


"Sudah. Cepat habiskan. Istirahat kamu kan gak lama kayak aku" kata Anita mengingatkan Nia.


"Oh iya. Wah keasyikan ngobrol nih kita sampai lupa waktu.. ha..ha..ha" Nia terburu-buru menghabiskan makannya lalu pamit mau kembali ke kantor. Tak lupa Ia ucapkan terima kasih atas traktirannya.

__ADS_1


Nia berjalan cepat menuju kantornya, mengejar absen istirahat makan siang agar tak telat. Tepat jam setengah 3 tepat Ia sudah sampai di meja absen. Cepat-cepat Ia kembali ke posisinya dan memasang senyum ke arah Nasabah yang datang.


__ADS_2