
Ronald melepaskan tangannya dari kerah Daniel. Dari raut wajahnya terlihat jelas rasa marah, cemburu dan malu bercampur jadi satu.
"Baiklah aku pergi. Tapi aku tak akan membiarkan pernikahan kita berakhir. Aku tak akan tinggal diam!" ancam Ronald. Ia pun pergi dan meninggalkan rumah Papa Nia.
Daniel langsung berjalan mendekat ke arah Nia. Ia memeriksa keadaan Nia. Kening Nia bengkak dan ada sedikit darah. Pergelangan Nia agak memar karena ternyata cengkraman tangan Ronald lumayan kencang.
"Nes, tolong ambilkan kotak P3K ya!" Nesia langsung berlari ke dalam rumah dan membawakan kotak P3K yang diminta Daniel.
"Ini, Ka"
"Ok. Makasih. Oh iya tolong bawakan kompres es batu juga ya"
Nesia menyiapkan apa yang diminta oleh Daniel. Daniel sibuk membersihkan luka Nia dengan kasa dan betadine. Nia merasakan rasa pedih ketika betadine dioleskan ke lukanya.
"Tahan ya..." Daniel merawat luka Nia dengan cekatan dan lembut. Nia hanya menatap pria baik hati di depannya tersebut. Apa jadinya Ia andai tadi Daniel tak datang. Mungkin Ronald sudah membawa paksa Ia pulang dan menguncinya di rumah. Mungkin juga Ia akan menekan Nia agar membatalkan niatnya bercerai, bisa dipastikan jika itu sampai terjadi pasti Nia akan menurut ketakutan karena di bawah ancaman.
"Makasih ya, Niel. Kalau gak ada kamu, aku gak tau bagaimana nasib aku kelak...." Nia menunduk sedih. Setetes air matanya menetes haru.
Nesia melihat kakaknya sedang bicara serius dengan Daniel hanya menaruh baskom berisi air es dan kain washlap di dekatnya lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Ia merasa aman meninggalkan kakaknya dengan Daniel.
Daniel memfoto setiap luka yang Nia dapatkan dari Ronald. Agak bingung dengan yang dilakukan Daniel, Nia akhirnya bertanya juga. "Buat apa foto semua ini, Niel?"
"Buat bukti di pengadilan. Ronald bisa saja memutarbalikkan fakta kalau kita yang berselingkuh. Namun foto hasil KDRT yang Ia lakukan akan menjadi kartu As kita." Daniel kembali mengobati luka-luka Nia. Bengkak bekas cengkaraman tangan Ronald pun dikompresnya dengan penuh kasih sayang. Hatinya ingin menangis melihat Nia diperlakukan seperti ini.
__ADS_1
"Kalau Ronald bilang semua ini hanya rekayasa saja bagaimana? Di rumah ini kan gak ada rekaman CCTV untuk membuktikannya?" tanya Nia lagi.
"Kamu gak usah khawatirkan itu. Di mobil aku ada rekaman CCTV. Sebagai seorang pengacara aku harus punya second plan alias rencana cadangan. Nah mobil aku itu yang bisa aku andalkan untuk merekam kejadiannya."
"Kalau kamu melaporkan Ronald atas tuduhan KDRT, berarti Dia bisa dipenjara dong? Aku gak mau melakukan itu. Aku hanya ingin bercerai baik-baik dengannya. Walau bagaimana pun Ia pernah menjadi suami aku, laki-laki yang kucintai. Aku tak mau melihatnya di penjara."
Kamu masih membela laki-laki yang sudah sangat menyakiti hati kamu, Ni. Betapa baik hatinya kamu. -Daniel.
"Iya, tenang saja. Ini hanya sebagai kartu As. Kalau Ia mau bercerai baik-baik, aku tidak akan mengeluarkannya. Gak usah khawatir ya...... Oke... sudah selesai semua. Kalau masih bengkak nanti kompres lagi saja ya" selesai sudah Daniel mengobati luka Nia.
"Sekali lagi makasih ya, Niel. Maaf aku merepotkan kamu terus" Nia benar-benar tulus meminta maaf dari dalam lubuk hatinya.
"Iya. Sudah gak usah dibahas. Aku ikhlas kok bantuin kamu. Oh iya aku kan bawain kamu pecel ayam. Kamu cuci tangan dulu ya aku ambilin pecel ayamnya di dalam mobil. Bisa bangun gak? Atau mau aku panggilkan tukang urut?"
