
Jam 2 siang acara wisuda dan foto-foto sudah selesai. Nia memberikan sebuket bunga mawar untuk Nesia, seperti dulu Ronald memberikannya saat Ia wisuda. Nesia senang sekali menerimanya, Ia lalu memeluk Nia, kakak kesayangannya.
Sebelum mengantar Papa dan Nesia pulang, Nia mengajak mereka berdua makan dulu di restaurant all you can eat yang dulu sempat diajak oleh Mbak Anita. Awalnya Papa menolak, Ia tahu kalau makan disana pasti mahal, Ia tak mau membebani Nia. Namun Nia meyakinkan Papa bahwa Ia masih punya uang tabungan, uang miliknya sendiri dari hasil kerja kerasnya bukan uang pemberian Ronald. Akhirnya Papa mau juga ikut serta.
Nesia dan Papa senang sekali karena baru pertama kali diajak makan di restauran seperti ini. Biasanya Papa makan di rumah makan Padang. Papa sampai bingung bagaimana cara memasak shabu-shabunya.
Selesai makan Nia mengajak Papa ke toko baju, berniat membelikan Papa baju baru, namun Papa menolak. Papa beralasan bahwa bajunya masih banyak yang bagus. Papa kasihan melihat Nesia yang menjadi bahan perhatian publik karena keliling mall dengan memakai kebaya layaknya putri Indonesia. Nia menuruti saja kemauan Papanya.
Menjelang malam Nia mengantarkan Papa dan Nesia. Lelah namun bahagia mereka rasakan. Nia memutuskan menginap saja di rumah Papa, toh di rumah juga tidak ada Ronald.
Nia lalu menelepon Ronald meminta ijin kalau dirinya akan menginap di rumah Papa. Lama sekali diangkat oleh Ronald. Setelah menunggu hampir 10 menit akhirnya telepon pun diangkat.
Terdengar suara ramai di belakang Ronald. Nia heran kenapa suasana kerja di kantornya Ronald ramai seperti di mall.
"Hallo Mas"
"Iya ada apa ya?"
"Kamu lagi dimana? Kok ramai sekali ya suaranya seperti suara di dalam mall?" tanya Nia curiga.
Ronald sedang asyik bermain di timezone bersama Anita sehingga tak mendengar suara dering telepon Nia. Ia lalu keluar dari time zone setelah meminta izin Anita. Anita langsung memasang muka cemberut mengetahui Ronald ditelepon oleh istrinya.
Seperti apa sih istrinya sampai dibela-belain banget? Paling juga cantikkan aku. Sebel, gangguin orang lagi kencan saja. Untung saja istrinya kuper, jarang ke Mall. Bisa ketahuan kalau kami lagi kencan- Anita.
__ADS_1
"Gimana sekarang suaraku? Tadi aku lagi nungguin Nasabah sekalian liat-liat Mall. Kita janjian di Mall tapi belum datang juga" kata Ronald berbohong.
"Iya sudah jelas. Mas aku ijin ya nginap di rumah Papa. Aku malas pulang, toh kamu juga pulang malam" ijin Nia.
"Iya nginep saja. Mau aku jemput gak besok?"
"Gak usah Mas. Aku bawa mobil kok"
"Yaudah. Jangan lupa mimpiin aku ya malam ini"
"Iya, Mas juga semangat ya kerjanya biar dapat banyak Nasabah baru. Dah Mas. Love you"
"Iya" Ronald lalu memutus sambungan teleponnya. Tak ada kata Love you too yang biasa Ia ucapkan, karena disampingnya telah berdiri Anita dengan muka masam.
"Kenapa lagi? Gangguin kita lagi kencan saja. Manja banget sih istri kamu Mas. Heran aku" kata Anita cemburu.
"Yaudah antar aku yuks. Aku mau beli baju ganti. Kan aku gak bawa baju ganti" Ro0nald lalu mephvrangkul bahu Anita.
