Pernikahan Keduaku

Pernikahan Keduaku
Merasa Kehilangan


__ADS_3

"Ampun... Ampun... nyai... " Daniel sudah terengah-engah nafasnya dikejar -kejar oleh Nia. Tak mau menyerah Nia melepaskan sandalnya lalu melemparkannya ke arah Daniel.


Brug.. sandal Nia tepat mengenai muka Daniel. "Aww....." Daniel meringis kesakitan. Nia lalu merasa bersalah, Ia menghampiri Daniel.


"Aduh sakit ya? Mana...mana... yang sakit?" Nia panik dan mencari dimana letak sakitnya Daniel.


"Tapi boong.... wakakakakaka" Nia yang kesal pun mencubit pinggang Daniel sehingga membuatnya kesakitan.


"Aw...aw... sakit beneran nih"


"Biarin. Supaya kamu gak jahil"


"Ampun... ampun... kali ini aku nyerah... "


Nia dan Daniel sama-sama mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan habis berlari.


"Gimana? Udah lega sekarang?" tanya Daniel.


"Lega apanya?" tanya Nia bingung.


"Ya kan tadi kamu sudah bisa nangis, terus tadi teriak-teriakkan ngejar aku kayak di film India. Berarti hati kamu yang tadi sempat tertekan sudah lega kan?"


"Oh itu... iya. Sudah lebih lega sekarang" Nia mengakuinya.


"Baguslah. Kalau marah ya marah. Kalau kesal ya kesal. Kecewa ya kecewa. Jangan dipendam, enggak bagus buat kesehatan. Bisa stress. Nanti pulang dari sini kamu akan menghadapi masalah yang lebih banyak. Harus bisa maintenance hati dan pikiran. Perjuangan kamu belum selesai. Kalau tidak bisa berpikir jernih, setiap keputusan yang kamu ambil bisa-bisa malah menambah masalah baru" nasehat Daniel panjang lebar.


"Iya. Terima kasih banyak ya atas bantuan kamu. Padahal kita tidak saling kenal sebelumnya. Aku enggak tau harus berbuat apa jika tanpa bantuan kamu. Mungkin aku sudah melakukan tindakan yang gegabah. Bisa-bisa aku sudah dilaporkan ke polisi karena sudah buat onar he..he..he..."


"Kalau kamu dilaporkan ke polisi toh kita akan bertemu juga. Pasti Papa aku akan mengeluarkan kamu dari penjara dan mengutus aku"


"Kok bisa?" tanya Nia bingung.

__ADS_1


"Karena Papa kamu sudah menitipkan kamu sama Papa aku"


"Gimana...gimana? aku enggak ngerti. Sebenarnya ada hubungan apa sih antara Papa aku dan Papa kamu? Sampai sekarang saja aku masih bingung kenapa keluarga kamu tuh baik banget sama Papa"


Ronald bangun dan duduk di kursi dekat kolam renang agar ngobrol mereka lebih enak. Ronald mengeluarkan hp nya dan menghubungi kepala chef minta dibuatkan 2 buah minuman dan cemilan.


"Papa kamu tuh ibarat penyelamat keluargaku. Waktu itu Papa sedang bersepeda pagi-pagi dan tiba-tiba mendapat serangan jantung. Ia duduk di trotoar jalan menahan sakitnya namun tak ada seorang pun yang datang menolong. Datanglah Papa kamu yang kebetulan lewat karena ada tugas kantor. Melihat Papa yang kesakitan lalu Papa kamu mengantar ke rumah sakit. Berkat Papa kamu akhirnya Papa aku berhasil diselamatkan. Tapi Papa kamu ikhlas menolong, Ia tak pernah minta dibalas apapun"


"Wah Papa gak pernah cerita tuh sama aku"


"Itulah hebatnya Papa kamu. Berbuat baik tanpa perlu dipublikasikan" Daniel meminum minuman yang sudah diantarkan pelayan. "Berkali-kali Papa menawarkan bantuan dan memberi imbalan tapi selalu ditolak sama Papa kamu. Kartu sakti yang diberikan Papa juga tidak dipakai. Sampai suatu ketika Papa kamu tiba-tiba datang ke kantor. Ia meminta Papa menjaga kamu"


"Kapan?"


"Saat kamu kabur dari rumah karena bertengkar dengan suami kamu" jawab Daniel.


"Kok kamu tahu?"


"Ih bohong banget. Memangnya jaman Siti Nurbaya?" Nia tak percaya cerita Ronald.


