
Kunjungan ke rumah Mama Sri minggu ini, Nia membawa obat yang diresepkan untuknya. Nia sudah yakin kalau Mama mertuanya akan menanyakan lagi perihal konsultasi ke dokter kandungan.
Sebenarnya Nia males ke rumah Mama Sri. Tapi mau bagaimana lagi, sudah kewajibannya. Sebisa mungkin Nia menghindari pertengkaran dengan Ronald.
Seperti yang sudah diduga, belum 10 menit Nia sampai di rumah Mama Sri langsung diberondong pertanyaan. Nia baru saja duduk di ruang tamu setelah macet-macetan pulang kerja harus ke rumah mertuanya, tak ada air minum ataupun makanan yang disuguhkan.
"Bagaimana Nia, sudah ke dokter kandungan belum?" Mama Sri langsung mengajukan pertanyaan tanpa ada salam pembuka atau basa-basi terlebih dahulu.
"Udah Ma" Kata Nia sambil menaruh tas jinjingnya di sampingnya. Mengeluarkan obat dan hasil test dari Rumah Sakit yang Ia datangi 3 minggu lalu. Nia menyodorkan kertas Lab agar Mama Sri melihat sendiri hasilnya.
"Kemarin Nia sudah cek darah dan USG katanya Nia baik-baik saja Ma. Nia dikasih obat dan vitamin. Udah Nia minum kok"
"Kalau baik-baik saja kenapa sudah setahun lebih pernikahan kalian belum juga dikasih momongan?" tanya Mama Sri. Nia merasa ini lebih ke memojokkan Nia bukan ke pertanyaan.
"Kemarin Dokternya nanya kenapa gak diantar suaminya. Dokter bilang Mas Ronald juga harus di cek juga Ma" Nia memberanikan diri membela dirinya.
Ronald sudah mau membela Mamanya namun Nia melototkan matanya. "Awas aja kalau kamu belain Mama lagi, aku bakal ngambek pulang dari sini" begitu arti tatapan mata Nia yang sedang melotot.
"Kenapa Ronald harus diperiksa? Ronald kan laki-laki" tanya Mama Sri dengan nada tinggi.
"Kata dokter biar di cek semuanya, Ma. Jadi tau ada masalahnya dimana" jelas Nia dengan baik-baik.
"Maksud kamu anak Mama, Ronald yang bermasalah gitu? Heh kamu tau kan kalau laki-laki tuh hanya butuh kasih 1 buah ****** saja diantara jutaan ****** yang dihasilkan. Pasti masalahnya bukan di anak Mama lah. Dokter mana tuh kasih teori kayak gitu. Sudah pindah dokter saja kamu. Gak bener" Mama Sri marah dan itu ditujukan ke Nia.
__ADS_1
"Yaudahlah sayang, nanti kita pindah Dokter aja ya. Mungkin yang kemarin kurang bagus" lagi-lagi Ronald membela Mamanya.
"Oh gitu. Oke fine. Kamu bukannya belain aku malah belain Mama kamu. Kita lihat aja nanti ya" kata Nia dalam hati.
Lama Nia terdiam setelah Mama Sri marah dan Ronald membela Mamanya. Nia sangat emosi. Kenapa lagi-lagi Ia yang disalahkan.
"Ma, Nia udah ikutin kemauan Mama. Nia udah ke dokter. Nia udah USG dan cek darah. Hasilnya juga Mama bisa lihat sendiri kalau Nia baik-baik saja. Apa salahnya kalau Mas Ronald juga periksa?" Nia berusaha sabar dan menahan suaranya yang bergetar.
"Ya gak usah nyuruh Ronald periksalah. Memang anak Mama penyakitan apa. Dia sehat kok. Pola hidupnya juga sehat. Bukan Ronald dong masalahnya" Kata Mama Sri sambil membuang mukanya.
Nia menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Setetes air mata akhirnya jatuh di pipinya. Langsung Nia hapus. Tak kuasa Ia membendung emosinya lagi. Ronald yang melihat istrinya sudah sangat marah akhirnya mengajak Nia ke kamar agar tak terjadi keributan yang lebih besar lagi.