"Gak boleh minta soalnya aku beli khusus buat kamu. Jarang-jarang loh aku turun dari kereta kuda cuma mau beli pecel ayam he...he...he.. Ya sudah, masuk sana. Pelan-pelan saja ya jalannya!"
"Siap, Bos"
Daniel mengambil pecel ayam dari mobilnya. Sebelumnya Ia menyimpan memori CCTV dari mobilnya dan menukar dengan memori yang baru. Ia menyimpan kartu As miliknya dengan hati-hati di dalam dompetnya.
Nia memanggil Nesia agar membantunya menyiapkan minum dan piring untuk makan. Mereka bertiga pun makan malam bersama. Nesia senang melihat keakraban antara kakaknya dengan Daniel. Selama bersama Daniel, Kak Nia sering tersenyum tak melulu sedih dan murung.
******
__ADS_1
2 minggu sudah berlalu sejak pemakaman Papa. Nia sudah kembali melakukan kegiatan seperti biasanya. Ronald pun tak berani mengganggu Nia lagi.
Tak ada Papa yang mengantar jemput, juga karena sudah rusaknya mobil Papa karena kecelakaan membuat Nia harus berangkat dan pulang kerja naik kendaraan umum. Sibuk dengan kerjaannya membuat Nia sedikit lupa dengan permasalahannya. Ia berusaha mandiri, walau kadang Daniel berniat ingin menolongnya. Ia pun menolaknya. Ia beranggapan bahwa mulai saat ini Ia harus berdiri dengan kedua kakinya sendiri, membiasakan tak ada tempat bergantung.
Seperti hal nya Nia, Pak Darmawan pun berusaha secepat mungkin memproses perceraian Nia dengan Ronald. Ia sendiri yang mengurusnya sesuai janjinya pada Almarhum Pak Adi dulu. Ia bahkan tidak meminta anak buahnya maupun Daniel untuk mengurusnya.
Nia yang sudah melengkapi berkas dokumen perceraian membuat prosesnya menjadi lebih cepat. Pak Darmawan pun sudah mendapat tanggal sidang perceraian mereka.
Surat panggilan sidang cerai perdana pernikahan Nia dan Daniel pun sudah dikirimkan ke alamat masing-masing. Nia menerimanya di rumah Papa, sedangkan Ronald dikirimkan ke kantornya.
Ronald kaget jika ternyata Nia benar-benar berani mengajukan gugatan cerai terhadapnya. Nia yang Ia kenal tak akan berani melakukan tindakan seberani itu. Pasti laki-laki yang selalu berada disisinya yang membuatnya memiliki keberanian seperti itu.
Ronald berniat memberi pelajaran kepada laki-laki tersebut, namun mengingat Ia tak mau berurusan dengan hukum maka diurungkannya niat tersebut. Ronald bertekad bila perlu, Ia akan mengajukan banding agar pengajuan cerai yang diajukan oleh Nia dapat dibatalkan.
Hidupnya sudah berantakan sejak ditinggal Nia. Karir yang dulu dibangunnya dengan susah payah perlahan mulai turun. Performanya di kantor menurun tajam, hal ini menarik perhatian pimpinan bahkan melayangkan surat teguran untuknya.
Keadaan rumahnya pun tak jauh berbeda. Taman yang tak terurus. Rumah pun berantakan karena Bi Ijah tak lagi bekerja disana. Sekarang baru Ronald menyadari betapa Ia telah kehilangan orang yang mencintainya dengan tulus.
Ronald masih terpaku menatap surat panggilan sidang cerai tersebut. Sebentar lagi Ia akan bertemu Nia di pengadilan agama. Ronald menelepon Mama Sri dan meminta diberikan pengacara yang hebat yang dapat melawan pengacara milik Nia. Ia yakin Nia tak akan punya uang untuk menyewa pengacara mahal apalagi sejak Papanya meninggal. Ia berharap pengacara mahalnya mampu membatalkan gugatan cerai Nia.
*****
Bagaimana nih Nia sama Daniel atau Nia balikkan sama Ronald?? Hmm... jawab di komen terus jangan lupa vote ya 😁😁😁😁 maacih 😘😘😘
__ADS_1