Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Berita


__ADS_3

Nia dan Daniel baru saja sampai di depan rumah Papa. Daniel mematikan mesin mobilnya, ketika ingin mengantar Nia sampai depan rumah tiba-tiba hp nya berbunyi.


"Hallo .... iya benar.... Apa???? Ada dimana ya Pak? Baik Pak.... Saya kesana sekarang!"


Nia melihat raut wajah Daniel yang langsung berubah setelah meneriman telepon.


"Kenapa, Niel?" tanya Nia.


"Nia, cepat panggil adik kamu Nesia suruh ikut aku sekarang!" perintah Daniel terburu-buru.


"Ikut kemana?" Nia masih bingung dengan perintah yang Daniel keluarkan.


"Papa kamu Ni... Papa kamu kecelakaan..."


"Papa?! Jangan becanda kamu Niel. Gak lucu!"


"Aku gak becanda Ni. Papa kamu kecelakaan! Aku ditelepon oleh polisi karena nomor telepon aku yang terakhir dihubungi sama Papa kamu."


"Enggak... pasti kamu bohong Niel... Ya Tuhan.... Papa...sekarang Papa dimana? aku mau kesana..." air mata Nia langsung menetes.


"Sudah kamu tenang dulu. Aku panggil Nesia di dalam lalu kita ke rumah sakit ya sama-sama. Kamu hubungin Kakak kamu dan kita ketemu di Rumah Sakit P!" Daniel langsung turun dari mobil dan menjemput Nesia.


Dengan tangan masih gemetar, Nia menelepon Kak Nay. Beberapa kali dering telepon tak juga diangkat, mungkin Kaka Nay sibuk dengan anak-anaknya. Tak lama telepon pun diangkat.


"Kak... Kak Nay... Papa, Ka... Papa kecelakaan..."


"Kecelakaan dimana ?"


"Aku gak tau, Ka. Tadi Daniel yang ditelepon oleh polisi. Daniel bilang kita ketemu di Rumah Sakit P" kata Nia sambil sesegukan.


"Baik. Kakak kesana sekarang"


Telepon pun langsung ditutup. Nia melihat Daniel dan Nesia berjalan tergesa-gesa menuju mobil. Nia turun dari mobil Daniel dan memeluk Nesia.

__ADS_1


"Papa.. Nes..."


"Iya, Kak. Kakak pergi dengan Kak Daniel ya. Nes pergi sama Ari. Kita ketemuan saja di Rumah Sakit P." Nia mengangguk.


Daniel langsung mengemudikan mobilnya ke Rumah Sakit P. Setelah memarkirkan mobilnya, Ia mengajak Nia langsung ke UGD.


"Permisi, Pak. Saya keluarga Pak Adi. Saya dihubungi Polisi katanya Pak Adi kecelakaan dan di rawat di Rumah Sakit ini."


"Iya, benar Pak. Tadi memang ada pasien kecelakaan atas nama Pak Adi. Mari saya antar ke dalam, sekalian Bapak bicara langsung dengan Dokternya" security tersebut lalu mengantar Nia dan Daniel masuk ke dalam UGD.


"Nia, kamu langsung temui Papa kamu ya. Biar aku yang bicara sama dokter." kata Daniel. Nia hanya mengangguk setuju.


"Silahkan, ini ruangan Pak Adi. Bapak bisa ikuti saya bicara ke Dokternya" Daniel lalu mengikuti security tersebut ke meja Dokter, sementara Nia langsung menemui Papa.


Nia membuka tirai yang menutupi ruangan Papa, dilihatnya Papa sedang terbaring dengan banyak selang yang terhubung di tubuhnya. Lemas rasanya Nia melihat keadaan Papa seperti itu, namun Ia harus menguatkan dirinya. Dengan sekuat tenaga Ia menyeret langkah kakinya mendekati tempat tidur Papa.


"Pa.... Ini Nia... ya Tuhan... Papa... bangun, Pa...." Nia mengusap lembut tangan Papa dengan tangannya yang gemetar. Tangisnya ingin pecah, namun Ia tahan isaknya, hanya butiran air mata yang terus mengalir tanpa bisa dibendung lagi.


Nia melihat baju Papa berlumuran darah. Ada bekas darah keluar dari telinganya. Papa tak sadarkan diri. Alat bantu pernafasan terpasang di tubuhnya. Kecelakaan yang Papa alami bukan kecelakaan ringan, sampai kondisi Papa seperti ini.


"Papa....." Nesia dan Kak Nay menangis histeris. Nia hanya diam saja dengan pandangan kosong, air matanya tak berhenti mengalir. Nesia memeluk Kak Nay, mereka menangis tak kuasa melihat penderitaan Papa.