"Yaudah kalau gak percaya mah gak apa-apa. Tanya aja langsung sama Papa kamu. Jadi intinya Papa aku sudah janji akan menjaga kamu. Begitulah ceritanya"


"Oh seperti itu"


"Cepat minum hot cokelatnya terus kita masuk ke dalam. Udara sudah mulai dingin. Langsung tidur ya jangan begadang. Besok pagi kita jalan-jalan"


"Oke" Lagi-lagi Nia menuruti ucapan Daniel. Entah mengapa ucapan Daniel seperti suatu titah yang tak bisa Nia bantah.


**********


Ronald terbangun dari tidurnya saat sinar matahari menyilaukan matanya. Rupanya Ia tertidur di ruang tamu dan tidak menutup gorden. Tenggorokannya terasa kering.

__ADS_1


"Nia...Nia... ambilkan aku minum..." Hening tak ada suara yang menyahutinya.


"Nia... kamu dimana sih? aku haus nih" Ronald bangkit dari tidurnya dan mencari keberadaan istrinya. Perlahan kesadarannya mulai pulih, Ia teringat sang istri sudah pergi dari rumahnya. Dihembuskannya nafas berat.


Dengan langkah gontai Ronald masuk ke kamar. Diambilnya handuk dan masuk ke kamar mandi. Air shower yang dingin menjernihkan pikirannya. Rencana demi rencana mulai Ia susun. Ia harus segera menemukan keberadaan Nia. Dipercepatnya mandi dan segera berpakaian. Saat sedang mengeringkan rambut tiba-tiba pintu depan rumah ada yang mengetuk.


"Semoga itu Nia" harap Ronald. Dengan setengah berlari Ia menuju pintu dan membukakannya. "Akhirnya kamu pul...ang. Mama? Ada apa Mama datang kesini pagi-pagi?" Ronald sangat kaget ternyata yang datang adalah Mama Sri.


"Memangnya Mama gak boleh datang pagi-pagi? Mama membawakan Nia masakan biar bisa makan bersama. Kamu lagi nunggu siapa?" Mama langsung nyelonong masuk seperti biasanya.


"Hmm.. anu... gak nunggu siapa-siapa kok" bohong Ronald.


Mama langsung menuju dapur dan memasukkan sayuran ke dalam kulkas seperti di rumahnya sendiri. "Berantakan banget sih dapur dan rumah kamu. Memangnya Nia tak bereskan ya? Bibi gak dateng?"


Ronald hanya diam saja, bingung mau menjawab apa. Mama yang sibuk memasukkan bahan makanan yang dibawanya dalam kulkas berbalik badan ketika tak mendapat jawaban Ronald. "Kayaknya ada yang aneh nih. Mana Nia?"


Mama langsung berjalan melewati Ronald yang hanya diam saja tidak menjawab pertanyaannya. Mama memeriksa sekeliling rumah mencari keberadaan menantu satu-satunya tersebut. Pencariannya sia-sia belaka karena Nia tak ditemukannya. Mama lalu duduk di ruang tamu, dipanggilnya Ronald.


"Ronald. Kesini. Mama mau bicara" perintah Mama.


Ronald menurut saja perintah Mama. Dengan wajah tertunduk lesu Ia duduk dihadapan Mama. "Ceritakan sama Mama apa yang sudah terjadi. Mana Nia?"


Lagi-lagi Ronald tak menjawab pertanyaan Mama. Hal tersebut membuat Mama semakin kesal saja. "Nia kabur lagi?"


Ronald menganggukkan kepalanya. "Kenapa? berantem lagi?" Ronald hanya menjawab dengan mengangguk.


Mama Sri yang mengetahui menantunya kabur lagi untuk kedua kalinya mulai naik pitam. "Bagaimana sih istrimu itu. Setiap ada masalah selalu kabur. Kayak anak kecil saja. Memangnya gak bisa dibicarakan baik-baik apa?" Mama mulai mengatur nafasnya. "Kali ini kenapa kalian bertengkar? Jawab. Jangan hanya diam saja"


Dengan suara pelan dan agak takut Ronald menjawab pertanyaan Mama. "Nia... Nia.. melihat...Ronald berselingkuh" Mama seperti memdengar kilat di siang hari. Ia hanya melongo dan tak dapat berkata apapun.


****

__ADS_1


Makasih banget atas semua dukungannya. Tetap dukung novel ini ya. Oia jangan lupa vote, oke? luv u all 😘😘😘


__ADS_2