Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Penyesalan


__ADS_3

Menjelang malam hari, Ronald kembali pulang ke rumah. Lampu rumah masih gelap, pertanda Nia tidak kembali ke rumah. Ia membuka pintu rumah yang langsung disambut dengan kesunyian. Senyum hangat yang biasanya menyambutnya ketika penat akan tumpukkan pekerjaan kantor telah hilang. Yang ada sekarang hanyalah kegelapan.


Ronald menyalakan semua lampu rumahnya, berharap terangnya cahaya lampu mampu menghidupkan suasana rumah yang sepi. Tetap saja walau seribu lampu dinyalakan pun tak akan bisa menerangi rumah yang seperti sudah kehilangan pemiliknya tersebut. Pemilik yang biasanya menghiasi setiap sudut rumah dengan sentuhan cinta dan kasihnya.


Ia pun duduk di ruang tamu, dinyalakannya TV agar terkesan ada suara orang di dalam rumah. Wajahnya yang bengkak bekas tonjokkan Papa baru terasa sakitnya sekarang. Ia mengambil es batu dan mengompres wajahnya.


Kembali Ronald menelepon Nia. Sudah puluhan kali Ia menelepon namun tak ada yang dijawab sama sekali, sepertinya sudah diblokir nomornya. Kemana perginya sang istri? Menyesal? tentu saja. Ia tak menyangka bahwa Nia sudah mencurigainya selama ini dan diam-diam menggerebeknya saat Ia sedang selingkuh.


Berjuta pertanyaan silih berganti di benaknya. Bagaimana jika Nia menuntut cerai? Bagaimana jika Nia tak pernah kembali lagi ke sisinya? dan yang paling penting, bagaimana hidupnya tanpa Nia? Ia memang suka sama Anita, tapi sekedar rasa suka saja. Tapi kalau dengan Nia, Ia sangat mencintainya. Ia sama sekali tak berniat pisah dari Nia, selama ini Ia hanya bersenang-senang saja dengan Anita. Ia mengakui bahwa Ia sudah terlalu lama bersenang-senang hingga akhirnya merasa semua akan baik-baik saja seperti sedia kala. Ia tak menyangka kalau perbuatannya akan menyakiti hati Nia dan meninggalkan luka yang amat dalam, yang sulit diobati. Perih di wajahnya tidak ada apa-apanya dengan perihnya hati Nia di kala melihat dengan mata kepalanya sendiri suaminya habis tidur dengan wanita lain.


Hufft... pening rasanya kepala Ronald. Pusing dengan masalah yang dibuatnya sendiri. "Dimanakah kamu Nia?" pertanyaan tersebut berulang kali singgah di pikirannya.


Selama ini Ia tak pernah benar-benar mendengarkan ketika Nia bercerita tentang teman dan sahabat terdekatnya. Lebih sering Nia yang mendengarkannya bercerita. Nia menjadi pendengar terbaik yang sarannya bisa Ia lakukan. Sedangkan Ia tak pernah terlihat tertarik dengan kehidupan Nia. Selalu dirinya yang menjadi prioritas utama dalam segala hal.


Sekarang Ia menyesal tak tahu siapa sahabat terdekatnya Nia. Kemana lagi Ia harus mencari Nia? Bertanya langsung pada Reina adiknya bisa panjang urusannya. Mama pasti akan mencari tahu ada apa dengan rumah tangganya. Campur tangan Mama bisa membuat keadaan tambah runyam.


Hp Ronald kembali berbunyi, tercantum nama Anita. Tak Ronald pedulikan panggilan dan pesan yang dikirimkannya. Baginya sekarang yang terpenting adalah menemukan keberadaan Nia. Ia tak mau kalau Nia sampai menceraikannya, apapun akan Ia lakukan. Minta maaf sampai berlutut pun Ia sanggup asalkan mendapat maaf Nia.


Perut Ronald mulai berbunyi. Ia ingat bahwa terakhir kali Ia makan adalah saat sarapan tadi pagi. Ronald berjalan ke dapur dan mencari apa yang bisa dimakan olehnya. Nia belum masak karena sibuk membuntutinya tadi pagi. Stok roti habis. Nasi di rice cooker juga kosong. Dibukanya pintu kulkas, stok bahan makanan juga kosong, mungkin Nia sudah malas masak karena tahu Ia takkan pulang untuk makan malam. Lagi-lagi hatinya disusupi perasaan bersalah. "Baru sebentar aku ditinggalkan kamu rasanya sudah kosong, apalagi jika kamu meninggalkanku selamanya? aku hanya akan menjadi cangkang kosong tanpa kamu Nia" tanpa terasa air mata mengalir di pipi Ronald. Selera makannya hilanglah sudah.