"Maaf, saya dokter yang bertanggung jawab atas Pak Adi. Bisa kita bicara di tempat saya?" Nesia dan Kak Nay menghentikan tangis mereka dan mengikuti dokter ke ruangannya. Daniel yang melihat Nia hanya terdiam berjalan mendekatinya dan menuntunnya ke ruangan dokter.


"Saya akan menjelaskan kondisi Pak Adi. Seperti yang kalian lihat, kecelakaan yang dialami Pak Adi cukup berat. Keadaan Pak Adi juga bisa dibilang sedang kritis. Kami sudah melakukan CT Scan dan hasilnya ada pendarahan di otaknya." Dokter menghela nafas, kenyataan berat harus disampaikannya kepada keluarga pasien walau itu menyakitkan.


"Apa tak bisa di operasi, Dok?" tanya Kak Nay.


"Operasi akan tetap kami lakukan sebagai usaha penyembuhan. Jujur saja, operasi pun hanya kecil kemungkinan keberhasilannya, mengingat usia Pak Adi yang tak lagi muda, masa pemulihannya juga lambat. Silahkan mengisi form asuransi di bagian administrasi terlebih dahulu. Operasi akan kami lakukan besok pagi."


Setelah mendengar penjelasan dokter mereka pun menuju meja administrasi. Sambil menunggu perincian biaya, Daniel pamit ingin menelepon Papanya pada Nia.


Tak lama kemudian Bagian administrasi lalu memberikan perincian biaya yang harus dibayarkan terlebih dahulu sebelum dilakukan tindakan operasi. Betapa kagetnya ketiga bersaudara itu kalau biaya yang harus dikeluarkan adalah sebesar 100 juta.

__ADS_1


"Bagaimana ini, Ka? Darimana kita dapat uang 100 juta?" tanya Nesia. Nia hanya diam saja dan menghitung tabungan yang dimilikinya.


"Minta saja pada suami kamu, Ni. Diantara kita bertiga kan suami kamu yang lumayan banyak uangnya" Kak Nay langsung menyuruh Nia menghubungi Ronald namun Nia menolaknya.


"Aku gak mau, Ka. Aku akan bercerai dengan Ronald." jawab Nia pelan.


"Lebih penting mana Papa atau perceraian kamu? Hanya Ronald yang bisa membantu kita saat ini. Mana sini nomor telepon Ronald, biar Kakak yang telepon." Kak Nay langsung meminta Hp milik Nia, namun Nia menolak memberikannya.


"Aku gak mau menghubungi Ronald lagi, Ka. Kita patungan saja, sisanya kita pinjam sama Om dan Tante." usul Nia.


"Patungan? kamu mah enak gak punya anak, gak ada tanggungan! Kakak harus membiayai anak Kakak. Usaha suami Kakak juga sedang turun, uang dari mana?!" kata Kak Nay emosi.


Nia hanya diam saja sambil menyimpan sakit hatinya atas ucapan Kak Nay. Memang benar Ia tak punya anak, namun Ia berusaha agar Papa bisa dioperasi bagaimanapun caranya.


"Biar aku yang bayar operasi Pak Adi." Daniel yang sedari tadi mendengar pertengkaran ketiga bersaudara itu awalnya tak mau ikut campur, namun saat melihat Nia disudutkan rasanya Ia tak terima. Ia tahu benar bagaimana penderitaan Nia.


"Gak usah, Niel. Nanti aku pinjam ke kantor saja." tolak Nia halus.


"Udah deh, Nia. Kamu gak usah nolak pertolongan orang lain. Toh kamu juga belum tentu bisa dapat pinjaman dari kantor. Gak usah gengsi deh, yang penting Papa bisa di operasi!"


"Sudah... tidak usah bertengkar lagi. Mana formulir yang harus aku isi?" Daniel lalu menarik tangan Nia agar pertengkaran tak lagi berlanjut. Ia lalu mengisi formulir yang diberikan oleh Bagian Administrasi.


"Nil. Maaf ya aku selalu meyusahkan kamu?" Nia menunduk malu tak berani mengangkat wajahnya.


"Santai saja. Kamu kan tadi sudah traktir aku seblak, sekarang gantian aku yang traktir kamu, oke?"


"Tapi kan...."


"Sst... aku lagi isi formulir jangan bawel ya." Daniel sedang menuliskan nomor KTP nya di formulir saat perawat datang.


"Keluarga Pak Adi... " panggil Perawat tersebut.


"Iya..." jawab Nia dan Nesia kompak.

__ADS_1


"Dokter meminta berkumpul di ruangan Pak Adi. "


Deg.... Semua langsung berlari menuju kamar Papa.


__ADS_2