"Sayang, sudah ya. Sudah malam. Kamu katanya capek mau istirahat. Ayo kamu mandi terus bobo ya. Ma, Ronald sama Nia istirahat dulu ya" Ronald lalu menarik Nia pergi meninggalkan Mamanya.
"Terus Mas... terus aja kamu kayak gitu terus. Gak pernah belain aku. Apa sih arti aku Mas di mata kamu? hah?" kata Nia sambil menghapus air matanya yang mengalir turun tanpa bisa dicegah.
"Ya kamu istri aku lah. Kamu berarti buat aku. Tapi Mama kan juga Mama kandung aku, orang yang melahirkan dan membesarkan aku. Cobalah kamu sabar dan mengerti Mama. Coba kamu memposisikan diri kamu jadi Mama. Jangan berantem ya sama Mama" Ronald berusaha menenangkan Nia.
"Sekarang gantian, Mama yang di posisi aku. Setiap kemari selalu saja anak...anak...anak... yang ditanyain. Kabar aku aja gak ditanyain. Aku baru sampe rumah kamu loh, bisa gak pertanyaan tentang anak nanti saja setelah aku istirahat dulu?"
"Iya...iya.. aku tau.. aku ngerti. Kamu yang sabar ya"
"Sabar? Kalau kamu ada diposisi aku apakah kamu masih bisa sabar? Mama kamu tuh seperti melihat aku sebagai perempuan mandul Mas. Aku udah cek dan aku baik-baik saja. Apa salahnya kalau aku meminta kamu juga ngecek? Kok malah aku yang kena omelan?" Nia tak peduli suaranya akan terdengar atau tidak sampai ke Mama. Ia sudah kandung emosi.
__ADS_1
"Yaudah kamu sekarang tenangin diri dulu. Jangan marah lagi. Ya.."
"Sekarang yang aku mau tuh kamu belain aku depan Mama kamu. Jaga harga diri aku Mas di mata Mama kamu"
"Iya.. nanti aku ngomong sama Mama"
"Gak mau nanti. Sekarang" Paksa Nia.
"Iya... iya.. baiklah. Aku ngomong sama Mama sekarang. Puas?" Ronald pergi meninggalkan Nia di kamar dan menghampiri Mamanya yang masih duduk di ruang tamu sambil sesekali mendengarkan suara Nia dan Ronald yang terdengar sedang bertengkar.
"Ma. Mama sudah denger sendiri kan? Sudahlah Ma, Nia kan sudah menuruti kemauan Mama untuk check up. Jangan terlalu dipaksa Ma. Mungkin Tuhan belum kasih kami keturunan saja"
"Kalau belum apa-apa sudah putus asa gimana mau punya momongan? Segitunya kamu nurut sama istri kamu. Jadi laki-laki tuh jangan mau diatur-atur sama istri. Bilang sama istri kamu tuh, kalau Dia memang mandul yaudah tinggal diobatin aja. Pakai bayi tabung kek. Ga usah sok-sok an gengsi. Pke nyuruh kamu ikutan ngecek segala"
Krek.. pintu kamar dibuka Nia. Dengan air mata yang membanjiri wajahnya Ia berjalan menghampiri mertua dan suaminya. Diambilnya tas jinjing yang Ia taruh di meja tadi.
"Aku pulang ke rumah Papa. Gak usah kamu nyari-nyari istri mandul seperti aku" Ronald berusaha mencegat Nia. Dipegangnya pergelangan tangan Nia.
"Sayang, sudah malam kamu mau kemana? Jangan pergi ya" Ronald menatap mata Mamanya "Ma, jangan ngomong gitu ke istri Ronald. Minta maaf Ma sama Nia"
"Untuk apa Mama minta maaf sama istri kamu? Ada juga Dia yang minta maaf sama Mama. Jadi istri kok mendikte suaminya. Gak sopan jadi menantu"
Nia melepaskan tangan Ronald dan pergi melangkah meninggalkan rumah Ronald. Dipanggilnya taksi dan dengan air mata yang masih berderai Ia pergi.
__ADS_1