
"Sst.. sst.. kenapa kamu diam saja?" Nia melambaikan tangannya di depan wajah daniel guna menyadarkan Daniel dari lamunannya.
"Ah.. iya.. kenapa?" Daniel kaget dan langsung tersadar dari lamunannya.
"Kamu sejak aku mengeluarkan kartu nama Pak Darmawan melamun saja. Kaget jangan segitunya kali. Biasa aja"
"Maaf. Papaku sebenarnya tidak sembarangan mengeluarkan kartu nama sakti miliknya. Ibarat bermain monopoli, itu seperti kartu bebas penjara yang hanya orang tertentu yang memilikinya"
"Oh... berarti Papaku termasuk salah satu orang yang beruntung ya? memang apa yang telah dilakukan Papa sampai Pak Darmawan memberikan kartu saktinya pada Papa?" tanya Nia.
"Memangnya Papa kamu gak pernah cerita?"
"Belum pernah. Memang ada apa sih? ceritain dong" rengek Nia.
"Gak mau ah. Tanya aja sendiri sama Papa kamu. Bukan kapasitas aku untuk menjelaskannya. Kalau Papamu saja belum bercerita, apa hak aku menceritakannya sama kamu?"
"Iiiiyyyuuuuuhhh... judes banget yey kamu jadi cowok" Nia kembali cemberut.
"Udah kita fokus lagi. Rencana kamu selanjutnya mau langsung konsultasi dengan pengacara gak?"
"Kamu kan pengacara juga? Ngapain aku konsultasi lagi, gimana sih?"
"Tapi aku gak mau membela kamu nanti di pengadilan" kata Daniel tegas.
"Loh memangnya kenapa?"
Aku gak mau jika nanti perjodohan kita dilanjutkan, orang akan menggosipkan kalau sebenarnya kamu yang selingkuh dengan pengacara kamu sendiri- Daniel.
__ADS_1
"Aku sibuk. Sama Papa saja ya"
Nia langsung terdiam dan seperti sedang berpikir. Daniel heran kok Nia yang tadi agresif minta pengacara malah tiba-tiba terdiam seperti memikirkan sesuatu. "Kenapa? kok diam?"
"Jujur saja, sewa pengacara kan mahal. Aku kan cuma staff biasa. Ada sih uang tabungan bersama kami, tapi kok ya gak etis ya uang itu dipakai untuk biaya perceraian? itu kan uang bulanan dari suamiku sendiri" Nia tertunduk sedih, guratan kesedihan terpancar jelas di wajahnya.
"Kan kamu punya kartu sakti dari Papa aku. Masalah biaya gak usah dipikirin. Free buat kamu"
"Kartu itu bukan punya aku, tapi punya Papa. Kalau seperti permainan monopoli yang kamu bilang tadi, hanya bisa sekali dipakai. Aku gak mau pakai kesempatan yang dimiliki oleh Papa"
"Kan aku tadi cuma menggambarkan saja sepenting apa kartu itu, tapi kenyataannya kamu bisa pakai lebih dari satu kali. Semua tergantung situasinya. Aku yakin Papa mau menangani kasus kamu" Nia menimbang-nimbang perkataan Daniel.
"Yaudah nanti aku bicarakan dulu dengan Papa"
"Memang Papa kamu gak tau kalau kamu mau bercerai?" tanya Daniel heran. Nia hanya menjawab dengan menggelengkan kepala saja.
"Oh God. Bukannya cerita dulu sama orangtua malah curhat sama aku"
"Itu namanya takdir sayang. Kamu mau berusaha kayak apa juga kalau Tuhan tidak mentakdirkan kamu ya ga bisa apa-apa. Saran aku, terima kenyataan. Bilang sama Papa kamu. Tapi bilang setelah kamu punya bukti. Maka, kumpulkanlah bukti terlebih dahulu. Mulai dari mengikuti suami kamu. Gampang kok, karena suami kamu berselingkuh secara terang-terangan dan berpikir kamu bodoh sampai tidak menyadarinya. Sorry to say, aku ngomong gini karena memang kenyataannya begitu. Coba kamu ikuti suami kamu tapi jangan pakai mobil kamu ya, nanti Dia sadar. Pakai taksi saja atau mau aku bantu?"
"Kamu bener mau bantu aku?"
