
Ambulan yang akan membawa jenasah Mama sudah siap. Administrasi pun sudah diurus. Mama akhirnya pulang kerumah tercinta, namun pulang sudah tak bernyawa. Baru saja pagi tadi senyum cerah Mama menghiasi dan menghangatkan rumah. Namun kini Mama sudah pergi tuk selamanya.
Papa dan Nesia ikut dengan mobil ambulan menemani jenasah Mama. Nia ikut dengan Ronald, sedangkan Kak Nay bersama sang suami. Suara sirine menambah lirih hati keluarga yang ditinggalkan.
Nia masih menangis sesegukan. Dengan mata kosong sambil kepala menyandar di kaca mobil. Air mata terus saja mengalir tanpa bisa Ia hentikan. Sesekali Ronald mengusap-usap bahunya untuk memberikan sedikit kekuatan.
"Ma, bagaimana Nia nanti tanpa Mama? Siapa yang akan menasehati Nia, dimana lagi Nia berlindung saat segala kepenatan dan permasalahan datang Ma.... " lirih isi hati Nia saat ini. Seakan dunianya runtuh. Mama yang telah membesarkannya dengan penuh cinta dan kasih telah pergi untuk selamanya. Rasanya Nia ingin ikut pergi dengan Mama saja.
"Sudah ya sayang jangan nangis terus. Ikhlaskan Mama, biar Mama bisa pergi dengan tenang. Kamu sayang kan sama Mama?" Nia mengangguk lemas. "Nah kalau kamu sayang sama Mama kamu ikhlasin ya."
"Mama sudah pergi Mas... Mama ga akan kembali lagi..." Tangis Nia pun pecah lagi.
"Cup...cup...cup... mungkin Tuhan lebih sayang Mama daripada kita makanya Tuhan mengambilnya. Sekarang kan Mama sudah sehat gak sakit lagi. Kamu harus kuat ya" Nia mencerna perkataan Ronald. Memang benar adanya, mungkin Tuhan memang lebih sayang Mama dibanding dirinya. Mama juga sekarang pasti sudah tidak merasakan lagi kesakitan.
Nia menghapus airmata di wajahnya. Ditariknya nafas panjang dan dihembuskannya. Dilakukannya berkali-kali untuk menenangkan dirinya.
"Aku harus kuat. Aku harus ikhlas. Aku harus menyiapkan pemakaman buat Mama. Ini hal terakhir yang bisa kulakukan untuk Mama" tekad Nia dalam hati.
Mobil ambulan, mobil Ronald dan Kak Nay akhirnya sampai dirumah Mama. Sirine ambulan pun dibunyikan agar diberi jalan untuk lewat. Terlihat rumah Mama sudah dipenuhi banyak orang yang ingin melayat. Kerabat Mama dan Papa pun sudah berdatangan. Om, Tante, dan saudara sepupu sudah datang juga. Begitupun mertua Nia, Mama Sri dan Rena adik iparnya juga datang ditemani Om Dino.
__ADS_1
Nia dan keluarga pun turun dari mobil, kemudian jenasah Mama diturunkan juga dan diletakkan diatas kasur kecil yang sudah disiapkan oleh om dan tante Nia. Satu per satu para tetangga, kerabat dan keluarga bergantian memberikan doa kepada Mama. Nia terharu melihat banyaknya orang yang mencintai dan menyayangi Mamanya. Jelas saja, seumur hidup Mama adalah orang baik yang suka menolong tanpa pilih kasih. Banyak yang memberikan penghormatan terakhir terhadapnya. Nia bangga memiliki Mama seperti Mama Asih, seperti namanya Asih.
Silih berganti para pelayat datang berdatangan. Seperti tak habis-habis banyak yang datang mendoakan Mama. Nia, Kak Nay dan Nesia sudah berganti pakaian dengan baju serba hitam.
Pemakaman pun dilakukan dengan khidmat dan penuh haru. Papa yang terlihat tegar namun masih ada gurat sedih diwajahnya mengantar Mama ke peristirahatan terakhirnya. Selesai dikuburkan, bunga pun ditaburkan diatas makam Mama.
"Selamat Jalan Ma....."