Sementara itu di tempat lain Nia sedang menikmati steak yang rasanya sangat enak karena dibuatkan langsung oleh kepala chef resort yang sudah terkenal enaknya. Tanpa sungkan Nia menghabiskan makan malamnya. Setelah menangis rasanya semua energi terkuras habis menyisakan perutnya yang keroncongan minta diisi. Untunglah Daniel pengertian, terbiasa makan nasi jika hanya makan steak dan kentang goreng saja rasanya tak cukup, Ia pun memesankan hidangan penutup cake dan K3 alias kue-kue kecil yang akhirnya membuat Nia kekenyangan.


"Akhirnya... kenyang... "kata Nia dengan raut bahagia.


"Kalau masih lapar pesan lagi aja" tawar Daniel.


"No.. thanks. Kenyang banget nih aku" kata Nia sambil mengusap-usap perutnya.


"Kalau sudah kenyang ayo kita bersenang-senang" ajak Daniel.


Nia langsung menutupi bagian depan tubuhnya dengan kedua tangannya. "Senang-senang apa maksud kamu? inget ya aku masih istri sah orang"


Mendengar jawaban Nia, Daniel tertawa terbahak-bahak bahkan sampai mengeluarkan air mata. "Kamu pikir aku mau apakan kamu? Dasar ya pikirannya mesum. Aku tuh mau ajak kamu karaokean. Abis itu kita main bowling. Kenapa mikirnya sampai kesana? hahahahaha..."


Wajah Nia pun memerah menahan malunya. Ia pun menurunkan tangannya. "Udah ah ketawanya. Ayo kita main"


"Main apa? main mama papa? apa main pacar-pacaran?" goda Daniel lagi yang membuat Nia makin memerah wajahnya.

__ADS_1


"Au amat ah" Nia lalu bangun dan pergi meninggalkan Daniel.


Daniel lalu berlari dan mengejar Nia. Dipegangnya tangan Nia lalu membawa Nia ke ruang karaoke. Nia menurut saja, lama kelamaan Ia terbiasa bergandengan tangan dengan Daniel.


Ruang karaoke yang dipilih Daniel cukup untuk berempat, Ia sengaja tidak memilih yang luas agar jarak dengan Nia tak terlalu jauh dan tidak ada rasa canggung diantara mereka.


"Kamu mau nyanyi lagu apa?" tanya Daniel setelah memesan makanan dan minuman pada pelayan.


"Kamu duluan aja. Aku masih pilih-pilih"


"Oke" Daniel pun mengetikkan kode lagu yang ingin dinyanyikannya, sementara Nia masih asyik memilih lagu. Musik yang dipilih Daniel pun mengalun.


*Dahulu terasa indah


Tak ingin lupakan


Bermesraan selalu jadi


Satu kenangan manis


Tiada yang salah


Yang biarkan semua


Ini permainkanku


Berulang-ulang kali


Mencoba bertahan sekuat hati


Layaknya karang yang dihempas sang ombak


Jalani hidup dalam buai belaka


Serahkan cinta tulus di dalam takdir


Tak ayal tingkah lakumu

__ADS_1


Buat 'ku putus asa


Kadang akal sehat ini


Tak cukup membendungnya


Hanya kepedihan


Yang selalu datang menertawakanku


Dia belahan jiwa


Tega menari indah di atas tangisanku


Mencoba bertahan sekuat hati


Layaknya karang yang dihempas sang ombak


Jalani hidup dalam buai belaka


Serahkan cinta tulus di dalam takdir


Tapi sampai kapankah


'Ku harus menanggungnya?


Kutukan cinta ini*


Nia menatap Daniel dan merasa lagu yang dinyanyikan adalah untuknya. Nia menunggu sampai Daniel selesai menyanyi lalu Ia mengambil kotak tissue yang terletak di meja dan... brugg... kotak tissue itu pun dilemparkannya ke arah Daniel. "Dasar manusia jahil!!!!!" Nia mengejar Daniel. Daniel pun kabur. Akhirnya mereka kejar kejaran bahkan sampai ke kolam renang.


*


*


*


*

__ADS_1


Maaf telat update. Kerjaan hari ini buanyak banget. Hmm... belum ada yg vote nih. Ayo dunk vote biar nulisnya semangat. luv u all 😘😘😘


__ADS_2