"Yaiyalah. Buktinya aku hari ini nungguin kamu. Buat apa aku nongkrong gak jelas disini kalau bukan buat bantuin kamu? Upps.... " Daniel keceplosan kalau Ia memang menunggu Nia.
Nia memicingkan matanya penuh curiga. "Kamu nungguin aku? Ada maksud apa?"
"Gak kok. Gak ada maksud apa-apa. Sumpah. Aku kasian aja sama kamu. Udah dibodohi sama suaminya lama eh gak sadar-sadar"
__ADS_1
Nia mengangkat tangannya hendak menjitak Daniel. "Ampun... ampun... becanda..becanda..."
"Yaudah sebagai hukumannya, kamu yang anterin aku. Nih masukkin nomor hp kamu nanti aku telepon hari sabtu besok" Nia lalu menyerahkan hp nya pada Daniel.
"Cie.. minta nomor hp aku...cie..." Nia hendak mengambil lagi hp nya namun sayang Daniel lebih cepat.
"Ih si Non ini baperan banget. Gak bisa dibecandain. Nih aku sudah masukkin nomor Hp aku" Daniel lalu mengembalikan Hp Nia.
Nia memeriksa nama Daniel di kontak Hp nya, namun tak ditemukan. "Kok gak ada ya nama kamu. Kamu save pakai nama apa?"
"Mr. Daniel Tampan" jawab Daniel sambil cengengesan.
"Ampun... dah.. " Nia hanya tersenyum saja melihat ulah Daniel. Ia lalu misscall ke Hp Daniel agar Daniel tau nomor Hp nya. Satu yang pasti, Nia tidak mengubah nama Daniel di kontak Hpnya, tetap Mr. Daniel Tampan.
*******
Nia melanjutkan hari-hari seperti biasanya. Sesuai saran Daniel, lakukan pekerjaan sehari-hari agar Ronald tak curiga. Ia tetap membuatkan sarapan pagi dan makan malam untuk Ronald. Baju kerja untuk Ronald pun sudah Ia siapkan sebelum berangkat kerja.
Hal yang tak bisa Nia lakukan adalah berbicara seperti tak ada masalah dengan Ronald. Ia tak bisa menahan emosinya jika harus bicara panjang lebar dengan Ronald, jadi Ia hanya bicara seperlunya saja. Dulu Ia selalu menunggu Ronald pulang kerja, walau hanya untuk menanyakan apakah sudah makan atau belum. Sekarang Nia lebih memilih langsung tidur saja tak perlu menunggu Ronald pulang. Untuk apa? menunggu suaminya pulang selingkuh seperti dulu? Daniel benar, Ia memang bodoh. Suami selingkuh sudah lama kok gak sadar?
Ah rasanya lama sekali menunggu hari sabtu untuk bertemu lagi dengan cowok jahil itu. Daniel berjanji akan menemani Nia membuntuti Ronald. Entah dengan tujuan apa Ia rela menolongnya sejauh ini, Nia tak peduli. Baginya saat ini ada yang menolongnya Ia sudah sangat berterimakasih.
*******
Sabtu pagi sesuai janji mobil Daniel sudah terparkir tak jauh dari rumah Nia. Dengan mengenakan kaus bergaris warna biru dan celana putih panjang Daniel terlihat sangat tampan dengan sunglass yang dikenakannya. Daniel mengawasi rumah Nia dengan seksama, menunggu mobil Ronald keluar. Sambil mendengarkan musik Maroon 5, Ia menunggu sang target.
Jam 9 pagi mobil Ronald terlihat keluar dari garasinya. Daniel dengan sigap bersiap-siap menunggu Nia datang. Tak lama dengan mengendap-endap Nia berlari dan langsung masuk ke dalam mobil Daniel.
__ADS_1
"Ayo.. cepat.. cepat.." kata Nia tergesa-gesa, namun Daniel tak langsung jalan. Daniel malah memajukan badannya mendekati Nia. Jarak mereka sangat dekat. Nia langsung menahan nafasnya, jantungnya berdegup kencang. Daniel hanya tersenyum menggoda.
"Pakai seat belt dulu" Daniel ternyata mau memakaikan Nia seat belt. "Hayo... kamu mikir apa?" goda Daniel. Nia hanya diam saja menahan malu, sementara wajahnya bersemu merah tanpa bisa dikendalikan.