******
"Sayang makan dulu yuks. Kamu belum makan dari pagi. Tadi kamu cuma diinfus saja pas pingsan belum makan apa-apa. Makan ya. Sudah malam kami masih belum makan" Ronald membujuk Nia makan. Nia menggeleng menolak untuk makan.
"Aku masih kenyang Mas" Nia masih duduk di ruang tamu dengan pandangan mata yang kosong. Sudah kering airmatanya terkuras habis hari ini. Tak memikirkan kalau seharian Ia belum makan apapun. Tak ada rasa lapar didirinya.
"Ayo.. aa..... buka mulutnya..aaa.." Ronald membujuk Nia makan seperti membujuk anak kecil. "Ayo dong buka mulutnya.. tangan aku pegel nih" Nia akhirnya membuka mulutnya dan memakan suapan dari Ronald. Makanan terasa hambar di lidahnya.
Satu persatu pelayat pulang dan meninggalkan rumah Mama. Suasana terasa hening dan sepi. Nia berjalan menghampiri Papanya.
"Pa, papa juga belum makan. Makan dulu ya Nia ambilkan" Papa menurut saja karena tak ada yang dapat Ia lakukan untuk mengusir sepi. Nia mengambilkan nasi dan lauk untuk Papa dan menyerahkannya ke Papa. Seperti Nia, Papa juga makan tak ada nafsu. Nia lalu berjalan dan duduk kembali di samping Ronald, lalu memakan makanannya.
__ADS_1
Nia melihat Nesia yang duduk diam di lantai. "Nes, kamu sudah makan belum? ayo makan dulu biar gak sakit" Nesia menuruti perintah kakaknya.
Setelah menghabiskan makanan Nia menyibukkan dirinya dengan mengerjakan pekerjaan rumah yang biasa dilakukan Mama. Piring bekas makan dikumpulkan lalu Ia cuci. Dilihatnya diatas meja dapur ada sayuran yang tadi dibersihkan Mama namun belum sempat dimasak. Air mata kembali turun, Nia pun berjongkok dan menyembunyikan suara tangisnya....
*****
Rumah yang sepi dan sudah malam. Papa kembali kedalam kamarnya. Dihembuskannya nafas berat. Tak ada lagi yang menemaninya tidur. Tak ada lagi yang menyiapkan bajunya untuk berangkat kerja. Tak ada lagi yang menyambutnya sepulang kerja. Separuh jiwanya sudah pergi. Kini hanya tersisa separuh hati yang harus tegar menghadapi hari esok. Masih ada ketiga putrinya yang masih harus Ia lindungi. Masih ada tanggung jawab menyekolahkan Nesia yang masih kuliah. Masih ada kewajiban membimbing Nia yang baru berumah tangga. Masih harus menanti cucu pertama yang akan dilahirkan Nay.
Ditatapnya bingkai foto saat Ia dan istri tercinta berfoto bersama saat jalan-jalan ke Bali. Senyum istrinya begitu bahagia. Dipeluknya bingkai foto itu sambil menahan tangis agar tak ada yang mendengar.
****
Nesia juga kembali kedalam kamarnya. Direbahkannya tubuhnya diatas kasur. Ditutupinya wajahnya dengan bantal lalu Ia pun menangis sesegukan. Bantalnya basah oleh air mata, tak apa asal tak ada yang mendengar suara tangisnya.
*****
Kak Nay sudah kembali ke rumahnya. Kondisinya yang sedang hamil 8 bulan membuatnya letih. Ia duduk di ruang tamu rumahnya. Tangisnya kembali pecah tak kuasa untuk dibendungnya.
"Ma... kenapa Mama pergi tanpa sempat melihat cucu pertama Mama??? Mama gak mau melihat cucu Mama dulu? Sebulan lagi Nay lahiran Ma... Siapa yang akan mendampingi Nay diruang persalinan nanti kalau bukan Mama??"
__ADS_1
Kak Nay menangis sambil mengelus perutnya, seakan memeluk bayi yang akan dilahirkannya tersebut. Sang suami hanya bisa memeluknya untuk memberikan sedikit kekuatan.
Selamat jalan Mama Asih... Kami semua keluargamu menyayangimu... Semoga Tuhan menempatkanmu di surga terindah. We love you Mama....