Tanpa Ronald sadari, tak jauh dari tempatnya berdiri ada sepasang mata yang memperhatikannya. Ia adalah Fitri, sahabat Nia sejak kuliah. Fitri tidak percaya kalau orang yang dilihatnya adalah suami sahabatnya sendiri. Cepat-cepat Ia mengeluarkan hp dan mengambil foto Ronald yang sedang merangkul seorang wanita. Sayangnya wajah wanita tersebut tak terlihat di kamera hanya wajah Ronald saja yang masih lumayan jelas terlihat.
Fitri menyimpan foto tersebut. Masih ragu Ia mengirimkannya, takut Ia salah paham malah membuat rumah tangga Nia berantakan. Ia berniat menujukkan pada Nia langsung saat mereka ketemuan, rencananya 2 minggu lagi.
*****
__ADS_1
Nia masih asyik mengobrol sambil menonton tv dan ngemil kacang kulit dengan Papa dan Nesia. Membahas tentang foto-foto wisuda Nesia. Nia dan Papa juga menggoda Nesia yang akan segera dilamar oleh pacarnya, sesuai janji mereka dulu. Nesia malu-malu mengakuinya, namun memang benar pacarnya akan melamarnya jika Ia lulus kuliah nanti.
Nesia berbeda usia 2 tahun dengan pacarnya. Ari, pacar Nesia adalah senior Nesia di kampus. Mereka satu organisasi, disitulah cinta mereka tumbuh. Ari sudah memiliki pekerjaan tetap dan mengajak Nesia menikah muda. Papa menyetujui saja, asalkan Nesia serius dengan rumah tangganya, karena bagi Papa menikah hanya sekali seumur hidup.
"Jadi kapan Nes, Ari akan melamar kamu?"tanya Nia to the point pada Nesia. Papa spontan langsung menatap serius ke arah Nesia.
"Belum tau Kak. Aku sih pengennya ngerasain kerja dulu. Pengen ngerasain menikmati uang hasil kerja kerasku" jawab Nesia.
"Bagus itu. Wanita tuh harus mandiri. Tak harus bergantung seratus persen sama laki-laki" kata Papa.
"Kok Mama gak boleh kerja Pa? Malah jadi ibu rumah tangga yang bergantung sama Papa?" Nesia memutarbalikkan kata-kata Papa.
"Ssstt... Nes. Klo Papa ngomong dengerin, bukan malah dibalikkin" omel Nia.
"Tuh dengar kata kakak kamu. Dengerin kata Papa. Dulu Mama kerja waktu masih punya Nay saja. Namun tak lama Nia lahir, Nay masih 3 tahun. Mama kecapean harus kerja sambil mengasuh anak. Makanya Papa yang suruh Mama berhenti kerja agar bisa mengasuh dan mendidik kalian. Ya walaupun kita harus hidup serba irit namun toh Papa bisa menyekolahkan kalian semua sampai bangku kuliah, ya kan?" kata Papa dengan bangganya.
"Iyalah Papa Nia mah hebat" kata Nia mengakui.
"Papa Nesia juga kali kak" Nesia pun tak mau kalah.
"Sudah.. sudah.. Papa kalian bertiga. Kalian lupa sama Nay? ha...ha..ha" mereka pun tertawa bertiga.
"Papa kangen Mama. Biasanya Mama menyediakan cemilan untuk kita. Tak lupa kopi hitam untuk Papa" kata Papa pelan.
__ADS_1
"Tenang Pa. Ada Nesia. Nes bakalan bikinin Papa kopi" Nesia langsung menuju dapur untuk membuatkan Papa kopi. Papa hanya tersenyum melihat ulah Nesia.
"Tenang juga Pa. Ada Nia yang akan pesenin cemilan buat Papa. Mau cemilan apa? Kang ojek online siap nganterin" Nia langsung membuka aplikasi ojek online dan memesan cemilan favorit Papa yakni martabak cokelat keju. Papa tersenyum sambil mengelus rambut putrinya tersayang.